Lelaki Berkacamata Itu Bernama Himawan Santoso

Cerpen Tanti Kuben Koko (Pikiran Rakyat, 26 April 2025)

JARI Tiar berhenti menggulir. Matanya sedikit memicing ketika melihat foto yang lewat di beranda akun media sosialnya. Wajah yang familiar: paruh baya, rahang kokoh, jambang tipis dan sedikit beruban, sorot mata dingin, tanpa senyum.

Tiar langsung teringat delapan tahun lalu. Perkenalannya dengan seorang pria hanya dalam hitungan menit dan ia langsung jatuh cinta. Kejadian singkat di dalam kereta menuju Surabaya. Klasik sekali, jatuh cinta pada pandangan pertama dan itu kali pertama Tiar merasa dunia berpihak sekaligus menentang harapannya. Sepanjang perjalanan dirinya dan lelaki itu, sesekali tertawa, sesekali terdiam. Pertanyaan basa-basi dan tak penting jadi bahan pembicaraan mereka. Sekian jam berlalu dan sosok gagah itu menghilang tanpa tahu perasaan Tiar padanya. Tiar sudah terbiasa memendam dan penuh keyakinan perasaan itu akan hilang dengan sendirinya. Terlalu cepat semuanya. Tiar hanya mengutuk dirinya karena terlalu terbawa suasana, bahkan ia masih menyimpan nomor ponsel lelaki itu ketika mereka akan berpisah seusai kereta sampai di stasiun yang sama. Obrolan selewat berbasa-basi sebentar, hidup lantas berjalan seperti biasanya dan nomor ponsel itu tak pernah ia hubungi.

Memang terbukti kemudian. Tiar kembali menikmati hatinya yang datar tanpa banyak disibukkan oleh perasaaan-perasaan aneh dan menghabiskan waktu untuk seseorang. Banyak yang mendekat kemudian menjauh karena Tiar banyak menghindar setelah pertemuan pertama atau kedua. Mereka sama sekali tidak menarik perhatiannya.

Lalu sekarang? Wajah berkacamata itu sudah berhasil menarik perhatian dan mengembalikan ingatan tentangnya. Jarinya tak sabar menelusuri profil lelaki itu.

Santoso. Nama yang singkat dan asing. Nama yang ada dalam ingatannya bukan nama itu. Namun kenapa wajahnya sangat mirip dengan lelaki yang dulu membuatnya sulit tidur nyenyak? Jari Tiar menggulir layar ponselnya dengan cepat. Perasaan cemas tiba-tiba muncul. Bagaimana kalau Santoso bukanlah lelaki yang dulu pernah membuatnya kelabakan. Bisakah ia jatuh cinta pada lelaki lain meskipun wajahnya sangat mirip dengan lelaki di masa lalunya?

***

SANTOSO meraih ponselnya seketika. Bunyi notifikasi di akun miliknya di media sosial yang biasanya ia biarkan, kali ini dibuka dan sontak mengerutkan keningnya. Jarinya mengklik sebuah nama yang menambahkannya sebagai teman. Wajah perempuan yang asing untuknya, belum pernah ia lihat, kenal pun tidak.

Tiar Widjaya sebuah nama khas marga Tionghoa yang berasal dari marga Huang. Wajahnya manis, matanya sipit seperti pada umumnya perempuan-perempuan berkulit kuning dan menarik. Kacamatanya unik dan ia tampak cerdas. Tanpa pikir panjang, Santoso mengizinkan perempuan itu menjadi temannya tanpa banyak pertimbangan.

***

WAJAH Tiar banjir keringat dingin. Kejadian beberapa menit lalu membuatnya melayang. Lelaki itu sosok mirip Himawan yang muncul di hadapannya dan berbincang hanya lima belas menit, berkenalan selayaknya orang baru bertemu setelah kenal di media sosial, tetapi memberinya kecupan sangat hangat di pipi Tiar ketika mereka saling berpamitan. Kebingungan menyelimuti kepalanya. Kenapa banyak lelaki yang berwujud Himawan di sekelilingnya?

Santoso mengusap bibirnya dengan enggan. Peristiwa tadi di luar kendalinya. Ia tidak mengenali perempuan yang tadi menemuinya di kafe itu. Ia menerima pesan di messenger untuk bertemu dan ia merasa harus menemuinya segera meskipun tidak mengenali perempuan itu, hanya berteman di media sosial tanpa merasa pernah bertukar nomor ponsel sebelumnya.

“Mas Santoso bolehkah aku mengenalmu secara nyata? Jika berkenan, aku ada di kafe Melintang pukul 6 sore nanti. Kita satu kota bukan?”

Pesan singkat di messenger yang dikirim Tiar dan Santoso tidak langsung membalasnya. Namun dirinya gelisah mengingat pesan itu, sampai akhirnya mengiyakan dengan membalas singkat, “oke.”

