Cerpen Yetti AKA (Nova 1358/XXVII 03-09 Maret 2014)
WAKTU itu, ya, katakanlah memang demikian kebenarannya, seekor ular kecil yang memiliki sayap mirip ranting di punggungnya telah melompat dari lubang pada plafon, lantas cepat sekali menyusup dalam kepalaku.
Ular itu tentu saja si perayu yang ulung. Ia berbisik-bisik. Menyemburkan birahi lewat lidahnya yang tidak bisa diam. Dan entah bagaimana kejadiannya atau bagaimana bisa terjadi, aku sudah berada dalam pelukan Lus. Malah kami juga sudah berciuman, semakin jauh, dan sudah lebih jauh lagi ketika terdengar jeritan Kayin dari arah pintu depan dengan sekeranjang durian jatuh di lantai.
Kemudian, setelah kejadian itu, yang kutahu tentang musim adalah ingatan pada buah durian yang berhamburan di lantai itu. Duri-durinya tajam sekali menatap tubuhku yang separuh telanjang.
***
Di saat aku kecil—saat aku masih menjadi anak perempuan liar yang suka bermain di hutan; suka manjat pohon—aku tidak tahu musim lain kecuali tentang suatu masa di mana buah-buahan melimpah, dan kami, anak-anak kampung, mengabarkan pada semua orang: Musim buah sudah datang!
Kami berduyun-duyun keluar kampung. Kami mesti menyeberangi sungai deras dengan batu-batu hitam yang membuat lebam betis, tangan, punggung, bila kami terseret arus. Kami juga harus memasuki hutan demi hutan untuk mendapatkan buah-buahan langsung dari batang. Di kampung kami, kebun buah tidak disiangi seperti kebun kopi atau sahang.
Tiap menemukan batang-batang buah, kami bersorak seolah baru saja memenangkan permainan. Kami panjati semua batang; tupak, sekapas, duku, manggis, hingga durian. Kami makan buah-buah itu sampai perut penuh.
Ketika buah-buahan menghilang, kami tahu musim telah usai. Kami tidak pernah memikirkan kapan musim itu datang lagi. Yang tertinggal hanya kenangan pada rasa manis buah-buahan, itu pun samar-samar, dan kami anggap bukan sesuatu yang penting untuk kami jaga sebagai ingatan.
***
Lalu musim, pada ketika yang lain, waktu yang lain, tidak lagi sekadar musim buah yang datang dan pergi begitu saja, dan dilupakan dengan cepat. Musim membuatku mulai menandai pada bulan apa mangga, duku, durian, lengkeng menyerbu kota kami (saat naik kelas dua SMP, aku dibawa ke kota oleh sepasang kerabat ibuku).
Buah-buahan yang terus berdatangan tanpa terbendung. Tiba-tiba pedagang berderet-deret menawarkan buah duku dan durian di pinggir jalan. Mendadak buah mangga dan lengkeng bisa sangat murah dari biasanya. Semua buah itu tentu saja datang dari luar kota, diangkut oleh truk-truk yang membongkar muatan menjelang pagi.
Kata Kayin, istri dari kerabat ibuku itu, “Begitulah buah menyerang kota kita, mirip kawanan laron menyerbu cahaya lampu di malam hari. Kita tidak sempat menolak, mereka berdatangan dengan cepat.”
Aku tersenyum mendengar pendapat Kayin. Kupikir tidak seburuk itu. Aku justru senang sekali jika di bulan Agustus itu kami bisa mendapatkan lengkeng dengan harga lebih murah. Tapi Kayin memang tidak suka lengkeng, sama halnya berkali-kali ia mengatakan tidak suka pada Lus. Lus, lelaki bertubuh kecil, kerempeng, mata kirinya lebih kecil dari mata kanan dan tidak berfungsi dengan baik. Ia adik sepupu Ibu. Karena Ibu tidak punya saudara lain, Lus sudah Ibu anggap adik sendiri sedari ia kecil.
“Kenapa sih Bibi tidak menyukai Paman?” tanyaku.
