Cerpen Indah Darmastuti (Jawa Pos, 01 April 2023)
AKU dituduh bersekongkol dalam kasus pembunuhan Tunggul Ametung, suamiku. Aku dituduh berkomplot dengan para pengacau untuk mengudeta, menggulingkan pemerintahan Sang Akuwu Tumapel yang adalah ayah dari anak yang sedang kukandung. Malah ada yang mencurigai akulah dalang pembunuhan itu.
Aku tak menggubrisnya. Membiarkan semua berprasangka, meliarkan pikiran masing-masing. Asistenku, maksudku abdiku, jengkel karenanya. Ia tak terima dengan tuduhan itu, lalu mendesakku agar membuat sanggahan. Aku tak mau. Untuk apa? Mereka semua hanya berani bicara di belakangku dan menuduhku secara diam-diam, mengapa aku harus membuat sanggahan terang-terangan?
Kukatakan padanya bahwa aku adalah cermin. Yang memantulkan gambaran siapa pun yang berhadapan dengan aku. Aku adalah cermin yang menangkap dan memantulkan bayangan laki-laki Tunggul Ametung orang paling berkuasa di Tumapel. Seperti yang aku duga dulu, ketika aku baru sebatas mendengar namanya sebelum bertemu langsung, aku sudah membayangkan seperti apa orangnya.
Memang benar dugaanku. Tunggul Ametung, suamiku itu, tidak cakap memimpin negeri. Sudra yang kelewat beruntung karena disatriakan oleh Kertajaya penguasa Kediri supaya Kediri bisa mendikte dan memeras Tumapel. Ah… pendek kata, Tunggul Ametung adalah boneka, sapi perah yang harus terus-menerus mendatangkan kekayaan Kediri tanpa mereka bersusah payah.
Lalu dari mana suamiku mendapatkan emas, perak, ternak, hasil tani untuk mengirim upeti ke Kediri kalau bukan memeras rakyat Tumapel? Itulah satu-satunya alasan Kertajaya menyerahkan Tumapel kepada Tunggul Ametung. Dia mau memeras rakyat dengan meminjam tangan lain. Bagi Kediri, Tumapel tidak butuh pemimpin cerdas supaya Kediri mudah membuat Tumapel tetap tunduk. Bukankah dengan begitu Kediri bisa menguasai Tumapel semau-maunya? Tetapi mana bisa rakyat terus-terusan diperbudak begitu?
Karena memang bisanya merampas, begitu pula cara Tunggul Ametung mendapatkan aku. Ia menculik aku ketika ayahku, Mpu Parwa, sedang tak ada di rumah. Ayahku adalah Brahmana yang telah lama menyesalkan cara dan gaya memimpin Akuwu Tumapel itu. Ayahku sedang ada pertemuan para Brahmana di suatu tempat rahasia. Aku sendirian di rumah. Saat itulah direnggutnya aku, dilarikannya aku menuju Pakuwuan dan begitu saja aku dijadikan prameswari. Aksi sepihak yang menunjukkan kualitasnya hanya segitu sebagai pemimpin.
Rupanya laki-laki penguasa Tumapel itu bukan seorang yang berpengetahuan. Padahal seorang pemimpin harus berpengetahuan, berwawasan, paham hukum tata negara, membaca babad serta kitab tuntunan, syukur-syukur menulis. Tetapi jangankan menulis, membaca Sanskerta saja ia tak bisa. Tak paham dia tentang kitab-kitab pengetahuan yang ditulis dalam Sanskerta.
Aku masih ingat waktu itu. Saat dia gelisah, terganggu tidur karena hampir setiap waktu mendapat laporan tentang kerusuhan yang berkobar di beberapa desa. Yang paling berat adalah saat kiriman upeti untuk Kediri dibegal perusuh. Seperti biasa, Tunggul Ametung menyalahkan keadaan, menyalahkan prajuritnya, menyalahkan para penggawa Tumapel. Sudah aku katakan bahwa ia perlu belajar, perlu membaca kitab-kitab pengetahuan. Perlu berlatih bijaksana agar cakap mengurus negeri. Kalau dia bijaksana, dekat dengan rakyat, dan cakap mengurus, pasti rakyat tidak memberontak atau mengacaukan negara karena rakyat merasa diayomi dan justru merasa harus turut melindungi negeri.