Tiar menikmati perasaannya dengan gembira. Ia seolah telah menemukan sosok yang selama ini ia cari. Sosok yang ternyata tidak mengenalinya sama sekali, namun Tiar merasa sangat mengenalinya, dan desiran hangat itu dirasakannya ketika berdekatan dengan Santoso sore itu. Tak ada kelanjutan setelah pertemuan itu. Tiar membiarkannya, tak mau memaksanya. Ia pun tak mau menghubungi Santoso, ia hanya menunggu. Ya, Tiar sudah terbiasa dengan penantian.

Sementara itu, Santoso merasa gelisah. Sesuatu yang tak biasa ia rasakan, namun ia sangat menikmati, bahkan tiba-tiba merasa sangat mengenali perempuan tadi, Tiar Widjaya. Ia mengetik sebuah pesan untuk Tiar, menghapusnya lagi, mengetik lagi dan menghapusnya lagi. Setelah sekian waktu, akhirnya Santoso mengetik sebuah pesan dan langsung ia kirimkan.

“Tiar, apa kita pernah bertemu sebelum sore itu? Maaf, aku buru-buru sekali sore itu dan hanya punya waktu lima belas menit.”

Santoso menunggu balasan dengan tidak sabar. Sekian menit kemudian, muncul sebuah balasan.

“Menurutmu?”

Singkat sekali. Santoso agak menyesal mengirim pesan tadi dan mengira Tiar kurang suka dengan isi pesannya yang tanpa basa basi.

“Lupakan saja. Maafkan.”

Santoso melempar ponselnya ke atas tempat tidur. Malam itu, ia tidur dengan gelisah.

Di tempat lain, Tiar ingin sekali menjelaskan, namun ia merasa belum waktunya. Ia berpikir akan bercerita panjang lebar jika besok lusa bertemu Santoso lagi, termasuk memastikan nomor ponsel yang masih disimpannya entah kapan.

***

BRUGGGGG! Himawan tergeletak di aspal dan darah di kepalanya mengucur deras. Orang-orang berteriak di sekelilingnya sebelum pada akhirnya ia tak mendengar apa pun lagi.

Himawan membuka mata perlahan dan melihat langit-langit ruangan yang asing.

“Syukurlah Himawan, akhirnya kamu sadar juga,” terdengar suara asing dan isak tangis di dekatnya.

Ia melihat beberapa orang di sekelilingnya. Semua tampak asing. Seorang dokter memeriksa balutan di kepalanya.

“Pak Himawan, puji syukur Anda sudah sadar. Ini keajaiban, Anda tak sadarkan diri selama dua hari ini. Anda ingat terakhir mengalami kecelakaan dua hari yang lalu? Anda tertabrak sebuah mobil dekat stasiun di Surabaya waktu menyeberang jalan di sana.”

Dokter memeriksanya sambil mencoba mengembalikan ingatan Himawan.

“Mereka adalah keluarga Anda, Pak. Anda ingat?” dokter kembali bertanya sambil menunjuk orang-orang yang mengelilinginya di ruangan rumah sakit itu.

Himawan merasa pusing. Ia memejamkan matanya dan mencoba mengingat semua kejadian berdasarkan penjelasan dokter. Namun sia-sia. Kepalanya seakan berputar bergasing dan membuatnya pusing.

“Tak apa. Ini hanya sementara. Anda akan mengingat semua kembali. Sekarang istirahat saja ya.” Dokter tersenyum dan berpamitan.

Himawan merasa seakan dunianya runtuh. Seorang perempuan setengah tua mendekati kepalanya dan menciumi rambutnya.

“Aku ibumu, Himawan. Kamu jangan cemas.”

Himawan menatap kosong ke arah langit-langit. Ia memaksa ibunya untuk bercerita. Cerita ibunya membuatnya bergetar menangis. Menangis karena ia tak mengingat apa pun sedikit pun.

Dari ibunya, ia tahu bahwa namanya Himawan Santoso. ***

.

.

Tanti Kuben Koko, editor buku dan kesehariannya analis data di sebuah kantor sosial media monitoring di Bandung. Banyak karyanya yang sudah diedit dan diterjemahkan. Tulisan-tulisan kocak dan bergaya khas seorang Tanti dapat disimak di akun Facebook Tanti Kuben Koko dan Instagram tanti.kuben.

.
.
Lelaki Berkacamata Itu Bernama Himawan Santoso. Lelaki Berkacamata Itu Bernama Himawan Santoso. Lelaki Berkacamata Itu Bernama Himawan Santoso. Lelaki Berkacamata Itu Bernama Himawan Santoso. Lelaki Berkacamata Itu Bernama Himawan Santoso. 
Arsip Cerpen di Indonesia