Cerpen Ramayda Akmal (Jawa Pos, 06 Mei 2023)
“APA pun yang terjadi, saya tidak akan mati. Jika saya mangkir, kalian harus memaksa. Jika saya lari, tarik saya kembali. Jika saya ketakutan, tertawalah. Jika saya cemas, yakinkan saya, itu cuma ilusi manja. Yang sedang menggerogoti saya adalah takut akan ketakutan, dan cemas terhadap kecemasan. Bagaimana?”
Dua perempuan lain di hadapan Martha terdiam. Rencana pendakian yang ditawarkannya indah bukan kepalang. Namun, pengakuannya dijawab dengan bungkam.
“Liu, kota itu dihuni banyak laki-laki berambut hitam kontinental.” Martha mengembalikan semangat gadis pertama. “Dan Ratna, saya punya waktu tiga hari penuh membantumu berpikir cara mendapatkan musisi itu.” Martha menyentuh kelemahan gadis kedua.
Ditambah dengan kebetulan dan target-target aneh yang terus diembuskan Martha, pergilah mereka ke perbukitan batu Saxon-Switzerland. Saat itu Januari, musim dingin tepat di atas kepala. Liu ingin mendaki gunung itu sebagai laku yang mengawali tahun baru kelinci. Ratna mau mendatangi gereja tak jauh darinya, di mana Bach menjadi Kantor [1] untuk beberapa dekade. Ia ingin menyalakan lilin doa, kesekian ratus, untuk cinta yang satu sama. Dan Martha, ia mau menantang dirinya sendiri; tubuhnya yang selalu gemetar; otaknya yang semrawut; sementara ilusi maut terus bergelayut.
***
Tahun lalu, Martha menyelesaikan studi dan pulang ke negaranya. Liu dan Ratna masih bertahan, terus-menerus liburan, sambil sesekali mengulang kelas yang ketinggalan. Ketika Martha berkunjung, mereka mengharap berita baik dan cerita baru.
Namun, Liu masih tidak beranjak dari aplikasi kencan. Keanggotaannya premium. Ia bisa tanpa batas menggeser layar kiri dan kanan, mengejar cocok dan supercocok. Sementara Ratna, setelah menjaga keperawanan sampai umur 38 tahun, tiba-tiba luluh oleh kengawuran seorang musisi, yang tidak peduli apa pun kecuali serulingnya. Tubuhnya meliuk bersama seruling, tetapi moralnya jungkir balik mencari penyelamatan.
Martha sendiri melewati ritus hidup seperti berkendara di jalan tol; mulus dan cepat. Karier, rumah tangga, cinta tersembunyinya. Namun, seperti halnya jalan tol, ongkosnya juga besar. Masalah yang lewat cepat menyisakan debu. Dunianya kelabu. Harapan yang besar jadi batu di punggungnya. Gambar masa depan seperti gunung di kampungnya; berliku, kasar, menyesatkan.
***
Mereka membayar tiket kereta api murah, di mana semua orang mendapat nomor kursi, hanya untuk duduk di nomor yang lain. Martha dan Ratna duduk bersebelahan, sementara Liu di belakang mereka. Ia membuka gawainya, masuk ke kelas online. Sambil tiduran, sesekali ia menyahut genau [2] dan richtig [3].
“Udaranya pengap.” Martha mulai gelisah. Ratna membuka jendela untuknya.
“Terima kasih. Kamu tahu, udara dingin memberi sensasi segar. Dan kesegaran memberi kesan saya bisa bernapas, dan bisa bernapas tandanya saya tidak cemas. Ini otak saya saja, atau faktanya begitu?” lanjutnya bertanya Ratna yang ia tahu, mengikuti semua video tentang kesehatan dan penyakit di YouTube.
“Bisa dua-duanya. Cemas membuatmu sesak napas, dan sesak napas juga membuatmu cemas. Seperti tanpa henti.”
“Bagaimana pekerjaanmu?” Ratna beralih ke obrolan lain, berharap temannya keluar dari putaran cemas.
