Sedang Jalan di Jarak Itu

Cerpen Hasna Alya Nuraini (Suara Merdeka, 23 Juni 2024)

PAGI itu Dayra sedang bersiap-siap untuk menjemput Embun di stasiun, sahabat sepenanggungannya. Dayra memakai celana jeans dan kemeja berwarna hitam, dengan rambut yang sudah dicatok dan digulung dengan jedai, serta riasan yang sempurna. Baru saja ia memakai lipstik, tangannya tergelincir dan membuat lipstiknya mencoret bagian pipinya. Ia menggeram dan mengelus dadanya pelan. Kesialan pertama.

“Demi Tuhan. Ini masih pagi?!” Dayra mengembus napas kasar. Sepertinya julukan Si Hoki Minus terdengar cocok untuknya saat ini.

Setelah dengan terpaksa harus mengulang riasan di bibir dan pipinya, Dayra bergegas mengambil tas dan memakai sepatu converse chuck 70 andalannya.

Baru saja ia membuka pintu kos utama, ia teringat akan dompetnya yang tertinggal di atas meja belajar. Kesialan kedua menghampiri Dayra.

“Sabar….” gumamnya pelan. Kembali Dayra menuju kamar. Dengan hati yang terpaksa dilapangkan itu, Dayra berjalan menuju Coki, motor scoopy hitam-cokelat miliknya.

Ponsel Dayra berdering. Dayra meraba kantong celana jeansnya dan mengangkat telepon itu. Nama “Embun” muncul sebagai sang penelepon. Dayra mengangkat telepon itu dan menyapa pelan.

“Halo, Mbun?” sapa Dayra.

“Kamu udah berangkat belum?” balas Embun.

“Ini bentar lagi aku berangkat. Gimana?”

“Ok deh, aku mau mastiin aja sih. Kalau gitu hati-hati ya,” suara lembut Embun terdengar.

“Iyaa, nanti aku tunggu di lobi ya.” Terdengar deheman Embun pertanda ia mengiyakan.

Dayra kemudian menutup panggilan itu dan memasukkan kembali ponselnya ke saku celana. Bibirnya membentuk kurva kecil. Ia merasa tertular keceriaan Embun, bahkan hanya dari suara.

Dayra dan Embun baru bersahabat selama dua tahun. Namun, rasanya mereka sudah ditakdirkan berbagi rasa senang dan sedih bersama. Jika dilihat-lihat, sebenarnya Dayra dan Embun merupakan perpaduan dua manusia yang tidak biasa. Atau kata lainnya, “aneh”. Dayra dan Embun dalam berbagai hal sangat bertolak belakang. Dimulai dari Dayra, sekilas penampilannya cukup tomboy, 90% isi lemarinya berwarna hitam, dan hal ini berkebalikan dengan Embun yang selalu memakai semua hal berbau pink. Perbedaan mereka bagaikan langit dan bumi. Cukup jauh. Tetapi hal itu tidak memengaruhi pertemanan mereka. Dayra dan Embun saling mendukung satu sama lain. Dayra selalu menghibur Embun ketika perempuan penggemar warna pink itu merasa terpuruk. Dayra dapat memahami kapan sahabatnya itu merasa kesal, sedih, dan marah. Ia juga selalu siap sedia ketika Embun mengajak pergi. Di sisi lain, Embun merupakan sahabat yang mengajarkan banyak hal pada Dayra. Ia dapat memahami berbagai sisi yang Dayra miliki. Mulai dari pemikirannya yang out of the box, kejailan Dayra, sampai menenangkan saat gejala kepanikan Dayra kambuh. Dayra dan Embun memang bukan manusia sempurna, maka dari itu mereka berdua ditakdirkan untuk mendukung dan melindungi satu sama lain. Perbedaan-perbedaan inilah yang menjadi tali kuat persahabatan mereka.

Kembali ke Dayra. Ia kini bergegas untuk pergi menjemput Embun di stasiun. Baru jalan beberapa meter, mata Dayra menangkap garis kelap-kelip di dashboard motornya.

“Sial! Si Coki pakai habis bensin segala,” Dayra memukul motornya pelan dan menuju pom bensin untuk memberi minum Coki Bala-Bala, nama panjang motornya, pemberian Embun. Entahlah. Dayra juga tidak mengerti alasan di balik nama aneh motornya itu.

Setelah mengisi bensin, Dayra kembali melajukan motornya menuju stasiun. Sejauh ini perjalanan Dayra cukup mulus, walaupun ditemani cuaca Jogja yang panas. Saking panasnya, Dayra merasa sinar matahari siang itu tepat di atas kepalanya, siap menusuk permukaan kulit mulusnya. Kemeja yang membalut tubuhnya siang itu seakan tidak berfungsi apa-apa.

