Sepatu Bola untuk Rehan

Cerpen Kak Ian (Radar Banyuwangi, 17 Desember 2022)

SIANG itu Rehan pulang sekolah begitu semangat. Terlihat dari pipi bocah itu yang tampak bersemu. Ia begitu semringah saat itu. Walaupun terik matahari tepat di atas kepalanya memanggang tubuh kecilnya. Tapi, ia tidak memedulikannya.

Ya, bagi bocah ingusan semacam dirinya, kebahagiaannya saat itu bisa mengalahkan apa pun. Termasuk tubuh kecilnya yang terpanggang oleh bola raksasa tepat di atas ubun-ubunnya. Padahal, di pelipisnya sudah tampak bulir-bulir kecil sebesar biji jagung. Peluh juga membasahi sekujur tubuhnya. Namun, ia mengabaikan begitu saja. Tak peduli.

Rehan terus berlari siang itu. Apalagi, di benaknya terus terngiang ucapan ayah sebelum ia tertidur pulas kemarin malam. Ayahnya berkata ingin membelikan ia sepatu bola yang baru. Karena sepatu bolanya yang lama sudah seperti mulut buaya. Menganga terus di bagian depannya.

Akhirnya, bocah yang masih duduk di bangku kelas empat itu pun selalu teringat ucapan ayahnya. Hingga ia tak lagi merasakan kepanasan saat kulitnya terpanggang oleh sengatan matahari. Lagi-lagi ia sama sekali tak merasakannya. Baginya tidak mengapa kulitnya terbakar asal sepatu bola baru untuknya menjadi kenyataan. Pikirnya.

“Ayah kan sudah janji jika kamu dapat ranking di kelas. Tentu Ayah akan membelikan sepatu bola yang baru buat kamu. Apalagi, besar nanti kamu bercita-cita menjadi bintang lapangan hijau. Ingin menjadi Kapten Tsubasa seperti kartun yang kamu tonton tiap hari seusai pulang sekolah. Iya kan? Besok ayah sama ibu akan ke pasar untuk membelikan sepatu bola yang baru untukmu.”

***

Tidak lama kemudian dan masih mengatur napasnya yang tersengal-sengal karena lari, Rehan pun tiba di rumah. Namun, ia tidak masuk ke dalam lebih dulu. Ia mengistirahatkan tubuhnya sejenak di beranda depan rumah. Ia begitu lelah seharian berlari.

Seusainya, anak berusia 10 tahun itu pun baru masuk ke dalam rumah dan mencari ayah dan ibunya. Berharap mereka sudah tiba di rumah dan memberikan sepatu bola impiannya. Ia ingin benda itu lekas ada di depan netranya. Ia begitu menggebu-gebu. Ia ingin segera memeluk sepatu bola barunya itu.

Lama, Rehan menunggu kedatangan ayah dan ibunya tiba di rumah, tapi tidak kunjung datang juga. Ia pun menjadi kesal sekali.  Merasa kedua orang tuanya itu telah membohongi dirinya, terutama ayahnya.

“Ternyata orang tua juga bisa berbohong, ya! Bisa-bisanya tidak menepati janjinya!” umpat Rehan sambil meratapi sepatu bolanya yang sudah seperti mulut buaya.

Namun, rasa kekesalan Rehan pun seketika lenyap. Raut mukanya sudah kembang kempis. Tampak mulai merona pipinya ketika nenek datang ke rumahnya.

Ya, kebetulan rumah nenek bersebelahan dengan rumah Rehan. Jadi, kapan pun ayah dan ibunya pergi, mereka selalu menitipkan apa pun pada nenek yang tak lain ibu dari ayah Rehan.

“Ini tadi ada titipan dari orang tuamu,” ucap nenek ketika menghampiri Rehan.

“Benarkah, Nek?” ucap Rehan dengan wajah berbinar. “Pasti ini sepatu bola yang ayah belikan untukku,” lanjutnya.

“Mana nenek tahu apa isinya,” nenek pun menanggapi sambil kebingungan.

“Ups, maaf, Nek! Aku lupa. Terima kasih ya, Nek,” seketika wajah Rehan pun makin ceria karena sepatu bola baru yang diinginkannya itu sudah di genggamannya.

