Lelaki yang Menyiapkan Jawaban

Cerpen Hartari (Media Indonesia, 12 Februari 2023)

DARI tiga anak ayah, hanya aku yang masih bertahan di sini.

Usiaku sepuluh tahun saat Mak merelakan kedua kakakku pergi. Pergi hanyalah kata penghalus dari minggat. Dua kakakku, Rusman dan Agus, memilih untuk meninggalkan kami. Beberapa minggu setelah minggat, mereka berkabar, konon mereka mencari pekerjaan di kota.

‘Jangan khawatir, Mak. Ada orang baik yang menawarkan pekerjaan di toko beras’, begitu tulis Rusman di selembar kertas. Tidak dijelaskan jenis pekerjaannya. Mungkin kuli panggul, mengingat badannya yang kekar. Sementara itu, Agus berkabar, dia mendapat pekerjaan di sebuah rumah makan.

Mak tidak marah, tidak pula menangis. Bapak pun demikian. Rusman dan Agus sudah cukup dewasa untuk menentukan jalan hidup mereka. Desa ini tak menjanjikan apa pun. Mereka harus keluar desa, mencecap kehidupan yang berbeda, berwarna. Namun, sebenarnya bukan karena alasan itu yang membuat keduanya minggat.

***

SEUSAI kebakaran lereng gunung beberapa tahun lalu, desa yang kami diami selama ini seperti neraka. Tandus, panas, dan gersang. Kehidupan tak lagi sama. Beberapa warga memilih bertahan karena tak punya pilihan lain. Rasa khawatir jika tak memperoleh pekerjaan yang layak di tempat baru, atau tidak punya kerabat yang siap menampung selalu membayang. Mereka bertahan dan bekerja menggarap tanah, meski harus berkarib dengan kemarau dan membiasakan dengan kesulitan air. Kehidupan memang telah berbeda.

Beberapa warga lain memilih untuk pergi, mencari daerah subur guna mengubah hidup. Bapakku memilih bertahan, bukan karena tak punya nyali untuk menjajal sesuatu yang baru di luar desa, tapi bapakku punya alasan tersendiri.

“Ini tanah kita,” begitu katanya, “Dia sudah memberikan semua yang kita butuhkan.”

Aku belum mampu mencerna kalimat sulit itu. Usiaku terlalu muda untuk memahaminya.

“Sudah kupikirkan. Besok aku akan memulainya, Mak. Aku tidak bisa diam terlalu lama.”

Kalimat itu mengiang. Apa yang akan dimulai? Tanyaku dalam hati.

Esoknya aku menunggu jawaban dari tanyaku semalam. Di depan balai-balai, aku melihat bapak menuntun bendot, kambing kesayangan Rusman.

“Mau dibawa ke mana, Pak?” tanya Rusman.

“Pasar hewan.”

“Belum Lebaran Haji,” Rusman berusaha mencegah.

“Kita butuh sekarang,” jawaban Bapak tenang.

Bapak menjual bendot. Uang hasil penjualan dibelikan bibit pohon, sisa uang yang tak seberapa diserahkan pada Mak. Mak menatap nanar, Rusman hanya diam. Masih ada dua kambing di kandang, pikir Rusman.

Bapak memikul bibit pohon, membawanya pergi entah ke mana. Jauh. Aku tidak tahu.

Keesokan harinya, seusai menggarap tanah, menyiangi gulma, dan mencari pakan kambing, Bapak melakukan pekerjaan serupa.

Bibit-bibit yang belum sempat ditanam kemarin, dipikulnya lagi menuju suatu tempat, jauh, aku tidak tahu. Bapak baru pulang menjelang matahari tumbang.

“Percuma, Pak,” kata Rusman.

“Percuma? Apanya yang percuma?”

“Paling-paling bibit itu tidak bisa tumbuh,” Agus memandang remeh.

“Namanya ikhtiar,” Bapak memungkasi baku pendapat.

Sejak itulah kehidupan di rumah kami mulai berbeda. Rusman dan Agus, keduanya sering bersitegang dengan Bapak. Ibu mulai membela dua anaknya. Aku ingin membela mereka, tapi aku kasihan dengan Bapak. Tidak ada yang mendukung Bapak. Aku memilih diam sebagai dukunganku padanya.