Sudah kesekian kali kesialan menimpa Dayra hari ini. Di belokan dekat Stasiun Tugu, Dayra hampir menabrak mobil. Hal itu terjadi karena mobil sedan berwarna putih di depannya berbelok dengan tiba-tiba. Dengan kesabaran yang terjun payung itu, Dayra melajukan kembali motornya.

Setelah sampai di dekat stasiun, Dayra diarahkan oleh bapak-bapak juru parkir bertato merah untuk menuju ke parkiran motor stasiun. Dayra mengikuti arahan dan memarkirkan motornya dengan rapi. Ia kemudian berjalan ke arah lobi untuk menunggu kereta Embun sampai.

Selang lima menit kemudian, terdengar pengumuman kereta yang dinaiki Embun sampai. Satu per satu orang keluar dari pintu perjalanan jarak jauh. Mata Dayra menangkap sosok Embun dengan cepat. Bagaimana tidak, penampilan penuh warna-warni itu jelas tidak asing untuk Dayra. Embun terkenal sebagai perempuan dengan baju beragam, tapi cenderung ke warna warna cerah. Di siang yang terik itu, Embun memakai hijab pink yang mencolok mata, rok span putih, dipadukan kemeja berwarna putih dengan aksen bunga-bunga kecil yang manis, sepatu marry jane berwarna merah maroon, serta tas export full pink. Tidak lupa berbagai gantungan lucu di tasnya, menambah kesan feminin dari diri Embun.

Dayra dan Embun berpelukan singkat dan mereka memutuskan pergi ke minimarket di dalam stasiun. Sekadar menyelamatkan diri dari rasa gerah yang semakin meninggi. Setelah membeli beberapa cemilan, mereka berdua berjalan menuju parkiran motor di stasiun. Setelah berjalan singkat, mereka menemukan lokasi Si Coki terparkir dan Dayra segera menyalakan motornya. Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Sedang kesusahan memundurkan motor, Dayra dibantu oleh bapak-bapak yang ditemuinya tadi. Ia lantas memberikan Rp 2.000 sebagai bayaran atas jasa bapak-bapak tersebut. Dayra sudah akan melajukan motornya ketika suara berat khas bapak-bapak menyapa telinganya.

“20.000, Mbak,” ucap bapak parkir tersebut.

Mata Dayra seketika melotot mendengar jawaban itu. Ia menelisik dari atas kepala hingga ujung kaki. Dayra memerhatikan penampilan tukang parkir Stasiun Tugu itu. Kulitnya cenderung gelap, badannya tidak terlalu gemuk dan tidak terlalu kurus, tetapi cukup kekar untuk merapikan motor-motor di stasiun itu. Di lengan kirinya ada tato merah yang agak pudar, telinganya ditindik, kepalanya dihiasi topi, dan dilengkapi kaus hitam belel dengan jeans robek di bawahnya. Dari kalimat singkat yang mengguncang jiwa itu, Dayra dapat menyimpulkan bahwa orang di hadapannya berwatak keras.

“Gimana, Pak?” Kesadaran Dayra kembali.

“Ya kurang, Mbak. Parkirnya 20.000, bukan 2.000,” balas tukang parkir itu dengan tangan yang sibuk menghitung uang.

Sikap yang terkesan tidak sopan itu membuat Dayra tersinggung.

“Yang bener aja, Pak? Kok mahal banget? Bapak ini mau naik haji atau gimana?” Intonasi Dayra mulai meninggi. Mesin motornya dimatikan. Ia turun dari motor dan berhadapan dengan tukang parkir itu. Ia berkacak pinggang. Alisnya mengkerut. Bibirnya mulai mengoceh sana-sini.

Tukang parkir itu masih acuh atas protes Dayra.

“Kalau musim liburan emang segini, Mbak. Mbak aja yang ngga tau harga pasar,” jawab tukang parkir itu cuek.

“Bapak ini yang keterlaluan! Pasang tarif ngga masuk akal! Miskin harta memang bikin gelap mata ya, Pak? Sampai matok harga setinggi itu. Harta ngga dibawa mati asal Bapak tahu.”

Jawaban sarat emosi dan sarkasme itu mengundang ketertarikan orang-orang di sekitar parkiran motor. Begitu pun lawan berdebat Dayra. Bapak tukang parkir berhenti menghitung uang di tangannya. Matanya menatap tajam Dayra. Jika tatapan dapat membunuh seseorang, sepertinya Dayra sudah tergeletak di tanah.

