Cerpen Ray Eurus (Kaltim Post, 01 Januari 2023)
KAU mencodakkan kepala pada bibir pintu, lalu mengajakku beralih ke bangku di bawah pohon kersen. Hari ini cukup berawan dan kau ingin menikmati udara pagi tanpa harus memayungi kelopak mata dengan sebelah telapakmu, seperti beberapa hari belakangan. Pukul tujuh pagi lewat sepersekian menit, kau sudah mengeluhkan keringat yang membentuk jalur-jalur di sepanjang pelipis turun ke dagu, membelah pulasan bedakmu saat itu.
“Kesiangan aku, Bunda. Enggak sempat bikin bekal. Harinya enak kelonan.” Kau terkekeh setelah menjelaskan alasan kita nongkrong di warung nasi kuning ini. Tanpa basa-basi, kau menggamit tanganku ketika kita berpapasan di gerbang tadi. Dan di sinilah kita mengisi waktu pagi, di seberang jalan bangunan tempat anak-anak kita belajar mengenal huruf—latin dan hijaiah, serta bernyanyi sambil bertepuk tangan.
Tak berapa lama suami ibu warung mengantarkan dua cangkir teh panas dan pesananmu; sepiring nasi kuning dengan lauk kepala ikan haruan bumbu merah lengkap dengan serundeng, serta sekotak bekal milik anakmu. Kau izin undur diri sejenak, mengantarkan kotak bekal itu ke seberang.
Selang belasan menit, dengan membawa sepasukan ibu-ibu muda lainnya, kau sudah duduk di hadapanku. Demi menjunjung asas simbiosis mutualisme, aku berdiri menyambut dan melakukan seremonial cipika-cipiki kepada mereka. Dan dengan ini semua, aku yakin sebentar lagi akan dimulailah ritual pagi. Biasanya kau yang akan memulai, tapi entah topiknya apa kali ini.
“Eh, Bunda-Bunda… tau endak?” Tanpa aba-aba, ibu-ibu lain yang masih sibuk membenahi duduk, seketika menyimak ke arahmu.
Kau mulai dari kejadian kemarin menjelang asar di halaman sekolah. Kau yang saat itu kebetulan melintasi depan sekolah menyaksikan guru baru kita bersama seorang lelaki terlibat adu mulut. Kejadian itu cukup mencuri perhatian orang-orang di sekitar, katamu. Tak ayal beberapa orang mendekat, mencoba untuk menengahi.
“Ternyata, itu eks-nya Bunda Lina.”
“Oh, janda toh?” timpal ibu lain, dilanjutkan dengan o-o yang saling bersahutan. Suara mereka sudah serupa cengkung-cengking sekumpulan dubuk yang riuh berlomba merobek-robek bangkai, di telingaku.
“Suami kedua, lagi,” sambungmu makin memantik penasaran pendengar.
“Ah, yang benar Bunda? Masih muda, kok. Seumuran kita-kita ini sepertinya.”
“Ih, betul. Kalo endak percaya coba tanya bundanya Salsa. Iya kan, Bunda?”
Aku terperanjat. Apa-apaan kau ini? Kenapa kau lemparkan bola panas kepadaku?
Aku mengangkat alis dan memaksakan sudut-sudut bibir terkembang sekilas, saat berpasang-pasang mata mengekori tatapanmu ke arahku. Aku merasa konyol dengan ekspresi sendiri. Kau berhasil menjebakku. Brilian!
Aku memang mengenal Bu Lina. Aku pula yang menginfokan padanya mengenai lowongan guru TK di sekolah anak-anak kita ini. Dan kau pun sepertinya mengendus kemafhumanku mengenai kisah hidup guru baru itu.
“Em… saya kurang paham ya, Bunda-Bunda, sama apa yang terjadi.” Kuedarkan pandangan ke masing-masing pemilik mata yang menatapku.
Kau memasang wajah tak percaya. Aku pun menimpali dengan mengangkat bahu saja. Andaikan di sini hanya kita berdua, bisa jadi aku akan sedikit menceritakan kisah guru baru itu padamu. Kau harusnya tak seperti ini, bagaimana pun dia seorang guru. Setidaknya, sekadar berempati sebagai sesama perempuanlah kalau kau mau.
