Lelaki yang Ingin Pensiun dari Derita Gila

Cerpen Budi Wahyono (Suara Merdeka, 03 Agustus 2023)

“BARU pulang, Bu, rumahnya mana, Bu, kerjanya apa, Bu, gajinya banyak no Buk. Di rumah sama siapa Bu?” Begitu gaya ia nerocos bicara kalau berhasil menumpang sebuah angkutan dan berjejelan dengan penumpang di kota ini. Ibu-ibu yang ditanyai merasa risi. Pertanyaan yang kemarin dan kemarinnya lagi terasa diulang. Tidak enak kalau memberi jawaban yang sama, karena penumpang lain akan bosan mendengarkan juga.

Kalian juga bisa berandai-andai, bagaimana sebalnya kita ketika mendengar pernyataan seorang pejabat yang mengulang-ulang pernyataan usang. Tidak ada kebaruan. Pasti kepengin segera mematikan atau mengalihkan stasiun yang lebih menyegarkan bukan?

Maka, menjadi benar kalau Mak Soblah, salah satu penumpang, menjawab secara berbeda dari jawaban kemarin. Bukannya jawaban itu dibikin menarik, namun sudah terasa menempelak jidat orang gila yang memberondongkan pertanyaan.

“Haha, Ibu ini jawabannya tidak seperti kemarin. Kemarin bilang jualan sembako, sekarang bilang jualan gula dan teh. Haha…,” orang gila itu terkekeh.

“Itu bagian dari sembako, Dul, dulu belum ada pelajaran tentang sembako ya, sewaktu sekolah?” penumpang yang pelajar (berseragam batik), ikut menggoda.

“Pelajaran apa itu, Mas, maksudnya. Sosial apa matematika. Kalau sembakonya masuk ilmu sosial, kalau hitungannya masuk ilmu matematika.”

“Kolaborasi, Bro, lintas ilmu!” pelajar tersebut merasa ditertawakan.

“Waduh, lha kok kayak aliran musik juga, ada kolaborasi?” tidak terduga jawabannya.

Beberapa orang yang mendengar hanya nyengir. Hampir serentak jawaban itu menuju ke ubun-ubun Pak Sopir. Pak Sopir maklum. Kepenginnya Pak sopir yang sekarang tanpa asisten kernet, karena tidak mampu membayar jasa kernet, tidak mengangkutnya. Tetapi setelah dipikir ulang, orang gila itu bisa dimanfaatkan sebagai kernet.

Aba-aba yang dilontarkan sangat antisipasif. Selalu menyebut nama pasar, toko, selter, mal, perempetan, gereja, mesjid, klenteng, pangkalan ojek dan tempat strategis lainnya, sekadar mengingatkan penumpang yang mau turun. Penumpang yang semula tidur pun merasa terbantu, langsung menjerit: Ya, aku turun Pasar Gayam! (Misalnya begitu).

Jika melihat fungsi mulutnya yang ternyata berguna, Pak Wagu merasa tidak salah angkut. Meskipun tujuannya hanya lima kilometeran dari tempat dia tadi terhitung masuk sebagai penumpang, Pak Wagu sering mengajaknya lagi. Menjadi kernet sekaligus menghibur penumpang. Tidak jarang lelaki bernama Margipon itu terus diajak jalan sesuai trayek/jurusan angkutan. Bahkan bolak-balik hingga sampai empat tangkep.

Margipon merasa lapar dan perlu lapor pada Pak Sopir angkutan yang dibantunya.

“Tidak usah mikir jauh-jauh lho, Pak. Menuku cukup nasi kucing dan es teh,” rasa kikuknya pada Pak Sopir terungkap.

“Tidak sesekali kepengin es soda gembira, biar bertambah gembira?” gurau Pak Wagu.

“Ahha! Bahagia itu sederhana, kata sebuah WA,” dalihnya mengejutkan.

Pak Wagu melongo.

“Memangnya punya WAGrup, Bos?”

“Mengerti tidak harus punya ta, Pak, dengar saja kan cukup. Belajar peka Pak,” sahutnya menohok. Pak Wagu merasa salah tingkah.

“Umurku sekarang sudah enam puluh, Tug, lebih beberapa bulan,” ratapnya suatu pagi, ketika Margipon termenung di pinggir jalan. Rambutnya masih setengah kribo, kaos warna maron lusuh, celana pendek dan memegang erat es plastik di tangannya.

“Terus mengapa?” Sobir, temannya, merespons sembari menguliti derita di wajahnya.

“Aku sudah tua, sudah kepengin pension.”

“Astaga! Pensiun? Sudah punya segebung syarat untuk mendapat hak pension, Mar?”

“Jangan meledek, Tug, aku gak perlu pakai stopmap administrasi. Pensiun ya pensiun. Tidak kluyuran di jalan. Aku sudah mendapat pekerjaan sebagai peternak ayam.”

“Tidak kangen kluyuran lagi nanti?” goda Sobir lagi.

“Akan tiba saatnya kalau dibonusi umur panjang, Tug,” kata-katanya masih intelek. “Kerja sebagai pemelihara ayam, kayaknya cocok dengan pensiunku, Tug,” imbuhnya.

Sobir terbelalak. Teringat, bagaimana ketika Mar fasih berbicara dengan temannya sesama orang gila di trotoar dekat perempatan depan hotel berbulan lalu.

