Pesta dalam Mimpi

Cerpen Faizul Futhona U (Suara Merdeka, 29 Januari 2022)

SESUAI keinginanmu, aku mengundangmu untuk hadir ke sebuah pesta dalam mimpiku. Sudah banyak orang yang aku undang. Mulai dari orang besar sampai kecil. Presiden serta menteri-menterinya, tukang pandai besi, pemulung, orang gila, anak punk, guru-guru yang belum naik gaji, koruptor, bayi yang baru lahir, dan masih banyak lagi yang bahkan tidak ada di daftar undangan, wajahnya nongol.

Kau bisa bayangkan betapa meriahnya pesta itu, dalam sebuah gedung yang lebarnya dua kali lapangan sepak kaki. Berlantai kaca, apabila kau menoleh ke bawah maka akan kau temui pesta dari gedung lain, itulah mimpi tetangga. Mimpiku atapnya penuh dengan lampu warna pelangi dan berkelip-kelip abadi. Semua alat musik tersedia, mulai dari gitar, piano, angklung sampai seruling dan bonang, lengkap berjejer di setiap sudut gedung. Kau tahu, mana yang paling keras berdentum? Ah, iya, yang jelas bukan bonang atau angklung, mereka kalah masyhur. Aku sendiri pun tak sudi.

Sebuah pesta belum sah dikatakan, bila jamuan yang dihidangkan adalah menu sehari-hari. Akhirnya aku memesan makanan yang lengkap. Semuanya, mulai dari makanan yang belum pernah dimakan presiden, ataupun makanan yang belum pernah dimakan orang gila. Ternyata keduanya mudah untuk menjamunya, orang gila pernah makan apa saja dan presiden tidak boleh makan apa saja. Yang repot itu anak punk dan bayi yang baru lahir. Anak punk banyak mintanya. Tapi aku maklum, tidak apa-apa, kita yang lebih paham, harus mengalah. Satu lagi, bayi yang baru lahir, susah yang satu ini, belum bisa makan apa-apa, ia hanya mau minum ASI ibunya saja, dan sialnya ibunya belum tertidur. Jadi ia menangis sepanjang pesta dalam mimpiku. Bila kau penasaran bagaimana dengan jamuan koruptor? Aku tidak menjawab.

Pesta dimulai saat semua tamu undangan telah hadir. Ini yang aku suka dari pesta dalam mimpi. Semua tepat waktu. Tidak ada kata terlambat. Aku berani bersumpah. Karena aku sendiri yang menerima tamu-tamu itu sambil berdiri di depan pintu gerbang pesta yang bertuliskan Ahlan wa sahlan.

Sepertinya orang-orang berubah di dalam dunia mimpi ini. Dunia mimpi adalah dunia yang penuh bahagia. Buktinya orang-orang pada tersenyum, apa lagi guru-guru itu, meski belum naik gaji. Subhanallah, senyumnya tulus sekali, belum pernah aku melihat senyum yang benar-benar hidup, di dunia sana.

Aku mempersilakan presiden maju ke arah panggung untuk membuka pesta ini. Panggung itu gemerlapan lampunya. Dengan dekorasi kekinian ia layak menjadi panggung impian. Hanya saja ia tidak tinggi, bahkan benar-benar setara dengan yang lain. Sengaja saja aku buat demikian. Toh itu mimpiku. Aku merdeka atas mimpi sendiri. Pun tidak masalah bagi presiden.

Beliau menganggukan kepala dan bertanya, “Ini pesta apa?”

“Sesuai yang tertulis di undangan, Pak.”

Kemudian beliau berjalan dari gerbang pesta menuju panggung tanpa pengawal. Bunyi sepatunya seperti suara permisi bagi orang-orang yang sedang bercengkrama bahagia.

Beliau membetulkan posisi songkok yang padahal sudah pas. Diketuknya mikrofon itu tiga kali. Lalu suara gemuruh di gedung itu seperti ada yang mengecilkan volumenya, untuk kemudian hening. Kecuali bayi itu, yang kemudian menjadi satu-satunya sumber bunyi. Semua memaklumi dan tetap antusias.

“Selamat datang tuan-tuan, rekan-rekan pemulung dan koruptor.” Yang disebut namanya tersenyum dan orang-orang pada ketawa sedikit. Tidak saling benci dan tidak jengah sedikit pun.

“Meski hanya di dalam mimpi, ini adalah pesta yang luar biasa. Apalagi melihat kalian saling bercengkrama, berangkul-rangkulan dan saling berbagi senyum. Pokoknya terlihat rukun begitu saja, jiwa saya bergetar hebat.