Hari merayap berganti minggu, bulan, dan tahun. Waktu berlari cepat, tapi kehidupan kami mulai melambat. Surut.

Rusman dan Agus minggat. Aku ingin menyusul mereka karena mulai tidak tahan dengan semua olok-olok teman dan kerabat. Olok-olok inilah yang dulu menjadi penyebab kedua kakakku meninggalkan rumah. Usiaku mendekati dewasa ketika aku punya keinginan menyusul mereka.

“Bapakmu itu sudah gendeng,” kata salah satu kerabat, di suatu petang. “Sudah tahu jika wilayah ini tandus, masih nekat nandur,” imbuhnya.

“Bodohnya lagi, Bapakmu hanya menandur beringin. Apa yang bisa dipanen dari beringin?” ujar kerabat yang lain.

Bapak memang bodoh. Sekolah dasar pun tidak tamat, tapi Bapak bisa membaca dan berhitung meskipun tidak lancar. Aku mengakuinya, tapi aku tidak rela saat Bapak dikatakan gendeng. Bapakku tidak gila.

“Biarkan saja. Orang-orang bebas berkata apa saja. Bapak tidak mau terpengaruh mereka.”

Aku tahu ada sedikit rasa lelah padanya, tetapi dia tidak mau berhenti. Justru aku yang disesaki rasa tak menentu. Meninggalkan orangtua karena tidak tahan dengan suara nyinyir, atau berada di belakang Bapak apa pun yang terjadi. Aku memilih tetap tinggal karena tidak punya nyali seperti dua kakakku.

“Aku tidak maling. Aku sudah izin untuk menanam di lereng itu. Aku hanya nandur.” Begitu kata Bapak suatu hari saat aku mengadukan olok-olok kerabat dan tetangga.

Jika bapakku hanya menanam tanaman, mengapa mereka mengatainya gendeng? Mungkin mereka menginginkan Bapak menanam tanaman yang bisa menghasilkan buah agar bisa dirasa hasil panennya. Sayangnya, mereka tidak berbuat apa-apa. Mereka rajin berkomentar atas semua tindakan Bapak. Aku tidak mau Bapak terus-terusan dicemooh.

“Bapak tidak gendeng, Paklik,” kalimat itu akhirnya keluar dari mulutku. Kuredam rasa takut hanya untuk membela Bapak.

Paklik yang sore itu sedang duduk tercenung kaget mendengar pembelaanku.

“Coba saja kau lihat apa yang dilakukan Bapakmu di lereng sana,” jawabnya.

“Hanya menanam bibit pohon. Sudah mendapat izin dari pihak berwenang,” aku menjawab datar. Jawaban sama dengan yang dilontarkan Bapak waktu itu.

“Dia goblok karena menanam beringin. Coba kalau dia menanam tanaman yang bisa dipetik buahnya. Cengkeh misalnya.”

Sudah kuduga. Mereka mengatai Bapak goblok hanya karena alasan ini.

“Tapi Bapak tidak gendeng, Paklik,” aku mengulangi kalimat itu lagi.

“Tidakkah kau lihat apa yang dilakukan Bapakmu di lereng sana?”

Aku berpikir apakah menamam pohon adalah perbuatan gila?

“Lihatlah kelakuan Bapakmu di lereng sana,” Paklik mempertegas kalimatnya.

Aku semakin dilanda penasaran. Sebenarnya apa yang dilakukan Bapak selain menanam ratusan bahkan ribuan bibit selama bertahun-tahun? Aku belum pernah sekalipun melihatnya.

Setelah bertahun-tahun usaha tak kenal yang dilakukan Bapak, akhirnya terbit keinginanku mengikuti langkah Bapak menuju lereng seusai mendengar penuturan Paklik.

