Tukang Roti

Cerpen Jemmy Piran (Koran Tempo, 25 Agustus 2024)

BEBERAPA patung yang dipahat dari batang pohon amandier [1] terjatuh di bawah. Sepertinya guncangan kemarin telah menumbangkan patung-patung itu, demikian Yosef berpikir. Kemarin, ketika ia mencari air di sekitar sini, batu dan patung-patung itu masih berada di tempatnya, tepat di bawah sebatang pohon chênes yeuses, tapi sekarang sudah bergeser agak jauh dan bagian ratanya sudah menghadap ke bawah.

Menjelang sore, mereka tiba di sebuah jalan yang agak lebar, yang menghubungkan ke gerbang desa. Mereka memutuskan untuk mencari penginapan. Namun, setiap kali hendak mendekat ke salah satu rumah untuk menanyakan rumah mana yang menyediakan penginapan, orang-orang langsung menutup pintu.

Orang-orang di desa itu menatap mereka dengan pandangan curiga.

“Mereka tidak menerima orang asing,” kata Yosef setelah beberapa orang menutup pintu.

Maria tidak menjawab. Kleopas terlihat bersungut-sungut.

Dengan gundah Yosef mendekat ke arah Maria, istrinya, mengambil Yeshua dalam gendongan Maria dan membawanya ke dalam gendongannya. Ia berharap orang-orang akan berbelas kasih saat melihat ia menggendong seorang anak kecil.

Sebelum ia melanjutkan jalannya yang tertunda, Yosef memandang lekat wajah bayinya yang terlelap.

Masih lekat memandang, Yosef membatin, “Aku tidak tahu apa yang ada di depan. Semua ini bukan rencanaku, Nak. Kau yang memulai dan kau juga yang harus menyelesaikannya.”

Yosef kemudian memandang jalan lengang di depannya. Ia mengembuskan napas keras-keras seperti berusaha membuang beban yang ada dalam dadanya.

Setelahnya, Yosef mengajak mereka semua agar segera keluar dari desa itu sebelum gelap turun. Mereka masih punya kesempatan mendirikan tenda di luar desa jika lebih gegas.

Kleopas mengomel dan mempersalahkan Yosef karena memilih masuk desa. Mereka harusnya mengikuti jalan di luar desa.

Yosef hanya diam karena menyadari kesalahannya.

Namun, sebelum mereka meninggalkan gerbang lainnya, ada sepasang suami-istri tengah menurunkan tenda dan memasukkan meja dagangan mereka.

Melihat itu, Yosef segera bergegas setelah menyerahkan kembali sang bayi ke dalam gendongan Maria.

“Masih ada berapa roti yang tersisa, Kirios [2]?” tanya Yosef.

Yosef memang dengan sengaja menggunakan kata kirios untuk memberikan rasa hormat dan mengharapkan orang yang mendengar sapaannya berminat dengan kehadiran mereka.

Benar saja, orang yang disapa itu berhenti dari kegiatan membereskan tempat dagangannya, lalu menoleh dan memandang mereka bergantian.

“Kami membutuhkan roti,” ucap Yosef sambil mengeluarkan kantong dari dalam jubahnya.

“Pada kami hanya beberapa potong roti,” sahut sang istri cepat, “tapi, jika kalian mau, rumah kami terbuka untuk kalian. Tinggallah malam ini di rumah kami.”

Sang suami terkejut mendengar penyataan istrinya tanpa meminta persetujuannya. Namun, ia segera sadar bahwa istrinya menginginkan dirham [3]. Lagi pula, dalam beberapa hari ini roti mereka tidak terlalu laku. Penyebabnya adalah roti mereka tidak mengembang, padahal telah diberi ragi sesuai dengan takaran yang selama ini mereka pakai.

Yosef menoleh dan meminta persetujuan Kleopas. Laki-laki yang berdiri agak jauh, tapi mendengar percakapan itu, segera mengangguk dan menyunggingkan seulas senyum persetujuan.

Segera setelah tenda diturunkan, Yosef dan rombongannya mengikuti langkah sepasang suami-istri tukang roti itu.

Setelah melewati dua belokan, mereka masuk ke dalam sebuah rumah yang agak luas. Walaupun hanya tukang roti, orang-orang segera tahu bahwa sepasang suami-istri itu merupakan orang yang cukup berada. Atau, setidaknya cukup berhasil dalam berdagang roti.

Pada ruangan depan, mereka disambut sebuah lemari dengan banyak ukiran. Begitu masuk agak ke belakang, terlihat sebuah karpet merah tua dengan motif yang langsung diketahui berasal dari Persia sudah terbentang. Pada salah sudut ruangan, dekat pintu yang menghubung ke ruangan lain, terdapat sebuah keranjang berisi bunga-bunga genêt [4]. Aromanya sudah tidak terlalu tajam, tapi masih cukup membuat ruangan itu tidak sumpek.

