Cerpen Indra Tranggono (Kompas, 16 Februari 2025)
SUBUH belum tumbuh. Namun ibu sudah bangun, duduk di teras. Gelisah. Ditatapnya segelas kopi panas dan pisang goreng yang disiapkan khusus buat bapak. Kopi sudah dingin, tapi bapak belum juga pulang.
“Semoga bapak selamat. Doakan dia,” ucap ibu dengan suara berat.
“Tapi bapak, kan, sedang pergi untuk mencuri? Mosok didoakan?” ujarku pelan.
“Pencuri juga berhak didoakan,” ucap ibu, ketus.
Aku diam, demi menghormati ibu. Namun aku tetap tidak bisa mengerti kenapa “seorang pencuri harus didoakan”. Soal selamat atau celaka, biarkan bapak sendiri yang memutuskan. Bapak berhak menentukan takdirnya sendiri.
“Terima saja bapak apa adanya. Sudah! Jangan membantah.”
Pagi datang bersama burung-burung beterbangan. Lalu, terdengar suara sepeda motor. Seorang tukang ojek menurunkan bapak di depan pintu halaman.
Ibu tersenyum tapi tak memeluk bapak. Aku juga tak menyambut bapak. Aku langsung beranjak masuk rumah. Aku tak ingin tahu apa saja barang yang telah bapak curi. Biarkan dia menikmati kebahagiaannya sendiri.
***
Sebenarnya aku sangat tidak setuju, bapak memutuskan untuk menjadi pencuri. Dia mengikuti jejak banyak warga desa yang berani menukar hari-hari nganggur-nya dengan menjadi maling. Bagi mereka pekerjaan mencuri itu mengasyikkan dan menjanjikan. Mengaduk-aduk adrenalin, kata mereka. Meskipun juga kadang-kadang mengerikan. Jika tertangkap dan dibui, itu biasa. Tapi yang paling berat adalah ketika dihakimi massa. Istilahnya direncak atau “dimakan” ramai-ramai. Bahkan ada yang dibakar. Sudah belasan pencuri dari desa kami yang dijadikan arang. Namun, kengerian itu tak bikin mereka muntir, surut langkah dan ciut nyali. Mereka tegar dan berjalan tegak di jalan gelap. Satu maling mati, tumbuh seribu pencuri, copet, rampok, dan begal.
Anak-anak muda desa kami pun lebih suka tumbuh di jalanan, karena sekolah dianggap membosankan dan menyiksa. Belum lagi soal biayanya. Mabuk pun jadi ritus rutin. Jika tak mampu beli minuman, mereka pun mencuri. Karena merasa nikmat, karier sebagai pencuri itu pun mereka lestarikan. Mereka “kerja” berkelompok. Ini berbeda dengan bapak yang menempuh solo karier jadi pencuri.
Bapak mengaku, dulu dia anak soleh. Pintar. Rajin beribadah. Hafal isi Kitab Suci. Sekolahnya juga lancar. Bisa lulus jadi sarjana. Lalu bekerja di pabrik limun. Tapi hanya beberapa bulan. Dia pun meloncat jadi guru SMA. Mengajar sejarah. Bosan. Ia coba berdagang buah, lalu baju, HP, dan barang-barang antik. Tapi semua gagal. Ia pun coba melamar pekerjaan di perusahaan garmen. Diterima. Ditaruh di bagian personalia. Merangkap promosi. Bertahan selama 20 tahun. Namun, perusahaan bangkrut. Terjadi pemutusan hubungan kerja besar-besaran. Bapak pun langsung bergelar penganggur.
Luntang-lantung, ngobrol di warung kopi, memancing ikan di kali, putar-putar bersepeda dan segala kesibukan untuk membunuh waktu sudah dijalani bapak. Namun stresnya tak reda. Ia pun mendengar banyak warga pengangguran yang sukses jadi pencuri. Bapak jadi penasaran.
Bapak pun menemui Pak Tosanaji, dedengkot pencuri di desa kami. Dia sudah lebih lima puluh tahun jadi maling. Kariernya gemilang. Dia sangat dihormati karena kaya raya dan suka berderma.