Embun sudah siap menahan Dayra ketika tukang parkir itu maju selangkah. Gadis berhijab pink itu sudah keringat dingin, takut-takut sahabatnya menerjang dan menyakar tukang parkir/preman itu.

“Day, sudah ya. Kita pulang, yuk? Malu ih jadi tontonan,” tawar Embun sembari menggandeng tangan Dayra.

“Ngga bisa, Mbun. Ini bapak-bapak harus tau kalau penentuan tarif ini ngga jelas! Terlalu ambigu dan bisa diotak-atik sesuai keinginan dia.” Tangan Embun disingkirkan paksa.

“Gini ya, Pak. Bapak ini cuma tukang parkir. Saya tahu Bapak perlu uang, tapi Bapak mikir dong, 20.000 itu terlalu mahal buat Bapak yang ongkang-ongkang kaki doang!” Pemberani. Keras. Dan menusuk sampai ulu hati.

Jelas, balasan dari Dayra memancing emosi bapak-bapak bertindik tersebut. Ia sudah maju selangkah siap mendikte Dayra dengan keras, sebelum orang-orang di sekitar mereka melerai. Sorakan orang-orang di sekitar mereka menambah tegang suasana. Suhu di Jogja yang panas bertambah sebab pertikaian mereka.

Perkataan wanita muda di depannya membuat Jarwo naik pitam. Ia tahu tukang parkir sepertinya bukanlah pekerjaan yang terlalu menghasilkan. Pun ia juga menyadari bahwa 20.000 bukanlah tarif yang murah untuk parkir motor. Namun, tuntutan hidup yang makin tinggi membuatnya memutuskan tarif parkir di atas rata-rata. Ia tidak bisa membeli keperluan anak istrinya jika ia hanya mematok Rp 2.000 tiap motor. Dusta bila Jarwo berkata tidak sakit hati ketika perempuan berkacamata itu mulai meninggikan suara dan menyudutkannya di hadapan banyak orang. Ia merasa egonya tersakiti.

Dengan usaha Embun dan beberapa orang di sekitar parkiran, akhirnya keributan antara tukang parkir dan mahasiswa itu dapat berhenti. Bujukan Embun diiyakan bersamaan dengan suara peluit petugas keamanan yang melerai mereka. Pada hari itu, Embun berjasa besar dalam menarik dan mengajak Dayra untuk segera pergi meninggalkan stasiun. Pasalnya, Embun harus setia menemani Dayra menyusutkan amarahnya. Di mana Dayra mengajaknya berkeliling Kota Jogja berjam-jam! Ngalor-ngidul tanpa tujuan. Hanya ingin menghabiskan bensin dan tenaga.

Satu dunia harus setuju bahwa Embun harus diberikan piagam sebagai sahabat paling setia. Ia tidak protes ketika harus menemani Dayra berkeliling Jogja sampai jam 7 malam. Embun tidak berdaya ketika Dayra mengendarai Si Coki dengan ugal-ugalan. Sepertinya Embun harus segera memiliki asuransi.

Dayra terus melajukan motornya dengan kecepatan tinggi sebelum suara ledakan kencang dibarengi motornya yang mendadak oleng. Ban motor Dayra, alias Si Coki Bala-Bala, pecah! Dayra sempat beberapa detik hilang keseimbangan dan hampir menabrak trotoar. Untungnya, ia dapat mengendalikan stang scoopy cokelat-hitam miliknya itu.

Dengan jantung yang seakan pindah ke tanah dan tangan yang sedikit gemetar, Dayra turun dari motor lalu melongok memeriksa apa yang salah dari motornya. Diikuti oleh Embun yang terdiam. Sehebat itu rasa terkejut yang dialami oleh Embun. Ia merasa tadi sudah akan bertemu malaikat maut. Beruntung Embun beserta Dayra masih diberikan kesempatan hidup. Iya. Embun memang seberuntung itu.

Setelah memastikan bahwa ban motornya-lah yang bermasalah, Dayra mengajak Embun untuk duduk terlebih dahulu, menenangkan pikiran mereka, dan mencari solusi di dinginnya Kota Jogja malam itu. Sepuluh menit setelahnya, Dayra mulai menelepon satu-satu teman-temannya, menanyakan kesediaan mereka untuk membantu Dayra. Namun, permintaan tolong Dayra tidak ditanggapi oleh teman-temannya. Dayra kembali duduk dan merenungi nasib mereka berdua.

“Day, kita harus gimana?” suara Embun memecah keheningan.

“Nggak tau.” Dayra sungguh tidak tahu lagi harus apa. Ia bingung harus meminta tolong siapa ketika Embun tidak ada usaha untuk membantunya.