Laki-laki pemilik rumah yang memperkenalkan diri bernama Hanif segera meminta izin keluar sebentar. Tidak lama setelahnya, ia telah kembali dengan teko tanah liat, penuh susu kambing.

Sebelum bergabung dengan Yosef dan Kleopas yang sedang bercakap-cakap, ia memperlihatkan teko yang penuh susu kambing kepada Heba, istrinya. Perempuan itu terkejut dan nyaris teriak kegirangan.

“Hanya tiga ekor,” ucap Hanif.

Heba makin melongo. Sejauh ini, selama mereka mengurus kambing yang berjumlah belasan ekor itu, belum pernah mereka mendapat susu sebanyak itu.

Mereka pernah memerah ketujuh betina tersebut, tapi hasilnya hanya setengah teko tanah liat yang sama.

Percakapan itu tidak berlanjut karena kedua orang bernama Maria sudah turut bergabung mempersiapkan jamuan makan malam.

Maria, istri Kleopas, segera memanaskan susu kambing di atas tungku. Maria, istri Yosef, membantu Heba mengaduk adonan roti sambil menunggu roti lain matang. Setelahnya, Heba mengeluarkan roti dari dalam panggangan. Betapa terkejutnya perempuan itu karena roti tersebut mengembang begitu sempurna. Namun, segera ia menyembunyikan rasa terkejutnya.

Terdorong oleh kebahagiaan yang memenuhi hatinya, Heba langsung menuju ke salah satu lemari yang terletak agak di pojok. Ia mengeluarkan kurma kering dan buah zaitun segar.

Setelah semuanya siap, Hana membawa hidangan ke ruangan di mana ketiga lagi-laki itu berkumpul. Lalu disusul Maria, istri Yosef, membawa nampan berisi sebejana air dan tiga buah cawan.

“Terima kasih. Kalian terlalu baik untuk kami,” kata Yosef.

“Kalian telah membawa berkah ke dalam rumah ini,” sahut Hanif.

“Entah bagaimana kami dapat membalas kebaikan kalian,” ungkap Yosef setelah kedua perempuan itu kembali ke dapur. “Semoga Yahweh memberikan kelimpahan dalam hidup kalian.”

Sedang itu, Kleopas seperti sudah tidak sabar mengisi perutnya dengan makanan enak. Hanif tahu hal itu, dan ia segera mempersilakan kedua lelaki itu untuk mengambil makanan.

“Hendak ke mana kalian?” tanya Hanif kemudian, setelah ia menelan sekeping roti.

Yosef dan Kleopas berpandangan. Mereka mempertimbangkan apa perlu memberi tahu tujuan mereka ke Alexandria.

“Kami belum tahu,” jawab Yosef.

Hanif mengangguk. “Dua hari lalu aku mendengar percakapan orang-orang gurun yang kebetulan singgah di kedaiku. Mereka memperkirakan jalan menuju Mesir akan tertutup pasir. Angin kering dari utara membawa badai. Begitu mereka bilang. Jadi, kalian boleh tinggal di sini sementara waktu. Istriku pasti senang.”

“Tuan sungguh baik, tapi kami perlu berembuk lagi. Ada sesuatu yang ingin kami cari di Mesir.” Yosef mencari alasan. Mendengar alasan yang dibuat-buat, Kleopas menampakkan wajah gusar.

Setelah menutup makan malam dengan minum secawan susu, Hanif berkata bahwa pada bulan Tamus [5] tahun ini, ia berencana membeli tembikar, kain, dan berbagai barang kerajinan lain di Farma dan Mostorod.

“Kami bukan golongan saudagar atau pedagang. Kami hanyalah pengembara,” Yosef menyahut.

“Kalian pasti ingin melihat kemegahan piramida,” Hanif menebak.

“Semacam begitulah.”

Hanif segera memanggil Heba dan perempuan itu datang tergopoh-gopoh. Wajahnya tampak gembira. Beberapa kali ia tersenyum.

“Aku dan Maria sedang mengurus anak-anak kalian. Sepertinya mereka betah di sini,” ujar Heba.

Yosef dan Kleopas mengangguk hampir bersamaan.

Setelah Heba kembali, Hanif berkata, “Aku tidak terlalu yakin kalian sebagai pengembara. Para pengembara tidak membawa bayi.”

“Sebetulnya kami bukan mengembara,” ucap Kleopas.

“Maaf, Tuan. Apa yang dikatakan Kleopas itu benar. Kami menghindari Herodes Agung.”

