Rasa Heran di Malam Lebaran

Cerpen Yulizar Lubay (Koran Tempo, 16 April 2023)

untuk Afrizal Malna

AKU pernah dikunjungi alien. Dia berkunjung ke rumahku bukan naik UFO, melainkan naik mobil sewaan. Dia datang sendirian sambil menggendong ransel biru berisi satu boneka kelinci kecil, tiga buku puisi, sekotak masker, dan sebotol hand sanitizer.

Dia adalah jenis Alien Puitik yang tidak berbahaya: berkepala botak licin, berkacamata tebal, suka merokok kretek, dan minum kopi pahit.

Kami berdua berbincang sebentar dan perbincangan itu terjadi di meja makan rumahku. Awalnya dia sempat memperkenalkan diri sebagai bucin (budak cinta), tapi aku tak percaya, sebab di mataku, dia tetap Alien Puitik yang penuh metafora.

Meskipun bukan pelari, dia adalah jenis pelari supercepat, tentu bukan dalam arti sebenarnya, sebab lokus dan konteks larinya ada di wilayah instalasi imajeri dan stilistika, di wilayah semantik dan estetika. Ratusan penyair pemula pernah berusaha mengejarnya, tapi berujung muspra. Sang Alien Puitik tetap berada seratus meter di depan mereka. Para pengejar itu jatuh dan mengaduh di lalu lintas denotasi dan gramatika Bahasa Indonesia.

Di meja makan kayu malam itu, setelah kami berdua makan soto ayam kampung terenak dan terkenal di kotaku, aku coba mengajak Alien Puitik bicara soal teater dan puisi. Soal apa saja yang menyangkut keindahan. “Abang belajar puisi dari siapa? Boleh sedikit bercerita?” kataku memberani-beranikan diri. Aku agak grogi.

Alien Puitik terbatuk beberapa kali. Dia menjawab pertanyaanku dengan lancar. Jawabannya itu tak langsung diucapkan, tapi dituliskan di selembar kertas putih yang diambil dari dalam ranselnya. Selesai menulis, dia memberikan kertas itu padaku. Aku membacanya dengan teliti:

“Aku belajar puisi dari rumah makan Padang milik ayahku. Dari ibuku yang suka nonton sepak bola. Dari televisi. Dari mesin tik. Dari para perempuan cantik. Aku belajar puisi dari majalah dan koran. Dari bungkus mie instan. Dari senyum ganjil bapak pembangunan. Dari masker. Dari obat sakit perut. Dari hantu botol tanpa pantat. Dari kelinci. Dari lukisan. Dari instalasi dan kimia keringat sejumlah aktor teater. Dari ikan-ikan yang berenang di jalanan yang berlubang. Dari kaki-kaki air. Dari kuku orang mati. Dari telur mata sapi. Dari sapi. Dari sepi. Dan puisi, untukku pribadi, adalah sebentuk instalasi yang ada di wilayah sebelum dan setelah bahasa. Lain halnya dengan prosa, ia tak mungkin ada di wilayah sana. Prosa terbiasa menggunakan seluruh kerja leksikal dan gramatikal bahasa. Persamaan kerja puisi dan prosa mungkin hanya terletak di wilayah evakuasi.”

Aku sempat senyum sebentar setelah membacanya. Mataku terluka. Wajah ibuku terbayang tiba-tiba. Dia adalah jenis ibu yang tidak suka nonton sepak bola.

Dengan perasaan nelangsa yang kurang wajar dan biasa, aku pun menulis tentang ibuku di kertas milik Si Alien Puitik. Aku menulis di halaman sebaliknya:

tiga tabung gas hijau lebih sering melamun di rumah kami di dua tahun penuh kecemasan itu: orang-orang rajin pakai masker dan menyemprotkan hand sanitizer. aku memandang garis-garis wajah dan rimbun rambut peraknya: kesedihan dan kegembiraan menggurat dan mengeras di sana.

dua tahun itu, orang-orang jauh dan dekat telah pindah alamat ke satu zona yang tak pernah ada dalam peta. kami juga tak pernah tahu bagaimana bentuk zona antara itu: seperti pantai pasir putihkah atau padang rumput tempat pelatihan gajah; dua zona yang dulu kami pilih untuk mengusir bosan dan gundah?

tapi sekarang aku bungah, sebab cinta ibu telah diawetkan orang dalam lagu. dalam tanggal. dalam doa yang dipanjatkan diam-diam.

