Cerpen Ferry Fansuri (Suara Merdeka, 08 Juni 2023)
PERNAHKAH dirimu merasa sendirian di dunia dan terasa tak diabaikan oleh sekitar, maka selamat Anda menjadi orang waras. Sejatinya memang kita hidup sendirian, itu yang kurasakan jika memasuki ruangan itu. Aku merasa sendirian di ruangan itu, begitu sunyi dan senyap. Ruangan itu ada di lantai 7 dari gedung ini, kemungkinan ruangan paling atas. Tepatnya ruangan administrasi dan personalia, tempat itulah aku bekerja.
Aku selalu datang tepat waktu dan tak pernah sekalipun terlambat. Jika yang lain telat sepuluh menit atau lebih, tapi aku tidak. Bahkan saat semua berdatangan, aku selalu sudah ada di mejaku. Biarpun begitu aku merasa kesepian, bekerja tanpa keriangan sedikit pun. Ruangan itu tetap sama, ada orang atau tidak. Sepi dan sunyi.
Hidup di kota metropolitan memang membuat orang di dalam dipastikan cuek satu sama lainnya, itu wajar tapi di ruangan ini lebih parah. Mereka bagaikan robot, datang pagi pulang sore. Mereka duduk berjam-jam dan melototi layar komputer, sibuk dengan diri mereka sendiri dan abai dengan sekitarnya. Mereka juga abai akan diriku. Mereka seperti tak melihat diriku. Jika aku menyapa, mereka tuli. Aku berpapasan di lorong, mereka buta. Aku ingin bertanya, mereka bisu.
Aku seperti tak dianggap sama sekali keberadaanku, itu terjadi berulang-berulang tanpa kusadari berapa lama aku kerja di ruangan itu. Aku terlihat bekerja lebih lama, mungkin bertahun-tahun, tapi rambutku panjang tak pernah memutih, kerut kulitku tak menyusut, pinggang dan pantatku tetap padat.
Aku tak pernah keluar dari ruangan lantai 7 itu, kecuali saat aku ingin pulang tiap jam 5 sore atau jika ada lembur hingga jam 9 malam. Aku selalu pulang menuju lift di lantai 7 itu, masuk ke dalam layaknya menuju labirin. Aku tak sadar, keesokan harinya aku kembali melalui lift di lantai 7 itu, masuk ruangan itu lagi. Aku tak ingat apa terjadi, tapi rutinitas itu terus berulang-rulang. Aku terasa amnesia, jika memasuki ruangan itu.
***
Suatu ketika ada seorang pria setengah baya dengan perut gendut dan kepala setengah botak hilir-mudik. Tepatnya berlari tergesa-gesa, ia selalu melewati ruangan itu dan tak pernah berhenti sedikit pun. Herannya semua tidak memperhatikan sama sekali atau mengubrisnya, hanya aku yang peduli.
Kejadian itu berulang tiap hari, pria setengah botak berlarian dengan koridor ruanganku dan berpapasan denganku. Ia tersengal-sengal napasnya seperti habis berlari, keringat bercucuran.
Aku sempat menghentikan pria itu, tapi tetap saja tidak mengubris, aku tak tahu kenapa. Ia seperti tak melihat diriku sama sekali, pria berlari keluar kembali dan kemudian kembali lagi. Kadang aku berpikir kenapa pria ini terus lari, kenapa harus mengitari ruangan lantai 7 itu, apakah ia lagi olahraga atau memang ia tersesat.
Rasa penasaran itu aku berusaha membuntuti pria itu sewaktu turun di lantai 6, ketika itu pria itu sedang bercakap-cakap dengan seorang wanita. Aku sedikit menguping pembicaraan mereka.
“Pak, kenapa Bapak bertanya seperti itu. Lantai 7 itu di sana Pak, mengapa saya harus berbohong sama Anda?”
“Kamu pasti bohong, mengapa tiap kali aku naik ke lantai 7, tapi aku selalu berada di lantai 6 ini.”
Pria itu tampak marah besar dan uring-uringan, ia terus mengacak-acak rambut yang tak seberapa itu. Dari percakapan itulah, aku mendapatkan info bahwa pria itu adalah bos pemilik gedung ini. Ia baru saja pindah gedung ini dengan membelinya dengan harga sangat murah. Perusahaan yang ia jalankan dengan tangan besi, semua pekerja diperas dan dibuat lembur, bos besar ini mengejar target semaksimal dengan modal seminim mungkin. Prinsipnya perusahaan ekspor-impor miliknya itu harus menguntungkan hingga semua karyawannya disuruh lembur mulai bagian admin, marketing sampai quality control.
Bos besar ini selalu memeriksa seluruh ruangan di tiap lantai, mata elangnya selalu mengawasi dengan tajam. Tak ada yang berani sama bos besar ini, jika ada yang telat maka langsung dipotong gaji separuh atau lebih parah dipecat.
“Kalian tak tahu diuntung, di luar sana banyak yang tidak punya pekerjaan sama sekali. Zaman sekarang susah cari kerja, di sini kalian enak kerja dan digaji. Jadi kerja keraslah dan bersyukur ada yang mau memperkerjakan kalian di sini.”
