Cerpen Fajar Djafri (Kaltim Post, 12 Februari 2023)
TERITIP, Desember 2013
Cinta memiliki makna luar biasa. Cinta pada pasangan, pada keluarga, sanak famili, tetangga, dan kerabat. Namun ketika pasangan belum memiliki keturunan, apakah dikategorikan ketiadaan cinta?
Pasangan Hamdan dan Halijah telah genap satu dasawarsa menikah. Halijah pernah mengalami periode mual-muntah di trisemester pertama awal perkawinan.
“Alhamdulillah, sebentar lagi saya menjadi ayah,” imbuh Hamdan sujud syukur.
Rona pipi Halijah memerah, semringah, senyumnya merekah. Hamdan menikmati kebahagiaan dengan bekerja keras sebagai staf kasi tramtib di instansi pemerintahan, Kelurahan Teritip.
Dua bulan berselang, Hamdan mendengar kabar dari bidan, kehamilan Halijah tidak berlangsung normal. Segera dia membersamai Halijah ke dokter spesialis kandungan.
“Janin tidak bertumbuh dan denyut jantung tak terdeteksi di bulan keempat,” terang dr. Aspian yang menangani Halijah, dokter yang direkomendasi Pak Lurah.
Hamdan tertegun, sorot mata kehilangan cahaya, “Apakah masih bisa dipertahankan, Dok?”
Dokter obgyn terbaik di kota ini meluaskan senyum, “Kita lihat sepekan ini. Saya dan bapak hanya berusaha, Allah yang menentukan. Allah berkenan, maka janin ini pewaris turunan. Maka berdoalah, minta yang terbaik.”
Miris hati Halijah dan Hamdan sepulang dari praktik dokter di Rumah Sakit Restu Ibu itu. Setiap waktu istirahat kerja, Hamdan selalu pulang ke rumah. Demikian juga di hari libur, ia mengambil alih pekerjaan rumah. Pembuktian bahwa lelaki 30 tahun ini antusias merawat calon ibu dan janinnya.
“Pak Lurah tidak keberatan kamu meninggalkan kantor?” Halijah gusar.
“Alhamdulillah beliau sosok yang bijak. Beliau pernah merasakan masa-masa penantian sebagai calon bapak,” hibur Hamdan menenangkan.
Dua hari setelah pemeriksaan, Halijah mendadak pingsan dan segera dilarikan ke rumah sakit. Calon bayinya tidak lagi bersamanya. Kembali pada pencipta-Nya diiringi tangis sedih Hamdan dan Halijah. Ridha dan ikhlas, tiada kata lain terucap di lisan keduanya.
“Pak, usia kita makin bertambah sepuh, tapi pewaris turunan belum terlihat. Apakah selamanya kita hanya berdua?” Halijah mulai goyah keteguhan.
“Tidak boleh kita berputus asa, Dik? Allah pasti mendengar permohonan kita. Akan tiba masanya Allah mengijabah doa-doa kita, Dik!” Hamdan mencium kening Halijah di hari pernikahan menginjak tahun ke-10. “Allah lebih tahu yang kita inginkan,” sahutnya lirih.
Teritip, Desember 2022
Hamdan mengantar pak lurah ke rumah warga di Teritip Laut. Pak Ruddy, demikian nama kepala keluarga yang memiliki tiga anak lelaki yang memiliki kelebihan khusus; Sukri, Irhas, dan Ikram, terkulai tidak berdaya di atas kasur tipis menghadap televisi. Sukri, sulung, memiliki tungkai yang membengkok. Tangan dan kakinya lemas tiada daya. Sukri, tahun ini usianya 15.
Berbeda dengan kedua adiknya, Irhas dan Ikram. Sebelum pandemi masih duduk di kelas 4 dan 5 SD 07 Teritip. Keduanya bersekolah hingga pandemi Covid-19 merebak. Irhas dan Ikram masih bisa beraktivitas memainkan tangan dan menggerakkan badan meski terbatas.
“Apakah ketiganya mendapat vaksin lengkap, Bu?” Pak Lurah mendekati Rumiyati, ibu dari ketiganya.
“Iya, Pak!”
“Sejak kapan ketiganya mengalami keterbatasan gerak?”
“Kalo Sukri, sejak pindah ke Teritip, Pak Lurah. Irhas dan Ikram pernah sekolah hingga kelas 4 dan 5. Sejak Covid-19 mulai tidak bersekolah.”
“Sudah pernah diperiksakan ke puskesmas atau rumah sakit?”
Pak Rudy dan istrinya terdiam sembari tertunduk. “Ketiadaan biaya dan waktu, Pak Lurah. Karena saya dan istri harus kerja melansir pasir dari Ambalat ke pelanggan. Tiada pekerjaan lain yang saya jalani. Saya mengemudi dan istri yang melansir pasir dari tumpukan ke atas bak mobil, demikian pula menurunkan ke tempat tujuan,” ucap Pak Rudy terbata-bata.
Sedih hati Hamdan. Sepanjang perjalanan mengantarkan Pak Lurah hingga ke kelurahan, ia tidak banyak membuka pembicaraan. Meski, ia menjawab singkat saat Pak Lurah bertanya sesuatu.
