Cerpen Sigit Candra Lesmana (Solopos, 10-11 Mei 2025)
SEGARIS tembok pemutus tali silaturahmi itu berdiri menjulang di tengah-tengah pemukiman. Membagi Tanian Lanjheng menjadi dua bagian – selatan dan utara langgar. Berdirinya tembok batako berwarna kusam itu merusak suasana Tanian Lanjheng yang biasanya diselimuti suasana kekeluargaan.
Pada sore hari, para wanita akan berkumpul di pelataran langgar untuk bergibah sekaligus berburu kutu di kepala anak mereka. Sementara itu, para lelaki akan saling sapa tanpa memedulikan bau keringat sehabis berladang. Suasana semacam itu tak terlihat lagi semenjak tembok terkutuk yang dibangun akibat ulah serakah salah satu warganya itu berdiri.
Tembok tersebut mengingatkan kita pada Tembok Berlin. Beruntung, Tembok Berlin kini telah runtuh, berganti menjadi tembok pemisah Tanian Lanjheng yang baru saja berdiri.
Namun, pendirian tembok pemisah Tanian Lanjheng itu bukan disebabkan perbedaan ideologi seperti yang terjadi di Berlin pada masa Perang Dingin. Tembok yang ini berdiri gara-gara tanah warisan.
Seorang menantu dari keluarga yang mendiami rumah di ujung paling barat, sebut saja namanya Durjana, adalah penyebabnya. Dia datang dari luar kampung dan sebagai pendatang dia dengan lancang mengungkit kembali kepemilikan tanah yang sudah dijual leluhur istrinya berpuluh-puluh tahun yang lalu. Sebuah perkara konyol penyebab perkampungan yang sebelumnya damai kini berubah mencekam bak tak memiliki tali persaudaraan.
Si empunya tanah pada akhirnya kalah tanpa bisa menunjukkan sertifikat. Pada masa lalu, sertifikat tanah memang tak lazim. Lazimnya hanya berdasarkan kepercayaan. Tradisi kepercayaan yang dijaga agar warga Tanian Lanjheng selalu hidup rukun.
Pemilik tanah yang kalah bersama keluarganya lalu memutuskan pindah ke kampung lain untuk memulai hidup baru. Meninggalkan rumah beserta jejak dan kenangan yang terkandung. Sementara, si Durjana tersenyum bangga sambil menggenggam sertifikat tanah yang baru saja dia urus di notaris.
Si Durjana akhirnya menjadi aib bagi kelurga istrinya. Namun, sang istri yang sudah kadung cinta mati membela suaminya mati-matian, mengatakan bahwa kelakuan suaminya itu benar dan layak.
Ayah dan ibu mertuanya merasa malu. Tak sanggup keluar rumah bertemu dengan para tetangga. Tidak punya muka. Kelakuan si Durjana juga mengundang amuk warga yang sejatinya masih memiliki pertalian saudara satu sama lain. Untuk menghukum si Durjana, tembok itu dibangun agar saat berangkat atau pulang kerja, dia harus berjalan memutar.
Langgar yang sejak semula tak hanya menjadi tempat ibadah, tapi juga tempat musyawarah warga pun kini sepi. Warga tak mau menginjakkan kaki di langgar yang dibangun mertua si Durjana. Hukuman yang sama berlaku bagi istri dan seluruh anggota kelurganya. Mereka terasing dari kehidupan sosial.
***
Tembok itu masih berdiri tanpa tanda-tanda rapuh sedikit pun, seakan tak mengerti keadaan yang semakin memanas di antara warga. Si Durjana tetap dengan pendiriannya.
Matanya berubah biru apabila bersangkutan dengan uang. Kerakusannya tak pandang bulu. Pernah strategi serupa dilakukan pada keluarga di ujung timur Tanian Lanjheng, namun gagal sebab keluarga itu sudah memiliki sertifikat tanah yang mereka tempati.
Entah apa salah warga di tempat itu sehingga kedatangan manusia serupa wabah yang perlahan mengganggu ketenteraman. Bisa dipastikan semua warga, termasuk keluarga mertua, membenci si Durjana. Tentu saja, terkecuali sang istri yang sepertinya terkena jampi-jampi.
***
Saat malam purnama pada pertengahan bulan, warga Tanian Lanjheng tiba-tiba digegerkan dengan kabar adanya teror hantu di desa sebelah. Kabarnya hantu itu persis seperti Grandong, anak buah Mak Lampir, yang sedang tayang di layar kaca.
Tak hanya menakuti, kabarnya Grandong tersebut telah menelan korban dua warga desa sebelah yang keluar malam untuk buang hajat di sungai. Kabar ini membuat penduduk Tanian Lanjheng menjadi takut keluar rumah saat matahari tenggelam, bahkan untuk buang air besar. Semulas apapun perut itu, mereka rela menahan dan menunggu hingga matahari terbit.
Tiga hari lamanya warga Tanian Lanjheng mengalami suasana mencekam. Pada hari keempat, saat ayam berkokok menyambut matahari yang mulai menyingsing, suasana justru menjadi jauh lebih mencekam dibandingkan semalam.