Tetapi dia malah mengatakan bahwa baca-baca rontal itu pekerjaan kaum lemah. Tidak mahir kanuragan. Tidak hebat di medan pertempuran. Masak mau bertempur harus baca rontal dulu. Kusanggah dia: kalau hanya mengandalkan keberanian bertempur ya menjadi prajurit saja, jangan jadi pemimpin. Dia tersinggung, lalu mengataiku: “Seperti itulah kalau kamu terlalu banyak membaca, berani menentang suami!”
Nah kan… mentok lagi. Ujung-ujungnya pasti berkata begitu. Akhirnya aku mengalah, aku membiarkan berlalu begitu saja karena aku adalah cermin.
Ada kejadian lagi. Saat itu pancaroba datang terlalu cepat. Artinya, Tumapel harus segera mengirim upeti ke Kediri. Utusan berangkat. Wajah suamiku tampak lega. Setidaknya, satu kewajiban yang ditetapkan Kertajaya sudah ia lakukan.
Dia menyusulku di taman Pakuwuan saat aku sedang membaca rontal. Dia tampak tenang dari sebelumnya. Matahari baru saja terbenam dan pendar sinarnya memancar di kolam penuh kecipak ikan-ikan. Dia duduk menyebelahiku, lalu kami terlibat obrolan. Ia berkata-kata tentang kejayaan Tumapel, tentang masa yang akan datang, dan tentang si pewaris takhta Tumapel yang sedang kukandung.
Kami bertukar pikiran. Bermacam-macam aku dan dia bicarakan, lalu berdebat hingga meruncing. Tatapannya sedingin tombak ketika aku menasihati dia, jangan khianati rakyat, sebagai penguasa harusnya bisa menguasai diri untuk tidak berbuat semau-maunya dan membuat rakyat sengsara. Setajam keris dia mengatakan tugas rakyat jelata memang harus berbakti dan menuruti penguasa. Kok dia lupa kalau sebenarnya dia itu sudra! Saat kutanya, mana silsilahmu? Dia menjawab persetan dengan silsilah. Aku memang peduli dengan silsilah karena aku menyukai riwayat dan sejarah. Lebih lagi, aku menanyakan itu karena ingin mengingatkan siapa dirinya supaya jangan lupa ia pada kaumnya, rakyat kecil.
Ketika aku mau sedikit lagi mendebatnya, tiba-tiba prajurit penjaga gerbang datang mengabarkan bahwa ada yang ingin menghadap. Rupanya yang menghadap adalah salah satu utusan pengirim upeti. Dia mengabarkan kalau sekali lagi upeti dibegal di perbatasan, semua lenyap. Tunggul Ametung murka.
Rapat digelar mendadak. Lalu ia memutuskan barang siapa sanggup menangkap perusuh, barang siapa mampu memadamkan kerusuhan yang terjadi di Tumapel, dia akan diangkat menjadi tangan kanannya, orang kepercayaannya. Kepadanya akan diberi kedudukan dan harta kekayaan. Kuhela napas. Cara dia memecahkan persoalan selalu saja dangkal. Sekali lagi dia tidak menggeledah sumber persoalan. Wong mengatasi persoalan kok dengan menggelar sayembara. Kuelus perut dan kudaras doa agar anak yang kukandung kelak menjadi orang berhikmat dan bijaksana.
Tak menunggu lama, juru warta Pakuwuan sibuk mengabarkan sayembara. Hanya selang beberapa hari, ada satu nama yang sudah pantas untuk dihadapkan ke Tumapel perihal calon satria yang akan memadamkan kerusuhan.
Lalu pada minggu berikutnya, ketika aku sedang berada di samping pendapa, menteri tertinggi Tumapel mengatakan Lohgawe sudah datang memenuhi panggilan. Ia datang bersama muridnya. Lelaki kurus bermata tajam. Ketika aku mendaki undakan pendapa, mata itu terus menatapku, menatap kakiku yang melangkah. Bahkan ia tetap berani menatapku ketika aku sudah duduk di kursi prameswari.
Lohgawe, aku tidak asing dengan nama itu karena ayahku kerap menyebutnya. Ia Brahmana cukup berpengaruh di kalangannya. Tetapi muridnya? Aku belum pernah mendengar namanya. Arok!
