Cerpen Yuditeha (Jawa Pos, 03 Mei 2025)
LELAKI itu pulang pada sore yang malas. Langit kusam seperti pikiran orang yang lupa alasan mengapa harus kembali. Tak ada angin menyambut, hanya debu yang menari di depan pintu rumah yang sudah terlalu lama menunggu.
Tangan kirinya membuka pintu, tangan kanannya menyeret koper yang roda-rodanya gemetar. Seakan menolak mengulang jejak. Di ambang pintu, ia berhenti sejenak. Menghela napas seperti orang yang hendak minta maaf, tapi belum siap ditolak.
Di ruang tamu, tak ada perubahan berarti. Kursi tua yang empuknya menyimpan dendam, rak buku yang kini lebih banyak menyimpan sarang laba-laba, dan jam dinding yang sepertinya berjalan atas kemauannya sendiri.
Ia menjatuhkan tubuhnya ke sofa. Jaketnya dilempar ke lantai, lalu sepatu ditendang sekenanya ke bawah meja. Sepasang sepatu yang dahulu sering ia banggakan di foto-foto perjalanan. Kini ia menatapnya seperti dua bangkai tikus yang kehilangan arah.
Dari dalam kamar terdengar bunyi halus, bukan suara tangis, bukan juga tawa. Lebih mirip suara seseorang yang sedang bicara pelan kepada dirinya sendiri di depan sesuatu yang tak pernah betul-betul menjawab.
Lelaki itu berjalan menuju dapur, membuka laci, menyeduh kopi dengan air yang tak lagi mendidih. Ia tak tanya apakah ada kopi atau tidak. Ia tahu, yang tinggal dari rumah ini hanya kenangan dan kebiasaan. Keduanya tak pernah mati sepenuhnya. “Aku baru datang,” kata lelaki itu, lebih kepada udara.
Dari balik kamar, suara perempuan menjawab, datar dan lambat, seperti orang yang membaca ulang catatan harian yang terlalu basi.
“Aku belum pergi.”
Perempuan itu duduk di depan cermin. Riasan wajahnya setengah jalan. Bedak sudah ditepuk, lipstik masih menggantung di tangan. Ia menatap pantulan dirinya seolah ia tak yakin siapa yang ada di sana, dirinya sekarang atau kenangan yang belum selesai ia pukul mundur.
“Kau tidak berubah,” kata lelaki itu sambil duduk di ranjang tanpa diundang.
“Kau terlalu lama pergi untuk tahu aku berubah,” balas perempuan.
Keduanya diam. Lalu suara detak jam mengambil alih percakapan. Mereka duduk dalam kesunyian yang kaku, seperti dua tamu asing yang tersesat di rumah milik orang mati.
“Aku hanya ingin singgah. Mungkin semalam. Mungkin beberapa hari.”
Perempuan itu tertawa, kecil dan pedih, seperti bunyi kaca yang retak karena digigit dingin.
“Kau pikir rumah ini hotel murah?”
Lelaki itu tidak menjawab. Ia meminum kopinya pelan. Pahitnya tak datang dari ampas, melainkan dari sesuatu yang tak bisa ia ludahkan.
Perempuan itu berdiri. Ia mengambil tas tangan kecil, mengenakan sepatu yang sudah lama tak dipakai, lalu menyemprotkan parfum yang aromanya membawa kenangan buruk lebih cepat dari doa.
“Aku mau keluar sebentar,” kata perempuan itu sambil membenahi rambut.
“Ke mana?”
“Ke tempat yang lebih jujur dari rumah ini.” Ia menatap lelaki itu sekilas. Tatapan yang dulu mungkin akan membuat pria itu merasa diinginkan, tapi kini hanya membuatnya merasa dicatat untuk dilupakan.
Setelah pintu tertutup, lelaki itu membuka laci di meja rias. Ada secarik kertas lusuh dengan tulisan tangan perempuan itu, daftar belanja yang tak pernah dibelanjakan, di bawahnya sepotong gambar anak kecil dengan mata besar dan senyum terlalu dewasa untuk usianya. Ia membalik gambar itu, di sana tertulis nama yang tak pernah ia tahu pernah ada. Bumi, 2014–2015.
Lelaki itu terdiam. Ia merasa ruangan sekitarnya mengecil. Ia merasakan sesuatu seperti tinju yang pelan-pelan menumbuk dadanya dari dalam. Ia tidak pernah tahu. Atau mungkin ia tidak ingin tahu.
Perempuan itu kembali menjelang senja. Matahari menggantung di luar jendela, canggung dan sekarat. Ia membuka pintu perlahan, membawa bau tanah basah dan bunga plastik.
“Kau tahu?” tanya perempuan itu tanpa menatap.
Lelaki itu mengangguk. “Kenapa kau tidak memberi tahuku?”
“Karena waktu itu kau bilang sibuk. Dan aku tidak ingin mengganggu.”