“Hidup dengan lelaki itu seolah hidup dengan orang asing,” jawab Kayin kering.
Pipinya tidak lagi merah seperti pertama kali aku bertemu dengannya. Waktu itu Kayin sangat cantik. Bisa jadi karena ia masih senang berdandan, dan sekarang ia sudah malas melakukannya. Atau bisa pula karena Kayin memang sudah tidak bahagia lagi. Orang yang tidak bahagia akan padam perlahan-lahan.
Aku sedikit tahu tentang ketidakbahagiaan Kayin. Kayin merasa tidak senang hidup dengan lelaki yang enggan berbagi. Lelaki yang tidak peka. Lus tidak hangat. Tidak romantis. Ia guru Bahasa Indonesia. Sibuk mengajar dari pagi hingga siang, kadang-kadang sampai sore kalau ada pelajaran tambahan.
Dia mengingatkan pada ibuku yang pendiam. Ibuku yang sudah mati itu tidak pernah berbicara jika tidak terlalu penting. Lus suka bicara, tapi hanya pada ayam beruge peliharaannya, pada ikan-ikan di akuarium mini.
Kayin pasti bosan sekali. Untung aku hidup bersama mereka (sebab hanya dengan cara itu aku bisa meneruskan sekolah). Kayin membicarakan apapun padaku sejak aku berusia 15 tahun. Aku mendengar semua yang ia katakan tanpa membantah—dan cukup sesekali saja bertanya.
Agustus berlalu. Pembicaraan soal lengkeng juga berlalu seiring mulai menghilangnya kelambu-kelambu lengkeng di warung buah yang biasanya bergelantungan. Buah-buah lain memang terus menyerbu kota kami. Bukan buah musiman, melainkan buah yang selalu ada sepanjang tahun yang entah datang dari mana, dan aku tidak terlalu tertarik menceritakannya.
Setelah Agustus itu, secara tidak terduga, Kayin mengatakan ingin pergi. Ia berterus terang kalau merasa tidak bahagia selama hidup dengan Lus. Suara Kayin bergetar, namun lugas. Wajahnya tegang, begitu juga bola matanya. Apalagi saat ia mengatakan mau melupakan beberapa bagian yang selama ini ada dalam hidupnya.
“Apa Bibi juga ingin melupakan aku?” tanyaku saat malam terakhir aku bersama Kayin. Kami berdua tidak tidur hingga larut malam. Aku menemani Kayin yang sibuk sekali mengeluarkan pakaiannya dalam lemari.
“Tentu saja,” ujar Kayin, “aku tidak mau menyimpan apa-apa tentang kalian.” Suaranya bulat.
Pada pagi hari setelah Kayin meninggalkan rumah, Lus berkata, “Biarkan dia pergi!”
Dalam situasi begitu menyesakkan, aku ingin sekali mendengar kalimat Lus yang lebih panjang. Apa ia benar-benar tidak bisa memikirkan kalimat lain?
Mungkin begini: Lepaskanlah bibimu. Biarkan ia pergi bersama musim yang berlari meninggalkan kita.
Paling tidak dari kalimat itu aku bisa tahu kalau Lus punya cara berbeda dalam menghadapi kesedihan selain sikap dinginnya yang membosankan.
Aku sungguh-sungguh menyayangi Kayin, itu yang aku rasakan, hanya saja aku terpaksa berjanji pada Lus untuk segera melupakan perempuan itu seperti aku kecil dulu melupakan musim buah yang cepat pergi.
Lus dan Kayin resmi berpisah.
***
Pada bulan September durian melimpah ruah di pinggir jalan. Itu September keempat sejak Kayin tidak lagi bersama kami. Kami membiarkan bulan, juga musim, berlalu dan berganti. Membiarkan waktu mengambil Kayin dan tidak terlalu berharap waktu mengantarnya kembali. Berharap hanya membuat kami lemah, melumpuhkan perasaan yang sudah terlalu banyak dilanda kehilangan.
