Gadis Gandum

Cerpen Dennis Halka (Haluan, 23 Juli 2023)

AKU adalah seorang malaikat maut. Ya, benar. Malaikat maut yang itu. Mungkin kedengarannya mengada-ngada, tapi memang begitulah kenyataannya. Bagaimanapun, apakah kau percaya atau tidak, itu terserah padamu. Kau punya hak untuk tidak mempercayai hal itu, sebagaimana aku juga tidak punya hak untuk memaksamu mempercayainya.

Menjadi seorang malaikat maut bukanlah sesuatu yang menyenangkan. Aku terpaksa harus menyaksikan berbagai macam kematian. Mulai dari kematian yang bersahaja di atas ranjang nan empuk sampai kematian yang dapat membuatmu kehilangan nafsu makan hingga berminggu-minggu. Kalau saja aku bisa memilih, aku lebih baik menjadi seorang pengumpul barang bekas ketimbang malaikat maut. Tetapi pilihan seperti itu tentu saja tidak pernah ada. Aku terlahir sebagai malaikat maut dan akan terus menjadi malaikat maut. Entah sampai kapan. Meski begitu, selalu saja ada pengalaman menarik yang membuatku betah berkutat dengan pekerjaan yang tidak menyenangkan ini.

Dari sekian banyak pengalaman menarik yang aku alami, yang paling kuingat adalah pertemuanku dengan Si Gadis Gandum. Tentu saja Gadis Gandum bukan nama aslinya. Aku menamainya Gadis Gandum karena bentuk kepalanya yang oval mirip sekali dengan biji gandum yang baru selesai dipanen. Rambutnya yang dipotong pendek sedagu semakin menonjolkan bentuk kepalanya yang oval sempurna itu. Gadis berusia 27 tahun itu berperawakan mungil, sehingga membuatnya lebih mirip siswi SMP yang baru belajar memakai bra ketimbang karyawati sebuah perusahaan farmasi. Ia memiliki wajah yang menarik, meski tidak bisa dikatakan cantik. Jelas bukan tipe wanita yang jika berpapasan di jalan akan membuatmu berpaling memandang wajahnya meski hanya sekilas.

Setiap makhluk hidup memiliki apa yang dinamakan dengan energi kehidupan. Energi inilah yang menopang kehidupan mereka. Jumlah energi kehidupan yang dimiliki oleh masing-masing makhluk hidup mempunyai kecenderungan yang sama, yakni akan terus berkurang seiring bertambahnya usia. Tetapi pada kenyataannya tak selalau begitu. Energi kehidupan ibarat aliran sungai yang tak selalu mencapai muara. Ada kalanya aliran tersebut berhenti sebelum mencapai muara, entah karena tersumbat oleh bebatuan atau sampah atau mungkin juga karena sebab-sebab lainnya. Dengan kata lain, energi kehidupan yang dimiliki seseorang sewaktu-waktu bisa saja berkurang atau bertambah, bahkan tanpa sebab yang jelas.

Ketika energi kehidupan habis hingga mencapai titik nol, maka saat itulah pekerjaanku dimulai. Aku akan datang dan menampakkan diri pada si pemilik energi, mengeluarkan roh dari tubuhnya, lalu membawanya pergi dari dunia ini.

Hal ini terkadang bisa menjadi sangat merepotkan. Karena bagaimanapun, aku harus menunggu energi kehidupan targetku benar-benar habis, sebelum membawa rohnya pergi. Aku tidak boleh bertindak selama energi kehidupan masih bersemayam di tubuhnya, meski hanya sedikit. Aku tidak tahu kenapa harus seperti itu, tapi memang begitulah aturan mainnya.

Dalam kasus Si Gadis Gandum, aku menemui sedikit kesulitan. Ini karena energi kehidupan miliknya terus mengalami fluktuasi. Energi kehidupan Si Gadis Gandum mulai menampakkan gejala fluktuasi tepat setelah ia mulai melakukan serangkaian percobaan bunuh diri. Energi miliknya berkurang setiap kali ia melakukan percobaan bunuh diri. Akan tetapi, anehnya energi tersebut tidak pernah sekalipun menyentuh titik nol. Sehingga semua usaha bunuh diri yang ia lakukan selalu berakhir dengan kegagalan. Dan setelah itu, jumlah energi kehidupan miliknya akan kembali normal, seperti sebelum ia melakukan percobaan bunuh diri.

