Kota Kami

Cerpen Ilham Wahyudi (Suara Merdeka, 13 April 2023)

SEMUA warga di kota kami memiliki penghasilan yang besar. Tidak seorang pun tampak menganggur, atau tidur malas-malasan. Kecuali anak-anak kecil dan orang jompo. Pegawai negeri, pegawai swasta, pengusaha (pedagang), buruh, sopir angkutan umum, profesional, termasuk pekerja seni, serta seniman hidup makmur dan sejahtera.

Saking makmur dan sejahtera, di kota kami jarang sekali terjadi gejolak seperti kota-kota lain. Baik akibat persoalan kelangkaan minyak goreng, iuran asuransi kesehatan yang melonjak naik, atau demo-demo mahasiswa-buruh yang menuntut sebuah undang-undang dibatalkan. Bahkan, menjelang pemilihan wali kota sekalipun, kota kami tidak pernah ribut atau gaduh yang lazimnya sering terjadi antarapendukung calon.

Di kota kami, siapa pun boleh menjadi wali kota. Biarpun dia hanya seorang guru, olahragawan, seniman, atau sopir angkutan umum. Yang penting calon wali kota itu jujur, ikhlas mengemban amanah warga, dan siap bersumpah untuk mendahului semua kepentingan warga kota kami di atas kepentingan pribadi atau keluarga.

Sumpah seperti itu sebenarnya tidak hanya berlaku bagi wali kota ataupun pejabat-pejabat lain di kota kami. Tetapi berlaku pula bagi siapa saja yang sedang mengemban amanah: baik sebagai seorang guru, pihak yang berwajib, buruh, atau profesi apa pun yang menyangkut serta berhubungan dengan banyak orang.

Sudah banyak peneliti dari pelbagai lembaga yang datang ke kota kami. Mulai dari sistem pemerintahan, tingkat pendidikan, keyakinan, pola interaksi, sampai pola makan dan berak kami pun diteliti. Namun, begitupun, peneliti-peneliti itu tidak pernah sampai pada sebuah kesimpulan yang bermanfaat bagi kota mereka.

“Aneh! Penduduk di kota ini tak ubahnya dengan penduduk di kota saya. Tapi mengapa mereka bisa hidup makmur dan sejahtera?”

“Betul, kawan. Di kota kami pun tak ada yang menganggur atau malas-malasan. Mengapa kota saya tak makmur seperti kota ini?” Begitu bunyi gunjing peneliti-peneliti itu.

Berkunjung ke kotá kami, orang-orang tidak akan merugi. Apa saja di kotá kami murah. Penginapan dari motel sampai hotel, murah. Kuliner murah. Ongkos transportasi murah. Bahkan setiap akhir pekan, tempat-tempat hiburan di kota kami juga memberikan hadiah cuma-cuma kepada para pengunjung.

Meskipun tidak semua pengunjung kebagian. Tetapi, karena sifat warga kotá kami yang pantang tangan di bawah, maka sudah barang tentu hadiah-hadiah itu jatuh ke tangan pengunjung dari luar kotá kami. Itulah mengapa setiap akhir pekan warga kota lain ramai berkunjung ke kotá kami.

Mungkin banyak orang berpikir hadiah-hadiah itu tidak bagus dan murah. Keliru! Meskipun di kotá kami semua serba murah, namun untuk ukuran di kota-kota lain, hadiah-hadiah itu sangat mahal. Lemari es, kipas angin, televisi layar datar, bahkan kadang mesin cuci yang menjadi hadiah. Kerennya lagi, semua hadiah itu diproduksi warga kotá kami. Itulah mengapa kami mampu memberikan hadiah-hadiah itu dengan cuma-cuma.

Di kotá kami, gedung-gedung pencakar langit berderet bak orang mengantre sembako tatkala pandemi. Demi Tuhan, tidak pernah sekalipun warga kotá kami mengantre bantuan sembako atau bantuan langsung tunai. Namun bukan berarti kami tidak mengenal budaya mengantre. Sebab saat bulan donor darah tiba, atau saat bulan pelaporan pajak datang, dan saat membeli tiket kereta bawah tanah, warga kota kami begitu tertib mengantre.

Selain memiliki gedung-gedung pencakar langit yang berderet, kota kami juga memiliki banyak taman dengan lampu yang menyala 24 jam. Setiap 5 kilometer dari ujung ke ujung wilayah kota kami, berdiri taman-taman yang indah. Saat sore, apalagi akhir pekan, warga kota kami biasanya akan duduk santai di taman melepas penat.

Jalan-jalan di kotá kami juga sangat mulus dan lapang. Persis seperti kulit bayi yang baru lahir. Sehingga pemerintah kotá kami berani menjamin seluruh warga tidak akan mengalami kecelakaan lalu lintas yang terjadi akibat lubang-lubang atau jalanan yang tidak rata. Pihak yang berwajib pun tak perlu bersusah-susah berjaga di setiap simpang. Sebab warga kotá kami sangat tertib dengan marka jalan. Nyaris tidak sekalipun pernah terjadi kecelakaan lalu lintas. Dan kalau pun sampai terjadi kecelakaan, warga luar kotalah yang biasanya mengalami.

Akan tetapi belakangan ini, kotá kami mendadak terasa begitu sumpek dan gerah. Karena teramat sumpek dan gerah, sebagian warga kami ingin pindah ke kota lain. Sebut saja kota J dan kota M. Tapi karena kedua kota itu sering banjir dan jalan-jalannya berlubang, niat ingin pindah ke kota lain akhirnya kami urungkan.

