Semua Begitu Cepat

Cerpen Jemmy Piran (Koran Tempo, 09 Juli 2023)

SATU hari sebelum berangkat, seorang tentara membisikkan kepadaku bahwa yang kami lakukan ini adalah misi bunuh diri. Kemungkinan untuk kembali sangat kecil. Tetapi, yang pasti sebelum itu terjadi, keparat-keparat Fretilin sudah dibasmi, begitu katanya.

“Tuhan pun tidak bisa menolong kita,” katanya.

Aku hanya terdiam. Dalam hati, berkali-kali, kusebut nama nenek moyang untuk menjagaku. Jika pun tanah ini telah memberikan izin bahwa belulangku lapuk di tanah ini, aku merasa inilah kematian terbaik daripada di luar dari tanah kita. Andai kata aku selamat, artinya tanah tidak sudi menerima jasadku.

Pagi-pagi sekali kami sudah sampai di Liasidi dan akan menyergap pos pengamatan yang dijaga oleh beberapa prajurit Fretilin.

Kami bergerak mendekat dalam senyap, berhenti beberapa meter. Dua prajurit merangkak dan tahu-tahu telah membunuh semua tentara yang menjaga pos pengamatan itu.

Mereka memberi kode ke arah kami agar segera bergerak dan mengambil alih pos pengamatan itu. Seseorang segera menghubungi markas bahwa kami telah menguasai pos dan meminta mereka agar segera bergabung untuk melakukan penyerbuan.

Namun, sebelum tengah hari, tiba-tiba pasukan Fretilin yang berjumlah ratusan muncul dari berbagai arah dan langsung memberondongkan tembakan. Sulit bagi kami membalas tembakan itu karena mereka menggunakan senapan serbu, mortar, dan GLM.

Keadaan semakin terdesak dan pada satu kesempatan kami mundur ke jalan awal yang dilalui tadi. Namun, serangan yang mereka lancarkan membuat kami makin kesulitan dan posisi pasukan sama sekali tidak menguntungkan. Kami terdesak dan mereka rupanya menggiring kami menuju tempat yang lebih sempit.

Pada saat itu posisi kami sangat terdesak sebab berada di pinggir jurang dan persenjataan yang seadanya membuat perlawanan itu tidak seimbang. Aku, Jegos, dan seorang tentara berada di tengah. Tiga orang anggota Kostrad menjaga baris depan dan tiga yang lain menjaga barisan belakang.

Satu per satu anggota pasukan gugur tertembak. Dua anggota Kostrad yang berada di depan kami seketika tumbang oleh peluru yang menembus dada mereka. Tak berselang lama dua dari tiga yang berada di belakang juga turut tumbang.

Kami betul-betul terimpit dan peluru berdesingan di atas kepala. Satu-satunya jalan yang bisa menyelamatkan kami adalah berlari ke arah bukit, tetapi kami harus menunggu waktu yang tepat dan sebelum pasukan Fretilin menutupnya.

Kami tidak bisa bertahan lebih lama lagi, selain menunggu waktu yang tepat untuk meloloskan diri. Namun, tembakan demi tembakan yang terus dilakukan tidak memungkinkan kami untuk meloloskan diri. Nyaris tidak ada peluang.

Sebuah peluru akhirnya menembusi lenganku. Jegos dengan sigap mengikat lenganku dengan secarik kain dan letnan bilang aku harus tetap bertahan dan membantu mengirimkan tembakan ke arah Fretilin.

Melihat situasi semakin tidak bisa, letnan segera memerintahkan agar kami yang tersisa segera meloloskan diri apa pun yang terjadi. Jika pun terkena peluru harus tetap berlari selagi masih bisa lari. Tidak ada kesempatan untuk saling membantu.

Seorang prajurit yang ada di baris depan menyelamatkan kami. Ia mengajukan diri untuk menghadang Fretilin yang makin tidak terkendali. Setelah berhasil mengambil senapan mesin otomatis FN Mini dari rekannya yang gugur, ia meminta izin letnan untuk memberi instruksi. Dalam hitungan ketiga ia berdiri, memberondongkan tembakan ke segala arah dan kami langsung berlari ke arah bukit.

Di atas bukit itu, setelah agak jauh, kami sempat melihat prajurit itu dan seorang yang lain masih coba mengulur waktu dengan memberikan perlawanan. Dari arah kanan sudah muncul pasukan Fretilin, yang langsung mengepung dua prajurit Merah Putih itu. Dari samping bukit juga sudah muncul beberapa prajurit Fretilin.

Mereka terjebak dan untuk menyusul kami sudah tidak mungkin, sementara di sisi kiri terdapat jurang yang dalam. Mereka masih berusaha bertahan dengan berlindung di balik batu, sambil sesekali mengirimkan tembakan perlawanan.

Sebelum menghilang di balik hutan, kami masih sempat berhenti menyaksikan dari jauh bagaimana prajurit itu beraksi. Sungguh ia seorang kesatria sejati.

