Kasus Kucing

Cerpen Bagus Dwi Hananto (Koran Tempo, 14 Juni 2025)

AKU baru saja keluar dari izakaya yang kerap kusambangi bersama teman-teman kantor. Kami berpisah jalan di muka kedai. Namun, lantaran kebetulan sedang di sini, aku sekalian mau menyapa seekor kucing.

Beberapa langkah dari kedai aku mendapati si kucing yang hendak kusapa. Masih sebagaimana biasa.

“Tuan Gembul memang selalu di sinikah?”

Dan seperti biasa kucing yang duduk di atas pagar rumah orang itu memasang tampang serius dan tak menggubris ucapanku.

“Kenapa sendirian malam-malam begini? Tidak bersama yang lain?” tanyaku. Memang, kucing yang selalu kusapa ini tidak pernah kudapati bersama kucing-kucing lain. Dan anehnya di sekitar jalan tersebut tak pernah kutemui ada kucing lain selain ia.

“Kamu sebenarnya sedang menunggu sesuatu?” aku berusaha mengelus lehernya, tetapi ia mengelak. Sekali ia mengeong dan kembali berdiam.

“Tahu tidak, kemarin aku kena damprat atasan yang paling galak! Dibilangnya aku tidak becus kerja. Dia sendiri padahal yang kerjanya tidak becus. Dasar bau! Sudah tujuh tahun aku mengabdi buat membesarkan perusahaan. Sedangkan dia baru diangkat enam bulan lalu. Aku seniornya, masak dimarahi di depan teman-temanku! Bagaimana menurutmu, Tuan Gembul?”

Tidak ada jawaban tentu saja. Sebentar kemudian aku melanjutkan mencurahkan isi hatiku. Sehabis merasa lega, aku lantas beranjak meninggalkan Tuan Gembul. Aku berjalan ke stasiun dan menunggu kedatangan kereta. Setengah jam kemudian kereta tiba.

***

“KENAPA tempo hari aku tidak diajak minum-minum? Aku kan juga kawan kalian?”

Kami semua tersentak. Hantu berbisik di belakang kami. Nada bicara Kawahara si Hantu selalu pelan. Kelewat pelan. Padahal dia di divisi pemasaran. Selama bekerja bersamanya bertahun-tahun, aku senantiasa bertanya-tanya bagaimana dia bisa dilabeli sebagai pekerja paling andal. Sebab suaranya begitu lirih sampai-sampai tidak akan bisa membangunkan orang yang tidurnya kurang lelap sekalipun. Daya suaranya tak lebih dari satu oktaf. Suara yang dia hasilkan terdengar hanya sebagai bisikan.

“Kamu tidak ada di mana-mana, dicari-cari juga tidak ketemu. Kamu pasti pulang lebih dulu dari kami, ya kan, ya?” ujar Aizaki.

Kebiasaan Aizaki menambahkan pernyataan penegas di akhir kalimat membuat kami merasa harus menanggapi cepat-cepat.

“Tidak. Aku menunggu di kantin,” lirih Hantu.

“Buat apa di kantin sendiri malam-malam?”

Aizaki lantas menoleh ke arahku.

“Oh iya, kemarin dulu aku menonton Hirayama-san asyik bercengkrama dengan seekor kucing. Apa sudah musimnya pekerja kantoran melimpahkan masalah dengan curhat ke kucing? Tidak harus begitu, ya, kan?”

Aku cuma menyengir kuda sambil menggaruk belakang kepala.

“Kan ada aku dan Makoto bisa kamu ajak ke izakaya. Kita mabuk sama-sama dan melupakan pekerjaan, benar, kan?”

“Hei, jangan lupakan aku, dong!” sela Hantu. Kami pun tertawa.

Pintu lift terbuka dan kami mendapati Makoto masuk bersama beberapa pegawai divisi lain.

“Nanti malam bagaimana? Kita kumpul di muka gedung, kan ya?”

Makoto mengangguk sambil memperlihatkan jam. “Setengah sembilan!” ujarnya lirih tapi tegas. Para penumpang lift acuh tak acuh memperhatikan kami berempat.

***

KUTEGUK minumanku dan sesekali kukupas aneka kacang yang tertebar di atas piring. Televisi sedang menyiarkan pertandingan sepak bola tim Jepang melawan negara antah berantah yang tak pernah kutahu pernah ada. Dari sekitarku terdengar pelbagai suara para pekerja kantoran. Nyaris seluruhnya tidak ada yang sedang bahagia. Bukan bermaksud menguping, hanya saja telingaku menangkap jelas suara-suara mereka.