Dialah orang yang direkomendasikan Lohgawe untuk mengatasi huru-hara, menumpas kerusuhan, dan menangkap para begal yang berkeliaran di Tumapel.
Aku mengamati dia, lalu membatin, bagaimana cara Lohgawe mendidik muridnya sehingga duduk di lantai saja bawaannya seperti mau maju perang? Tidak bisa diam, berkali-kali mengubah posisi duduk, toleh sana-sini, berani menatapku, menatap suamiku tanpa rasa takut.
Mendadak dia bersin keras sampai mengagetkan seisi pendapa Pakuwuan. Aku juga kaget bukan main. Ia mengangkat sembah, lalu bergegas menjauh dari pendapa dan bersin lagi dan lagi sangat keras. Dalam hati aku tertawa. Dia lebih mirip berandalan daripada murid seorang Brahmana. Aku membayangkan seperti apa ibu yang melahirkan laki-laki ugal-ugalan seperti dia. Jangan-jangan ibunya seorang prajurit medan laga yang tak kenal takut.
Pembicaraan di pendapa mencapai kesepakatan bahwa si Arok, murid Brahmana Lohgawe, berjanji untuk menumpas pemberontakan, memadamkan kerusuhan yang beberapa bulan terkahir merajalela di Tumapel.
Aku tersenyum, aku adalah cermin yang menangkap bayangan siapa pun yang tampak olehku. Sudah terbaca bahwa Lohgawe bukan semata menyodorkan muridnya untuk sebuah tugas berat. Tetapi dia punya agenda lain. Tunggul Ametung saja yang sembrono. Aku tahu itu, tetapi aku tidak menasihatinya. Karena tak ada gunanya. Tunggul Ametung itu merasa paling berkuasa dan suaraku? Suara perempuan dianggap ocehan sia-sia.
Tetapi memang murid Lohgawe itu sanggup memadamkan kesuruhan. Aku hampir sepenuhnya yakin bahwa kawan-kawan dan gerombolan dia sendirilah para perusuh itu, yang tak puas dengan kepemimpinan Tunggul Ametung. Tentu saja dengan mudah ia buat Tumapel menjadi lebih tenang.
Tunggul Ametung memenuhi janji, bahwa siapa pun yang berhasil memadamkan kerusuhan akan mendapatkan kedudukan. Jadilah si Arok itu menjadi orang dalam istana dan menurut abdiku, ia lekas akrab dengan Kebo Ijo, salah satu tamtama Tumapel.
Karena gusar, tak urung aku nasihati juga suamiku, aku katakan bahwa ia perlu waspada. Karena orang yang paling berbahaya adalah orang terdekat, orang dalam lingkaran. Penjahat ada di dalam rumah sendiri itu sangatlah mungkin. Suamiku mulai mau terbuka dan mendengarkan aku. Aku mulai bisa menjinakkannya. Maksudku, aku sudah lumayan berhasil meyakinkannya bahwa berwawasan kepemimpinan itu penting. Caranya dengan banyak menimba pengetahuan, membaca dan berdiskusi dengan merdeka tanpa menonjolkan kedudukan. Karena di hadapan ilmu pengetahuan, semua adalah sama derajatnya.
Sedikit demi sedikit aku mulai mendapat kepercayaan dari suamiku untuk turut memikirkan negeri. Aku diberi hak untuk mengetahui perkembangan. Belakangan, dari kepala prajurit kami tahu secara terbuka bahwa Arok merasa perlu tambahan senjata.
Aku memanggil Arok dan bertanya apa benar kalau ia memesan banyak senjata pada Mpu Gandring? Ia mengiyakan. Karena ia sudah mendapat tugas menjaga keamanan Tumapel, ia merasa perlu memastikan gudang senjata dan persenjataan cukup. Bersama Kebo Ijo dia kerap datang ke pabrik pembuatan senjata Mpu Gandring.
Suamiku masih saja merasa gelisah dan tak tenang tidurnya meski sudah tak pernah terdengar lagi adanya pemberontakan atau kerusuhan. Ada yang ganjil. Aku juga mulai berfirasat, aku menangkap sasmita.