Menyadari pasukan Fretilin dari dua arah berbeda itu mendekat, ia berdiri dan menghamburkan rentetan tembakan yang membuat banyak anggota Fretilin bertumbangan.

Ia lalu berlari ke arah pasukan yang datang dari kanan dan sekali lagi memberikan tembakan. Namun, nahas, sebelum ia mencapai pasukan itu, banyak tembakan mengenai tubuhnya. Ia tidak tumbang begitu saja. Ia seperti banteng kesurupan karena dalam keadaan yang terluka demikian ia terus maju hingga stok amunisinya habis.

Selanjutnya, terlihat sekitar belasan prajurit Fretilin datang mendekat ke arahnya. Dengan tenaga yang tersisa ia lalu berusaha bangkit, mencabut pisau dari pinggangnya dan mengejar mereka hingga membunuh beberapa orang dalam semak belukar.

Ia muncul kembali di tempat yang sedikit agak terbuka dalam keadaan terhuyung-huyung. Ia sudah tampak sangat lemah, lalu pada satu kesempatan terdengar tembakan, yang membuat tubuhnya tumbang.

Namun, ia belum mati. Ia jatuh dan bersusah payah bangkit dan berlutut menatap pasukan Fretilin yang mendekat ke arahnya. Mereka langsung mengerumuninya. Ia sudah terlalu lemah sekadar menghunuskan pisau ke arah mereka. Ia tak berdaya.

Salah satu anggota Fretilin segera mencabut pedang dan hendak menebas lehernya, prajurit itu mengeluarkan granat dari kantongnya.

Kami masih sempat mendengar ia berteriak, “Allahu Akbar!” Tidak berselang satu detik diikuti dentuman keras dan pasukan Fretilin yang mengelilinginya terpental melayang ke belakang. Tubuhnya hancur oleh bomnya sendiri.

Seperti didorong oleh suara dentuman itu, kami kembali berlari dan memasuki hutan. Di dalam hutan itu sudah ada banyak tentara Merah Putih, yang bergerak naik menuju puncak dan segera melakukan penyerangan terhadap Fretilin yang masih tersisa.

Diana, kabar yang kudengar selanjutnya adalah prajurit yang telah menyelamatkan nyawa kami itu tubuhnya hancur berkeping-keping. Ia gugur bersama enam prajurit lain.

Kupikir itu adalah operasi yang paling berhasil bagiku karena setidaknya ada banyak prajurit dari Fretilin ditangkap. Dan sejak saat itu, namaku dan Jegos sering dibicarakan. Tetapi, waktu itu aku sama sekali tidak bangga. Sungguh, Diana.

Kami menjadi contoh untuk anak-anak pribumi yang direkrut bergabung bersama tentara Merah Putih. Dan, saat itu banyak orang kita begitu takjub, karena, seperti yang kami dengar, kami bergabung dengan pasukan elite Indonesia ketika operasi itu.

Setelah sedikit mendapat kehormatan itu, aku kembali memikirkanmu lebih intens. Karena, kupikir, peluang untuk bertemu denganmu jauh lebih besar. Bahwa sewaktu-waktu aku bisa saja turun ke kota, lalu mencarimu di kamp-kamp pengungsian. Atau masih tetap di kampung kita.

***

Akhir Juli 1983, kami mendapat perintah dari markas pusat di Dili untuk melakukan penyerangan terhadap anggota Fretilin.

Bunyi perintah itu cukup mengagetkan karena kami harus memusnahkan mereka.

“Tidak boleh main-main lagi. Kali ini kita akan memusnahkan mereka tanpa ampun,” begitu bunyi perintah itu kepada kami. Itu bukan rumor atau gunjingan sepintas lalu.

Atas perintah itu, sebelum hari keberangkatan, para tentara membersihkan senapan, juga mengasah pisau sampai betul-betul tajam. Untuk mengecek ketajaman itu, para tentara menggunakan sehelai kertas untuk mengetes. Jika pisau itu sudah bisa memotong kertas berarti sudah cukup tajam dan siap dipakai. Pisau itu, kukira, lebih tajam daripada milik para pengiris tuak.

Tidak hanya itu, kami semua dilatih bagaimana cara membunuh tanpa ada perlawanan. Kami dilatih bagaimana melumpuhkan musuh dengan sekali tusuk.

Pada Agustus, kami berangkat menuju sebuah desa. Kami terbagi dalam sepuluh regu dengan tiga belas anggota. Setiap anggota dikepalai seorang letnan yang tampak begitu tegas dan menakutkan.

Kami berangkat pagi-pagi sekali dan tiba di sana pada keesokan harinya. Desa yang sudah terkepung itu bagai masih terlelap.

Pagi-pagi sekali kami semua sudah mengepung desa itu sebelum mereka terbangun dari tidur. Pagi itu alam seperti sudah berkabung. Angin bagai tiada berembus. Kabut tipis turun. Jago sama sekali tidak berkokok. Burung-burung sepertinya gemetar di atas pohon sebab tidak juga terdengar kicau. Hingga terdengar sebuah perintah dari mikrofon.