Pernah suatu kali ia mencoba menyayat pergelangan tangannya dengan pisau dapur. Entah bisa disebut sial atau beruntung, ia malah gagal memotong urat nadinya. Mungkin karena pisau dapur yang dipakainya kurang tajam atau karena ia salah memperkirakan letak urat nadinya, aku juga tidak tahu. Yang jelas percobaan bunuh diri yang ia lakukan telah gagal total.

Kali berikutnya, ia mencoba membakar dirinya. Namun karena ia lupa melumuri tubuhnya dengan bensin, tubuhnya tak kunjung terbakar. Ia mungkin gugup atau mungkin juga benar-benar bodoh. Pun saat ia mencoba menggantung dirinya dengan tali, ia kembali gagal melakukannya dengan benar. Simpul yang dibuatnya ternyata tidak terlalu kuat, sehingga tidak mampu menopang berat badannya yang tak seberapa itu. Walau begitu, justru hal-hal yang sekilas terlihat konyol itulah yang selalu menyelamatkan hidupnya. Meskipun Si Gadis Gandum jelas menginginkan hal yang sebaliknya.

Pada suatu malam yang dingin di pertengahan Oktober, aku pergi mendatangi Si Gadis Gandum. Bukan berarti aku datang untuk menjemputnya. Tidak, bukan begitu. Aku hanya ingin mengunjunginya saja, tak lebih. Seperti seorang teman lama yang sudah tidak bertemu selama 10 tahun yang datang berkunjung sambil membawa sekantong apel.

Ia sedang memandang jalanan yang dinaungi lampu kota dari atap gedung berlantai 15. Ia menggenggam erat pagar besi pembatas yang dingin. Tangannya gemetaran. Saat kukira ia akan melompat, ia tiba-tiba menoleh ke arahku. Pandangan kami bertemu. Ia melihatku. Tidak salah lagi.

Ia bisa melihatku.

Ini aneh sekali, mengingat manusia biasa tidak akan bisa melihat keberadaanku kecuali kalau aku memang sengaja memperlihatkan diriku pada mereka. Namun nyatanya aku sedang tidak melakukan hal itu. Jadi bagaimana gadis ini bisa melihat keberadaanku?

“Kau…” ujar Si Gadis Gandum ragu-ragu. “Kau malaikat maut?”

Aku mengangguk. Intuisinya sangat tajam, pikirku.

“Apa kau datang untuk menjemputku?” tanyanya lagi.

“Bagaimana ya…” Aku memiringkan kepala. “Kalau kau melompat, aku mungkin memang datang untuk menjemputmu. Tapi kalau kau tidak jadi melompat, anggap saja aku hanya datang untuk melihat-lihat.”

“Kau lucu sekali.”

“Jadi, apa kau akan melompat?” tanyaku tak menghiraukan kata-katanya.

“Apakah kalau aku melompat, aku akan langsung mati?” Si Gadis Gandum balik bertanya.

“Entahlah,” ujarku. “Tapi aku cenderung berpendapat bahwa kau mungkin hanya akan menderita beberapa kerusakan pada beberapa bagian tubuhmu, patah tulang misalnya. Sama seperti sebelum-sebelumnya.”

Si Gadis Gandum tampak berpikir sejenak sebelum berkata, “Ya, kurasa kau ada benarnya.”

“Omong-omong, ada hal yang selama ini selalu membuatku penasaran,” kataku.

“Apa itu?”

Aku menatap matanya lekat-lekat. “Kenapa kau ingin sekali bunuh diri?”

“Kenapa?” Si Gadis Gandum mengerutkan kening.

“Ya, kenapa.”

Si Gadis Gandum terdiam. Selama beberapa menit tidak ada yang bicara. Si Gadis Gandum tampak sibuk dengan pikirannya sendiri. Sedangkan aku hanya diam menunggu tanpa melakukan apa-apa. Sehingga yang tersisa hanya keheningan yang aneh.

“Aku lupa.”

Aku mengerjap bingung.