Pagi itu saat aku duduk di taman Pakuwuan usai menemani suami sarapan, aku melihat cabang pohon sawo tiba-tiba patah dan runtuh di tanah. Ada apa gerangan? Tak ada angin, cabang pohon itu bukan cabang kering, masih segar dan kuat bagaimana bisa patah?
Iya, orang dalam kerap justru menjadi ancaman. Orang yang diberi kepercayaan kerap justru mencelakakan. Itu sudah aku katakan. Tetapi aku tak menyangka akan terjadi secepat itu.
Suamiku kudapati tergeletak tanpa nyawa dengan sebilah keris tertancap di dadanya. Aku menjerit. Lalu para pengawal masuk ke bilik suamiku, termasuk Arok. Di hadapan banyak prajurit Arok mengamati keris, lalu mencabutnya dan ia berseru: ini keris milik Kebo Ijo yang dipesan dari Mpu Gandring. Kebo Ijo kaget bukan main.
Tanpa diberi kesempatan membela diri, Kebo Ijo digiring dan diadili dengan tuduhan pembunuhan atas Akuwu Tumapel, Tunggul Ametung. Tetapi beberapa prajurit menyangsikan karena mereka bersama-sama dengan Kebo Ijo sebelum Tunggul Ametung didapati tewas.
Desas-desus beredar secepat angin. Dari abdiku, aku diberi tahu ada beberapa di antara mereka yang menduga si pembunuh itu adalah Arok dan aku membantunya dengan memberi kesempatan kepada Arok. Mereka membuat pengamatan bahwa keterlibatanku sangat mungkin karena mereka bilang aku tidak pernah bisa mencintai Tunggul Ametung. Aku tidak pernah jatuh cinta padanya. Aku menjadi prameswari karena paksaan.
Desas-desus makin meluas. Dari abdiku yang lain aku mendengar ada yang mengatakan Arok nekat melakukan itu karena ia mengincar takhta dan wanita. Ia katakan bahwa Arok nekat menghabisi suamiku karena Arok melihat betisku memancarkan sinar. Aku tertawa meski masih dalam suasana duka. Aku heran, kalau cerita abdiku itu benar, mengapa laki-laki kerap bicara di luar nalar.
Seperti Arok itu. Ia mengada-ada dan mengembuskan cerita-cerita hanya untuk mengesahkan perbuatannya bahwa merebut aku itu karena ada alasan yang sangat besar. Kemudian dengan seenaknya dia mengatakan bahwa betisku yang bercahaya itu adalah isyarat, sasmita bahwa dari rahimku akan lahir para penguasa Jawa. Mereka tidak tahu bahwa menjadi unggul atau tidak itu tergantung didikan ayah dan ibu, apa pun kastanya. Kalau hanya mempunyai darah, tetapi tidak didik dengan baik, ya mana bisa menjadi manusia unggul dan cakap memimpin?
Apakah ada yang lebih besar daripada keegoisan para laki-laki itu? Kertajaya, Tunggul Ametung, Lohgawe, Arok. Tentu saja aku mengatakan itu karena aku si Dedes adalah cermin bagi siapa pun yang berhadapan dengan aku.
Lalu hari itu. Ketika rakyat mendesak agar Arok naik ke tampuk pemerintahan Tumapel, aku hanya diam, duduk di kursi prameswari mengamati segala kesibukan seolah mereka hendak mendirikan kerajaan baru.
Lohgawe mengatakan, Tunggul Ametung bisa lengser, tetapi prameswari tidak bisa dilengserkan. Aku tetap dalam kedudukanku: prameswari. Tetapi alangkah kaget karena rupanya ada perempuan lain yang lebih dulu menjadi istri Arok. Namanya Umang. Aku menatap perempuan liat gesit berperawakan prajurit itu ketika datang menghampiriku dan memberi salam. Apakah aku cemburu? Tidak. Karena aku adalah cermin.
Kemudian hari pertama ketika aku berada dalam satu ruangan dengan Arok, aku meminta ia menceritakan tentang silsilahnya. Arok jawab: “Aku dikirim Mahadewa bukan karena silsilah, tetapi bersamamu aku akan mencipta silsilah.”
Aku diam menatapnya. Tidak merasa terhina, tetapi juga tidak merasa tersanjung. Karena aku adalah cermin yang memantulkan tentang apa pun yang ada di hadapanku. ***
.
.