Kata-kata congkak itu jadi senjata yang muktahir untuk memeras mereka, rasa ciut terbenam dalam benak mereka. Karyawan-karyawan itu ketakutan bukanlah karena bos besar itu memarahi mereka, tapi takut akan cicilan rumah yang belum dibayar atau beli susu anak di rumah. Dunia ini begitu kejam, tuntutan hidup itulah yang akan pelan-pelan membunuh mereka.
Semua ruangan di gedung itu didayagunakan maksimal, tak ada yang sia-sia, harus menguntungkan. Bos besar tahu bagaimana menghasilkan untung, perhitungan tak pernah meleset. Beruntung mendapatkan gedung super murah untuk menjalankan bisnis, di matanya raupan miliar rupiah akan mengalir deras.
Ada sedikit aneh dengan bos besar ini, karena melarang para pegawai untuk naik lantai 7. Akses ruangan lantai 7 itu hanya pada lift yang tombol nomer telah dikunci oleh bos besar dan hanya ia seorang bisa membuka. Adapun pintu anak tangga telah ditutup dengan pintu dan digembok, akses satu-satunya cuma lift itu sendiri.
Bos besar ini pekerja keras sampai tengah malam masih dalam gedung itu, ada yang pernah melihat naik ke lantai 7 dengan membawa kereta barang dan beberapa pria wanita. Pagi bos besar itu yang turun dari lantai 7 saja, lainnya tak pernah terlihat kembali. Saptam gedung itu juga pernah melihat bos besar itu datang tengah malam dengan gerombolan wanita dengan gincu tebal dan dandan menor naik ke lantai 7 itu. Tapi paginya bos besar itu saja yang turun dan gerombolan wanita malam tak terlihat sama sekali dan hanya mencium harum parfum mereka. Kejadian itu terus berulang tak berulang.
***
“Apa benar ini lantai 7?!!!”
Bos besar itu berteriak keras dan sekelilingnya kaget melihatnya, semua keheranan apa gerangan bos besar katakan.
“Tenang… tenang Pak, ini lantai 6 bukan lantai 7.” Seorang wanita datang yang kemudian dikenal sebagai sekretarisnya.
“Tak mungkin, baru saja aku naik ke lantai 7 dan membuka pintu tapi mengapa aku ada di sini.”
Teriakannya menjadi-jadi dan hampir mengamuk, bos besar tak percaya kemudian ia membuka pintu anak tangga naik ke lantai 7 yang selama ini dikunci erat itu. Begitu tegesa-gesa ia naik ke atas dan entah apa yang terjadi bos besar ini kembali ke lantai 6.
“Ahhh… apa yang terjadi, kenapa aku tak bisa masuk ke ruangan lantai 7?”
“Aku harus bisa masuk ke ruangan itu apa pun caranya.”
Semua cara dilakukan oleh bos besar mulai masuk paksa ke dalam jendela memakai jasa pemadam kebakaran hingga naik dari atap gedung menggunakan helikopter yang ia sewa. Tapi semua itu nihil apa adanya, bos besar itu kembali ke ruangan lantai 6, ia teriak-teriak tak jelas dan meraung-meraungan layaknya dinosaur yang kehilangan buruannya. Semua karyawan menganggapnya gila dan hari ke hari terlihat tak waras sama sekali.
Dan pada akhirnya pada pagi cerah itu, sekretarisnya berteriak histeris saat membuka pintu kantor di ruangan bosnya. Bos besar itu terlihat lidah menjulur dengan tali dilehernya, bergelantungan di langit-langit. Ia mati bunuh diri karena menanggung beban yang tak terkira olehnya, obsesi untuk naik lantai 7 itu tak kunjung terpenuhi. Itulah akhir hidupnya, begitu juga perusahaanya. Semua aset-aset dijual untuk menutupi utang-utang perusahaan, gedung itu pun juga dilelang. Gedung itu tutup selamanya beserta rahasia lantai 7 itu di dalamnya.
***
Tapi aku tetap di sini dan selalu di sini, di ruanganku yang sunyi senyap. Di mejaku dan duduk memandang layar komputer yang tak pernah mati, dikelilingi orang-orang bermuka masam dan keruh. Dan tiba-tiba di pintu terbuka dan keluarlah seorang pria setengah baya dengan perut gendut dan berkepala botak.
“Selamat datang kembali, Bos!”
Semua yang berada di ruangan itu sekejap berbarengan berucap yang selama ini diam bisu tanpa suara.
“Terima kasih atas sambutannya, silakan bekerja kembali seperti biasa.”
Ekspresi itu tak asing bagiku, tapi entah di mana aku pernah tahu, selalu lekat di benakku. Tapi aliran-aliran neutron ke otakku terlihat macet dan tak bisa mengirim informasi. Sekeras apa pun aku berpikir tapi tak bisa, hal yang aku ingat hanyalah bekas memar hitam melingkar pada lehernya, itu saja. ***
.
.