Ayah, Ibu, lalu Kayin. Mereka pergi dengan cara mengguncang hati kami. Ayah dan Ibu jelas tidak mungkin kami harapkan kepulangannya sebab mereka sudah berada di tempat abadi. Ayah meninggal ketika aku bayi, Ibu menyusulnya saat aku SMP.
Bagaimanapun itu membuat kami bisa menerima dengan sedikit lebih mudah, ketimbang kepergian Kayin yang harus diakui sesekali membuatku berimajinasi tentang ia yang berdiri di pintu pagar, menatap lama-lama ke pintu rumah—mungkin karena ia belum mati.
Namun siang itu, aku benar-benar melihat Kayin. Lus, seperti biasa, tidak banyak bicara saat kukatakan Kayin berdiri ragu-ragu di pintu pagar. Waktu itu aku hampir membuka pintu. Kayin pergi buru-buru. Aku mau mengejar Kayin, namun aku memilih tidak melakukannya.
“Mungkin masih ada barang bibimu yang tertinggal,” ujar Lus.
“Lemari Bibi sudah kosong. Paman sudah tahu itu,” balasku, “Bibi rindu pada kita, itu yang paling masuk akal.”
***
“Musim durian ini mulai menyebalkan.” Lus muncul dari pintu belakang.
Aku menatap heran pada adik sepupu ibuku yang malang itu. Selama ini Lus jarang berpendapat tentang apapun. Cukup mengejutkan jika ia justru menggerutu karena musim durian yang, tidak terlalu jelas kenapa, bisa mendadak menyebalkan di matanya. Tapi aku menduga, sebenarnya Lus bukan membicarakan musim durian, melainkan tentang Kayin.
Lus terus saja menggerutu mengenai durian yang memenuhi kota, membuat mual, dan pusing kepala— mirip cara Kayin membenci musim lengkeng beberapa tahun lalu.
“Lama-kelamaan durian akan menjadi buah yang paling kubenci,” kata Lus.
Aku tak pernah membenci buah apapun seumur hidupku bahkan jika aroma buah itu memenuhi hidung setiap hari. Bagiku buah yang melimpah itu terasa amat membahagiakan. Alam memberi sesuatu, lalu orang-orang yang baik hati membagi-bagikan ke seluruh penjuru kota dan kampung-kampung lain.
***
Berhari-hari setelah itu, aku baru mengerti kenapa Lus membenci durian. Kayin menikah dengan penjual durian langganan kami. Sebenarnya lelaki itu tidak sekadar penjual durian. Ia juga menjual buah musiman yang lain. Namun begitu, kami lebih mengenalnya sebagai pedagang durian yang ramah dan baik. Ia sudah tentu lelaki yang menyenangkan. Berbeda sekali dengan Lus yang tidak sekalipun kulihat tertawa lepas.
Aku marah sekali. Lus pasti juga sangat kesal. Kenapa Kayin mesti menikah dengan lelaki itu. Seharusnya ia pergi jauh-jauh dan tidak pernah kembali ke kota ini jika kepulangannya hanya untuk menyakiti. Semestinya Kayin tahu kami belum bisa sepenuhnya menyingkirkan ia dari hati kami.
“Sudahlah,” tukas Lus saat aku terus-menerus membicarakan Kayin.
Aku terdiam. Kutatap lama-lama mata Lus yang suram. Lelaki yang terlihat sangat kesepian. Aku ingin memeluk Lus yang rapuh dengan pelukan paling dendam. Ia yang bertahun-tahun hidup sendirian, tanpa Kayin yang mungkin saja sebenarnya sangat ia cintai, dan perasaan itu pasti saja menyakitkan. Aku ingin menyelamatkan Lus dari kesakitannya itu.
Dan saat itulah seekor ular telah mendengar apa-apa yang bahkan baru kupikirkan.
O, betapa dekat jarak antara ular dan pikiran seseorang. Ular yang telah merenggut musim buah-buahan yang seharusnya manis dalam ingatan. ***
.
Catatan Musim Buah. Catatan Musim Buah. Catatan Musim Buah. Catatan Musim Buah. Catatan Musim Buah.