Warga kotá kami sesungguhnya bukan sedang ketiban sial terkena musibah perubahan cuaca akibat pemanasan global yang banyak terjadi di kota-kota lain. Namun yang kami maksud dengan sumpek dan gerah itu, semata-mata cuma soal hubungan sosial dalam masyarakat kami yang mengalami kemerosotan. Dan kemerosotan itu murni akibat tidak adanya pemimpin di kotá kami.

Tentu saja kotá kami memiliki seorang pemimpin yang kami sebut wali kota. Setiap lima tahun sekali kami rajin ikut memilih wali kota. Tapi wali kota periode kali ini tidak benar-benar punya kekuasaan. Dia hanya seorang manusia berjas-berdasi yang dikurung dalam kantor resmi, di tengah kota. Dan dia hanya keluar saat ada yang harus segera digunting dalam sebuah proyek tertentu. Kenyataan itu semakin diperparah dengan kebiasaanya yang suka sekali tersenyum saat muncul dalam headline berita di media-media mainstrem. Sehingga perannya sebagai pemimpin kota tak mampu lagi dia jalani dengan baik dan tepat.

Nah, akibat kekosongan pemimpin itu, muncullah sekelompok orang yang tidak terlihat namun sangat aktif menyusun siasat dari bawah gorong-gorong kota, sambil mengendalikan kotá kami sesuai kehendak hati. Pada akhirnya, merekalah yang sesungguhnya memainkan peran wali kota di kotá kami.

Kelompok kasat mata itu sebenarnya adalah orang-orang elite yang rakus dan tamak. Karena kerakusan serta ketamakan mereka, proyek-proyek strategis yang berhubungan dengan hajat hidup warga kotá kami, mereka semua yang menguasai dan mendesainnya.

Sebetulnya banyak warga kotá kami yang mulai menyadari kotá kami dikendalikan oleh sekelompok orang kasat mata. Tetapi karena kelompok itu tidak pernah muncul ke permukaan, kami pun bingung mengidentifikasinya, yang pada akhirnya membuat kami sulit menghadapinya.

“Apakah kita akan membiarkan kondisi ini terus terjadi?” celetuk mantan aktivis di sebuah kedai kopi berlogo kepala berambut ular.

“Tentu saja tidak! Tapi bagaimana caranya?” sambar seorang pemuka agama yang dulu juga aktivis.

Setiap hari ada saja warga kotá kami yang berbisik-bisik seperti itu. Bukan hanya para aktivis: sopir angkot, pedagang pasar, bahkan guru-guru yang harusnya fokus mentransfer ilmu kepada generasi masa depan, pun ikut pula berbisik-bisik.

Suasana sumpek-gerah itu makin hari semakin menjadi-jadi. Wali kota pada periode kali ini sangat takut kekuasaannya yang sesungguhnya palsu lengser. Maka untuk memelihara kekuasannya, dia pun melarang warga kotá kami kritis. Dia juga menciptakan sebuah kawanan yang bertugas membuat suasana kebatinan warga kotá kami menjadi saling curiga dan saling membenci.

Kawanan itu sendiri dipilih wali kota dari warga kota kami yang memiliki sifat alami mirip hewan yang sedang dalam kondisi mood paling rendah. Mereka adalah orang-orang yang suka bikin onar, bising, dan recok, yang selama ini tidak menemukan cara dan tempat mengekspresikan hobi mereka.

Keributan demi keributan yang dipantik kawanan itu akhirnya berhasil membuat tensi warga kotá kami semakin tinggi. Setiap hari ada saja laporan kepada pihak yang berwajib dari satu kelompok warga kepada kelompok warga yang lain yang terpancing umpan kawanan pengadu domba.

Sungguh sang wali kota paham betul bila warga kotá kami semakin terpecah, tentu akan semakin baik. Saat itulah dia akan tampil menjadi penengah di antara keriuhan warga kota kami.

Lambat-laun pikiran warga kotá kami teralihkan. Mereka mulai tidak memerhatikan lagi proyek-proyek komunal kota yang mulia. Setiap hari warga kotá kami lebih senang meributkan hal-hal receh yang dibuat kawanan pengadu domba. Laporan demi laporan semakin menumpuk di meja pihak yang berwajib. Parahnya lagi, tidak semua ditindaklanjuti, tergantung ke mana arah pelapor itu condong.

Kini kotá kami semakin merosot ke dalam jurang kehancuran. Tidak ada lagi warga kota lain yang ingin datang ke kotá kami. Mereka takut kalau-kalau menjadi korban keributan antara kolompok warga di kota kami. Hadiah-hadiah yang biasanya sering dibagikan, pun tak ada lagi.

Ya, seperti itulah kini kondisi kotá kami, kawan. Tidak sedikit pun kami melebih-lebihkan atau merancang cerita sedih mengenai kotá kami. Kami hanya ingin mengabarkan kepada kalian yang mungkin sempat ingin pindah ke kotá kami bahwa kota kami sudah jauh berubah.

Terakhir, sebelum tulisan ini benar-benar berakhir, kami memohon sudilah kiranya kalian mengirimkan orang-orang pemberani dari kota kalian untuk menghancurkan kawanan pengadu domba dan kelompok kasat mata yang telah mengendalikan pemimpin kotá kami. Tolonglah warga kota kami yang kini benar-benar gerah, sumpek, dan putus asa dalam upaya mengembalikan kotá kami seperti sediakala. ***

.

.

Jakarta, 2022

Ilham Wahyudi lahir di Medan, Sumatera Utara. Ia seorang juru antar makanan di Dapur IBU dan seorang Fuqara di Amirat Sumatera Timur. Buku kumpulan cerpennya, “Kalimance Ingin Jadi Penyair”.

.

.

Arsip Cerpen di Indonesia