“Ah, aku sudah lama tidak pulang seawal ini. Aku juga sudah lama tidak mengajak istriku pergi jalan-jalan. Dan akhir-akhir ini aku mendapati dia asyik mematut di muka cermin. Jadi sering dandan dan pergi. Telepon genggamnya pun dikunci dan aku tidak diperbolehkan mengintipnya barang sejenak. Yah, mungkin dia selingkuh, tapi mau bagaimana lagi…”

“Masalahmu tidak lebih berat dari masalahku. Sudah sebulan suamiku kabur entah ke mana. Aku sendirian menafkahi tiga anak kami yang masih kecil-kecil. Lelaki memang suka seenaknya.”

“Tidak semua lelaki begitu, senpai!”

“Memang. Tapi banyak. Ini pengalaman pertamaku dan kalau dia tidak segera balik, aku berpikir akan melayangkan surat cerai!”

Memang, pekerja kantoran seperti kami sering berhadap-hadapan dengan setumpuk persoalan hidup. Persoalan di kantor pada akhirnya merambat ke persoalan pribadi dan berbaur menjadi gundukan persoalan. Nah, betah-betahlah seseorang menghadapi. Termasuk juga diriku dan teman-temanku. Jika tidak begitu, kami sudah lama longgar dan jadi sinting.

Aizaki mengangkat tangan di muka konter kedai. “Paman, saya pesan yakitori dan tambah minuman!”

Paman pengelola kedai mengiyakan dengan semangat.

“Hantu, kamu tidak nambah?” tanya Makoto yang duduk di sebelahku.

Hantu menjawab lirih, minum itu pelan-pelan saja. Bir di gelasnya masih tersisa setengah.

“Kamu memang hantu, Hantu! Minummu lama sekali seperti siput mengunyah daun tomat!”

Kuping Hantu memerah. Dia menenggak habis bir yang tersisa. Lantas dia meminta bir lagi ke paman pengelola kedai.

“Kalau kamu, Makoto, kamu itu sering kali tidak berperasaan ke orang-orang. Kamu sedingin mentimun!” balas Hantu.

Kami semua tergelak.

Puas minum-minum, kami lalu membayar dan keluar dari kedai untuk kemudian berpisah pulang ke tempat masing-masing. Karena masih tersisa banyak waktu sebelum kereta terakhir, aku menyempatkan menyapa Tuan Gembul.

“Halo, Tuan Gembul! Selamat malam!”

Kucing itu masih saja bergeming sembari menatap rembulan. Dan posisinya tetap sama di atas pagar rumah orang seperti biasa. Namun, tak berapa jenak kemudian, ia beralih menatapku lurus-lurus dengan bola matanya nan terang. Tiba-tiba ia turun dari atas pagar dan, dengan dua kaki belakang, berdiri menghampiriku.

“Hirayama, ada rokok?” ucapnya.

Aku tidak salah dengar, ia memang bicara denganku. Mungkin lima gelas bir mampu menghasilkan fantasi seliar ini. Kucing yang biasa kuajak bicara kini membalas omonganku.

Kurogoh saku jasku dan kualihkan sebatang Marlboro ke Tuan Gembul. Sekalian juga kuhidupkan rokok itu. Dengan pose enteng ia bersiromok di bawah pagar rumah. Aku mendekatinya dan ikut duduk tanpa memikirkan celanaku bakal kotor.

“Kemarin aku menunggumu datang. Tapi kamu tidak datang. Boleh jadi masalah-masalahmu sudah kelar, Hirayama?”

Tuan Gembul mengembuskan asap rokok. Aku pun ikut menyalakan sebatang rokok. Sudah jauh malam, orang sudah sedikit sekali yang lewat dan sebagian besar toko tutup. Merokok bersama seekor kucing yang bisa bicara adalah kesempatan langka.

Aku menghela napas. Asap rokok keluar dari mulutku setelah beberapa detik kuperam dalam mulut.

“Kemarin sayangnya aku sedang lembur dikejar target, Tuan. Baru sekarang aku punya kesempatan menemuimu, dan kita duduk bareng sembari mengisap rokok. Sungguh kejadian menakjubkan.”

