Kesaksian Pemuda M dalam Pembantaian Soma Bren

Cerpen Juli Prasetya (Koran Tempo, 28 Juni 2025)

AKU tahu kalian semua membenciku, menyimpan dendam tujuh turunan kepadaku. Tapi aku bersedia menerima itu semua, menanggung itu semua, karena yang kulakukan itu adalah atas nama cinta. Cinta yang murni dan tulus, cinta seorang pemuda kepada gadis pujaan hatinya. Biarlah sejarah menuliskan semua ketololanku, dan pengkhianatanku kepada bangsa ini. Tapi sekali lagi kukatakan kepada kalian, semua itu kulakukan atas nama cinta.

Di Pengadilan Militer, aku berkali-kali meminta maaf kepada majelis hakim, kepada Mr Van Der Ent, Mr Franken, dan segenap pasukan yang ikut serta dalam operasi berdarah pada malam Agustus 1949 di halaman rumah Somadiharja itu. Aku siap dijatuhi hukuman apapun, bahkan hukuman mati sekalipun. Karena memang itu semua adalah kesalahanku, kengawuranku, kebencianku, dendamku, terlebih semua tragedi itu terjadi karena kecemburuanku yang membabi buta. Tapi nyatanya, aku masih dilindungi, dan hukuman mati tak pernah singgah di dalam garis hidupku.

Aku Pemuda M, begitulah catatan-catatan Belanda menamaiku. Mungkin itu semacam nama kode agen rahasia yang diberikan kepadaku. Tapi mungkin juga pihak Belanda ingin menyimpan dan menghapus kekejian dan kekejamannya di masa lalu, dengan merahasiakan semua yang terlibat. Termasuk aku, agen mata-mata kesayangan mereka.

Akulah si Pemuda M itu, yang kalian kutuk sebagai intel goblok, labil, pencemburu, dan penuh dendam. Ya kalian tidak salah mengutuki dan menjulukiku seperti itu. Tapi yang jadi masalah adalah kalian menyalahkan alasanku melakukan laporan palsu itu.

Memang benar aku menyesal karena aku tidak menyangka bahwa laporan ngawurku itu akan membunuh puluhan nyawa tak berdosa dalam semalam. Aku juga tidak tahu jika penyerbuan itu akan berjalan begitu keji dan penuh genangan darah, seharusnya aku berpikir ulang sebelum membuat laporan itu. Tapi mau bagaimana lagi, nasi sudah menjadi bubur. Ya mungkin benar seorang intel seharusnya dapat berpikir cerdas dan cerdik. Tapi harus kalian ingat, meskipun aku intel, aku juga hanyalah seorang pemuda biasa yang sedang patah hati. Dan pelampiasan patah hatiku adalah dengan menghancurkan pernikahan Sopawi, si lelaki bajingan perebut kekasih orang itu.

Apakah aku salah mencintai Radiyem? Apakah ada yang salah dari mencintai seseorang? Cinta adalah anugerah dari Tuhan yang perlahan tumbuh di dalam jiwaku. Apakah cinta bisa disalahkan? Tidak. Aku melakukan ini semua demi cinta, aku rela dicap sebagai pengkhianat demi cinta. Aku siap melakukan dan menanggung segalanya demi cinta, meskipun aku harus membunuh orang lain atau aku harus membunuh diriku sendiri. Aku tidak peduli. Yang aku pedulikan adalah orang yang aku cintai dan cinta itu sendiri.

Aku seorang yatim piatu yang tak pernah merasakan kasih sayang dan kehangatan pelukan sebelumnya, aku adalah orang yang terbuang di desa ini, Gunung Simping yang dingin dan tak memiliki kehangatan sama sekali. Sebelum kemudian aku bertemu dengan Radiyem. Gadis cantik dan baik yang penuh dengan kelembutan dan kehangatan itu. Apakah aku tidak boleh mencecap sedikit saja rasa cinta di hidupku yang penuh dengan darah dan kebusukan ini? Hanya Radiyem-lah yang kemudian menjadi tujuan hidupku, menjadi teman bagi hidupku yang dingin dan sepi.

Maka menjadi mata-mata Belanda adalah satu-satunya pilihan yang paling rasional dan realistis. Karena dengan begitu aku akan mendapatkan takhta dan harta secara bersamaan. Meskipun mungkin di kemudian hari aku akan dianggap sebagai pengkhianat bangsa. Aku rela melakukannya, aku rela menanggungnya karena aku melakukan itu semua atas nama cinta, demi orang yang kucintai; Radiyem.

Maka ketika aku mendengar kabar bahwa Radiyem akan menikah dengan lelaki lain, seketika jiwa mudaku bergejolak, ada rasa cemburu di sana, ada kebencian dan dendam yang tiba-tiba berkobar di dalam dadaku. Di hidupku yang bangsat dan brengsek ini, aku hanya memiliki Radiyem, dan Sopawi lelaki keparat itu merebut Radiyem dari hidupku.