“Ya sudah, nenek balik dulu ya. Jika kamu mau makan ke rumah nenek saja.”

Lho, terus ke mana ayah sama ibuku, Nek?”

“Katanya mereka mau nonton pertandingan sepak bola sore ini. Maka dari itu, mereka berangkat lebih awal agar bisa dapat tiket lebih dulu. Tapi, mereka tidak memberitahukan nenek di mana mereka mau menontonnya.”

“Oh, begitu! Ya, sudah terima kasih, Nek. Jika nanti aku lapar pasti ke rumah nenek!”

Rehan masih memeluk sepatu bola yang baru dibelikan oleh ayahnya itu. Mungkin karena saking bahagianya, ditambah lelah usai lari jauh dari sekolah, ia pun terlelap. Tanpa memikirkan rasa lapar yang dideranya. Ia sudah tertidur pulas di atas kursi tamu.

***

“Ayah! Ibu! Mau ke mana? Kenapa aku tidak ikut?”

“Tidak kamu di sini saja! Ayah dan ibumu mau pergi ke taman yang mana orang-orang merindukannya.”

“Iya, tapi kenapa aku tidak ikut kalian!”

“Kamu di sini saja, Nak!”

“Ayah! Ibu! Aku ikuuut. Jangan tinggalkan aku. Aku ta-ta….”

Bruk! Rehan pun terbangun saat sepatu bola baru yang didekapnya terjatuh.

Ternyata itu hanya bunga tidur Rehan. Hingga membuat ia menjadi tidak sadarkan diri. Ia pun sempat mengigau. Tapi, ia tetap ketakutan bila hal itu menjadi kenyataan. Ia takut ditinggal sungguhan oleh kedua orang tuannya itu. Apalagi, saat ia bangkit dari tidurnya hari sudah gelap. Namun, ia tetap tidak menemui keberadaan ayah dan ibunya. Sebenarnya mereka ke mana?

Tepat saat itu, semua stasiun televisi sedang memberitakan peristiwa yang sangat mengerikan. Ya, tentang banyaknya korban tewas akibat saling berdesak-desakkan antarsuporter di pintu keluar stadion sepak bola untuk menyelamatkan diri masing-masing. Penyebabnya, ada kericuhan di dalam stadion.

Rehan pun tidak tahu sama sekali mengenai hal itu, apalagi mengetahui berita yang sedang berlangsung. Sementara di rumah nenek sedang beradu tangis. Meratapi kepergian anak dan juga menantunya yang menjadi salah satu korban tragedi itu. Perempuan ringkih itu terus menangis ketika mengetahui orang yang ia cintai sudah terbujur kaku di tempat kejadian.

***

Rehan masih menunggu kedatangan kedua orang tuanya. Apalagi, ia sudah memakai sepatu bola baru miliknya. Ia ingin segera memamerkan pada ayahnya terutama—dan juga berjanji akan terus belajar hingga bisa menjadi kapten di lapangan hijau seperti cita-citanya.

Akhirnya malam pun makin merambat cepat ditambah adanya aroma mewangi di sekitar rumah. Apakah ayah dan ibu datang dalam bentuk lain untuk melihat Rehan. Melihat anak laki-laki semata wayang mereka untuk terakhir kalinya?

Lagi-lagi Rehan tidak merasakaannya. Anak yang belum balig itu pun akhirnya kembali tertidur pulas dalam keadaan memakai sepatu bola yang baru dibelikan oleh ayahnya. Dan, dalam bunga tidurnya itu ia pun kembali bermimpi. Ia sedang duduk bersama ayah dan ibu di sebuah stadion sepak bola menyaksikan tim favoritnya berlaga di lapangan hijau dengan penuh kebahagiaan. ***

.

.

Kak Ian, penulis, aktivis anak, dan penikmat sastra. Kini bergiat di Komunitas Pembatas Buku Jakarta. Karya-karyanya sudah termaktub di koran nasional dan lokal.

.

Sepatu Bola untuk Rehan. Sepatu Bola untuk Rehan. Sepatu Bola untuk Rehan.

Arsip Cerpen di Indonesia