“Saya akan menjawabnya dengan gambaran kuliah saya di tahun kedua, ketika mempelajari teori interpelasi dari Althusser. Saya ingat profesor saya memberi contoh dengan formula hadis nabi, hei orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu, bla bla bla. “Hei orang-orang yang beriman” adalah panggilan yang menentukan. Jika kamu menyahut, “diwajibkan atas kamu”. Begitulah aku yang telah menjawab panggilan. Di Indonesia, anak-anak memanggilku ibu guru, kolega menyebutku doktor dan bahkan profesor, dan saudara-saudara dengan kacau memanggil rektor. Aku pikir panggilan itu membuatku senang. Nyatanya, kian hari, badanku kian gemetar, tidak terkendali. Ruang kerjaku menyempit. Badanku berkeringat dingin setiap bertemu guru yang kukagumi. Matahari yang kusukai, menakutkanku, merenggut kekuatanku pelan-pelan. Aku pikir aku panik, takut, tapi kenapa, terhadap apa. Aku tidak tahu ujung pangkalnya. Aku merasa hari-hari ngawur dan sombongku hilang. Terenggut!” Martha mengucapkan kata terakhir seperti Ratna mengucapkannya ketika diperawani oleh musisi seruling itu.
“Mungkin kamu benar, tetapi kamu bercerita seperti guru sungguhan. Itu sudah ada di darahmu. Semua orang punya ketakutan. Ada yang tumbuh ke dalam, ada yang mencuat ke luar. Bisa menyadarinya itu lebih baik.” Ratna menjawab.
“Semoga. Lalu bagaimana denganmu?” Martha bertanya sembari terengah. Napasnya mulai memendek, seperti setiap kali ia menceritakan kondisinya.
“Aku kembali dengan musisi itu, di pelukannya. Beserta tangis-tangisku yang tidak berguna. Baru sebulan yang lalu dia tidur dengan kekasihnya yang lain. Tiba-tiba suatu malam, di bawah pengaruh jäger [4] sialan, ia menjadi lelaki baru. Bersih. Bekas-bekasnya tak ada. Aku bernafsu sangat menggulatinya. Kadang aku merasa, aku sangat tidak percaya diri. Berpikir tidak ada orang lain mau denganku selain dia. Di lain waktu aku merasa, jangan-jangan kebebalanku ini disebabkan justru karena aku terlalu percaya diri, merasa bisa menaklukkannya, tanpa malu. Aku dengar orang melabeliku perempuan bermoral longgar, seperti salju tebal di malam hari, yang melembek becek di pagi hari.”
“Saya pikir, orang bisa percaya diri dan tak percaya diri secara bersamaan.” Martha kemudian tenggelam dalam permainan logikanya sendiri.
“Mau membantuku?” Liu menelusupkan telepon genggamnya lewat celah-celah kursi mereka. Rupanya kelas telah usai. Ia membuka aplikasi kencan dan menyesuaikan tempat pencarian di area gunung batu yang akan mereka datangi.
Ratna selalu swipe kiri, Martha sering kali swipe kanan. Kadang-kadang mereka menyesal menggeser ke kiri, dan akun premium Liu memungkinkan mereka mengembalikannya, sebelum kemudian tetap membuangnya ke kiri.
***
Tengah malam mereka sampai di penginapan. Liu menelusupkan badannya ke selimut setelah melewati ritual perawatan wajah sambil menceramahi kami tentang algoritma aplikasi kencan. Di tempat baru, lebih banyak laki-laki yang bagus. Setelah satu dua kali berseluncur, kita kehabisan. Setelah berhasil ketemu satu dua kali, tidak ada lagi.
Ratna masih berbaju lengkap, duduk di ujung kasurnya sambil menatap telepon genggamnya yang memanggil dan ditolak. Ia memulai ritual menelepon-tutup-menelepon-tutup sampai puluhan kali. Martha dan Liu tidak mau ikut campur, tidak bisa. Sampai beberapa lama kemudian terdengar ritme napas tidur mereka yang teratur. Tapi, Martha masih terjaga. Ia datang. Ruang kamarnya membesar, cembung. Kadang-kadang berputar sedikit. Dengkuran temannya menjauh. Lalu dia mengingat bahwa sebentar lagi liburnya usai. Ia harus kembali. Ia menghitung tabungannya. Ia sadar belum melakukan ini dan itu. Ia menyusun jadwal. Wajah almarhum neneknya muncul. Percakapan dengan Liu dan Ratna terulang. Ia ingat jari-jari mantan suaminya yang bengkak. Aliran darah hangat terasa di kaki kirinya. Naik ke atas. Ke perut, memanggil rasa mulas. Keringat di dahi. Ia memiringkan badan. Ia mendengar detak jantungnya mencepat. Ia biarkan. Ia rasakan. Ia miring ke arah berlawanan. Ia nyalakan musik, ia dengarkan podcast. Dini hari ia meminta izin untuk menyalakan lampu. Ia memberi tahu Liu dan Ratna. Mereka terbangun dan menepuk-nepuk pundak Martha, merangkulnya, sebelum kemudian kembali mendengkur. Jam 6 pagi, Martha menyerah. Ia siap, sekarat atau terlelap.
