Cerpen Muhammad Solihin (Kaltim Post, 22 Januari 2023)
ENTAH mengapa pikiranku tertuju pada perempuan paruh baya yang aku jumpai dua hari lalu di pelabuhan penyeberangan kapal feri. Di sana, semua orang terlihat tidak ada yang peduli dengan keberadaan perempuan itu. Mereka sibuk dengan tujuan perjalanan masing-masing. Kalaupun ada yang memerhatikan, pasti mereka enggan mendekat. Mereka menjaga jarak dan berusaha menjauh darinya. Ada rasa jijik dan takut melihat perempuan itu.
Perempuan itu berambut lurus, panjang terurai, sangat terlihat berantakan seperti tidak pernah disisir. Penampilannya terkesan jorok dan sangat lusuh. Daster yang dikenakan compang-camping, berlubang di mana-mana. Aroma badannya sangat menusuk hidung. Sudah dapat dipastikan perempuan itu tidak pernah mandi atau membersihkan tubuhnya.
Perilakunya terlihat sangat aneh. Ia kerap tertawa terbahak-bahak, menangis tanpa sebab, dan marah sembari berteriak sejadinya. Oleh alasan itu, para pengunjung pelabuhan bersikap acuh tak acuh. Perempuan itu terlihat seperti orang gila.
Sejatinya, goresan wajah perempuan paruh baya itu terlihat cantik. Jika saja wajah dan tubuhnya dicuci bersih dari debu yang melekat dan sedikit dipoles moisturizer serta bedak, tentu aura kecantikannya akan tampak. Perempuan gila berkulit putih itu memiliki hidung mancung dengan bibir mungil, tipis, dan terlihat lebih seksi jika saja lipstik warna merah muda menghiasinya.
Masih melekat dalam ingatan, ketika aku memberinya nasi bungkus lengkap dengan lauk ayam goreng dan sayur santan khas masak padang. Nasi bungkus itu aku beli di warung pojok sebelah kanan pelabuhan. Entah mengapa, saat melihat perempuan gila itu, ada rasa iba menggelitik naluriku untuk berbagi rezeki. Aku sodorkan nasi bungkus itu dan ia terima dengan kedua tangannya. Perempuan itu hanya diam tanpa berucap satu kata pun. Ia menatap mataku dalam dan tersenyum lebar. Aku membalas senyum manisnya itu.
“Makan nasi bungkus ini ya, Bu,” pintaku kepadanya.
Tatapan mata dan senyuman perempuan itu membuat hatiku berdesir, seperti ada perasaan aneh mengalir di sekujur tubuhku. Aku merasa pernah dekat sekali dengannya. Apakah aku pernah berjumpa dengan perempuan itu sebelumnya? Tapi di mana?
Mengapa jantungku berdegup kencang ketika menatap matanya? Siapakah gerangan perempuan itu? Begitu banyak pertanyaan dalam benakku. Pikiranku terus merangkai tanya tanpa tahu jawaban sesungguhnya.
Ah, persetan! Untuk apa sih aku memikirkan perempuan itu sampai seserius ini. Seperti tidak ada kerjaan lain saja. Apa peduliku padanya? Toh, dia bukan siapa-siapa bagiku. Aku menggerutu dalam hati.
Segera aku tepis pikiran liar itu untuk tidak mengingat-ingat perempuan gila itu kembali. Selanjutnya, aku ambil laptop hitamku dan memulai memainkan jari jemari melanjutkan menulis novel yang tertunda. Tapi anehnya, bayangan wajah perempuan itu tetap saja bersemayam dalam pikiranku. Wajah itu seakan menari-nari tak mau pergi. Bahkan dalam tidur sekalipun, ia kerap hadir sebagai mimpi. Aku tak mampu menghapus sosok perempuan itu dalam imajinasiku.
Bisa ikutan gila aku dibuatnya!
***
Balikpapan, 19 April 1981. Telah terjadi kecelakaan laut di perairan Kalimantan Timur. Kapal feri Samudra Borneo karam setelah bertabrakan dengan kapal tanker pengangkut batu bara. Semua penumpang kapal feri tidak ada yang terselamatkan hingga berita ini diturunkan. Bahkan jasad sang kapten kapal pun tidak ditemukan. Apakah ia masih hidup atau sudah mati?
Sekilas isi berita yang aku baca dalam sebuah surat kabar lokal 39 tahun lalu tentang peristiwa terjadinya kecelakaan laut di Teluk Balikpapan. Saat kejadian itu, aku belum lahir di dunia ini.
Surat kabar itu, aku temukan di rak bagian pojok sebelah kanan ruang perpustakaan kampus. Saat itu aku sedang mencari bahan literatur untuk novel yang sedang aku garap. Dari isi berita koran lawas itu, ada hal yang menarik dicermati.
