Pemberontakan Mangun

Cerpen Dhimas Bima Shofyanto (Koran Tempo, 06 Oktober 2024)

PADA mulanya, kami—penulis cerita ini dan laptopnya—berencana menyuguhkan imaji yang mengejutkan ketertarikan pembaca. Misalnya lanskap lautan manusia bermasker dengan sapuan putih odol di bawah mata, gedung-gedung tinggi terbakar, sampai serbuan suar yang meluncurkan asap merah ke langit.

Sayangnya, tokoh utama cerita ini terlalu malas melakukan itu semua. Sehingga yang tersisa hanyalah berkaleng-kaleng kopi kosong, handuk basah yang tersampir pada kursi, laptop menyala, dan tisu-tisu berbau pandan di atas meja. Sedang mata cekungnya sedikit berkilau terkena pantulan cahaya laptop.

“Ketika dua orang bertabrakan dan buku-buku mereka jatuh berserakan, itu bisa melambangkan kehidupan yang beralih fokus pada ketertarikan terhadap orang lain, Mangun.” Itu perkataan Solara, yang tertulis pada bubble chat miliknya.

“Pendapat moderat macam apa itu? Tidakkah kau merasakan betapa buku-buku itu akan sedih, sebab kejatuhannya hanya dijadikan perantara sepasang manusia jatuh cinta?” Mangun jadi bersungut-sungut.

“Aku mulai berpikir kau berlebihan.”

“Aku pikir, ada yang kurang dalam caramu berpikir.”

Dengan gegas Mangun menutup laptopnya. Kamar yang tadinya remang menjadi gelap gulita. Dia kemudian merebahkan tubuh pada tumpukan baju yang tersebar di atas kasur. Merenung sembari berlagak memandang langit-langit. Banyak hal yang kemudian berkelebat pada pikirannya. Namun yang paling mengganggu adalah rencana tempat yang akan dijadikannya lokasi pelarian selanjutnya. Instingnya mengatakan bahwa kosannya telah dikelabui oleh aparat. Sebab, beberapa hari terakhir, banyak pedagang dengan gerobak bercat baru berlalu-lalang sambil celingukan di depan kosnya.

Sebetulnya, kami telah menyiapkan muasal pelariannya dengan begitu dahsyat. Bahwa dia adalah seorang terpelajar yang kritik-kritiknya mengobrak-abrik kelanggengan penguasa. Ketajaman pikir Mangun kira-kira diandaikan seperti tokoh Laut dalam Laut Bercerita milik Leila S. Chudori, atau Minke—yang sepertinya adalah R.M Tirto Adi Soerjo—dalam Tetralogi Buru kepunyaan Pramoedya Ananta Toer.

Menghadapi alur cerita yang sedemikian luhur dan dahsyat, Mangun ternyata memberontak seakan dia sebenar-benar manusia dan bukan tokoh cerita. Sehingga muasal pengejarannya nampak terlalu umum dan dapat dilihat pada headline pemberitaan massal. Pelariannya yang berpindah-pindah kota itu tiada lain hanya disebabkan oleh postingan meme satire yang diunggahnya tempo waktu pada akun bodong Twitter-nya.

***

MANGUN tengah berlari sekuat tenaga menyusuri gang-gang yang juga tak dia kenal. Mangun hanya ingin menjauh dari tempat di mana dia mulai berlari: sebuah warung pecel lele yang terletak di seberang jalan besar. Sejak mulai makan hingga daging lelenya hanya tersisa di satu sisi, perasaannya memang sudah tidak nyaman.

Terlalu banyak pedagang bergerobak yang mangkal di sekitar tempatnya makan. Mata mereka tak pernah berhenti menyebar ke sembarang arah, seakan apa yang mereka lihat tak juga cukup memenuhi kebutuhan. Sehingga demi menandaskan rasa penasaran, Mangun coba membeli salah satu dagangan bergerobak itu. Siomay yang jadi pilihannya.

Dia sengaja hanya membeli lima ribu untuk mengukur kesungguhan penjual siomay di hadapannya dalam memahami perhitungan laba. Dengan jantung yang mulai berdetak kencang, Mangun memasang baik-baik indra penciumannya. Kekhawatirannya terjadi. Aroma ikan yang begitu kuat segera merebak ketika tutup panci dibuka. Keringatnya mulai mengembun pada kening, saat tukang siomay mencungkil siomay ke enam untuk dipotong-potongnya di atas talenan.