***
“Saya cuma tidur dua jam, sarapan croissant keras, dan sekarang menembus salju tebal bermodal sneaker musim panas. Saya tidak yakin.”
“Kamu manja,” kata Liu dan Ratna kompak.
Martha diam, kakinya menurut saja arah teman-temannya berjalan. Ketika mereka mulai memasuki pegunungan, ketakjuban menyelimuti. Gunung itu hitam, tinggi, dipahat abad-abad lampau, berselimut salju yang turun seperti tepung tertumpah. Mereka pindah ke feri, menyeberangi Sungai Elbe, lalu turun persis di kaki-kaki raksasanya. Rumah-rumah lancip tertutup. Uap nongol dari cerobongnya yang mengerut. Turis-turis lain seperti kotoran di salju putih, berpencar dan bungkuk. Jalan berkelok-kelok disisir oleh hujan salju miring. Situasi ini merenggut segala kecemasan.
Di satu titik, jalan batu mulai hilang. Jalan berundak terbuat dari tanah dan kayu menggantikannya. Mengular dan meninggi. Liu dan Ratna mengapit Martha dan menaikkannya ke tangga pertama. Seperti mesin tua, mereka maju sedikit demi sedikit. Di tikungan pertama, mereka bertukar kekaguman. Di tikungan kedua, Martha mengeluhkan matanya sakit oleh warna putih. Terlalu terang. Di tikungan berikutnya, Ratna mengecek peta. Berapa lama lagi. Martha mulai memutar-mutar badannya, mencari tumpuan pandangan. Selain putih, tak ada. Ia mencengkeram tangan Liu.
“Kita turun saja?”
“Tidak.”
“Ada restoran di atas sana? Aku butuh hangat dan duduk.”
“Pasti ada. Semua orang butuh itu.”
“Mataku sakit. Aku pusing.”
“Ada gua di sini. Kita bisa berlindung!” Ratna teriak dari depan.
“Kamu jalan cepat sekali!” Liu berkomentar ke Ratna.
“Aku mau cepat sampai ke puncak. Kita harus ke gereja. Mereka tutup begitu hari habis.”
“Hari sudah habis sejak tadi,” sahut Martha sambil menyenderkan badan ke dinding terdalam cekungan. Ia merogoh tas kainnya, mencari cokelat. Sumber energi, sumber ketenangan. Sambil mengemut bongkahan cokelat, ia mengamati dinding gua. Ia menghindari jarum-jarum salju putih yang menusuki kesadarannya. Liu memandang ke entah. Ratna terus melihat peta dan menghitung-hitung waktu.
Seorang laki-laki bersetelan Norwegian Hiking lewat. Tersenyum kepada mereka. Tapi, Liu yakin senyum itu hanya untuknya. Ekor matanya terus merunut laki-laki itu, punggungnya, pantatnya.
“Bisakah kau tanya padanya di mana kita bisa menemukan restoran?” Martha memancing.
“Tidak. Aku harus membuka aplikasi. Mungkin dia juga terdaftar di sini.” Liu jongkok, melepas seluruh bawaannya, tenggelam dalam lautan foto-foto.
“Matanya cokelat ya? Aku lihat tadi dia punya tanda luka di dahinya. Rambutnya? Ah aku lupa!” Liu semringah.
Sementara Ratna, dalam ketidaksabaran sampai ke gereja, kembali tenggelam dalam ritual menelepon dan me-reject.
Hujan salju deras dan miring, menerobos bibir gua, memampatkan tiga perempuan ini di pojok yang sama.
Martha masih menghadap ke dinding batu. Menghitung jamur-jamurnya. Ada yang bulat. Ada yang lancip. Warnanya putih kehijauan. Ada yang menonjol. Memiliki spora di atasnya. Dia mencoba menghitung titik-titik kumpulan spora itu sembari batinnya terus menginstruksi otaknya: fokus-fokus, jangan cemas, tarik napas. Sial dia datang. Tarik napas. Fuck! ***
.
.
Keterangan:
[1] Musikus gereja
[2] Tepat
[3] Benar
[4] Sejenis liqueur, alkohol 35%, rasa herbal
.
.