Lalu Sobir menelisik bionarasi Margipon. Sekolahnya lulus SMA swasta. Kursus Bahasa Inggris, tiga bulan jebol. Pulang kampung mencalonkan diri jadi kepala desa, gagal. Sawah, sekapling tegalan dekat sungai dijual dan konon untuk modal kampanye. Dari membeli MMT, spanduk, baliho, dan tentu sembako untuk mengonsumsi tim suksesnya yang saban malam begadang di halaman luas rumahnya.

Gagal sebagai lurah, kalah tipis dengan musuhnya, Margipon pikirannya oleng. Jiwa raganya tidak mampu menopang keliaran pikirannya yang aneh-aneh. Hobinya tirakat tidur di kuburan, berlanjut tidur di pinggir sungai, gardu pasar hingga di atas jembatan. Pilihan tidur terakhir ini sungguh ngeri. Bisa dibayangkan, tembok jembatan hanya selebar setengah meter. Kalau dia mimpi dilantik menjadi kepala desa, bergerak dari tidurnya dan kecemplung sungai berkedalaman lumayan; siapa yang segera menolong? Adakah momen pukul satu dini hari, misalnya, ada telinga yang mendengar?

Merasa rasa gilanya kurang mantap, dia kepengin gila total. Meninggalkan dunia perpolitikan yang keras. Mar menggelandang di berbagai kota dan terkabulkan gila. Dia agak kecewa kalau merasa waras. Cilakanya, atau malah mungkin untungnya, Margipon kini memiliki tanda-tanda ingin sembuh.

“Aku sudah bosan gila, Bir, dunia yang kuimpikan. Kamu kalah pengalaman ya, Bir? Maksudku, belum punya pengalaman hidup jadi orang gila?” guraunya setengah meledak. Saya tersenyum.

“Aku ingin bahagia seperti kamu, Bir,” impiannya serasa menimbulkan ledakan.

“Bahagia yang bagaimana?” Sobir menggoda. Margipon tersenyum.

“Seperti kamu pokoknya, punya istri, punya anak, pusing memikir rayon pendaftaran sekolah anak,” rasa jujurnya tidak bisa dimungkiri. Sobir tersenyum dan meledak tertawa-tawa.

“Saya ingin pensiun dari derita gila,” kalimat itu serasa simbolis untuk menyemprotkan impian Margipon. Tidak hanya sekali dua kali diungkapkan. Sampai suatu saat, tanpa sengaja, musuh bersaing pada waktu Pilkades yang sekarang menjadi Kades, bertemu Margipon. Seperti suhu politik kelas tinggi yang saling menjaga pencitraan, keduanya tersenyum-senyum.

“Kamu sudah menjadi Pak Lurah ya, Bos?” tanya Margipon dengan kesantunan sekenanya.

“Iya berkah dari doamu Kang Margipon,” sahut Pak Lurah pendek.

Staf Pak Lurah memberi isyarat agar lurah baru itu tidak terlalu menanggapi Margipon. Tidak ada gunanya.

“Terus, sampeyan ada urusan apa kok sampai nyelonong ke daerah bendungan sungai?” tanya Margipon penuh selidik.

“Maaf, aku ingin mencari orang gila. Ada isu yang membubung di kantor, konon ada orang gila yang sering mengolok-olok anak-anak sekolah. Anak-anak jengkel, geram, dan berencana akan mengeroyok orang gila itu. Kami khawatir, kalau sampai terjadi pengeroyokan, terus orang gila itu mati, apa bukan aib?” ditodong pertanyaan demikian Margipon hanya melongo. Pikiran cerdasnya segera bergeges sekencang KRL menuju bendungan, ketakutan. Bukankah berita di televisi seminggu lalu juga menyiarkan kasus sadis itu?

“Mengapa bengong, Kang?” tanya Pak Lurah menebak.

Margipon semakin ketakutan. Bayangan dirinya sebagai pribadi orang gila yang akan dikeroyok anak-anak sunggguh mengganggu. Benak setengah gilanya dirundung ketakutan hebat. Lalu, dia, setelah berbasa-basi dengan Pak Lurah, bergegas pamitan pulang. Sampai rumah dia merasa nyaman tidur.

Bangun tidur, jiwanya merasa terganggu. Tidak mau keluar halaman rumah untuk mocok menjadi kernet angkutan seperti yang selama ini menjadi pilihan hidupnya. Seminggu tidak nampak saja, sudah banyak orang kangen dengan celotehan-celotehan orisinalnya. Ketika Pak Wagu, sopir angkutan sahabatnya yang sudah merasa gemuk kantongnya, tergerak berburu mencari sosok Margipon. Tidak terlalu sulit mencarinya. Penjual mainan anak-anak hingga Satpam berseragam sokelat paham di mana Margipon bermukim. Di pinggiran kota tercinta ini.

“Hah. Kok tidak pernah kelihatan, apa kamu sakit lagi Mar?” tanyanya.

“Apakah saya pernah sakit, kok istilahmu pakai sakit lagi?” disodok demikian Pak Wagu tersenyum. Margipon memaklumi keterbatasan Pak Wagu dalam berpikir jernih.

“Aku sudah waras, Pak Wagu. Sembilan puluh persen. Tinggal melengkapi yang sepuluh persen. Aku ingin pensiun, benar-benar pensiun dari derita gila,” papar Margipon serasa siaran pers gaya humas ajaran saja.

Pak Wagu tersenyum sangat kecut. Sekecut pelem sengir milik tetangga depan rumah. ***

.

.

Budi Wahyono, penulis kelahiran Wonogiri yang bermukim di pinggiran kota Semarang.

.
Lelaki yang Ingin Pensiun dari Derita Gila. Lelaki yang Ingin Pensiun dari Derita Gila.
Arsip Cerpen di Indonesia