Bapak bercerita ketika pertama kali menemui Pak Tosanaji.
“Kenapa kamu ke sini? Kamu kan sarjana. Pintar dan soleh. Sedang aku, kotor. Pasti kelak jadi kerak neraka,” ujar Pak Tosanaji.
Bapak tersipu.
“Kamu butuh beras? Ambil saja sesukamu. Juga kecap, mi, minyak goreng, kopi, gula, gandum….”
Bapak menggeleng. “Aku hanya ingin jadi pencuri.”
Pak Tosanaji terperanjat. Dia tatap lekat-lekat wajah bapak. Bapak membalas menatap.
“Serius?”
Bapak mengangguk. “Ajari aku jadi pencuri….”
“Serius?”
Bapak mengangguk.
“Bagaimana dengan istrimu, anak-anakmu, saudara-saudaramu? Mereka pasti keberatan dan malu.”
Bapak menggeleng. “Aku berhak memilih takdirku sendiri.”
“Serius?”
Mendadak bapak bersuara keras, sangat keras. “Aku serius! Apa pun risikonya! Kalau kamu tak percaya, ayo kita kelahi. Kau tampar dulu aku, atau aku tampar kamu?! Jawab!!!”
Pak Tosanaji bukannya marah, tapi malah tertawa. “Nyalimu lumayan gede…. Boleh juga. Besok kita mulai pelajaran mencuri….”
***
Bapak tak pernah bercerita secara rinci, apa saja ilmu dan keterampilan yang dipelajari dari Pak Tosanaji. Hanya beberapa yang dia katakan: nyirep atau membuat ngantuk sang pemilik rumah, calon korban. Juga kemampuan berlari secepat angin dan menghilang. Tak lupa, soal katosan kanuragan, kekuatan fisik prima hingga tak mempan ditembus peluru dan disabet pedang.
Demi mendapatkan segala kemampuan itu bapak harus puasa pati geni, tinggal di kamar sendiri, tanpa cahaya, tanpa makan dan minum selama empat puluh hari. Bapak juga harus mandi dan kungkum, berendam di tujuh mata air sungai. Ritus laku prihatin itu ditutup dengan sowan berziarah ke makam para leluhur yang jadi legenda dalam dunia pencuri.
Aku tersenyum mendengar ada tokoh-tokoh leluhur dalam sejarah era kerajaan yang jadi pencuri.
“Kamu pikir, semua leluhur kita itu orang suci? Tangan mereka juga banyak yang kotor. Heran, ya? Atau malu?”
Aku pura-pura paham.
“Semua yang kamu anggap mulia itu tidak penting. Aku hanya ingin jadi suami dan bapak yang baik. Paham?!”
Aku tersenyum, masam.
Wajah bapak memerah. Nafasnya turun naik. Aku jadi khawatir bapak kena serangan jantung. Cepat-cepat kuberi dia air putih. Dadanya kuolesi minyak gosok.
Bapak menggenggam tanganku. Erat. Sangat erat. Ia seperti minta persetujuanku atas pilihannya menjadi maling. Penuh harap, dia tatap mataku. Aku hanya bisa menjawab dengan dua anak sungai yang membelah pipiku.
***
Kehidupan keluarga kami semakin membaik setelah bapak menjalani karier jadi pencuri. Beras di gentong tak pernah habis. Juga gula, kue, minyak goreng, kecap, bahan-bahan makanan, dan apa saja yang dibutuhkan. Bayar listrik, bayar angsuran jaminan kesehatan, bayar pajak bumi bangunan, dan pajak motor juga selalu beres. Tabungan uang pun lumayan banyak. Namun, hanya aku yang tak pernah minta uang.
“Jangan sok suci, kamu,” mata bapak membelalak.
“Maaf, meskipun sedikit, aku bisa cari uang sendiri.”
“Sejak kapan kamu mandiri?”
“Sejak bapak memilih jadi pencuri….”