Wajah ibuku perlahan memudar dan digantikan dengan wajah Alien Puitik yang duduk di depanku. Aku berdehem, lalu menelan ludah. “Proses belajar yang menarik,” kataku dengan bibir kelu dan leher sedikit kaku, “Terutama soal evakuasi. Menurutku, tindak evakuasi lahir dari semacam gangguan-gangguan internal maupun eksternal pada medium tertentu. Itulah yang membuat kita berusaha keluar dan mengatasi masalah: apa pun mediumnya. Tampaknya ini jadi motif atau api dari proses kreatif Abang ya?”

Alien Puitik memegang dagu sambil memandang sebentar pancaran sinar bohlam lampu kuning yang menggantung malas di plafon kayu rumahku. Dia berkedip beberapa kali. “Tentu. Evakuasi adalah salah satu api kreatifku. Semua hal perlu dievakuasi, termasuk puisi, teater, dan semua hal yang elementer.”

Seekor kambing milik tetangga sebelah rumahku mengembik tiba-tiba. Disusul suara cempreng tukang sate keliling yang lewat di depan rumahku tiga detik berikutnya.

Alien Puitik menyesap kopinya yang sudah hampir habis. “Masalah terbesar puisi Indonesia adalah tidak bisa keluar.”

Aku melamun dan sesaat merasa menjadi kambing kurban. “Termasuk teater juga, Bang?” Aku bertanya tanpa benar-benar menyimak ucapannya. Pikiranku melantur ke mana-mana.

“Kok ditanya lagi. Aku malas menjawab dua kali. Tidak bisa keluar adalah masalah kita yang paling mendasar.”

“Tapi untuk para pemula, bukankah harus masuk dulu, Bang?”

“Iya, tapi setelah masuk ke satu model puisi tertentu, misalnya, mereka pasti akan terjebak dan tak bisa keluar. Aku berharap para pekerja seni bisa keluar dan merdeka. Keluar, menurutku, adalah salah satu tugas penting di dunia; sama pentingnya dengan bayi yang harus keluar dari rahim ibunya.”

Aku mendecakkan lidah, lantas menggeleng heran. “Jadi, apa estetikamu, Bang?” Aku agak kaget dengan pertanyaanku sendiri. Kala itu aku mirip seekor semut yang seminggu belum ketemu gula.

“Estetika?” Alien Puitik berkata sambil beberapa kali mengulum bibirnya. Suaranya terdengar berat dan seolah selalu bersumber dari dada. Dua ekor cicak di tembok hijau rumahku menoleh ke arahnya. Mereka berdua terpana. Salah satu dari mereka jatuh ke lantai marmer putih dan mengagetkan seekor semut hitam yang sedang mendorong-dorong sebutir gula.

Aku mengangguk beberapa kali. Tenggorokanku seperti dipenuhi bubuk kopi.

“Estetikaku ada dalam mobil ambulan.” Dia tertawa sambil membenarkan kerah kaos hitamnya. Di bagian depan kaos itu terdapat tulisan berwarna putih: International Women’s Day.

Aku diam saja, dan sesaat merasa seperti helm yang teronggok di meja. Jam dinding jadi hampa. Waktu mengeras dalam ampas kopi robusta.

“Boleh aku minta kopi lagi? Setengah gelas saja,” kata Alien Puitik dengan nada suara rendah. Mukanya selalu tampak sumringah.

Lamunanku buyar saat itu juga. “Dengan senang hati, Bang,” kataku. Aku melangkah dan membuatkan segelas kopi pahit untuknya.