“Kampung ini telah kami kepung. Yang coba melarikan diri akan ditembak.”

Lalu, suasana berubah gaduh. Terdengar anak-anak menangis. Perempuan-perempuan dewasa berhamburan keluar. Laki-laki menyusul kemudian. Tanpa ada interogasi, orang-orang yang sudah terkumpul itu, yang banyaknya ratusan lebih itu, kami bakar. Mereka menjerit-jerit dalam kobaran api. Yang belum terbakar dan berusaha lari, kami tembaki.

Namun, sebagian besar yang belum terkumpul, yang jauh lebih banyak dari mereka yang kami bakar, berusaha lari. Kami langsung menghadang, membunuh mereka yang berusaha menyeberangi sungai. Ada yang kami gorok lehernya. Ada yang kami tikam dadanya dengan pisau. Kami rampas anak-anak kecil dari gendongan orang tua, menenggelamkan mereka ke dalam air dan orang tua mereka, kami tembaki. Dan, mereka yang kedapatan masih hidup, kami buang ke sungai, dan sebagian lagi kami hantam dengan batu-batu sungai.

Sedangkan laki-laki yang dianggap sebagai bagian dari Fretilin—tanpa ada interogasi, kami tikam berkali-kali. Memenggal kepala, memisahkan tangan dan kaki. Seperti belum puas, kami tendangi tubuh-tubuh yang sudah terkapar itu.

Beberapa di antara mereka kami permainkan terlebih dahulu sebelum akhirnya dibunuh.

Begini caranya kami memainkan permainan itu. Kami membentuk beberapa kelompok sesuai dengan jumlah orang yang akan kami eksekusi.

Seseorang yang akan kami bunuh itu ditempatkan di tengah, sedangkan kami berdiri melingkar dengan jarak yang agak jauh. Sekitar dua puluh langkah lebar dari orang tersebut. Lalu, salah seorang tentara mengirimkan tembakan ke tanah, dekat kaki orang tersebut. Ia kemudian berlari untuk menyelamatkan diri, tetapi begitu mendekat ke salah satu tentara, pahanya ditikam dengan pisau. Saat berbalik dan berlari ke arah lain, paha yang lain ditikam lagi oleh tentara yang lain.

Ketika ia mulai kesulitan berjalan, salah seorang maju, dan memutuskan urat yang ada di bagian belakang lutut. Seperti belum puas, ada yang kemudian menikam punggung lalu menarik pisau ke arah bawah hingga menampakkan lukanya yang mengangga.

Ia lalu didudukkan bersandar pada salah satu tiang yang ditancapkan ala kadarnya. Tangannya diikat ke belakang. Sebelum matanya diikat dengan sehelai kain berwarna gelap, para tentara menunjukkan sebuah sikap yang menyenangkan, yang kukira hanya akalan agar orang yang hendak dieksekusi itu berpikir bahwa nyawa tidak sampai direnggut.

Ia memohon-mohon dan bersedia menjadi bagian dari Indonesia. Ia bersumpah atas nama Tuhan Yesus. Namun, permohonannya tidak dihiraukan. Matanya kemudian diikat dengan sehelai kain.

Salah seorang tentara masih sempat mempermainkannya. Ia meminta orang itu untuk mengucapkan sumpahnya untuk bergabung ke Indonesia dengan sepenuh hati. Sebelum orang itu mengucapkan sumpahnya, sang tentara membuat sebuah gerakan kecil agar kami semua yang ada di sekeliling memperhatikannya.

Saat ia mulai mengucapkan dengan segenap tenaga yang tersisa, tentara itu langsung memotong urat yang mencuat di leher dengan ujung pisau. Darah muncrat ke mana-mana. Walau demikian, orang itu masih sempat menyelesaikan permohonannya untuk bergabung dengan Indonesia. Menyaksikan adegan itu, aku diam mematung dan tubuhku gemetar. Ini sudah sangat keterlaluan.

Orang yang diduga menjadi bagian dari Fretilin itu kami biarkan di situ hingga kehabisan darah.

Diana-ku, hari itu, udara meruapkan aroma anyir darah dan daging segar. Sungguh, kejadian itu begitu cepat. Sebelum tengah hari semua telah selesai. Mayat-mayat bergelimpangan hampir di semua tempat. ***

.

.

Jemmy Piran lahir di Sabah, Malaysia, 18 Februari. Alumnus PBSI, Universitas Nusa Cendana, Kupang. Cerpen-cerpennya sudah tersiar di koran lokal dan nasional, serta majalah. Buku kumpulan cerpen yang sudah terbit berjudul Obituari Sebutir Telur, Seekor Ayam, dan Babi (Basabasi, 2018), serta dua novel berjudul Wanita Bermata Gurita (Laksana, 2020) dan Dalam Pelukan Rahim Tanah (Basabasi, 2021).

.
Semua Begitu Cepat. Semua Begitu Cepat. Semua Begitu Cepat. Semua Begitu Cepat. Semua Begitu Cepat. Semua Begitu Cepat.
Arsip Cerpen di Indonesia