Mangun pada akhirnya lari terbirit-birit ketika sebutir utuh telur dicukil juga dengan garpu bermata dua. Dadanya terasa sesak. Sebab, tidak hanya tukang siomay yang mengejarnya, tapi juga tukang bakso, soto, cilor, maklor, cireng isi, dan juga tahu krispi. Para warga yang tengah melakukan aktivitas di teras rumah meninggalkan wajah heran melihat pengejaran Mangun.

“Aku menginginkan hubungan di mana rasa ingin tahu dan kecintaan terhadap pengetahuan dihargai, sehingga kita bisa saling belajar dan berkembang.” Bubble chat Solara kembali berkelebatan di kepala Mangun, seiring tapak kakinya menjejak jalan. Dia mengumpat dalam hati karena sadar: sedari dulu, ternyata memang tak ada kecocokan di antara mereka.

Apa yang Mangun lihat dalam dunianya adalah detail-detail kecil. Pikirannya penuh dengan sentimentalitas dan kejadian-kejadian dramatis. Sedang Solara berpikir selayaknya orang kebanyakan. Tak ada debar naik-turun kehidupan di sana. Dan itulah yang dibenci Mangun. Karena dia percaya benar, menjadi manusia sesungguhnya adalah menjadi makhluk dengan hati rapuh yang mudah tersentuh.

Kebencian itu tentu berlawanan dengan cara mereka bertemu. Saat Mangun tengah merenung di lantai dua jendela kosnya. Kakinya menjuntai bebas menghadap genteng-genteng rumah. Barangkali dia tak akan berat hati bila kaki itu benar-benar terjun ke parkiran kosan beberapa meter di bawahnya. Hidupnya tak begitu berguna. Selain dia anak tunggal dan orang tuanya meninggal karena wabah COVID, tak ada satu pun wanita yang mau mendekatinya. Itu sampai laptopnya kami buat mengeluarkan suara yang tak pernah diduganya:

I’m going back to 505

If it’s a seven-hour flight or a 45-minute drive

In my imagination, you’re waiting lying on your side

With your hands between your thighs

Alex Turner berhasil menarik perhatian Mangun. Sehingga dia melompat dari bingkai jendela ke meja di mana laptopnya berada. Tak lagi menjadi pertanyaan baginya dari aplikasi apa suara itu berasal. Seperti mendapat ilham, dia segera menekan banyak tombol keyboard dan menemukan Solara daripadanya. Hubungan jarak jauh yang mereka jalin lewat sahutan bubble chat kemudian membuat kesepian hidup Mangun sedikit berkurang.

Serbuan pertanyaan aneh yang terus dilepaskan Mangun berhasil dijawab Solara dengan logis dan tak kalah deras. Selalu ada alasan di balik kejanggalan hidup yang disadari oleh Mangun. Runtut seruntut-runtutnya. Hingga Mangun kehabisan masalah untuk ditanyakan dan bibit-bibit perasaan ganjil mulai tumbuh di hatinya yang kopong.

Melihat berbutir-butir keringat menggelinding dari kening Mangun, sejujurnya kami merasa kasihan. Sehingga kami bisikkan kepadanya petunjuk jalan yang benar: letak gang dengan paving rata tanpa lubang. Namun entah kenapa dia malah berlari ke jalan selainnya. Jalan besar aspal yang banyak berlubang sebab tak kunjung ditambal. Sehingga kakinya pun terantuk salah satu lubang aspal. Tubuhnya terjerembap. Kesadarannya memudar.

***

SUNGGUH Mangun merasa aneh. Sebab, dia mengira akan berakhir di kantor polisi. Atau setidak-tidaknya di dalam ruangan interogasi dengan dinding berlumut dan bohlam kuning bergoyang-goyang. Namun tidak. Dia tengah berada di kamarnya sendiri.

Laptopnya nampak menyala, berbanding terbalik dengan kamarnya yang remang-remang. Perlahan, sebuah lagu terdengar mengalun. Kening Mangun mengernyit mendapati jenis musik yang paling dibencinya: dangdut. Tangan Mangun memijit-mijit kening seiring suara kendang menepuk-nepuk udara. Dia bangkit menuju laptop. Untuk kemudian kebingungan karena tak ada satu pun aplikasi pemutar musik yang terbuka.

