Cerpen Gabriella Kusuma (Kompas, 09 April 2023)
TOKO itu adalah satu-satunya toko kelontong yang dimiliki oleh keluarga Tionghoa di antara deretan toko keluarga etnis lain. Orang-orang memanggil paman pemilik toko sebagai Koh San, tak peduli apakah mereka seumur anak si Kokoh atau seumur cucunya. Dia adalah laki-laki separuh baya yang suka tersenyum, dengan rambut hitam dari semir saset yang juga dia jual.
Koh San, Cik San, dan ketiga anak mereka juga menjadi satu-satunya keluarga keturunan Tionghoa di daerah ini. Padahal, lima puluh tahun yang lalu, daerah itu masih bisa dibilang Pecinan Mini. Setelah pendatang lain datang, lama-kelamaan keluarga Tionghoa yang sudah beberapa generasi tinggal di sana memutuskan untuk pindah.
Ayah Koh San berasal dari Tiongkok, tepatnya Shanghai. Dia datang naik kapal menuju kota ini, bersama dengan tiga ratus lebih perantau lain. Tidak semuanya berhasil mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Sebagian kembali ke Shanghai, sebagian menyebar ke daerah lain, sebagian sudah meninggal, dan hanya segelintir saja yang bisa menikah, menetap, dan meninggalkan legasi untuk keturunannya.
Kalau ditanya tentang tombak yang tergantung di dinding toko, Koh San dengan semangat ’45 akan bercerita tentang kemampuan bela diri ayahnya. Katanya, ayahnya lebih keren dari Jet Li, Jackie Chan, Chow Yun Fat, juga Andy Lau dijadikan satu. “Tapi masih belum bisa menandingi Bruce Lee, ya!” kelakar Koh San tiap kali anak-anak kompleks datang untuk jajan.
Selama bertahun-tahun, toko kelontong Koh San sudah membantu ratusan hingga ribuan orang. Mulai dari yang membutuhkan barang, menumpang berjualan, sampai pinjam uang. Koh San sangat baik, kata ibu-ibu yang bergosip di depan tukang sayur. Laki-laki itu tidak pelit, tidak cadel, tidak rewel kalau diajak tawar-menawar, dan ingat semua wajah orang yang datang ke tokonya.
Saking ingatnya, banyak orang muda yang kuliah atau kerja di luar kota yang kaget ketika mampir ke toko Koh San. Si Kokoh, dengan senyum lebar dan kerut ramah di sekitar mata sipitnya, akan menyapa orang-orang ini. “Wah, sudah sukses kamu, ya!” atau “Wah, sudah lama enggak ke sini, ya!” adalah kalimat-kalimat yang sering sekali terdengar di toko itu.
Aku yang kembali selama liburan kuliah dari Australia pun disapa dengan sangat ramah. Aku ikut tersenyum ketika Koh San bertanya berapa banyak kanguru yang sudah kulihat, apakah koala memang selalu memeluk pohon, dan memintaku bercerita apa saja kegiatanku di sana.
“Ini permen kesukaan kamu masih Koh San jual, ya,” katanya pula, menunjuk pada sestoples permen merah jadul yang dulu sangat kusukai. “Sekarang harganya naik, ya. Naik 500 perak. Kalau beli lima, gratis satu, ya.”
Hari itu aku pulang membawa dua lusin permen yang kubagikan kepada anak-anak kecil yang sedang bermain di dekat situ.
Sayangnya, sekarang ini toko Koh San kian sepi. Tokonya memang terlihat sangat berbeda, dengan gantungan lampion kertas merah, tulisan Mandarin yang artinya keberuntungan, tombak di dinding, dan pernak-pernik khas Tiongkok lainnya.
Mungkin karena persaingan, ya, begitu kata Koh San kalau menanggapi orang yang prihatin. Dengan pertumbuhan lima toko kelontong lain di situ, banyak orang yang memutuskan untuk membeli di sana. Barang-barang titipan yang sebelumnya hanya dijual di toko Koh San pun berpindah ke toko pesaingnya.
