Kapitalisme di Bawah Selimutku

Cerpen Esty Pratiwi Lubarman (Kaltim Post, 14 Juli 2024)

“AKU selalu ingin melihat langit sore ketika revolusi,” katamu.

Kita pernah melihat beberapa malam yang jatuh dalam percakapan. Seperti bekas ciumanmu yang selalu tanggal di sudut tubuhku. Aku hanya perempuan yang percaya dengan kaki kecilnya sendiri.

Apakah hari itu sudah tiba? Seperti suara yang selalu mengusikmu ketika pagi perlahan begitu dingin. Kemudian mengerak dan menjadi gulma di keningmu. Kita sedang menuju langit sore yang kau impikan, ketika cahaya memelukmu dan tak akan pernah kau rasakan kesunyian lagi.

Kita sedang berjalan menujunya—bersenggama dan hasrat cinta kita tidak diurus oleh negara. Kita tidak akan pernah meninggalkan detik yang ganjil dan kita tidak pernah begitu asing dengan kelahiran yang diciptakan dengan pemberontakan.

“Pernah tidak kau bayangkan kita tidak memiliki ketakutan satu pun akan hidup?” tanyanya.

Rasanya ketakutan akan selalu dimiliki—tapi persoalan lainnya kita mendambakan kebebasan. Seperti menolak norma dan aturan yang selalu mengatur kita untuk bercinta. Dalam malam yang lain aku selalu membayangkan diriku tidak akan pernah malu untuk mengajakmu bercinta karena aku perempuan. Bukankah kasur itu tidak mengenal kesetaraan? Atau rasa takutku yang dibentuk karena aku perempuan? Ketika semua orang berteriak kesetaraan aku hanya bisa percaya pada sesuatu yang kau dambakan; revolusi!

Tidak akan pernah ada hari baik. Ketika Tuhan tiba pada jejak kaki seorang buruh yang tidak pernah berhenti pada sekali panggilan pengeras suara di rumah ibadah. Ketakutan mereka adalah doa yang mereka bunyikan dalam bahasa keterasingan.

Sementara, nama mereka selalu disebut dalam janji-janji politik yang sudah terlanjur usang. Dan mereka dipaksa menjadi angka yang ganjil—dan malam menjadi gigil anak kecil yang berharap bisa membaca coretan-coretan sentimentil. Dan kemudian, sekali lagi namamu disebut dalam bait-bait iba dan teriakan seorang demonstran yang meninggalkan gema pada sudut keadilan yang gemetar.

“Aku pernah membayangkannya sekali—bukankah kita hanya memiliki harapan tapi tidak pada kesempatan. Kesempatan hanya milik mereka yang bermodal tapi tidak untuk kita.”

Kekasihku seorang demonstran yang dalam setiap mimpiku ia tengah berteriak dan menggoyangkan gerbang keadilan. Tapi ia sering batuk dan demam. Mungkin terlalu banyak rokok yang ia hisap atau dia hanya bisa kalah pada tubuhnya sendiri. Aku sungguh banyak pertanyaan, tapi kupikir dia selalu tenggelam dalam hal-hal yang politis. Hadiah terbaik yang hanya bisa kuberikan adalah puisi—agar dia selalu abadi. Tapi, sial. Dia bahkan tak mengerti metafora!

“Bukankah sudah terlalu lama kita tidak merasakan keadilan? Sudah saatnya, Ayu. Sudah saatnya, kita merebutnya. Agar kesempatan itu milik kita.”

Sayangnya hal paling dalam perlu kusampaikan, aku ingin bebas membangun hubungan dengan siapa pun tanpa merasakan cinta. Aku hanya cinta pada dirinya, tapi aku ingin sekali bersetubuh dengan orang yang kulihat matanya begitu dalam. Han, namanya. Lelaki yang aku temui ketika aku sedang menemani kekasihku bertemu dengan kawan-kawan demonstran lainnya.