Hanif menegakkan punggungnya.

“Beberapa hari lalu, ada sekelompok serdadu datang kemari. Mereka mencari satu keluarga yang ada seorang anak kecil. Itu kalian?”

Yosef dan Kleopas menarik napas panjang.

“Ya, mungkin itu kami,” jawab Yosef.

“Bahaya. Kalian membawa bahaya. Kami akan menerima murka Herodes.” Wajah Hanif tampak tidak suka.

“Tidak. Mereka tidak membawa bahaya untuk kita,” sahut Heba. Perempuan itu segera bergabung. Ia menggendong bayi Yeshua.

“Mereka membawa berkat untuk rumah ini, Hanif,” tambah Heba. “Kautahu anak ini, bagaimana ia dilahirkan? Apa yang menuntun mereka kemari? Anak inilah yang akan menggenapi nas yang sering kaubilang padaku.”

“Terlalu cepat kau menyimpulkan, Heba.”

“Akan kuceritakan banyak hal padamu tentang mereka. Aku sekarang juga sedang mengandung anakmu.”

“Bagaimana mungkin itu terjadi?”

“Cepat, persiapkan bekal untuk mereka. Beri mereka seekor kambing untuk anak ini. Anak ini butuh susu untuk pertumbuhannya. Isi kantong mereka dengan roti. Jangan lupa kurma dan zaitun. Bila perlu panggil seorang perempuan habsyi [6] untuk menjadi pelayan mereka.”

Terdorong oleh rasa girang mendengar Heba, istrinya, sudah mendapat tanda-tanda kehamilan, Hanif segera beranjak dan mempersiapkan segala sesuatu.

Bagaimana tidak, selama ini, Heba telah dianggapnya perempuan mandul. Belasan tahun menikah, mereka belum dikaruniai seorang anak.

Heba berteriak, “Mereka sudah harus berangkat sebelum fajar menyingsing.”

Tidak butuh waktu lama, semua disiapkan dengan cepat. Namun, begitu Hanif datang bersama seorang perempuan habsyi, Yosef langsung menolak.

“Ia budak terbaik yang kami miliki. Ia sangat telaten dalam banyak hal,” Heba memberi tahu. “Ia bisa membantu istri kalian.”

Berkali-kali Yosef mengucapkan terima kasih atas kebaikan sepasang suami-istri itu. Namun, Yosef tetap menolak perempuan habsyi ikut beserta mereka.

“Ia akan menemanimu, Heba,” ucap Maria, istri Yosef. “Kau akan sangat membutuhkan seorang perempuan dalam masa kehamilan dan setelah melahirkan agar suamimu terbebas dari pekerjaan perempuan.”

Hanif segera menyuruh perempuan habsyi pergi. Laki-laki itu segera pergi ke ruangan bawah tanah dan mengambil anggur terbaik yang dimilikinya.

Laki-laki itu ingin menjamu tamu-tamunya dengan baik karena telah mendapatkan kabar sukacita dalam hidupnya. “Untuk anakku,” ucapnya sambil mengisi anggur ke dalam cawan.

“Mari bersulang untuk anakmu,” ucap Kleopas.

Mereka duduk minum hingga menjelang subuh. Dan, mereka segera bersiap untuk berangkat pagi itu sebelum para gembala pergi keluar, sebelum orang-orang desa melihat mereka.

“Semoga Yahweh melindungi kalian,” ujar Hanif.

“Anak dalam kandungan istrimu senantiasa diberkati Yahweh Semesta Alam,” ujar Maria sambil mengelus perut Heba. ***

.

Keterangan:

[1] Amandier: Pohon Badam

[2] Kirios: Bahasa Yunani Kuno yang bisa berarti Yahweh ataupun majikan

[3] Dirham: Nama mata uang

[4] Genêt: Sejenis semak, berbunga kuning wangi

[5] Tamus: Bulan keempat dalam Kalender Yahudi. Perhitungan bulan sesudah Pembuangan Babel dihitung dari bulan Maret.

[6] Habsyi: Golongan budak dari daerah Afrika

.

.

Jemmy Piran lahir di Sabah-Malaysia, 18 Februari. Alumnus PBSI, pada Universitas Nusa Cendana, Kupang, Nusa Tenggara Timur. Cerpen-cerpennya sudah tersiar di sejumlah media massa.

.
.
Tukang Roti. Tukang Roti. Tukang Roti. Tukang Roti. Tukang Roti. Tukang Roti. Tukang Roti. Tukang Roti. Tukang Roti. Tukang Roti. Tukang Roti. Tukang Roti. Tukang Roti.
Arsip Cerpen di Indonesia