Cerita tentang Hujan, Hutan dan Kita

Cerpen Petrus Kanisius (Pontianak Post, 10 Desember 2023)

MENJELANG akhir tahun, dari Oktober hingga Desember kita selalu akrab dengan hujan dan hutan. Bahkan selalu saling menyalahkan satu dengan yang lainnya.

Kita semakin sering bertanya dan meminta, seolah kita yang bisa mengatur hujan dan alam semesta di bumi ini. Bahkan kita sanggup merayu tentang meminta hujan dan kemarau.

Kapan akan turun hujan? Dan sebaliknya, ketika turun hujan ingin meminta kemarau lagi, dan kita pun ketika kemarau mintanya hujan turun lagi.

Kita semakin berkuasa seolah bisa menentukan hujan dan kemarau sesuka hati kita. Itu nyata, demikian juga halnya ketika hutan dan kita yang sudah saling tak sama.

Tidak sama karena kita bukan penentu hujan dan kemarau, namun kepada apa yang terjadi kepada hutan ketika hujan dan kemarau tiba. Mengingat, bumi dan alam ini (hutan) semakin menangis melihat tingkah polah kita.

Lihatlah, ketika hujan turun, banjir datang. Ketika kemarau tiba, kekeringan melanda tidak sedikit dari kita. Tak hanya itu ketika musim disalahkan, kita manusia serba salah dengan keadaan yang telah nyata mendera.

Cerita hujan, hutan dan kita selalu ada sampai kapan pun selama bumi masih berputar dan masih bisa didiami. Ada cerita ketika realita bicara akan nasib sebagian besar makhluk hidup yang mendiami bumi ini.

Sejatinya, kita tidak bisa menyalahkan hujan dan hutan. Tetapi karena keadaan, hujan dan hutan sering kita salahkan.

Para petani terkadang mengeluh menyeka peluh ketika kemarau panjang, merindu hujan walau hanya gerimis demi tanam tumbuh. Petani hanya ingat tentang hujan memberikan kesejukan, harapan dan kehidupan bagi para petani. Bila hujan turun, tanam tumbuh yang layu boleh segar dan menghijau kembali hingga berbuah melimpah.

Demikian pula nafas hidup, semua nafas kehidupan makhluk hidup lainnya yang ada di sekitar yang haus (dahaga).

Hujan memberi manfaat tak terkira, namun bila ia tumpah ruah tak terhingga, sementara hutan tak bisa menahan derunya air karena sudah semakin sedikit berdiri kokoh melainkan tercerabut.

Sesekali terdengar suara riuh dan deru mesin, tanda waspada menghadang; banjir, banjir bandang, tanah longsor pun tidak jarang menghampiri tanah tak bertuan dan tak berhutan.

Sementara, jika boleh dikata, hutan memiliki manfaat jangka panjang yang tidak terkira sekira bila dibiarkan berdiri kokoh bukan rebah dan luluh layu. Sirene hutan yang merdu dan biasa berpadu berupa satwa yang beragam sudah semakin jarang menampakan rupa bahkan tergerus di rimba yang tak lagi raya.

Hujan memberi manfaat sekaligus juga bisa menjadi bumerang. Bisa memberi manfaat bila ia boleh dirawat, dijaga dan dipelihara. Menjadi bumerang ketika ia dibiarkan rebah tak berdaya luput dari cara-cara kita, yang mungkin lupa bagaimana cara memilihara.

Cerita tentang hujan, hutan dan kita mengingatkan tentang arti penting harmoni. Harmoni bisa memberi arti akan keberlanjutan nafas kehidupan berkelanjutan. Satwa seperti orangutan, kelempiau, kelasi dan enggang serta satwa (binatang) lainnya perlu rumah (tempat hidup/habitat) agar boleh berkembang biak dan beranak pinak.

Kita sebagai makhluk hidup yang dibekali oleh akal pikiran pun dituntut untuk mengurai cerita manis akan pentingnya untuk selalu ingat tentang harmoni dengan hutan.

Harmoni yang saling menjaga, tanpa merusak atau menyakiti sesama semua makhluk hidup. Hutan, hujan dan kita menitipkan cerita agar kita beroleh tindakan nyata bukan celoteh atau tinggal cerita anak cucu.

Tajuk-tajuk pepohonan yang tidak lain adalah hutan bila ia boleh berkata-kata atau bercerita tentu ia tidak bosan mengadu tentang nasib-nasibnya yang terjadi. Hutan merindukan hujan agar ia (hutan) boleh tumbuh dan mengakar menjadi penahan dari arus deras ketika hujan tiba melanda.

Buah-buahan dari tajuk pepohonan pun sebagai pakan yang tidak sedikit memberi umpan dan makan ragam satwa, yang hidup dan berkembang biak.

Hidup tentang semua nafas kehidupan makhluk hidup bergantung dan tergantung kepada kita. Hutan hujan perlu hujan dan kita sebagai penjaga, pemilihara agar bisa terus (di/ter)rawat hingga mampu saling harmoni dan berlanjut hingga nanti.

Ada baik kiranya, bila hutan, hujan dan kita saling harmoni. Bila hutan terjaga dan lestari maka hujan pun pasti bisa memberi manfaat bagi kita semua. ***

.
Cerita tentang Hujan, Hutan dan Kita.
Arsip Cerpen di Indonesia