Aku sudah mengetahui namanya sejak lama, tapi rasa penasaranku sangat besar. Aku sering mencuri pandangannya, betapa inginnya aku bercinta dengannya! Tapi, aku sudah memiliki Tama. Aku tidak ingin melabelinya sebagai cinta, tapi Tama adalah orang yang tepat untuk melihat masa depan yang aku inginkan.

Apakah ini salah? Malam ini begitu dingin. Tama mengecup bibirku, sangat lembut. Seperti kehati-hatian yang selalu ia lakukan ketika mengambil keputusan. Banyak anak-anak yang berlarian di kepalaku. Aku sangat menikmati ciuman kami—seperti sepasang burung yang bercinta dengan suara yang halus sekali.

Ponselku berdering….

“Hai, ini aku, Han. Kau bisa save nomorku, jika ingin berdiskusi.” Pesan WhattsApp, terpampang di layar ponselku. Aku seperti anak remaja yang pertama kali jatuh cinta—banyak bunga tumbuh di dadaku; ia mekar sekaligus memar. Apakah aku tidak tepat? Bukankah aku juga bisa memilih ingin meniduri siapa pun? Ah aku juga mendambakan revolusi ketika norma untuk perempuan benar-benar dihapuskan.

“Kenapa, wajahmu berseri? Kamu menyukai ciuman tadi?” Aku sedikit tersentak dengan pertanyaan Tama.

“Iya, Tam, tentu saja.” Kupegang punggung tangannya perlahan. Aku benar menyukainya tapi aku membayangkan hal lain.

Bulan berjatuhan sebab rasa dingin memanggil gigil perempuanku. Kudengar suara kucing jantan memanggil betinanya. Mendambakan kasih dan jalanan seperti terlalu ramai dengan kemacetan. Buruh-buruh yang membawa bungkusan nasi untuk makan malam. Sementara aku sibuk dengan kepala dan gairahku sendiri. Memuja sesuatu yang bahkan belum pernah kusapa. Aku ingin bersama Tama—menghabiskan sisa hidup yang penuh nestapa dan mungkin kebahagiaan yang kutunggu ketika revolusi itu terjadi.

***

Aku bertemu Han, tidak sengaja. Ia sedang berdiam sendiri, mungkin sedang membaca sesuatu soal petuah Marx. Aku sendiri menghadiri diskusi siang ini, sebab Tama masih harus bekerja. Aku mencuri pandang, menatap Han dan membayangkan adegan paling erotis. Ia sangat laki-laki, walaupun aku membenci kata maskulin. Tapi siang ini dia begitu menarik, apakah karena pesannya semalam. Aku tidak memiliki keberanian untuk menyapanya, aku duduk dua kursi setelahnya. Bunga di sudut ruang begitu cerah, seperti ada yang tumbuh dan pecah—memanggil namaku begitu dalam. Han mengarahkan pandangannya ke diriku, aku hanya bisa tersenyum malu.

“Hai, Sonya. Apa kabar?”

“Hai, Han. Aku baik, kau gimana?”

“Aku baik, itu nomorku yang kemarin nge-chat kamu. Sudah kamu simpan?”

“Sudah,” aku tidak tahu harus menjawabnya dengan obrolan apa lagi. Aku sangat malu.

“Bagaimana kalau kita pergi makan setelah ini?” lagi-lagi ada yang mekar di dadaku, aku tidak asing dengan perasaan ini.

“Boleh.” Tanpa ragu aku menjawabnya.

Diskusi berlangsung seperti biasanya. Tidak luput matanya selalu mencuri pandanganku, matanya begitu dalam. Aku benar-benar ingin tinggal di sana, mengetahui apa yang ada di dalamnya. Kepalaku memanggil namanya, berulang-ulang. Tapi, aku hanya bisa membayangkan semuanya. Keberanianku seperti tersembunyi di dalam kamar. Di dalam gelap yang tidak aku mengerti.