Pertama, kapten kapal tidak ditemukan jasadnya. Selanjutnya, istri sang kapten setiap hari datang ke dermaga untuk menanti kepulangan suaminya. Karena sang istri merasa yakin bahwa suaminya pasti kembali. Pada saat peristiwa itu terjadi, kondisi istri sang kapten sedang hamil tua. “Begitu mengenaskannya kisah tentang kapten kapal yang hilang ditelan lautan itu,” gumamku dalam hati.
Sontak naluri jurnalistikku pun terpanggil setelah membaca koran itu. Aku ingin sekali melakukan investigasi dan menuliskan kisahnya dalam sebuah novel dengan tema di balik kisah pilu tenggelamnya kapal feri. Ada rasa penasaran untuk mengulasnya dari berbagai sudut pandang. Aku ingin sekali mengetahui kondisi istri sang kapten. Bagaimana kehidupan ia sekarang? Apakah ia masih hidup atau sudah mati? Sebagai seorang penulis, pertanyaan-pertanyaan itu terus menggelitik naluri jurnalistikku.
Sudah satu minggu ini investigasi dimulai. Aku melakukan riset, mengumpulkan data dan informasi dari berbagai sumber berkaitan dengan tenggelamnya peristiwa kapal feri itu. Aku berusaha mencari tahu keberadaan istri sang kapten kapal. Di mana dan bagaimana kondisinya sekarang?
Hari ini agendaku adalah menemui kepala kantor penyeberangan pelabuhan untuk mencari informasi tentang peristiwa kecelakaan transportasi laut itu. Siapa tahu masih ada data ataupun arsip yang tersimpan atas tragedi 39 tahun yang memilukan itu. Bergegas aku mengambil jaket kulit berwarna cokelat tua kesayanganku. Tak lupa pakai helm bermotif unik yang aku beli di pasar loakan seberang pasar pagi dan pastinya sesuai standar berkendaraan roda dua.
Dengan tubuh setinggi 170 sentimeter, berbadan ramping dan tegap, tentu aku terlihat macho saat mengendarain vespa. Vespa lawas yang aku beli dari hasil kerja kerasku selama menjadi penulis. Aku pacu vespa bututku dengan kecepatan sedang dan tidak memerlukan waktu lama, akhirnya tiba juga di tujuan. Jarak pelabuhan dari rumahku tidaklah begitu jauh. Kira-kira hanya memakan waktu setengah jam lewat sedikit jika kondisi jalan dalam keadaan normal tidak terjebak macet.
Sesampainya di pelabuhan, segera aku menuju ruang kantor kepala pelabuhan. Tapi menurut informasi stafnya, bapak kepala sedang keluar makan siang. Jadi aku putuskan menunggunya di luar kantor, sembari menikmati pemandangan lalu lalang orang yang hendak melakukan perjalanan laut.
Aku sandarkan tubuh ini di kursi panjang persis dekat tempat duduk perempuan paruh baya yang pernah aku jumpai waktu itu. Tapi kali ini aku tidak melihat perempuan itu di sana. Ke mana perempuan gila itu, batinku.
“Nak, lagi menunggu siapa?” terdengar suara lelaki tua menyapaku dan ada sentuhan tangan memegang bahu kananku. Aku pun terperanjat. Lalu memalingkan wajahku ke arah suara. Terlihat seorang lelaki tua membawa keranjang berisikan bermacam minuman dingin.
“Oh, iya, Pak. Saya lagi menunggu kepala kantor pelabuhan,” jawabku singkat.
“Tidak beli minuman dingin, Nak? Cuaca panas sekali siang ini,” bapak tua itu menawarkan barang dagangannya.
Aku ambil sebotol air mineral dari keranjang dagangannya, lalu membuka segelnya dan segera meminumnya. Ah, segar sekali rasa air mineral ini, tenggorakanku yang sedari tadi cekat kini lega kembali. Aku rogoh saku celana kananku dan aku dapati uang Rp. 10 ribu, lalu kuserahkan kepada bapak tua itu.
“Ini uangnya, Pak.”
Bapak tua itu mengambil uang kembalian Rp 4.000 dari saku celananya dan menyerahkan kepadaku.
“Ada keperluan apa dengan kepala pelabuhan, Nak?” tanya lelaki tua itu lagi.
Sebenarnya ada rasa kesal dengan lelaki tua itu. Apa urusannya tanya-tanya melulu. Kepo banget! Mau tahu saja urusan orang. Gumamku dalam hati.
Tapi apa mau dikata, tetap saja aku jawab pertanyaan lelaki itu untuk menunjukkan sikap hormat kepada orang yang lebih tua. Karena dulu saat di bangku madrasah, guruku pernah mengajarkan agar selalu menghormati orang yang lebih tua.