“Kok ngga tau sih? Kan ini motormu.” Intonasi suara Embun menyinggung Dayra. Emosi gadis penyuka hitam itu mendidih. Ia merasa muak harus mengalami kesialan bertubi-tubi hanya untuk dihakimi seperti saat ini. Ia tidak terima dan mulai menyuarakan protesnya.

“Mbun, aku hari ini udah mengalami banyak hal ya! Dompetku ketinggalan, bensinku habis, hampir ketabrak mobil, ribut sama tukang parkir, sampai ban motorku pecah! Dan sekarang? Kamu masih menghakimi aku?” Dayra menghirup napas cepat.

“Gara-gara kamu, aku harus menghadapi hari yang sialan banget, Mbun! Kamu pernah mikir rasanya jadi aku ngga, sih? Atau—oh, aku tahu,” Dayra terseyum mengejek.

“Aku rasa hidupmu terlalu beruntung sampai-sampai melimpahkan ban motor pecah ini sebagai kesalahanku juga. Kamu—,” Dayra menunjuk tepat di depan mata bulat Embun, “—tidak tahu rasanya jadi aku. Aku selalu dilabeli sebagai anak dengan penuh kesialan, dan kamu?! Kamu manusia paling sempurna di dunia ini, Mbun! Semua orang bandingin kita!” Dayra mengakhiri kalimatnya dengan kencang. Ia segera memegang kendali motor dan berlalu meninggalkan Embun yang berkaca-kaca sendirian. Embun diam. Ia salah. Ia tidak seharusnya tersulut emosi dan mengatakan hal menyakitkan itu pada Dayra.

Setelah terdiam sesaat, Embun menyadari kesalahannya dan berlari mengejar Dayra. Sahabat yang lebih muda dari Dayra ini menghentikan dorongan Dayra pada motornya. Ia mengakui kesalahan dan meminta maaf pada tempatnya berbagi suka dan duka. Embun kemudian membantu mendorong Si Coki dan berusaha mencari bengkel terdekat. Diselingi dengan ucapan maaf yang terus keluar dari bibir cantik itu. Dayra hanya diam. Ia tidak tahu harus bersikap bagaimana ketika semua masalah bertumpuk di kepalanya.

Suhu panas hari itu beralih ke dinginnya malam. Sudah 20 menit berlalu sejak ketegangan Dayra dan Embun memuncak. Suasana canggung mengelilingi mereka berdua.

Sampai pada akhirnya ada seorang ibu hamil menolong mereka. Wanita dengan daster biru cerah itu memperkenalkan sebagai Ibu Diah. Perawakannya yang kecil tidak mencerminkan rasa kemanusiaannya yang besar. Diah berbaik hati untuk menunjukkan bengkel terdekat pada sepasang sahabat yang sedang perang dingin kala itu.

Suhu panas yang mengelilingi mereka seharian beralih ke dinginnya malam. Diah diikuti Dayra dan Embun berjalan dengan teratur menuju bengkel. Sepanjang jalan, Diah bercerita mengenai suaminya yang pekerja keras dan begitu sabar menghadapi hormon kehamilannya. Dayra dan Embun yang mendengar dongeng singkat itu merasakan bahwa Diah sangat menyayangi suaminya, begitu pun sebaliknya. Diah selalu merasa begitu dicintai dan penuh meski hidup berkekurangan. Dayra dan Embun, dalam diam mereka berdua membayangkan dan menyepakati bahwa suami Bu Diah pasti ramah, murah senyum, dan sabar. Melihat dari bagaimana Bu Diah begitu bersyukur memiliki suaminya. Bu Diah sangat beruntung.

Dayra menuntun motornya yang sudah pecah ban itu dengan pelan. Sesekali Diah berhenti sekadar mengambil napas dan menyeka keringat. Begitu pula Embun yang tanpa kata mengambil kendali mendorong Si Coki. Tanpa kedua orang itu sadari, sedari awal Diah sudah merasakan atmosfer dua gadis di belakangnya tidak begitu baik. Namun, ia memilih untuk diam dan tidak mencampuri urusan mereka.

Tibalah mereka bertiga di depan bengkel warna biru elektrik bertuliskan “Maju Jaya”. Berbagai alat-alat perbengkelan tergeletak begitu saja di teras bengkel. Dayra dan Embun mengira bengkel itu sudah tutup. Tetapi hal itu dipatahkan ketika pintu bengkel terbuka sedikit dan memperlihatkan sosok yang tidak disangka. Perawakan khas pekerja dan tato merah yang memudar terasa familiar di mata Dayra dan Embun.