Ketika usai, dia memboncengku. Ia menarik tanganku perlahan untuk memeluknya. Aku tidak menolak ataupun bertanya. Mungkin karena motornya melaju cepat ia takut aku terjatuh. Aroma tubuhnya khas, aku menyukainya! Tapi aku selalu membayangkan Tama. Apakah aku keterlaluan?

“Tidak apa-apa?”

“Motormu melaju cepat, aku juga takut terjatuh.”

“Iya, aku gak mau kamu terjatuh. Aku mengutamakan keselamatanmu.”

Sebab aku menginginkannya, entah mengapa langit sore ini membekas di ingatanku.

“Kau tertarik padaku?” Pertanyaan yang mengejutkanku. Aku terdiam sejenak.

“Aku takut melewati batasanku, Han.”

“Kau perlu melampauinya untuk lebih maju.”

Kalimat terakhir yang ia ucapkan benar-benar memantik gairahku. Ingin sekali aku mengungkapkan pikiranku dengan gamblang. Tapi di bawah kesadaranku, aku masih mengasumsikan aku seorang perempuan yang tidak bisa melampaui itu semua.

“Aku tertarik juga padamu, walaupun situasi kita tidak ideal. Tapi biarkan waktu yang membuat kita mungkin bisa bersama.”

Aku memeluknya dengan erat. Aku ingin bercinta dengannya sekarang! Tapi di balik selimut kapitalisme menggerogoti hasratku karena aku perempuan. Tidak banyak yang bisa kulakukan selain bermain-main di kepalaku.

***

Ia benar-benar masuk ke dalam tubuhku. Begitu hangat dan nyaman. Aku tidak ingin membandingkannya, tapi suasana menjadi tenang. Sekali lagi aku membayangkan Tama! Ciuman Han, begitu kudambakan. Ketika kulitnya benar-benar menyentuhku. Apakah aku di surga? Ketika tubuh telanjangku tidak harus malu karena kekuasaan sedang menyelimuti kita.

Apakah aku boleh memimpikan surga? Kalaupun itu tidak ada. Aku seperti tenggelam dalam cerita lainnya. Kerumitanku dengan asmara, seperti sendiri dan gugur. Aku seperti mimpi yang menjelma tidur Tama. Aku tidak ingin ceritaku usai dalam persimpangan di jalan yang begitu macet. Kita berdua pernah terbang menjadi burung tanpa sarang, tapi aku juga memiliki Han. Debar yang selalu aku inginkan dan tidak akan pernah usai.

Apa aku tidak boleh memiliki sepasang? Karena aku perempuan? Berjalan bergandengan dalam hidup yang nyata.

Atau aku memilih menjadi kapal yang tengah mengaruhi laut dengan debur ombak begitu kencang. Atau bulan yang sebentar menjadi matahari menyilaukan, yang membangunkan buruh pabrik untuk kembali bekerja dan dihisap. Aku tahu hati Tama biru dan lebam tapi aku tidak pernah benar-benar melakukannya dan hidupku penuh fantasi yang bergairah. Seperti seorang perempuan berhati pelangi—selusin warna dan kemudian akan memilih gelap. Kekasihku, aku sudah gugur seperti daun yang dipaksa menjadi cokelat agar tetap dikatakan alami? ***

.

.

Esty Pratiwi Lubarman, lahir di Samarinda, 28 November 1999. Alumni Fakultas Ilmu Budaya Sastra Indonesia, Univeristas Mulawarman. Sekarang sedang melanjutkan studi di Fakultas ilmu Budaya Magister Ilmu Sastra, Universitas Gadjah Mada. Pada tahun 2019, pernah menerbitkan antologi puisi berjudul “Perempuan di Kekang Malam”. Terlibat dalam komunitas pegiat sastra bernama Mantra Etam dan Komunitas Penangana.

.
Kapitalisme di Bawah Selimutku. Kapitalisme di Bawah Selimutku. Kapitalisme di Bawah Selimutku. Kapitalisme di Bawah Selimutku. 
Arsip Cerpen di Indonesia