Memang, mau tak mau aku merasa ajaib. Mungkin ini sekadar mimpi yang mendarat di benakku. Boleh jadi aku yang sebenarnya sedang terkapar di pinggir jalan menuju stasiun. Di tengah malam dalam perjalanan pulang ke apartemen. Tapi sifat mimpi biasanya tak terdengar kata-kata, sekadar dirasakan. Seumpama kita menonton adegan di mana ada diri kita di sana serta mengalami sesuatu. Tak ada kata-kata sejelas yang kudengar kali ini, terasa begitu aktual. Mau tak mau aku harus melanjutkannya.

Jemari lembut terselubung bulu Tuan Gembul dengan enteng mengapit sebatang rokok yang nikmat ia sesap. Nada bicaranya dalam dan menggema. Kalau ada kesempatan seperti ini lagi aku ingin mengajak Hantu ikut bercengkrama bersamanya.

“Yah, mau bagaimanapun aku senang bertemu denganmu, Hirayama. Kamu orang yang lumayan menyenangkan. Kamu sering mengajakku ngobrol ke sana kemari. Meski aku tidak membalas omonganmu, patut kamu tahu, aku senang menyimak apa-apa yang kamu lontarkan. Memang persoalan manusia dan kucing jauh berbeda. Manusia dengan masalah-masalahnya dan ada kadarnya sendiri; begitu pula dengan kucing. Kebiasaanku menunggu sendirian malam-malam juga karena ada masalah. Meski kalau kuceritakan aku tidak yakin betul apa bisa kamu sebut masalahku itu sebagai masalah. Sebab, di balik tadi, masalah-masalah kita berbeda,” terang Tuan Gembul. Ia kini mengubah posisi tubuhnya.

Mau tidak mau aku penasaran. “Sudikah kamu bercerita kepadaku, Tuan?”

Tuan Gembul menggeram. Ia lantas mematikan rokok. “Boleh jadi tidak bisa disebut masalah kalau bagi manusia. Masih berkenan mendengar masalahku?”

“Dengan senang hati akan kudengar baik-baik.”

“Hmm… Bagaimana mesti kusebut? Ini seperti menyalahi aturan dunia,” kata Tuan Gembul.

“Aturan dunia yang bagaimana? Apa masalah Tuan sampai-sampai merasa masalah tersebut menyalahi aturan dunia?”

Ia menjilati kaki depan lalu mengusap-usap mukanya. Setelah itu ia menatapku dengan serius.

“Aku sebenarnya suka dengan seorang perempuan,” jelasnya.

Aku sontak memberinya selamat. “Wah, tentang kehidupan asmaramu?”

Tuan Gembul meregangkan badannya yang besar dan kali ini kembali dengan pose tubuh kucing pada umumnya.

“Bukan dengan jenisku sesama kucing, melainkan manusia,” ungkapnya.

Aku asal menanggapi. “Oh, kamu senang dengan seorang perempuan yang sudah merawatmu?”

Tuan Gembul mengeong. Suara yang terasa seperti mengelak dari pertanyaanku.

“Hirayama, kamu kurang paham atau pura-pura bloon? Maksudku aku jatuh hati dengan manusia wanita.”

Aku bersendawa sebentar. “Oh, begitu. Lantas apa dia tahu kamu jatuh hati kepadanya?”

“Ck-ck…, kamu tidak paham. Inilah inti masalah. Mendengar respons darimu berarti kamu tidak merasa kalau masalah yang kuhadapi adalah masalah. Benar tidak?”

Aku menggeleng. Kufokuskan tatapanku kepada Tuan Gembul. Lurus-lurus aku menatapnya dan memindai sosoknya dalam kesadaranku.

“Bukan begitu. Bagaimana ya, aku tidak tahu harus menanggapi bagaimana pada masalahmu.”

Raut muka Tuan Gembul terlihat marah. Tapi bagaimana ekspresi kucing yang sedang marah selama ini. Aku belum yakin.

“Huh, tahu begini tidak usah kuungkapkan tadi!”

Aku tertawa. Kudekati Tuan Gembul dan kunaikkan ia dalam pangkuanku.

“Oke, aku akan setia menyimak kisahmu. Beri tahu aku siapakah perempuan yang telah menaklukkan hatimu?”

Dengan kaki lembutnya Tuan Gembul menunjuk ke suatu arah. “Penjaga malam minimarket sebelah sana.”

Kulayangkan tatapanku ke kejauhan. Dari sana ada sebuah minimarket dengan identitas dalam lampu timbul yang begitu mencolok di atas bangunannya. Terparkir sejumlah mobil dan dua buah sepeda di muka minimarket. Mabukku mulai mereda. Aku dapat melihat dengan jelas.