Aku segera meraih ponsel pintar, sengaja memutus harapan mereka untuk menikmati drama hidup orang lain dariku. Bagaimanapun, aku cuma perempuan biasa yang tak bisa lama-lama mengeratkan geraham untuk tak ikut bernyanyi lagu sumbang, bersama ibu-ibu ini. Aku bukan pula sok suci, hanya berusaha menahan hasrat tidak ember dan berlagak paling tahu untuk hal ini. Kendatipun lidahku gatal sekali ingin melucuti setiap helai tabir yang guru baru itu sampirkan.
Dia juga seorang ibu, sama sepertimu; sama sepertiku.
Namanya Linamelena. Dia baru dua pekan empat hari diterima mengajar. Asal kau tahu, aku tak mengkhususkan info lowongan itu padanya saja. Aku sengaja membuat story pada sosmedku mengenai lowongan tersebut. Tanpa kunyana, dia yang datang mendaftar dan diterima.
Andaikan di sini hanya kita berdua, akan kuceritakan bahwa dia terlilit utang karena gaya hidupnya yang aduhai. Dia berselingkuh dari suaminya yang sempurna, setidaknya begitulah penilaian orang-orang. Kalau kau mau tahu dari mana aku tahu, maka jawabannya adalah dari suamiku.
Suamiku dan mantan suaminya yang kau lihat sore kemarin itu, sama-sama satu lokasi. Maksudku, mereka sama-sama bekerja di perusahaan besar yang menjadi ikon Kota Minyak tempat kita menetap ini. Kau tahu, ‘kan?
Dua pekan on duty dua pekan off duty, begitu jadwal para pekerja di perusahaan tersebut. Namun, semenjak pandemi hingga beberapa waktu belakangan ini, jadwal pekerja lokasi makin membuat para istri keki. Jadwal on duty mereka lebih lama dari biasanya, sementara liburnya sama.
Andaikan di sini hanya kita berdua, akan kusampaikan bahwa dari kabar yang kuterima saat suaminya on duty, dia gila-gilaan dengan teman-tamannya. Bahkan dia pernah mengunci kedua anaknya yang masih kecil-kecil dari luar rumah, saat dia asyik-asyikan dugem sampai menjelang subuh. Bayangkan, dia dugem! Muslimah yang dikenal tetangga sebagai ibu yang rajin bepergian untuk ikut kajian, ternyata juga gemar mabuk-mabukan. Kebiasaan yang mengherankan, ‘kan?
Kemudian, anak-anaknya histeris menggedor-gedor pintu dari dalam karena listrik tiba-tiba padam, sementara dia belum balik ke rumah. Bersyukur ada seorang tetangga yang mendengar—pria yang tinggal di seberang rumah. Lelaki tersebut serta-merta mengabarkan kondisi anak-anak itu kepada sang suami di lokasi melalui panggilan telepon. Dan itulah awal mula kebejatannya terungkap.
Andaikan di sini hanya kita berdua, akan kusampaikan anggapan beberapa orang yang mengenalnya, bahwa dia kurang puas bermain-main saat remaja. Baru mau naik kelas dua sekolah menengah atas, dia sudah berbadan dua. Dia dan kedua orangtuanya tiba-tiba saja lenyap dari kota ini. Mereka melarikan diri, sampai kurang lebih dua tahun dan kembali dengan menggendong bayi. Akunya sih, ketemu jodoh saat ayahnya dinas di kota tempat mereka mengasingkan diri itu. Dan daripada pacar-pacaran, mereka dinikahkan sampai akhirnya dianugerahi momongan. Ah, siapa yang percaya?
Singkat cerita, perjalanan rumah tangganya hanya seumur jagung dengan suami pertama. Alasan ketidakmatangan emosi suaminya sampai berujung KDRT, berhasil mencuri simpati keluarga besarnya yang semula mengacuhkan dia dan kedua orangtuanya. Ditambah lagi, ibunya pun menjanda setelah perceraiannya tersebut. Ayahnya mengalami serangan jantung dan wafat seketika.
Tangan-tangan pahlawan kesiangan memeluk mereka erat, kala itu. Sampai pada kondisi seorang kerabat berniat menjodohkannya dengan lelaki baik; mapan, lajang, bergaji besar. Lelaki itu bekerja di perusahaan pengeboran minyak yang sudah mendunia, dan terbesar di Kalimantan. Semua pekerja dari perusahaan yang masih beroperasi sejak konsesi Mathilda beratus tahun lalu ini, dikenal berkantong tebal. Dan sudah bisa dipastikan cintanya seketika tumbuh atas dasar itu.