Siapa yang tak marah, benci, cemburu, dan menaruh dendam ketika seseorang yang kita cintai kemudian direbut oleh orang lain? Memang kalian tidak marah jika berada di posisiku? Aku tidak habis pikir bagaimana kalian begitu licik dan picik menyebutku sebagai pengkhianat, dan mengutukku sebagai bajingan dan bangsat. Sudah kukatakan berkali-kali aku menyesal dengan pembantaian itu, tapi aku tidak terima ketika kalian menyalahkan dan mengutuki alasanku. Ya, alasanku adalah atas dasar cinta, atas nama cinta. Dan cinta tidak bisa dipersalahkan bukan?

Aku mengenal Radiyem lebih dulu daripada Sopawi, lalu mengapa paman Radiyem si tua bangka Somadiharja itu lebih memilih Sopawi ketimbang aku? Ya, ya, aku tahu apa alasannya; karena aku mata-mata Belanda, ya apalagi memang yang menjadikan Somadiharja begitu membenciku dan pada akhirnya lebih memilih Sopawi ketimbang diriku untuk bersanding dengan Radiyem.

Memang ada yang salah menjadi seorang mata-mata, seorang intelijen, apalagi intelijen Belanda, mengapa aku dipersalahkan atas anugerah yang diberikan kepadaku itu. Silakan kalian menganggapku sebagai pengkhianat bangsa, tapi seorang intelijen juga adalah seorang manusia, yang memiliki perasaan dan cinta. Lalu apakah aku salah mencintai Radiyem? Ini tidak adil, hanya karena aku seorang mata-mata, mengapa Somadiharja bisa melakukan hal sekejam dan tak berperasaan itu kepadaku, ini benar-benar tidak adil.

Maka setelah aku mengetahui siapa Somadiharja dan siapa Sopawi sebenarnya, aku memiliki siasat untuk menghancurkan mereka semua. Somadiharja, menurut informasi yang kudapat dari informanku, adalah seorang tentara yang sering membantu memasok makanan kepada para gerilyawan, sedangkan Sopawi adalah anak buah kesayangannya. Dan dari sini aku menganalisisnya dan menemukan benang merahnya, bahwa Somadiharja dan Sopawi adalah tentara. Maka aku segera melapor kepada komandan Vander Ent untuk mengepung rumah Somadiharja pada malam resepsi pernikahan Radiyem dan Sopawi. Aku memberikan informasi bahwa ada 50 tentara yang berkumpul di kediaman si tua bangka Somadiharja pada malam resepsi.

Lalu seperti yang kalian ketahui pada malam berdarah itu, maka apa yang terjadi, terjadilah. Aku sebenarnya sama sekali tidak menyangka, bila dampak penyerbuan pada malam jahanam itu akan sebesar dan semengerikan itu. Pembantaian yang dilakukan oleh 20 pasukan Belanda bersenjata lengkap terhadap 400 orang yang sedang menonton pentas wayang pada malam resepsi di halaman rumah Somadiharja.

Penyerbuan itu mengakibatkan sebanyak 26 orang tak berdosa terdiri dari 14 perempuan dan 12 lelaki tewas sia-sia dengan tubuh tertembus peluru, halaman rumah Somadiharja seketika berubah menjadi genangan darah dalam hitungan menit. Lalu sisanya mengalami luka-luka dan memanggul trauma yang akan mereka bawa di sepanjang sisa hidupnya.

Kalian jangan bertanya kepadaku, apa yang aku alami setelahnya, aku diseret ke pengadilan militer dituduh sebagai penjahat perang karena memberikan informasi palsu dan tidak bertanggung jawab. Tapi toh pengadilan perang Belanda juga tetap membebaskanku, dan membebaskan semua orang yang ikut terlibat dalam pembantaian itu. Pembantaian itu pada akhirnya hanya dianggap sebagai suatu ketaksengajaan, sebagai angin lalu.

Bertahun-tahun setelah kejadian itu, aku tak pernah melihat lagi keluarga Somadiharja. Itu artinya aku tak akan pernah bertemu kembali dengan Radiyem, kekasih hatiku. Dan setelah bertahun-tahun penyerahan kedaulatan republik ini dari pihak Belanda. Aku terus melanjutkan hidup dengan menggembol rasa bersalah seumur hidup, dan penyesalan yang tak habis-habis. Aku akan membawa semua rasa bersalah, penyesalan, dan cintaku kepada Radiyem ke liang kuburku sendiri. Lalu memendam semuanya bersama jasadku, sebelum kemudian membusuk dan terurai di dalam tanah, menjadi renik dan hilang terhapus bersama sejarah. ***

.

.

Purbadana, Desember 2024

Juli Prasetya adalah penulis asal Banyumas, Jawa Tengah. Sekarang sedang berproses di Bengkel Idiotlogis asuhan Cepung.

.
.
Kesaksian Pemuda M dalam Pembantaian Soma Bren. Kesaksian Pemuda M dalam Pembantaian Soma Bren. Kesaksian Pemuda M dalam Pembantaian Soma Bren. Kesaksian Pemuda M dalam Pembantaian Soma Bren.
Arsip Cerpen di Indonesia