Di depan sini, saya bukanlah presiden kalian. Saya sama seperti kalian, orang yang diundang untuk hadir ke pesta dalam mimpi seseorang. Yang bahkan seseorang itu, saya tidak mengenalnya. Tidak seperti orang-orang mengenal saya seperti di dunia sana. Saya juga tidak tahu mengapa saya, atau kita hadir memenuhi undangan itu. Bahkan yang tidak diundang pun ikut-ikutan datang ke pesta ini. Luar biasa.

Pesta dalam mimpi ini seperti magnet, siapa pun yang hilang sadar di dunia sana, akan tersedot ke sini. Barangkali hanya ada satu alasan yang tepat mengapa kita datang ke pesta ini. Cinta. Ya, cinta. Tidak ada alasan serta syarat lain yang pantas untuk datang ke pesta ini selain satu rasa itu.

Hanya sayang, ia telah terkubur dalam kesadaran kita. Tertindih cuan-cuan, asa pada masa depan, rumah impian serta mimpi-mimpi lain yang sebenarnya bukan mimpi dan tidak mendatangkan kebahagiaan. Membuatnya terperosok dalam sudut ketidaksadaran kita. Diakui atau tidak.

Ketika pesta ini diadakan dalam mimpi, sedangkan mimpi adalah buah dari ketidaksadaran, maka cintalah yang sebenarnya datang. Meski tanpa undangan. Eghm, akhir kata, terima kasih cinta, selamat berpesta!”

Beliau menekankan kata terakhirnya dan disambut dengan sorak-tepuk tangan orang-orang. Pesta pun dimulai.

Aku sebagai tuan mimpi, bebas mau apa saja. Aku memilih berjalan ke salah satu sudut gedung yang sengaja ditinggikan. Bukankah kau yang menyuruhnya? Ah, aku duduk sendiri. Menunggumu, barangkali sebentar lagi kau tertidur. Dari atas, aku iri melihat orang saling bersua dengan cintanya masing-masing. Pemandangan itu mengingatkanku saat kita datang pada suatu acara pernikahan teman, lalu kau menyuruhku untuk membuat sebuah pesta dalam mimpi. Mimpiku tepatnya.

Lalu kau berkata, “Siapa pun boleh kau undang dan jangan lupakan aku!” Kemudian kau meramal, “Pesta itu tidak sembarangan, barangkali orang yang kau undang bisa tidak hadir dan bisa jadi yang tidak kau undang akan hadir karena terpanggil. Pesta dalam mimpi itu akan menjadi magnet.”

Ya, kata-kata itu belum terkelupas dari ingatanku, bersama sorot matamu yang tajam menusuk pandanganku.

Sejak saat itu, aku bertekad membuat sebuah pesta dalam mimpi. Aku mulai mengutus orang-orang untuk menyebarkan undangan. Ada yang ke utara menuju istana, ada yang jauh ke barat mencari orang gila, dan khusus untukmu aku sendiri yang datang ke rumahmu. Waktu itu aku merasa betapa beruntungnya aku, bila kau hadir memenuhi undanganku. Mimpiku akan dipenuhi keberkahan, sebab wajahmu. Malaikat penjaga mimpi pun bahagia akan hadirmu.

Untuk tata ruangan, aku serahkan semuanya pada malaikat-malaikat penjaga mimpi. Mereka sudah biasa merangkai mimpi. Bagi mereka, pesta dalam mimpi semacam mimpiku sangat sepele dibuatnya. Buktinya ketika aku baru tertidur dan mulai bermimpi, gedung pesta itu sudah siap. Lengkap dengan salah satu sudut gedung yang ditinggikan.

Aku jadi tersadar bahwa sampai saat ini aku masih duduk sendiri. Wajahmu ternyata hanya mimpi dalam mimpi ini. Sudah cukup lama pesta ini berlangsung. Orang-orang sudah puas dalam mimpinya. Harusnya kita juga sudah menghabiskan banyak mimpi untuk saling ditukarkan. Aku tidak tahu kau sedang apa di sana, yang jelas dalam hatiku berbisik, “Apa kau tega melihat malaikat-malaikat itu bersedih atau kau memang tidak punya cukup cinta untuk datang!” ***

.

.

Faizul Futhona U adalah seorang santri di PP Al Ma’rufiyyah Semarang. Salah satu cerpennya masuk dalam antologi cerpen Perempuan Hutan (2019).

.

.

Arsip Cerpen di Indonesia