“Apa maksudmu dengan lupa?” tanyaku.

“Yah, bagaimana ya…” kata Si Gadis Gandum sambil menggaruk-garuk kepala. “Aku sudah berusaha menggali ingatanku, tapi tetap saja aku tidak berhasil menemukannya. Alasan kenapa aku ingin bunuh diri, maksudku.”

“Tunggu dulu,” ujarku. “Jadi kau ingin mengatakan bahwa kau begitu saja melakukan berbagai percobaan bunuh diri, tanpa alasan tertentu?”

“Bukan begitu,” kata Si Gadis Gandum. “Aku tidak mengatakan bahwa aku tidak mempunyai alasan untuk bunuh diri. Aku yakin alasan itu pernah ada. Setidaknya dulu, saat aku melakukan percobaan yang pertama. Namun lantaran aku telah melakukannya berulang kali, alasan itu sendiri sudah menjadi tidak penting lagi. Seolah-olah aku menjadi terbiasa dan dengan sendirinya akan terus melakukan percobaan bunuh diri hingga akhirnya aku benar-benar mati.”

“Mungkin kurang lebih seperti itu,” tambahnya setelah beberapa saat.

“Aku tidak mengerti.”

Si Gadis Gandum hanya mengangkat bahu. Sejurus kemudian ia berbalik dan berjalan menjauhi pagar pembatas.

“Kau mau ke mana?”

“Pulang,” jawabnya enteng.

Kemudian ia berlalu begitu saja dan meninggalkan diriku yang masih terperangkap dalam kebingungan.

Hanya berselang beberapa hari, aku kembali menemui Si Gadis Gandum. Kali ini untuk menunaikan tugasku sebagai malaikat maut. Aku datang untuk menjemputnya. Aku menemukannya tengah memandangi tubuhnya yang terbaring tak berdaya di atas trotoar, tak jauh sebuah Chevrolet perak yang bemper depannya telah penyok. Tubuh yang telah kehilangan seluruh energi kehidupannya.

Si Gadis Gandum menoleh. “Aku tidak menyangka kita akan bertemu lagi secepat ini,” katanya padaku.

“Apa kali ini kau datang untuk menjemputku?”

Aku mengangguk.

“Ironis sekali bukan?” Ia kembali memandangi tubuhnya yang berlumuran darah. “Aku telah melakukan berbagai percobaan bunuh diri. Saking banyaknya, aku sendiri bahkan tidak bisa menghitungnya. Tak satu pun dari percobaan-percobaan itu yang dapat membunuhku. Tapi coba lihat keadaanku sekarang. Aku sedang berjalan-jalan di trotoar, lalu tiba-tiba saja mobil itu,” ia menunjuk Chevrolet perak di hadapannya, “yang datang entah dari mana, menabrakku dan aku mati. Begitu saja!”

Si Gadis Gandum menghela napas panjang.

“Pada akhirnya kita tidak bisa menang melawan takdir, bukan?” katanya kemudian. Nada getir terdengar jelas dari suaranya.

Dia kembali terdiam. Di sekitar kami orang-orang berkerumun sambil berteriak-teriak. Tak jelas apa yang mereka teriakkan. Akan tetapi, tak seorang pun dari mereka yang berani mendekati mayat gadis itu. Mereka hanya memandang dari kejauhan, tercabik antara rasa ngeri dan keinginan untuk menolong.

“Aku sudah ingat, lho,” sekonyong-konyongnya Si Gadis Gandum berujar.

“Ingat apa?”

Gadis itu menengadah. Dia menatap iring-iringan awan yang menyerupai sekawanan burung layang-layang yang tengah bermigrasi dengan matanya yang bening. Wajahnya tak menunjukkan ekspresi apapun. Sementara itu dari kejauhan sayup-sayup terdengar raungan sirine ambulans yang melesat membelah udara.

“Alasan kenapa aku ingin bunuh diri,” ucapnya lirih. ***

.

.

Dennis Halka lahir, tumbuh besar, dan mungkin juga akan mati di Kota Padang. Menghabiskan lebih separuh usianya untuk membaca buku. Kadang-kadang juga menulis.

.

.

Arsip Cerpen di Indonesia