Di suatu hari, tanpa sepengetahuannya, aku mengikutinya dari belakang. Bahu kekarnya memikul bibit. Langkah panjangnya membuat kami berjarak. Kemarau baru saja menyapa, tetapi naungan beringin di bukit mampu meredamnya. Berapa tahun aku tak merayapi bukit ini? Ada hawa sejuk menyeruak. Apakah semua ini hasil tindakan gila Bapak?

Bapak berhenti di suatu tempat, menurunkan pikulannya. Dia mendekati sebuah pohon, merangkulnya seperti seseorang yang sedang melampiaskan rindu pada kekasihnya. Seusai melepas pelukannya, Bapak mengucap kalimat. Kalau tidak salah dengar seperti merapal asa semoga ‘kekasihnya’ dan teman-temannya bisa tumbuh dan bermanfaat.

Dadaku sesak. Mungkin perbuatan ini yang membuat orang-orang menyebutnya gendeng.

Bapak kembali memikul bibit pohon, berjalan semakin jauh tanpa lelah. Aku semakin penasaran dibuatnya.

Sampai di suatu tempat, semua bibit diturunkan. Dia mulai menggali lubang, memasukkan bibit, lalu menimbunnya dengan tanah. Setelah semua selesai dikerjakan, dia turun membawa pikulan blek untuk diisi air. Aku mengikutinya. Seusai kebakaran lereng, tak ada air yang menyembul di daerah itu, tapi tidak sekarang. Cengkeraman akar beringin mulai mengikat sumber kehidupan. Di sana Bapak memenuhi blek dengan air untuk disiramkan pada bibit yang baru ditanamnya tadi.

Bapak lagi-lagi merapal doa. Rapal doa yang sama sepertinya. Namun, kali ini Bapak juga menyalami daun-daun bisu itu, tersenyum padanya. Bibit ini belum bisa dipeluk seperti beringin besar yang tadi kami lewati.

Kini aku mengerti. Mereka mengikuti Bapak, melihat semua gerak-geriknya, dan meracau sekehendaknya.

“Kenapa mengikuti Bapak?” Aku terkejut, tiba-tiba Bapak sudah ada di sampingku.

“Bapakmu memang gendeng. Susah-susah memikul bibit, nandur, memelihara, merapal doa semoga bisa tumbuh dengan baik.”

Aku diam.

“Kamu kepingin tahu mengapa?”

Aku mengangguk.

“Kapan-kapan Bapak beri tahu. Sekarang kita pulang.”

Matahari belum tumbang. Sinarnya mengintip di antara rimbun dedaunan. Aku menunggu alasan Bapak yang tak jua dikatakannya.

Waktu melaju. Beringin-beringin makin merimbun. Akarnya kuat mencengkeram tanah, mengikat air hujan. Air melimpah, mengalir ke sungai-sungai, mengairi ribuan jiwa. Lereng yang terbakar tak lagi tampak, tertutup hamparan hijau. Orang-orang berbalik menyanjung Bapak. Keluarga kami kembali utuh. Kehidupan jauh lebih baik.

***

Usiaku dua puluh lima tahun saat melihat Bapak sedang berdiri di podium menerima hadiah atas pengabdiannya yang luar biasa pada lingkungan.

“Selamat malam. Terima kasih,” kalimat sederhana meluncur dari sosok bersahaja.

Bapakku diam. Dia tidak tahu kalimat apa lagi yang harus diucapkannya. Dia tersenyum.

Anu,” tiba-tiba dia melanjutkan kalimat.

“Saya menanam pohon, biar lereng bukitnya hijau lagi. Biar bisa nyimpan air.” Kalimatnya terbata-bata, lalu terhenti. Tepuk tangan hadirin sedikit membuyarkannya. Bapak terdiam sejenak.

“Saya menanam pohon,” Bapak terhenti lagi, “Supaya saya punya jawaban kalau ada malaikat yang tanya: Hidupmu untuk apa?” ***

.

.

Pemenang Harapan Sayembara Cerpen Media Indonesia 2022.

.
Lelaki yang Menyiapkan Jawaban. Lelaki yang Menyiapkan Jawaban. Lelaki yang Menyiapkan Jawaban. Lelaki yang Menyiapkan Jawaban.
Arsip Cerpen di Indonesia