Si Durjana ditemukan tewas dengan luka koyak seolah baru saja dikunyah di mulut buaya. Kaki kanannya terpisah sedangkan lengannya masih menyambung dengan badan, terikat pada sedikit daging yang masih melekat. Wajahnya terluka parah, tidak mampu diidentifikasi lagi. Darah membasahi rumput liar di sekitarnya. Sepertinya dia terbunuh semalam.
Mayatnya ditemukan Pak Dulla yang sedang membersihkan makam leluhur di bukit belakang.
“Kau pembunuhnya!” kata istri si Durjana sambil menuding wajah Pak Dulla.
Pak Dulla saat itu memang sedang memegang sebilah celurit. Pak Dulla membela diri. Dia menggunakan celurit di genggamannya untuk membersihkan rumput liar yang tumbuh di atas pusara.
Namun, warga mendukung Pak Dulla. Bukan karena sentimen kebencian terhadap si Durjana, melainkan luka pada mayat si Durjana tak seperti sabetan celurit atau benda tajam lainnya. Itu jelas terkaman hewan buas.
“Dia dimakam Gerandong,” teriak seorang warga dari arah belakang.
Warga pun mulai kasak-kusuk sambil ketakutan, istri si Durjana hanya bisa menangis, berteriak histeris, hingga jatuh pingsan. Dia pun dipapah pulang ke rumah.
Jenazah si Durjana dievakuasi warga untuk dimandikan. Walau Durjana ibarat rayap yang menggerogoti kedamaian di kampung, namun warga punya kewajiban Rukun Kifayah untuk memandikan, menyalati, dan mengubur jasadnya.
Hanya segelintir warga yang datang untuk tahlilan. Beberapa dari mereka enggan mendoakan si Durjana. Yang lain memilih menetap di rumah masing-masing karena takut diterkam Gerandong.
Yang datang ke tahlilan juga kasak-kusuk mengenai kematian si Durjana. Terngiang kembali jasad yang tak utuh dan luka yang tak masuk akal. Membayangkan hal itu, warga yang datang tahlilan jadi tak berselera makan. Sajian nasi dengan kuah daging masak kuning di piring utuh, tak tersentuh hingga dibawa kembali ke dapur.
Hanya ibu mertua si Durjana bersama satu warga yang memasak di dapur. Para wanita enggan memasak untuk tahlilan si Durjana. Tampaknya kebencian warga belum hilang kendati saat ini mungkin Durjana sedang menghadapi sidang di alam kubur. Benci selalu terkenang walau raga telah terkubur dalam liang lahat.
Sang istri yang sempat hilang kesadaran masih mendekam di kamar dengan tubuh lemas dan hati yang terus tersayat. Dia seperti kehilangan separuh hidupnya. Sampai hari ketujuh tahlilan, dia tetap saja termenung seperti kehilangan gairah hidup.
Pada hari setelah malam ketujuh, entah kenapa keadaan istri Durjana membaik. Senyum ceria mulai terlukis lagi di pipinya. Rasa kehilangan tak lagi dirasakan. Jampi-jampi si Durjana sekarang ikut terkubur bersama tuannya.
Pagi itu dia bergegas menuju sungai untuk mencuci pakaian. Air sungai sangat jernih dan dingin sebab semalam tak turun hujan. Sebuah ember besar berisi pakaian kotor dia letakkan di atas kepala. Berjalan melalui jalan setapak dan menuruni sebuah jurang yang tak terlalu dalam untuk sampai di sungai.
Cucian hari ini cukup banyak. Sudah seminggu perempuan itu tidak mencuci. Mula-mula satu per satu lembar pakaian ia basahi, setelah itu dioles dengan sabun colek. Hidungnya kembang-kempis mencium aroma lemon sabun.
Pakaian lalu dikucek-kucek hingga berbusa dan merata. Dibilas sampai bersih dan sebelum dimasukkan kembali ke ember, pakaian diperas terlebih dahulu supaya air tak banyak menggenang.
Proses mencuci pakaian pagi ini begitu dia nikmati. Seakan terbebas dari sebuah beban yang selama ini membuat tengkuk lehernya sakit. Batu besar itu telah pergi dari pundaknya. Alam juga seakan ikut bergembira dengan kicauan burung dan sinar matahari yang bersinar lembut dari celah janur kelapa.
Seusai mencuci dan memeras semua baju, perempuan itu lalu mengeluarkan sebilah celurit warisan dari kakeknya. Senjata khas Madura itu penuh darah dan ada sedikit potongan daging serta rambut yang mengerin – seperti berhari-hari tak dicuci setelah digunakan untuk mencabik daging hewan atau daging manusia.
Perempuan tersebut lalu menggosok celurit itu berulang kali agar tak tersisa noda. Sesekali dia terdengar bergumam atau lebih tepatnya berdendang. Senyum kecil tapi puas terukir manis di pipinya. Menguapkan sebuah rahasia layaknya embun yang menguap oleh sinar pagi sang surya. ***
.
Catatan:
Tanian Lanjheng: Halaman panjang, bentuk perkampungan khas masyarakat Madura.
.
.