Tangan bapak menggebrak meja. Dia banting gelas berisi kopi panas. Taplak meja dia angkat dan ditarik. Semua makanan dan minuman tumpah. Berantakan. Bapak pun masuk kamar. Diikuti dua kakakku.
Ibu menangis. Memunguti barang-barang yang berserakan di lantai. “Berulang kali sudah aku bilang, ini bukan soal moral. Tapi kamu masih saja enggak mau terima keadaan,” ucap ibu.
Aku membantu ibu memunguti barang-barang. Lalu kumasukkan ke keranjang sampah.
“Rumah ini tidak pernah tenang selama kamu menyalahkan bapak.” Tangis ibu tertahan.
Dadaku sesak. Hatiku teriris.
“Siapa pun tak bisa menyalahkan bapak. Ya presiden, menteri, gubernur, wali kota, bupati, pengkhotbah agama…. Selama mereka hanya bisa mengutuk tapi tak memberi jalan, orang seperti bapakmu tetap jadi pencuri. Juga orang-orang desa yang miskin itu…,” ujar ibu sambil beranjak ke dapur.
***
Seperti biasanya, pada malam hari, bapak selalu mengendap-endap keluar rumah. Wajahnya dibebat kain hitam. Dia pun membawa obeng, jugil, tang, drei…. Semua dimasukkan ke dalam tas. Mulutnya komat-kamit, mengucap mantra.
Sebelum bapak berangkat, ibu bilang akan ada tindakan keras untuk para pencuri.
“Dari siapa kamu tahu?”
“Pak Danuri bilang ke saya…. Ada kelompok yang mengatasnamakan agama tertentu ingin melibas para pencuri. Mereka sudah direstui perabot desa. Mereka beroperasi malam hari hingga subuh. Siapa pun yang dicurigai sebagai pencuri pasti ditangkap dan dihajar,” ujar ibu.
Bapak hanya tersenyum. “Tenang, aku yakin bisa menghadapi mereka….”
“Tapi kamu jangan mati,” ibu menangis sesenggukan.
“Doakan aku selalu selamat. Maling juga berhak mendapat rahmat Tuhan….”
Jujur aku tidak khawatir akan keselamatan bapak. Aku lebih kasihan pada ibu. Ibu tampak semakin kurus. Pucat. Dan, sering sakit.
“Ikhlaskan saja, Bu. Biarkan bapak memilih jalannya sendiri.”
Ibu diam. Matanya menatapku, tajam.
***
Subuh belum tumbuh, mendadak terdengar keributan di luar rumah. Dari celah jendela kulihat orang-orang menggelandang seorang lelaki, sambil meneriakkan kebesaran nama Tuhan. Aku khawatir, jangan-jangan lelaki yang digelandang itu bapak.
Mereka memasuki halaman rumah kami. Lalu menggedor-gedor pintu. Ketika pintu kami buka, tampak wajah bapak babak belur, kepalanya berdarah, tubuhnya luka parah. Bapak hanya bisa merintih kesakitan ketika orang-orang itu memaki, menghujat, dan menista bapak. Aku juga heran, kenapa bapak bisa dilukai? Katanya sakti. Lantas ke mana segala ilmu dan ajian yang diberikan Pak Tosanaji. Ke mana?
Aku marah. Tapi tak bisa berbuat apa-apa. Ibu dan dua kakakku menangis. Mereka langsung merebut tubuh bapak dan membawa masuk rumah. Dengan suara bergetar, ibu meminta orang-orang itu pergi.
Tubuh bapak tersungkur di lantai. Bersimbah darah. Ibu minta aku menghubungi rumah sakit dan minta mobil ambulans. Namun bapak justru melarang.
“Biarkan aku menikmati semua rasa sakit ini…,” ucap bapak, lirih.
Bapak semakin sulit bernafas. Kami pun berusaha menolong sekadarnya. Pelan-pelan tubuh bapak menggelinjang. Lalu, membeku. Kaku. Kudekatkan telingaku ke dadanya, tapi aku tak mendengar degup jantungnya. Kami pun memeluk bapak diiringi ledakan tangis keras. Sangat keras. ***
.
.