Anu, Mas!

Cerpen Aasya Ifud (Radar Banyuwangi, 04 Maret 2023)

TERLIHAT, seorang pria tengah berbicara dengan seorang perempuan. Pembicaraan mereka rasanya sangat menegangkan. Si perempuan terus menunduk, tidak berani menantang pandangan si pria yang mengintimidasi.

Pria itu bernama Udin, sedangkan si perempuan bernama Sarah. Sudah sejak lama Udin merencanakan pembicaraan itu. Dan, kesempatan itu datang seusai pelaksanaan salat Tarawih di masjid. Maklum, Udin maupun Sarah masih berstatus santri. Tidak ada kesempatan bertemu di pondok, di rumah sepertinya juga begitu. Ayah Sarah terkenal sebagai orang yang “ketat” dalam beragama.

Ketika melihat Sarah turun dari masjid, Udin langsung menghampirinya. Tanpa basa-basi, Udin langsung kepada inti masalah.

“Apa alasanmu?”

Sarah terkejut dengan pertanyaan dadakan Udin.

“Anu… alasan apa ya, Mas?”

Sarah menundukkan pandangannya, berusaha untuk tidak kontak mata dengan Udin. Ia mencengkeram tangan Mita yang ada di sampingnya supaya tidak pergi. Ia tidak suka situasi ini, tapi bersama Mita mungkin keadaannya sedikit lebih baik.

Tetapi Udin ingin berbicara empat mata dengan Sarah. Ia membuat kode kepada Mita untuk pergi meninggalkan mereka berdua.

Mita akhirnya pergi. Sarah semakin tertekan.

“Apa karena dia adalah seorang lora, terus kau pilih dia?”

“Bukan, Mas….”

“Kenapa, Sar? Kau tidak pernah memberi kabar. Sekali memberi kabar, kabar buruk yang kau beri.”

Sarah diam. Ia memikirkan bagaimana cara menyampaikan alasannya dengan cermat. Alasan kenapa ia meninggalkan Udin. Pikirannya kemudian menyeret dirinya pada awal mula timbulnya masalah ini. Akar masalahnya.

Semua santri sudah tahu tentang hubungan dekat antara Udin dan Sarah. Kedekatan Sarah dengan Udin bermula saat keduanya tidak sengaja bertabrakan di jalan menuju pendapa pengasuh. Barang yang dibawa Sarah jatuh, Udin menolongnya. Keduanya saling pandang, lalu timbullah benih cinta.

Klise? Ya, memang begitu terjadinya, seperti di sinetron-sinetron.

Sejak saat itulah mereka saling mencari informasi tentang satu sama lain. Udin semakin gembira saat tahu Sarah masih satu kecamatan dengannya. Ia semakin yakin Sarah akan menjadi pasangannya kelak. Aku tidak pernah menemukan alasan hidup kecuali setelah bertemu dengan Sarah, katanya tanpa keraguan. Sampai segitunya, Udin!

Di pondok, mereka tidak pernah saling kirim surat. Haram. Sebagai gantinya Udin membuat sajak-sajak yang ia kirimkan ke mading setiap hari Jumat. Udin memang pandai membuat sajak. Banyak santri yang suka dengan sajak yang ia buat. Sesekali ia juga membuat cerpen.

Sarah menduga semua sajak yang ditulis Udin adalah untuknya. Bahkan sajak yang tidak berkaitan dengan percintaan sedikit pun, seperti tentang kebakaran hutan, korupsi, dan pencurian ikan di laut Natuna.

“Ini pasti ada makna yang tersembunyi, Mit,” kata Sarah setelah membaca sajak Udin yang bertema tentang aborsi janin.

“Apa maknanya?” tanya Mita.

“Hmm… Mungkin tentang kerinduan….”

Saat bertemu di jalan, keduanya hanya saling lirik dan menyunggingkan senyum. Senyum yang tertangkap pandangan mata hanya sekilas, seperti kilat petir, tetapi gemuruhnya berlangsung lama menggetarkan hati sampai kilat itu datang kembali.

Kedekatan Udin dan Sarah kemudian berlajut ketika liburan Ramadan. Udin sengaja salat di masjid di desa Sarah, agar setelah salat nanti ia bisa menemui Sarah dan mengajaknya berbicara. Di tengah orang-orang yang turun dari masjid dan menuju ke rumah masing-masing, mereka mengobrol. Di tengah bising suara-suara sandal dan cericit orang-orang, obrolan mereka bak batu mulia yang berada di tengah ribuan kerikil sungai tak berharga.

Awalnya memang terasa canggung, percakapan mereka sangat singkat sekali. Obrolan mereka hanya sebatas pertanyaan yang cukup dijawab dengan ya atau tidak, atau sesekali pernyataan yang direspons dengan oh, dan sering kali anu-anu menyusup di tengah obrolan mereka, terutama dari Sarah. Namun, di luar itu, Udin maupun Sarah sangat lancar mengobrol via online. Udin sering kali mengirim kata-kata puitis atau cuplikan adegan dari cerpen atau novel romantis kepada Sarah, dan Sarah selalu membalasnya dengan emoji berbentuk hati. Begitulah seterusnya selama tiga tahun, hingga akhirnya mereka benar-benar dekat dan seakan-akan menjadi sepasang kekasih.