“Jadi kamu biasa ke sana, dan sekarang kamu yang sedang dilanda asmara duduk berdiam di atas pagar rumah orang? Memangnya kamu sudah mencoba untuk mendekatinya?” tanyaku.

“Beberapa kali sudah kulakukan pendekatan, tetapi percuma.”

“Percuma?”

Tuan Gembul mengeong beberapa kali. Dari nadanya terasa kepedihan yang ia alami.

“Sebab, aku hanya dianggap ingin minta makan. Terakhir dia memberiku ikan kalengan.”

Aku tertawa lepas. Sebenarnya ada peraturan tak tertulis yang melarang orang memberi makan kucing sembarangan.

“Ini bukan hal yang harus ditertawakan!” Tuan Gembul mendongak dan menoleh ke arahku sambil mencakar-cakar jasku.

“Aku mohon maaf.”

Tuan Gembul lantas turun dari pangkuanku. “Ah, sepertinya masalah ini memang tidak dapat dianggap masalah untukmu, Hirayama. Aku harus berusaha sendiri menyelesaikan masalahku.”

Aku menggeleng. “Bukan begitu, Tuan. Aku senang sekaligus terharu mendengar persoalanmu. Dan apabila kamu butuh bantuan, aku siap membantu kapan saja. Oh, maksudnya kalau aku sudah pulang kerja malam-malam seperti sekarang. Ada waktu, aku bantu kamu. Tenang.”

Tuan Gembul mengeong.

“Huh, kalau begitu, kapan-kapan aku akan memintamu untuk membantuku. Hari sudah kelewat malam, aku harus pulang ke majikanku. Dia bocah yang selalu menangis kalau aku tidak ada di rumah. Aku sudah sering menyusahkannya. Kalau pagi-pagi aku tidak ada sebelum dia berangkat menuju TK, dia tidak akan bersemangat memulai hari. Nah, sampai sini dulu!”

Tuan Gembul mengangkat satu kaki depan kemudian beranjak pergi sebelum aku sempat menyahut. Aku melambaikan tangan dan ia membelakangiku tanpa menoleh sekali pun.

***

HANTU menampar-nampar mukaku pelan. Aku tersadar dan dia menyodorkan sebotol air mineral.

“Sebagai kawan baik, aku mendapatimu tidur sembarangan. Nah, bangunlah, sebentar lagi keretamu datang!” Suara pelan Hantu masih belum kucerna sepenuhnya.

“Ini di mana?” tanyaku.

“Ke arah stasiun. Kamu tidur di sini sudah berapa lama? Nanti kamu masuk angin.” Hantu menarik lenganku dan aku berusaha bangkit berdiri.

“Terima kasih.”

“Sebagai teman, aku memang bisa diandalkan, ha-ha-ha….” Dia mendengus sembari memuji diri sendiri.

Berarti mimpi yang begitu nyata tadi benar-benar mimpi.

Kami melangkah ke stasiun dan menunggu kereta terakhir. Sisa percakapan dengan Tuan Gembul masih terasa nyata di ujung benakku.

Aku sampai apartemen dan sehabis menggosok gigi. Kulepas dasi dan jas lantas, tanpa berganti baju,  kuempaskan tubuhku ke atas futon yang sudah kugelar.

***

KUPERIKSA jam beker. Pukul 07.15. Aku mencuci muka dan menjerang air untuk minum kopi. Kepalaku masih nyeri sedikit. Tidurku amat nyenyak walaupun singkat. Aku bersiap-siap berangkat kerja.

Di siang hari pada jam makan, aku berencana mengajak Hantu untuk makan dan sedikit minum di izakaya pada akhir pekan. Hantu kebetulan sedang tidak ada di ruangannya. Kata kawan sedivisinya, dia sedang keluar bersama atasan. Kuurungkan niat mengajak Hantu kalau demikian.

Sebenarnya aku mau mengajak Aizaki dan Makoto, tapi dipikir-pikir lebih baik aku libur minum-minum.

Malam harinya, setelah kerja usai, aku teringat mimpi kemarin. Lantas aku sengaja berjalan memutar dengan lebih dulu melewati minimarket yang diceritakan Tuan Gembul dalam mimpiku. Muka bangunannya serupa dengan mimpi kemarin. Lantaran penasaran, aku kemudian masuk dan iseng membeli bento dan teh hangat untuk bekal di dalam kereta.