Lagu “O Sole Mio” yang dinyanyikan Pavarotti menggedor-gedor telinga dan dadaku. Lagu itu diputar dari telepon pintar milik Si Alien Puitik. Bagus juga selera musik Alien Puitik kebanggaanku ini, aku mendesis lirih kepada panci kecil berisi air di atas kompor yang menyala.

“O Sole Mio” membuat waktu seolah-olah hanya berputar-putar di ruang makan. Sementara di luar, gerimis datang tanpa pemberitahuan. Sesosok malaikat yang berjalan tanpa payung dan sandal tampak sangat khusyuk membagi-bagikan berkah untuk orang-orang yang sedang susah; untuk jiwa-jiwa yang sedang patah.

Lagu sudah selesai diputar. Kopi dan teh buatanku pun telah kutaruh di meja makan. Uap hangat meliuk lamban. Kami kembali duduk berhadapan.

“Lagu tadi sering dinyanyikan oleh salah satu politisi Indonesia. Setiap ada kesempatan nyanyi, dia selalu menyanyikan lagu tadi. Suara dan isi pikirannya sama-sama lumayan.”

“Siapa, Bang?” kataku sebelum meniup dan menyesap tehku.

“Aku tak mau sebut nama. Yang jelas dia pernah menuliskan isi pikirannya di koran dan majalah Nasional.”

Aku manggut-manggut dan sebenarnya tak ingin tahu lebih lanjut.

“Kamu tahu,” katanya setelah menyesap kopi dan menghidupkan sebatang rokok kretek, “Tak lama setelah Soeharto lengser, salah satu jenis ikan di Sulawesi tiba-tiba ikut mati. Orang-orang mulai melakukan mistifikasi. Mereka percaya ikan-ikan itu mati karena kehilangan Sang Presiden. Kebenaran terkuak beberapa waktu kemudian. Ikan-ikan itu mati bukan karena lengsernya presiden, melainkan karena proyek pembetonan di sungai tempat mereka tinggal.”

Apa hubungannya estetika Si Alien Puitik ini dengan politisi yang suka menyanyi “O Sole Mio” dan ikan-ikan yang menghilang saat Soeharto tumbang, pikirku. “Berat, Bang,” kataku setelah beberapa detik berlalu.

“Bergantung bagaimana kita menyikapinya.” Dia tertawa. “Apa kita banting gelas saja?”

Aku tahu itu bukan pertanyaan. Aku tertawa sambil mengambil rokok dan korek yang berbaring di meja. Kuhidupkan rokok, asap keluar dari kepalaku.

Satu jam berlalu. Setelah menghabiskan kopi dan bercerita tentang beberapa mantannya, Alien Puitik berpamitan. Namun sebelum kupersilakan pergi, aku telah menanyakan kepada Alien Puitik tentang sesuatu yang sudah lama kusimpan.

“Pertanyaan terakhir, Bang. Apa pesan Abang untuk para praktisi seni di republik ini? Semacam fatwalah.”

“Semakin tua, aku semakin tak berani berpesan,” katanya dengan nada datar. Nada itu kutangkap sebagai nada rendah hati seorang tokoh dan penulis besar.

“Tak apa, Bang. Berpesanlah. Biar rekaman di hapeku ini bisa kuunggah di media sosial. Penggemar Abang banyak di luar sana. Biar semuanya bisa dengar.”

Alien Puitik diam sebentar, aku pun demikian.

“Mungkin yang paling menarik dalam hidup ini adalah menjaga rasa heran,” katanya dengan bibir bergetar dan sepasang mata yang nanar. Di kepalanya yang botak bersinar, segerumbul mawar bermekaran.

Aku tercengang. Perlahan-lahan kami berdua berubah menjadi malam lebaran yang agak miring ke kanan. ***

.

.

Lampung, 2023

Yulizar Lubay, lahir di Lampung, 24 Juli 1986. Menulis fiksi sejak 2010. Sehari-hari bergiat di Komunitas Berkat Yakin Lampung sebagai aktor teater.

.
Rasa Heran di Malam Lebaran. Rasa Heran di Malam Lebaran. Rasa Heran di Malam Lebaran.
Arsip Cerpen di Indonesia