“Saya baru tahu juga Pak Lurah, kasihan yah, Pak!” imbuhnya. Ia melirik Pak Lurah yang tengah menghubungi seseorang dari gawai di tangan, lalu berbicara panjang lebar pada seseorang di ujung sana.
Sore hari, segelas kopi hitam tengah mengepul dan irisan pepaya hawai yang imut dan manis terhidang di meja. Ia menceritakan kunjungannya bersama Pak Lurah di Teritip Laut, rumah Pak Ruddy, RT 07. Lelaki tangguh yang memiliki ketiga putra berkebutuhan lebih.
“Saya bisa merasakan perasaan Pak Rudy dengan ketiga putranya,” ujar Hamdan berempati. Ia memperlihatkan beberapa gambar di gawainya kepada istrinya.
“Tiada orangtua yang menginginkan anak-anaknya tumbuh tidak sempurna seperti layaknya lainnya,” Halijah menghela napas.
Hamdan menyeruput kopi jahenya, “Hancur dan penyesalan terucap di lisan Pak Rudy kala Pak Lurah menanyakan keterlambatan penanganan. Ketiadaan biaya dan bantuan dari keluarga sehingga Sukri, si sulung dalam keadaan parah.”
“Apa reaksi Pak Lurah?” Halijah bertanya.
“Beliau berusaha menghubungi Dinas Kesehatan kota dan rumah sakit. Ia tidak menginginkan Ikram dan Irhas yang notabene masih sekolah bernasib seperti si sulung, Sukri. Juga mengusahakan keduanya bisa diterima dan kembali sekolah.”
“Lantas, siapa yang mengantar jemput keduanya? Sementara ayah dan ibunya harus mencari nafkah sebagai pelansir pasir di Ambalat?”
Hamdan tertegun. Yang dikatakan istrinya adalah kejadian yang dilihat siang tadi. Pak Lurah harus menunggu Pak Rudy tiba di rumahnya sepulang melansir pasir. Mereka meninggalkan Sukri, Irhas, dan Ikram di kediamannya tanpa ada yang mengawasi.
“Ya, harus ada yang mengalah. Tugas orangtua tidak saja menafkahi melainkan memastikan kesehatan anggota keluarga. Diperlukan seseorang yang membantu kesusahan Pak Rudy,” imbuh Halijah mantap.
“Mereka tidak punya siapa-siapa selain tetangga kanan dan kiri.”
Halijah menghela napas, Hamdan memerhatikan raut wajah istrinya mendadak berbinar. “Harus ada yang segera menolong, khususnya Ikram dan Irhas yang masih harus bersekolah.”
“Pak Lurah sedang mengusahakan!” tegas Hamdan.
Halijah menggenggam tangan suaminya, lalu memandang wajah dan retina mata, “Izinkan saya membantu Ikram dan Irhas agar bersedia bersekolah lagi!”
Heran bercampur takjub.
“Kamu yakin, Dik?”
Halijah menjawab, “Ya, saya yakin!”
Hamdan belum menemukan solusi. Dalam benaknya, ketiga anak Pak Rudy memerlukan perawatan, “Mereka perlu sentuhan tenaga medis dan perawatan yang khusus. Setelah rangkaian pengobatan berjalan, barulah mereka bisa bersekolah.”
“Ya, mereka harus diobati dan menjalani terapi. Itu saya setuju. Tetapi, tidak ada salahnya memberikan motivasi agar kembali bersekolah. Salah satu cara, menggunakan alat bantu. Kursi roda misalnya,” ujar Halijah meyakinkan.
“Jika Pak Lurah dan saya bersedia membantu, bagaimana dengan Bapak Hamdan?” tawar perempuan berusia 40 tahun.
“Membelikan kursi roda, maksudmu, Dik?”
Halijah menggeleng. Tetiba nada dering memanggil dari gawai, Pak Lurah yang menelepon, segera Hamdan menjawabnya. “Siap, Pak Lurah!”
Teritip, 2 Januari 2023
Halijah telah menunggu di kediaman Pak Rudy ketika Xenia biru merapat di depan rumah. Pak Rudy, istri, dan ketiga anaknya, dibantu Hamdan masuk ke rumah. Mereka terkejut dengan benda persegi besar di ruang tamu. Dengan cepat, ia meminta Pak Rudy membuka bingkisan tersebut.
Kursi roda elektrik keluar dari bungkusan tersebut. “Besok Ikram dan Irhas harus bersekolah yah, tidak perlu diantar ayah dan ibu,” imbuh Halijah semringah. Ia meminta suaminya mendudukkan Irhas di kursi roda sekaligus mencoba pergerakan kursi roda tersebut. Serta-merta Irhas gembira dan bahagia.
“Bingkisan ini donasi seseorang yang tidak ingin disebutkan identitasnya,” tukas Halijah semringah.
“Terima kasih Pak Hamdan dan ibu atas semua bantuannya,” ungkap Pak Rudy menjabat tangan sepasang suami-istri di depannya. ***
.
.