Namun, kedekatan mereka pada liburan kali ini tidak begitu kuat. Mereka sudah jarang saling bertukar pesan. Udin juga jarang salat di masjid di desa Sarah. Ini terjadi sejak kejadian itu; saat Sarah meminta Udin untuk menemui orang tuanya. Udin menggeleng, Sarah kecewa.

Tahu-tahu, beberapa minggu setelahnya, Udin mendengar kabar Sarah bertunangan dengan Lora Fahmi, putra dari pengasuh pondok. Udin terkejut. Ia ingin bertemu Sarah. Sarah harus menjelaskan semuanya.

“Kenapa, Sar?”

“Anu, Mas….”

“Anu apa?” desak Udin.

Sarah menarik napas dalam-dalam dan mengeluarkannya secara perlahan. Ia mencoba untuk tidak merasa tertekan.

“Kau benar mencintaiku, Mas?”

“Iya lah, Sar! Betapa banyak puisi yang telah kubuat untukmu.”

“Lupakan puisimu, Mas.”

“Apa maksudmu? Kau pikir puisi itu tidak ada gunanya?”

Udin merasa jengkel dengan ucapan Sarah. Sarah telah menganggap remeh puisi yang telah ia buat dengan susah payah. Tetapi, ia tetap mencoba untuk tenang dan tidak tersulut emosi.

“Kenapa Mas minggu kemarin tidak mau menemui ayah?”

Kan sudah saya jawab, saya belum siap.”

“Itulah, Mas, saya itu butuh kepastian. Saya tidak tahu saya ini siapa bagi Mas.”

Kan saya jawab belum siap, nanti kalau sudah siap saya akan datangi dan memintamu, Sar. Kau harus yakin Sar, apa kau tidak percaya padaku?”

“Lantas sampai kapan? Sekarang sudah waktunya, Mas. Saya sudah percaya Mas, makanya saya meminta Mas untuk menemui ayah. Mas sendiri yang tidak yakin.”

“Saya yakin….”

“Kalau yakin,” Sarah memotong, “maukah sampeyan sekarang menemui ayah dan memintaku?”

Udin terdiam sejenak. Terjadi keheningan di antara keduanya, keheningan yang memuakkan. Sarah menunggu jawaban yang sementara ini dicari oleh Udin: jawaban yang cermat. “Anu, Sar….” kata Udin kemudian agar keluar dari keheningan itu.

“Saya masih tidak ingin berhenti, membuat sarang. Saya masih ingin terbang bebas, bepetualang.”

“Oh… jadi, sampeyan masih mau memilah-milih, dan kemudian menjadikanku sebagai pilihan terakhir?”

“Bukan itu maksudku, aku ingin mengejar impianku.”

“Itu bukanlah masalah, Mas. Aku juga punya impian….”

“Aku hanya tidak ingin terikat dengan siapa pun saat mengejar impianku.”

Sarah menghela napas. “Ya, agar kau bisa menemukan yang lebih baik dariku, lalu saat kau telah menemukannya, kau akan meninggalkanku, kan?”

“Bukan begitu Sar….”

“Ya, memang begitu tipikal manusia, Mas.” Sarah memotong kalimat Udin lagi.

Sekarang keadaan berbalik: Sarah menantang mata Udin, sedangkan Udin tidak berani mengangkat pandangannya.

Sampeyan pengecut, Mas… tidak seperti Lora Fahmi.”

“Dia tidak punya masa depan….”

“Tahu apa sampeyan tentang dia. Dia tidak pernah beromong-kosong, tak seperti dirimu….”

Sarah diam sejenak, menunggu reaksi Udin. Ia menimbang-nimbang untuk mengatakan kalimat berikutnya. Karena tidak ada reaksi dari Udin, ia pun memutuskan untuk melanjutkan kalimatnya.

“Semua yang kau tulis hanyalah omong kosong, Mas. Itu hanyalah sebuah bualan: bualan yang tidak ada faidah bagiku. Aku sudah tidak butuh itu, Mas. Sekarang sebaiknya kau kirim bualanmu itu ke perempuan lain.”

Udin merasa tersinggung dengan ucapan Sarah. Namun, Udin kehabisan kata-kata untuk membantahnya.

“Semoga aku tepat dengan pilihanku, dan sampeyan tepat dengan pilihanmu, Mas. Terima kasih.”

Sarah pergi. Udin mematung. Perasaan Udin bercampur aduk antara menyesal dan kesal.

***

Sesampai di rumahnya, Udin kembali mengingat ucapan Sarah. Bisa-bisanya perempuan yang selalu gugup ketika bertemu dengannya, dan sering bilang anuanu, mengucapkan kalimat yang begitu pedas dan menohok. Apa jangan-jangan karena cerpen dan puisi yang sering ia kirim padanya?

Ah, sudahlah. ***

.

.

Sukorejo, 31 Januari 2023

*) Aasya Ifud, santri Mahad Aly Salafiyah Syafi’iyah Situbondo. Di tengah kesibukannya mempelajari fikih dan ushul fikih, ia sempatkan diri untuk menulis cerpen. Pernah menjabat sebagai redaktur kepenulisan di buletin Gamis.

.
Anu, Mas! Anu, Mas! Anu, Mas!
Arsip Cerpen di Indonesia