“Ini loh suami yang aku ceritain tadi, Mbak,” ucap Diah sembari mengelus lembut bahu suaminya.

“Dia sampai kerja sampingan buat menuhin kebutuhan anak kami,” lanjut Diah.

Bagaikan petir di siang bolong. Dayra merasa bersalah dan malu sudah meneriaki tukang parkir yang kini berada di hadapannya. Ia begitu berburuk sangka, sampai-sampai meyalahkan dan melabeli pekerjaan tukang parkir sebagai sesuatu yang hina.

Suami Bu Diah yang merasakan rasa bersalah Dayra hanya tersenyum. Ia mempersilakan kedua gadis itu untuk duduk dan memberi waktu baginya untuk membenahi ban motor pecah Si Coki.

Diah pamit masuk untuk menyiapkan minuman. Suasana bengkel malam itu hening. Baik Dayra maupun Embun merasa malu karena sudah menyudutkan sosok di hadapannya di muka umum.

“Nama saya Jarwo. Kalian masih ingat saya kan? Saya orang yang tadi kalian teriaki di stasiun,” ucap Jarwo dibubuhi senyum tipis. Senyum ramah sekaligus mengejek.

“Saya memang orang miskin, Mbak. Saya hanya tukang bengkel sekaligus juru parkir. Saya minta maaf jika tarif 20.000 tadi mahal buat mbak-mbak semua, tapi kalau ngga begitu saya ngga bisa membeli keperluan untuk anak saya nanti. Istri saya saja harus berjalan untuk sekadar membeli sayuran. Ini karena kami tidak mampu untuk memiliki kendaraan.”

Suara gesekan antara ban dan tangan tukang parkir itu menjadi melodi sendu di malam itu. Rasa bersalah kembali menggeregoti Dayra dan Embun.

“Saya ga papa kalau mbak protes. Tapi ngga dengan menyudutkan saya seperti tadi, Mbak. Saya tadi kena tegur pihak stasiun karena berbuat gaduh. Saya bingung, Mbak. Kalau saya ngga ada tambahan pemasukan jadi tukang parkir, gimana nasib anak-istri saya nanti?”

Kalimat Jarwo tadi menyadarkan kedua sahabat itu, terutama Dayra. Bahwa apa yang ia katakan tadi bisa berdampak ke kehidupan orang lain. Oh, betapa enaknya hidup Dayra selama ini. Tidur berkecukupan, uang berlimpah, dan tidak memikirkan hari esok. Mendengar pernyataan Jarwo tadi membuatnya teringat keluarga di rumah. Betapa jauh jaraknya dengan bapak tukang parkir itu. Betapa tidak bersyukurnya seorang Dayra.

“Pak, saya minta maaf, Pak. Kami minta maaf. Kami salah,” ucapan Dayra bersatu padu dengan isak tangisnya. Embun sedari tadi sudah menangis dan menggumamkan kata maaf. Menyalahkan dirinya atas segala yang terjadi hari ini, termasuk pertikaian Dayra dan tukang parkir bernama Jarwo di stasiun siang tadi.

“Sudah, sudah. Sudah saya maafkan. Yang penting saya tidak diusir dan tidak kehilangan pekerjaan. Itu sudah cukup bagi saya,” suara kencang khas juru parkir yang didengar mereka siang itu, tidak muncul kali ini, “Saya sudah memaafkan kalian. Kalian kapan memaafkan satu sama lain?”

Kalimat pamungkas dari Jarwo di dinginnya malam menghangatkan kembali suasana. Dayra dan Embun sudah keras menangis. Menangisi kehidupan, mengapa takdir harus mempermalukan mereka sehebat ini? Mengapa perbedaan jarak di antara manusia dapat merenggangkan manusia itu sendiri? Dan pertanyaan-pertanyaan lain di pikiran mereka.

Pada akhirnya, tembok bengkel yang kotor dan dingin mampu mencairkan dingin gengsi antara Dayra dan Embun. Menyadarkan mereka, bahwa orang-orang seperti mereka jauh dari kata syukur. Masih banyak hal yang belum mereka ketahui. Masih banyak orang-orang kecil yang dihakimi. Dan masih banyak pula orang-orang seperti Diah, yang berusaha membantu satu sama lain. ***

.

.

Hasna Alya Nuraini, mahasiswi Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Negeri Yogyakarta.

.
Sedang Jalan di Jarak Itu. Sedang Jalan di Jarak Itu. Sedang Jalan di Jarak Itu. Sedang Jalan di Jarak Itu. Sedang Jalan di Jarak Itu. Sedang Jalan di Jarak Itu. 
Arsip Cerpen di Indonesia