Andaikan di sini hanya kita berdua, akan kukabarkan dari pernikahan keduanya tersebut, dia dianugerahi dua orang anak. Namun, anak terkecilnya mengalami gagal jantung setelah 42 hari dilahirkan secara prematur. Intinya, sejauh yang kutahu, pernikahan mereka berdua tampak baik-baik saja. Buktinya, dia kerap memamerkan foto-foto liburan dan kemesraan mereka di sosmed. Itu sebatas yang kutahu, dan sudah pasti aku tahu dari suamiku.
Andaikan di sini hanya kita berdua … syukurlah tidak.
***
Cerita pagi di bawah pohon kersen yang kau kisahkan beberapa hari ini masih sama. Kau bahkan memberikan nama ganti untuknya, agar kalian leluasa membicarakannya. Hari kesatu, kedua, ketiga, sampai keempat aku menyerah.
Kau memutar bola mata saat aku mulai memotong obrolan. Kau pun pernah memajukan bibir saat aku melemparkan celetukan, “Mintalah ganti guru saja ke kepala sekolah, kalau begitu.”
Andaikan saat itu hanya kita berdua, ingin sekali aku tambahkan: Kau ajar saja anakmu sendiri di rumah! Bukankah, al ummu madrasatul ‘ula?
***
Cerita pagi di bawah pohon kersen pada hari kelima. Tidak ada sepasukan ibu-ibu muda—pendengar setiamu, hanya kau dan aku.
“Bunda, coba lihat ini.” Kau menyodorkan ponsel milikmu yang menampilkan wanita muda berambut chunky highlight abu-abu berpadu dengan dasar seterang tembaga. “Norak, ya?” lanjutmu.
Kau memasang wajah meremehkan saat aku menengadah, menuntut jawaban. Kau menggerakkan alis sekali sambil mengangkat dagu, lalu aku seperti anak penurut segera kembali memerhatikan gambar di ponselmu.
“Bukan cuma itu. Nih, lihat yang di Tiktok-nya.”
“Ini apa maksudnya?”
“Makanya lihat aja. Sama itu, baca nama akunnya.”
Aku mengernyit, coba mengamati lalu mencerna. “Ini—”
“Iya, itu Bu Lina. Ngeri ‘kan?” Suaramu terdengar seperti petir di siang bolong. “Masa guru begitu. Mana itu di-up bulan lalu. Masih fresh!”
Aku merasakan sesuatu yang besar mengganjal di tenggorokanku. Sesuatu yang menjadikan lidahku kelu, lalu mulai menyesakkan dada. Sesaknya makin bertambah-tambah seiring bulatnya keyakinan atas apa yang kusaksikan. Sesuatu itu semakin turun, lalu memboikot udara yang masuk ke paru-paru.
“Kamu kaget ‘kan, Bunda? Aku juga enggak habis pikir. Ckckck!” Kau bergidik.
“Bunda? Shock berat, ya? Kok, pucat banget?”
Sesuatu yang panas akhirnya merembes keluar dari dua mataku. Bukan, bukan karena perempuan yang tak menutup aurat dan sedang goyang-goyang erotis di video itu adalah si guru baru. Akan tetapi, seseorang yang juga terekam dalam aplikasi tersebut.
Bulan itu, khususnya pada tanggal yang sama dengan keterangan waktu dalam video di aplikasi tersebut, dia bilang harus segera masuk karantina sebelum on duty off shore. Lantas itu mereka ada di mana?
“Pa-papah?” ***
.
.
RAY EURUS, nama pena dari Rahmayanti Fajaruddin. Penulis kelahiran Kota Tepian yang menetap di Balikpapan ini, sangat gemar makan salome. Saat ini, ia aktif menjabat di Gagasan Penulis Balikpapan (GPB) serta Gerakan Pemasyarakatan Minat Baca (GPMB) Kota Balikpapan. Sila kunjungi Instagram penulis pada @rayeurus atau boleh disapa pada akun Facebook: Ray Eurus.
.
Cerita Pagi di Bawah Pohon Kersen.