“Aku ingin berjumpa dengan kepala pelabuhan untuk mencari informasi tentang peristiwa tenggelamnya kapal feri Samudra Borneo,” jawabku padanya.
“Oh, peristiwa tenggelamnya kapal feri itu. Kalau saya tidak salah ingat, peristiwa itu terjadi 39 tahun lalu,” celetuk bapak tua itu.
Sontak aku kaget. Jawaban bapak tua itu sama persis seperti isi koran yang aku baca waktu di perpustakaan kampus.
“Benar, Pak. Kok bapak tahu kejadian itu?” timpalku kembali. Ada rasa penasaran dengan jawaban lelaki itu.
“Tentu aku paham sekali, Nak,” jawab lelaki itu. Terlihat bola matanya memandang jauh ke depan seperti menerawang masa lalu.
Aku meminta bapak tua itu untuk menceritakan peristiwa karamnya kapal nahas itu. Ia pun menjelaskan dengan detail kejadiannya. Luar biasa, ingatan bapak tua itu masih tajam.
***
“Ibu Novi Kumala Dewi,” bapak tua itu menyebutkan sebuah nama.
“Siapa beliau, Pak?” tanyaku padanya.
“Beliau adalah istri dari Subagio Hadi Kusuma.”
“Lalu, siapa Subagio Hadi Kusuma, Pak?” timpalku kembali dengan rasa ingin tahu.
“Ia seorang keturunan ningrat berdarah biru yang merupakan kapten kapal karam itu. Saat peristiwa itu, Novi sedang hamil besar.” lelaki tua itu menjelaskan peristiwa 39 tahun silam.
“Di manakah keberadaan ibu itu sekarang, Pak?” desakku penasaran.
“Novi, biasanya duduk di sana,” bapak tua itu sambil menunjuk suatu tempat. Lalu ia melanjutkan ceritanya kembali.
“Setiap hari Novi duduk di pelabuhan ini untuk menunggu suaminya pulang sejak 39 tahun lalu. Ia selalu setia menanti kepulangan suaminya,” jelas lelaki itu.
“Apakah perempuan paruh baya yang terlihat kumal seperti orang gila itu adalah Ibu Novi, Pak?” tanyaku penasaran.
Lelaki tua itu hanya menganggukkan kepala tanpa berkata apapun. Itu artinya, ia membenarkan pernyataanku.
Seperti menemukan oase dalam kehausan. Cerita bapak tua itu membawaku ke masa silam dan membuka tabir informasi yang aku cari selama ini.
“Maaf, Pak, jika boleh saya tahu, bapak ini siapa? Kok paham betul cerita tentang perempuan paruh baya itu?” tanyaku kembali pada lelaki tua itu.
“Dahulu, kami pernah satu almamater di universitas. Aku pernah mengagumi Novi saat kuliah. Suatu hari aku pernah memberanikan diri untuk mengatakan cinta padanya. Tapi, takdir bicara lain. Novi lebih memilih Subagio, seorang lelaki terhormat.”
Pak tua itu melanjutkan ceritanya kembali. “Lelaki pilihan Novi itu bekerja sebagai kapten kapal dengan kehidupan yang memang matang. Sedangkan aku masih seorang mahasiswa melarat tidak punya apa-apa. Tentu saja Novi lebih memilih kapten itu ketimbang diriku.”
Mata lelaki itu berbinar, seakan mengenang masa lalunya.
“Oh, gitu, Pak. Lalu bagaimana nasib anak yang dikandung istri kapten kapal?” tanyaku semakin penasaran.
“Anak itu terlahir selamat. Bayi mungil berkulit putih itu memiliki bibir tipis dan ada tanda hitam di punggung kanannya. Tanda itu membentuk seperti simbol love,” lelaki tua menggambarkan ciri identitas bayi itu dengan detail.
Aku terperanjat mendengar penjelasan lelaki tua itu. Ada tanda hitam di punggung kanan berbentuk menyerupai simbol love. “Kok bisa persis sama seperti tanda lahir di punggung kananku,” ujarku dalam hati.
Berjuta praduga dan pertanyaan mengusik pikiranku. Jangan-jangan aku anak dari ibu gila itu? Ah, masa iya! Tidak mungkin. Aku tepis jauh pikiran liar itu.
Tak terasa perbincangan diriku dengan lelaki tua itu begitu larut. Sinar matahari yang berada di batas garis terbarat cakrawala seakan tak ingin pergi tanpa kesan yang mendalam, maka ia melukis langit yang disebut senja.
Awan-awan yang bentuknya tak beraturan membentuk barisan yang terlihat artistik dan menggoda. Lelaki tua yang bersamaku berpamitan dan melangkahkan kaki meninggalkan diriku sendiri. Ia menghilang di sudut pelabuhan yang penuh drama kehidupan ini. “Apa iya, perempuan gila itu ibuku?” tanyaku kembali. ***
.
.