Anak-anak kecil masih suka datang ke situ karena Koh San menjual es dan peralatan tulis paling murah. Barang-barang yang berasal dari China memang biasanya lebih murah, dan si Kokoh paham betul akan hal itu. Dia mendatangkan banyak barang dagangan tersebut dengan kontainer. Anak-anak senang sekali kalau kiriman kotak pensil warna-warni, tas kain, penghapus wangi, atau buku bergambar tokoh keren datang.
Tiap pagi Koh San juga menyiapkan es bon-bon yang akan membeku sempurna saat jam pulang sekolah tiba. Bukan es bon-bon buatan pabrik, tapi resep keluarga yang sudah dijual sejak ayahnya yang dari Shanghai itu membuka toko. Resep asli Tiongkok katanya. Kadang, dia suka makan es bersama anak-anak yang datang. Berhubung hawa memang panas juga lembap, Koh San pun lebih suka mengenakan kaus kutang.
Semuanya itu tak pernah menjadi masalah selama bertahun-tahun. Namun, dalam waktu semalam, banyak pria yang datang dan meminta Koh San untuk berpakaian lebih rapi. Mereka menyebut-nyebut pengunjung toko itu banyak anak kecil dan perempuannya. Kaus kutang dan celana pendek bukan penampilan yang pantas untuk diperlihatkan. Menolak untuk terlibat dalam masalah, si Kokoh meminta maaf dan berjanji akan mengenakan baju yang tidak terlalu “mengganggu”.
Meski demikian, pengunjung tetap menurun. Tidak ada yang tahu kesalahan apa yang diperbuat pemilik generasi kedua toko kelontong itu. Orang-orang hanya berubah tidak menyukainya. Titik. Tidak ada koma, titik koma, atau tanda baca lain yang menjelaskan akar permasalahannya.
Mereka jadi menjauhi toko Koh San, menolak untuk berbelanja di situ. Jajanan yang dijual, termasuk es bon-bon aneka rasa yang tak laku lagi, dituduh mengandung unsur tak jelas. Para orangtua menyuruh anak-anak mereka untuk berhenti datang. Rasa percaya dan kekeluargaan yang sudah terbina belasan tahun runtuh begitu saja hanya karena praduga tanpa alasan.
Para ibu di kompleks mulai membicarakan Cik San dengan kata-kata yang menyudutkan. Kata mereka si Cicik tidak seramah dulu. Tatapannya tajam memandang pengunjung yang datang. Senyumnya juga terasa dipaksakan. Mau pinjam uang juga lebih susah.
Untuk beberapa waktu, hanya itu terus digosipkan. Koh San harusnya tahu apa yang dikatakan para tetangga tentang keluarganya mengingat kompleks ini tidak besar dan hubungan antartetangga bisa dibilang guyub. Tapi tak pernah sekali pun mereka membalas. Meski Cik San terkesan menjaga jarak, dia tetap melayani pembeli dengan baik.
Kadang kupikir Koh San dan keluarganya terlalu baik kepada orang lain. Dia tak segan mendahulukan orang asing dibandingkan kepentingan pribadi. Sampai akhirnya puncak masalahnya terjadi beberapa bulan kemudian, saat Imlek tiba.
Keluarga Koh San tidak pernah neko-neko dalam merayakan hari tahun baru China. Mereka tidak memanggil barongsai atau liang liong untuk memeriahkan perayaan. Tidak ada juga petasan atau kembang api. Mereka hanya mengundang keluarga untuk makan-makan di rumah, mengunjungi sanak saudara, atau sembahyang di klenteng. Tak ada yang berlebihan. Bahkan, bisa dibilang, Koh San cenderung merayakan Imlek dengan diam-diam.
Sebenarnya tidak pernah ada larangan baginya untuk merayakan Imlek sesuai kebiasaan orang Tiongkok. Tapi tentu dia sadar bahwa dia adalah minoritas. Dan memasang kembang api atau memanggil barongsai akan sangat mengganggu para tetangga, sekalipun itu adalah bagian dari tradisi ribuan tahun yang menjadi bagian dari jati dirinya.
