Cerpen Mahardika Ramadhan Ahmar (Kaltim Post, 31 Maret 2024)
CARAMU masih kuno. Tapi ada bagian dirimu yang menjulang batas gilaku. Kau selalu paham, bahwa aku tidak akan pernah membicarakan perasaan yang berkelakar di ruang di dalam hatiku—kepadamu. Itu sebabnya kau masih pakai cara kuno.
Ada magis yang menarik separuh diriku agar bertemu dengan separuh dirimu, membuatku merindukan suara langkah sepatumu. Ya, aku kenal suara itu pernah mendekat dan menjauh hingga hilang dibelah jarak. Dan kau hanya menyapa melalui rindu yang kupikirkan sendiri. Kau sebenarnya bebas untuk pergi, tapi tidak mengapa jika masih ingin tetap di sini—dengan aku dan kesepian.
“Kita seharusnya usang sudah.” Kau masih menilik kata-kata itu untuk kau tampar wajahku, bahwa kita hanya sepasang siang bolong dan tengah malam. Demikian, kita adalah dua kutub yang saling bertentangan. Kesenjangan kita nyata adanya. Dan dengan kebodohanmu, kaset lamamu, hanya kalimat klise; Aku mencintaimu tanpa bunga, tanpa puisi dan prosa cantik, tanpa embel-embel ‘forever together’ dan tanpa pembuktian apa-apa lagi.
Dan…
Malam ini kau berulah kembali. Membuatku menunggumu di persimpangan jalan ini. Berdiri, menantimu, kembali. Lewat pesan singkat kau berkata kepadaku kita akan bertemu di persimpangan ini. Sudah dua jam aku masih di sini bersama sepi dan harap. Sesekali melirik jam tangan bundar di pergelanganku. Lampu merah itu menertawakan dungu kita—atau lebih tepatnya aku sendiri.
Aku berfirasat, lagi-lagi kau akan beralasan jalanan macet, kehabisan bensin, atau mungkin kau tersesat di jalan. Aku tidak tahu benar. Aku berprasangka kamu akan datang dengan baik. Aku kembali mengirim pesan kepadamu. “Kamu di mana? Aku masih menunggumu.”
Di hadapanku, menjulang bangunan-bangunan, gedung tinggi, ruko-ruko panjang, dan pametiklan. Di tempat ini juga, tangan kita pernah saling menggenggam erat. Tawamu lepas dan kau selalu memancarkan sinar terang yang menyapu gelapnya isi kepalaku. Setidaknya, aku sempat membuatmu tergila-gila dengan parasku.
Katamu, selera humorku unik. Hanya satu, tidak ada duanya. Aku pikir, kau sekadar memujiku dengan kata-kata palsu, atau mungkin barangkali unik maksudmu adalah absurd, ganjil, aneh, atau lebih parahnya menggelikan. Tapi tempo hari, kau tertawa gahar karena lelucon-lelucon yang sudah kuulang berkali-kali. Tapi tidaklah mengapa. Aku menghargai.
Embun membulir basahi kulitku. Sehabis hujan tadi, cuaca sedikit dingin. Dua puluh tujuh telepon tidak kau jawab. Pesan bertubi-tubi kucecarkan di kolom chat kita, kau tidak membalasnya. Apa maksudmu? Membiarkanku kedinginan di simpang jalan ini? Atau kau dendam karena aku tidak pernah mengucapkan cinta di setiap pengujung malam kita dahulu? Ah! Lagi-lagi kau membuatku muak dan menyesal.
Tepat pukul 4 pagi. Kota ini lengang sekali. Aku memeluk tubuhku sendiri. Sepertinya kamu ada benarnya, kita seharusnya usang sudah.
Mudah saja. Setelah ini aku akan melupakanmu, dan surat-suratmu yang kautitipkan di jendela kamarku. Aku membakarnya dengan amarah yang masih dalam genggaman. Kamu selalu palsu perihal janji.
Aku teringat kembali kejadian waktu itu. Kamu berucap seolah akan membawaku ke surga tingkat tujuh. Indah-indah rayu dan manis bibirmu menyentil hatiku. Tapi aku sudah kebas dengan kalimat saktimu. Aku hanya mengangguk pura-pura percaya. Di atas motor tuamu yang bunyinya bising, kau membawaku berkeliling kota dengan pelan. Kamu selalu lamban dalam hal apapun, termasuk membuatku bahagia.
Eh, ralat. Aku pernah kau bahagiakan. Dengan sederhana. Tapi itu dulu sekali. Ketika itu kita duduk berdua di sebuah kafetaria kecil di pinggir kota ini. Aku memesan cokelat hangat dan kau memesan kopi pekat. Kalau tidak salah, itu pertemuan pertama kita. Kau masih terlihat tampan dengan setelan kaus putih dibalut jaket denim yang sudah belel. Kau menggodaku dengan nyanyian dan petikan gitar syahdu yang mengenyakkan petang. Huh, aku lamat-lamat tenggelam di nyanyianmu. Aku terbenam di dalam mata coklatmu yang berbinar itu.
Tok… tok… tok….
Berkali-kali kutengok jam di pergelanganku. Waktu bergerak lambat. Kupikir-pikir, agaknya pertemuan kita kali ini baiknya dibatalkan saja. Jantungku bergolak kencang. Seperti ada api yang menyulut sekujur badanku. Kecewa yang membumbung raksasa. Jika hari ini kau tidak datang, selamanya kau tidak akan pernah mendengar lidahku mengucapkan aku mencintaimu. Selamanya. Malahan, aku akan mengucapkan selamat tinggal dan bersumpah tidak akan menemuimu lagi. Kali ini, aku sudah tidak tahan, air mataku mengairi pipiku yang sudah berembun.
Aku menyalakan ponsel, memesan taksi online. Menuju arah pulang.
Aku menamaimu kenangan yang lepas landas ke antah-berantah. Aku akan membiarkan semuanya terkubur dalam-dalam dan menghapus puisi-puisi tentangmu di buku harianku. Gelak dan tangis matamu yang berkutat di bayang-bayang, adalah hal yang ingin kusingkirkan.
Aku dan kamu, adalah selamat jalan dan tragis yang kudoakan punah.
Taksi melintas laju di jalan kota yang senyap ini. Seketika taksi berhenti. Sopir terkesiap dan kalap. Rupanya, di seberang sana, seseorang terbaring di tepi jalan dengan darah bergelimang. Motor tuanya ambruk rebah di sebelah pot-pot pembatas jalan.
Aku melihatnya dengan saksama.
Aku curiga, kau tidak akan pernah mendengarkan aku berucap aku mencintaimu. Benar saja, kamu terbujur kaku di seberang sana. Aku tiba-tiba remuk. Aku menelepon nomor darurat. Setidaknya, izin kan aku menolong jasadmu terakhir kalinya. Kau membuatku gusar sungguhan kali ini.
Kubiarkan kamu bebas dan tandas di meja bumi ini.
Entah kita akan bertemu lagi di sana atau tidak, aku sudah payah dan jengah. Di sana, jangan mencariku dan menunggu untuk menyusulmu cepat. Aku tidak ingin satu lilin denganmu di kegelapan nanti. Selamat jalan. ***