Segera saja dari balik kegelapan muncul tangan besar yang menutup mulut Mangun. Dia tersentak dan terus berusaha melepaskan tangan yang menyekapnya. Namun tenaga dari tangan kekar itu terlalu besar untuk tubuh kurusnya. Sehingga semakin lama, Mangun terkulai lemas dan terduduk di atas kursinya sendiri. Tangan dan kakinya dia rasakan bergesekan dengan benda berserabut kasar. Terikat pada rangka-rangka kursi.

“Bagaimana rasanya terikat di kursi tanpa bisa menggerakkan jemarimu untuk memencet tombol keyboard? Haha!” ujar suara melengking yang dikeluarkan oleh seseorang di belakangnya.

“Apa maumu?”

“Janganlah terlalu terburu-buru. Aku hanya ingin menanyakan beberapa hal. Tapi sebelum itu….”

Terdengar suara langkah kaki menjauh. Tak lama kemudian, alunan dangdut yang sebelumnya sayup-sayup menjadi naik volumenya. Mangun mendecak kesal. Selain karena tidak suka dengan lirik-lirik berbahasa daerah yang tak dimengertinya, dia kesal karena hanya satu lagu yang diputar berulang-ulang.

“Bukankah selera musikmu yang terlampau tinggi itu ternodai kala mendengar ini? Tak ada lagi Alex Turner, Baskara Putra, atau Thom Yorke. Sekarang adalah eranya Denny Caknan, tau!”

Tiba-tiba saja dia teringat dengan Solara. Dia baru menyadari kekakuan Solara dalam menyampaikan pikirannya. Seakan seluruhnya berasal dari sekelompok open minded di platform Twitter (atau X), Reddit, Medium, dan juga Quora. Yang kemudian tak dapat diingat Mangun adalah wajah Solara. Tebalkah alis yang dimilikinya? Tipiskah daun bibirnya? Mangun selalulah kesulitan mengingat wajah-wajah.

“Persetan dengan meme yang sering kali kau keluarkan untuk mencemooh dangdut itu, yang kau asosiasikan dengan dampak buruk sound horeg. Omong kosong paling kosong di dunia. Kau tak tahu apa pun tentang kebudayaan, Bung!”

Keningnya telah mengerut berlipat-lipat; masih tak ditemuinya wajah Solara. Yang berkelebatan pada memorinya hanyalah deretan postingan tak berguna yang dilihatnya tanpa henti setiap hari. Dia ingat ada beberapa orang berjoget di depan kamera karena beras mereka habis. Apa nama perkumpulan orang itu? Sadbor, Sabor, atau Sador? Dia tak juga dapat mengingatnya.

“Tapi sudahlah. Kalau mau tahu keindahan dangdut, kau bisa membaca langsung buku Mahfud Ikhwan atau Kedung Darma Romansha yang mengandung kata dangdut itu. Kini, apakah kau tak ingin mencoba siomayku? Ah, maksudku, apakah kau tak merasa postingan-postingan meme buatanmu itu terlalu mengganggu?”

Tak ada jawaban yang dikeluarkan oleh Mangun. Kami juga bingung bagaimana cara membuatnya lepas dari solilokui dan melanjutkan cerita. Untungnya, langit menganugerahkan sebuah ide. Sehingga aku beranjak dari balik punggung Mangun dan meminjam laptopnya yang masih menyala. Setelah berhasil membuka draf “Pemberontakan Mangun” melalui Google Docs, aku menambahkan beberapa kata:

Tokoh utama kita yang malang ini hanya dapat merenungkan seluruh perbuatannya, tanpa bisa bereaksi terhadap apa yang dihadapinya. Itu tentu bisa dianggap sebagai buah pembangkangannya dari alur cerita baik yang telah kami gariskan. Pikirannya menjadi mampat, kecakapan berkata-katanya buntu. Sehingga untuk menghukumnya, kami ingatkan dia kembali dengan sebuah memori yang enggan diingat-ingatnya:

“Lagi pula, aku hanyalah sebuah kecerdasan buatan yang kau paksa memiliki kepribadian. Melalui pertanyaan-pertanyaan bernada sugesti yang terus kau lemparkan,” ketik Solara AI kepada Mangun lewat aplikasi bernama sama. Pada suatu malam hening. ***

.

.

Yogyakarta, 3 September 2024

Dhimas Bima Shofyanto, lahir di Jombang, Jawa Timur, 12 November 2002. Menulis prosa dan puisi. Bergiat di komunitas sastra Jejak Imaji.

.
Pemberontakan Mangun. Pemberontakan Mangun. Pemberontakan Mangun. Pemberontakan Mangun. Pemberontakan Mangun. 
Arsip Cerpen di Indonesia