Begitu kukuak pintu bening minimarket, dari dalam terdengar sapaan sarat semangat dari pegawainya.

“Irasshaimase!”

Otomatis pandanganku tertuju pada pegawai yang menyapaku dari balik bilik kasir.

Dia perempuan cantik kisaran usia 30-an sepantaranku. Mungkinkah perempuan ini yang ditaksir Tuan Gembul?

Kuedarkan pandangan ke rak-rak sarat makanan dan minuman yang tersusun rapi. Tivi besar menampilkan pelbagai iklan dan terdengar alunan musik lembut. Sehabis memilih paket nasi dan mengambil minuman, aku beranjak menuju kasir.

Sesekali perempuan di depanku membetulkan letak kacamatanya.

Karena sudah tidak tahan, aku pun melontarkan pertanyaan kepadanya. “Anu, maaf, mau tanya, apakah akhir-akhir ini ada seekor kucing berkunjung malam-malam kemari?”

Air muka perempuan itu berubah cerah. “Benar, tubuhnya bulat besar dan karena gemas saya kasih makan di beberapa kesempatan kalau sedang jaga. Saya pun membayar makanan-makanan itu.”

Kucermati nama yang tersemat di seragamnya. “Kucing itu milik nenek saya, terima kasih… Naganuma-san?”

Perempuan itu mengangguk dan terlihat berpikir sebentar.

“Kok, dilepas malam-malam? Apa nenek Anda sengaja melepasnya? Atau beliau membawa kucing jalan-jalan ke sekitar sini malam-malam? Oh, itu tidak mungkin, kan.”

Aku justru bingung sendiri setelah mengungkap cerita dari Tuan Gembul. “Beberapa kali ia kabur dari rumah. Ada tetangga bilang ia kerap kemari.”

“Oh, begitu,” sahutnya.

Selesai memindai kode batang dari makanan dan minuman yang kupesan, dia lalu membungkusnya dengan ecobag. Aku sempat menawari mengganti uang makanan dari Tuan Gembul, tetapi perempuan itu menolak.

Aku tidak segera pulang. Kusempatkan mengunjungi rumah yang biasa ditunggui Tuan Gembul. Mimpi yang kualami boleh jadi bukan mimpi. Sebab Tuan Gembul yang datang ke minimarket malam hari adalah sesuatu yang nyata. Aku ingin menemuinya guna memastikan bahwa yang kemarin benar-benar terjadi. Kenyataan kami asyik bercengkrama dan berbagi rokok.

Namun Tuan Gembul tidak ada di situ. Tidak tampak si kucing gemuk yang biasa bergeming di atas pagar rumah. Hari berikutnya pun sama. Aku berusaha sampai sepekan mengunjungi kawan curhatku, tapi tak menuai hasil.

Sewaktu aku menunggu di minimarket tempat perempuan pujaan Tuan Gembul, ia juga tidak kelihatan batang hidungnya. Kupikir, dengan menunggu di sekitar minimarket, ia akan muncul tiba-tiba Tapi tidak. Ia sudah tidak berkeliaran di sekitar sini.

Aku dan Naganuma-san mulai akrab setelah kami beberapa kali bertemu dan berbincang singkat. Sekali waktu dia bertanya soal Tuan Gembul dan nenekku. Tapi aku masih berbohong kepadanya dan bilang bahwa keduanya baik-baik saja. Kucing yang menggubris sapaanku lalu mengajakku mengobrol pada beberapa malam tidak lagi bisa kutemui, tidak lagi ada di mana pun. Sedangkan nenekku sudah meninggal dunia enam tahun lalu. ***

.

.

Januari, 2025

Bagus Dwi Hananto adalah seorang penulis. Ia tinggal di Kudus, Jawa Tengah. Cerpen-cerpennya tersiar di sejumlah media massa.

.
.
Kasus Kucing. Kasus Kucing. Kasus Kucing. Kasus Kucing. Kasus Kucing. Kasus Kucing. Kasus Kucing. Kasus Kucing. Kasus Kucing. Kasus Kucing. Kasus Kucing. Kasus Kucing. Kasus Kucing. Kasus Kucing. Kasus Kucing. Kasus Kucing. Kasus Kucing. Kasus Kucing. Kasus Kucing. Kasus Kucing. Kasus Kucing.
Arsip Cerpen di Indonesia