Saat Imlek kemarin, tahu-tahu datang lagi sekelompok pria. Saat pintu dibukakan, mereka langsung masuk dan meminta Koh San menghentikan semua kegaduhan yang dia buat. Rupanya, beberapa keponakan yang datang sedang menyalakan kembang api tangan di halaman belakang. Anak-anak itu tertawa sambil mengayunkan kembang api ke satu sama lain, yang dianggap berbahaya oleh para tetangga.
“Bahaya apa, ya?” tanya Koh San. “Kan ini mainnya di halaman belakang saya, ya? Di situ juga sudah ada ember air untuk mematikan kembang apinya, ya.”
Para tamu tak diundang itu tidak mau tahu. Mereka tidak ingin ada sesuatu yang mengusik keharmonisan kompleks perumahan mereka. Mereka juga tidak suka dengan bau-bau dupa yang ditancapkan di depan altar keluarga Koh San. Berhubung sejak malam Imlek dan hari Imleknya, bau dupa itu terus saja menguar keluar rumah, mencapai rumah-rumah di sekitarnya.
Salah seorang dari bapak-bapak itu merokok dan menyebarkan abunya ke mana-mana, karena dia memperhatikan seisi ruang tamu Koh San seakan dia adalah tamu betulan. Tidak ada yang merokok di keluarga Koh San, baik dia, kedua anak laki-lakinya, maupun saudara-saudara yang tengah berkunjung. Anak perempuan Koh San satu-satunya sampai terbatuk-batuk menghirup asap.
Si bapak ini kemudian memandang menu-menu yang tersaji di meja makan bundar besar dan terkesiap ngeri saat melihat kepala babi panggang. Sambil menyumpah-nyumpah, dia menunjuk-nunjuk Koh San tepat di muka. Di pengujung sumpah serapahnya, dia ingin Koh San pergi dari daerah itu.
Cerita tentang apa yang terjadi menyebar seperti kobaran api. Tak perlu waktu lama hingga seluruh kompleks tahu apa yang terjadi pada keluarga Koh San saat Imlek malam. Hampir seminggu setelah Imlek, aku diberi tahu oleh ibuku yang juga merupakan salah satu ibu-ibu penggosip di depan tukang sayur. Belum selesai ibuku bercerita, aku langsung pergi ke toko Koh San.
Tak ada lagi Kokoh yang selalu tersenyum kepada pengunjung. Tak ada lagi Cicik dan ketiga anak mereka yang suka membantu di toko. Pintu harmonika tertutup rapat menyambut pengunjung yang datang, dengan kertas A4 tertempel di sana. Kertas itu bertuliskan, “Tutup Sementara”. Tak lebih, tak kurang. Hanya satu kalimat, dua kata, tanpa informasi lainnya.
Satu minggu berubah menjadi satu bulan. Aku harus kembali ke Australia untuk menyelesaikan studi dan dalam hati berharap saat pulang nanti aku akan disapa ramah oleh Koh San lagi. Akan tetapi, rupanya satu bulan berubah menjadi tiga bulan, enam bulan, dan sembilan bulan dengan cepat. Tak ada tanda-tanda toko kelontong itu akan terbuka lagi.
Banyak yang mencibir keluarga itu kemudian. Mereka menyalahkan Koh San yang terlalu sensitif, yang salah mengartikan nasihat baik para tetangga, dan malah kabur. Sebagai minoritas, sudah tentu dia harus mengutamakan kepentingan kelompok mayoritas, kan? Kalau apa yang dia lakukan mengganggu tetangganya, tentu itu karena yang dia lakukan melenceng dari kebiasaan masyarakat di kompleksnya.
Sejak saat itu, aku selalu bertanya-tanya. Seandainya kami para warga yang tidak terganggu dengan keberadaan keluarga Koh San melakukan sesuatu, apakah sekarang toko kelontong itu masih menjadi bagian dari kami? ***
.
.