Lelaki itu menatap wajah perempuan. Di sana tak ada air mata, hanya garis-garis keras yang terbentuk oleh terlalu banyak diam.
“Aku menyesal,” ucap lelaki itu.
“Penyesalan tidak membangunkan siapa pun,” jawabnya. “Tidak membuat anak kita kembali. Tidak menghapus fotonya dari dinding rumah sakit.”
Sunyi kembali datang, kali ini lebih akrab.
“Aku tak bisa tinggal di sini,” ucap lelaki itu sambil meraih sepatunya.
“Kau memang tak pernah bisa tinggal di mana pun lebih dari sebulan.”
Lelaki itu mengangguk. Kali ini ia tidak membantah. Ia tahu perempuan itu benar, tentang semuanya. Saat ia hendak membuka pintu, perempuan itu memanggilnya.
“Sepatumu masih bersih,” katanya. “Padahal tadinya kau bilang mencari hidup. Tapi tak ada jejak tanah di solnya.”
Lelaki itu tertawa kecil. Ia menunduk menatap sepatunya, dan benar, nyaris tak ada debu. Seperti sepatu orang yang hanya berjalan di koridor hotel dan ruang tunggu bandara. Ia melepasnya dan memasukkannya di koper, lalu berjalan keluar tanpa alas kaki.
Perempuan itu menatap cermin. Ia menatap dirinya sendiri dalam senyap, lalu berkata pelan, “Aku mungkin tak cantik. Tapi aku tetap di sini.”
Dan di dalam cermin, untuk pertama kalinya, perempuan itu merasa ia bukan lagi bayangan.
Esok paginya, lelaki itu rupanya tak benar-benar pergi. Ia hanya duduk di halte tua tak jauh dari rumah itu. Ia menatap jalan, menunggu sesuatu, entah angkutan, entah keberanian. Matahari naik malas, seperti baru saja dipaksa bangun dari mimpi buruk yang terlalu nyata. Angin pagi lewat dengan bau plastik dan sisa bara. Seorang anak kecil menawarinya gorengan, tapi ia menggeleng, seakan belum waktunya makan apa pun.
Di rumah, perempuan itu bangun lebih lambat dari biasanya. Ada sisa parfum di bantal, ada lipstik meleleh di ujung cermin. Ia tidak mencari siapa-siapa. Ia hanya duduk di kursi makan dan membuka lemari es yang kosong. Di sana, satu-satunya yang tersisa hanya sebungkus kacang tanah dan sebotol air bekas tamu terakhir yang datang bertahun lalu.
Tak lama kemudian, sebuah kotak kardus tiba. Diantarkan tukang kurir yang wajahnya terlalu muda untuk terlihat lelah. Perempuan itu menerimanya dengan ekspresi yang sulit dibaca. Ia tidak langsung membuka. Ia menaruhnya di tengah meja makan seperti seseorang menaruh kepala sendiri di talenan, lalu duduk dan diam, menunggu alasan untuk melanjutkan pagi.
Kotak itu tidak berat. Tapi baunya aneh. Campuran kain lembap dan sedikit jejak masa lalu yang tidak sempat dicuci
Perempuan itu membukanya perlahan. Di dalamnya, sepasang sepatu, sepatu lelaki itu, kini dekil, solnya menganga, dan di sisi kanan ada bekas lumpur yang sudah mengering seperti kerak luka. Tak ada surat. Tak ada permintaan maaf. Hanya sepatu yang terasa lebih jujur dari semua percakapan mereka semalam.
Ia menatap sepatu itu lama, lalu meletakkannya di samping pintu. Tak dibersihkan. Tak dirapikan. Ia membiarkannya di sana, seperti dua potong bangkai yang terlalu sopan untuk dimakamkan, tapi terlalu akrab untuk dibuang.
Sore hari, ia berdiri di depan cermin. Kali ini tanpa lipstik, tanpa bedak. Hanya wajahnya sendiri. Kusam, polos, dan penuh garis. Ia memandang lama, seperti menonton film yang pernah ia bintangi tapi sudah tak ingat jalan ceritanya. Di belakangnya, angin menggerakkan gorden seperti lambaian dari orang yang hendak pergi tapi terus gagal melangkah.
Ia lantas tertawa. Pelan, mirip batuk kecil yang disembunyikan. Tawanya bukan karena lucu. Juga bukan karena bahagia. Hanya karena ia sadar, satu-satunya hal yang tidak berubah dalam hidupnya adalah keanehan dari segala yang ia pertahankan.
Malam turun seperti kelambu murah. Ia tidur tanpa mematikan lampu. Mimpi datang. Dalam mimpi ia dan lelaki itu duduk berdampingan di sebuah peron. Tapi tak satu pun kereta datang. Tak ada tujuan, tak ada keberangkatan, tak ada pengumuman. Hanya diam, hanya duduk, hanya menunggu sesuatu yang mereka tahu tidak akan pernah lewat lagi. Dan itu adalah mimpi paling tenang yang pernah ia punya. ***
.
.