Cerpen Kiki Sulistyo (Koran Tempo, 05 Juli 2025)
PENYIAR sedang membahas Wallace Chambers—dalam acara peringatan hari independen—ketika suara radio tiba-tiba padam. Azzam yang duduk berayun-ayun di kursi goyang membuka mata. Ia menengok ke arah radio, lalu ke arah Habsyi yang tidur telungkup di lantai. Saat petugas dari kantor pusat datang tiga bulan sebelumnya untuk mengantar kebutuhan, Habsyi luput memberi tahu bahwa mereka membutuhkan baterai untuk radio. Sekarang bulan Februari—saat-saat badai menghambur dari arah matahari terbenam—dan petugas tak mungkin datang dalam waktu dekat.
Dengan berat Azzam mengangkat tubuh dari cekungan kursi goyang. Ia terhuyung-huyung, nyaris jatuh menimpa meja marmer, untung tangannya masih cukup kuat menahan tubuhnya. Ia menatap jam di dinding: menjelang pukul 9 malam. Di luar, angin bersipongang, bunyi ombak merajam daratan. Selepas menghirup udara dalam-dalam, Azzam melangkah beberapa tindak, lantas dengan sekuat tenaga mengayunkan kakinya ke arah Habsyi.
Di dekat Habsyi, ada patung aluminium setinggi 28 cm berbentuk ikan pari. Patung itulah yang terkena tendangan Azzam. Bunyi gerompyang saat patung menghantam dinding tak sedikit pun menggeser tubuh Habsyi. Azzam menunggu, dan karena tak ada perubahan apa-apa, ia mengambil kembali patung itu, lalu sekali lagi menendangnya. Bunyi gerompyang kembali mengoyak udara, tapi Habsyi tetap bergeming.
Azzam mengamat-amati Habsyi. Pemuda itu seakan sudah mati. Bagian atas kakinya dirapatkan, tapi bagian bawah direnggangkan. Dua tangannya membentang ke kiri-kanan; kepalanya tak dimiringkan, sebagaimana umumnya orang yang tidur telungkup, melainkan ditegakkan dengan posisi dagu menopang kepala itu. Azzam bergeser sedikit, lalu membungkuk, memperhatikan muka Habsyi yang menghadap pintu. Sebelah mata Habsyi tak memiliki bola.
Dari arah dekat, diterangi lampu limabelas watt, Azzam dapat melihat sosok Habsyi yang terbaring mirip seekor binatang, tapi binatang apa, Azzam tak bisa memastikan. Dengan semacam keisengan, Azzam mengelus-elus kepala Habsyi yang tanpa rambut. Saat itu barulah Habsyi bergerak. Mula-mula matanya, yang cuma sebelah, terbuka lalu melalui gerakan yang nyaris tak bisa ditangkap, tiba-tiba saja ia sudah berdiri macam prajurit siaga.
“Baterai sudah tak bisa lagi memberi tenaga, cerita tentang Wallace terhenti begitu saja,” ucap Azzam. Habsyi lepas dari posisi siaga, bunyi angin bersipongang, bunyi ombak merajam daratan, mulai memasuki telinganya sebagai kenyataan yang mustahil ditolakkan.
Konon, Wallace Chambers adalah orang pertama yang menyalakan api pemberontakan agar provinsi itu lepas dari Republik. Wallace membujuk tokoh-tokoh politik, agama, dan masyarakat agar bersatu membangun negara sendiri. Banyak spekulasi tentang asal-usul Wallace. Seorang sejarawan partikelir menyinggung sedikit soal Wallace dalam sebuah buku tipis yang ditujukan untuk promosi pariwisata. Di antara sekian spekulasi perihal Wallace yang sebetulnya tak berbeda jauh—bahwa Wallace adalah intelijen Britania yang pada masa pecahnya Republik menyusup ke berbagai wilayah demi membuka jalan bagi kolonialisme kedua—singgungan dari sejarawan partikelir itu sangat menarik bagi Azzam.
Sang sejarawan menyebut bahwa sesungguhnya Wallace Chambers adalah seorang anak laki-laki berusia lima tahun. Bahwa kemudian nama itu mendengung di mana-mana, semata-mata hanya karena kecelakaan sejarah. Wallace, si anak lima tahun, ketinggalan pesawat ketika terjadi pemulangan besar-besaran para ekspatriat lantaran situasi Republik yang gawat. Kekacauan membuat kedua orang tuanya tak bisa melacak keberadaan Wallace. Anak itu sendiri diselamatkan oleh seorang pengarang cerita yang hidup membujang dan tinggal di sebuah dusun terbelakang di kawasan yang sekarang menjadi wilayah bangsa Al Saqi.
Sang pengarang menulis cerita tentang Wallace dengan imajinasi bahwa anak itu adalah pelintas waktu yang datang dari masa menjelang Perang Dunia II dan anak itu membocorkan masa depan dengan mengatakan bahwa Republik akan pecah menjadi negara-negara kecil disebabkan seteru di kalangan petinggi militer sudah tak bisa lagi didamaikan. Pada kenyataannya peristiwa itu memang benar-benar terjadi. Republik pecah, kemudian berdirilah Serikat Negara-Negara Indo (Habsyi menyebutnya: Satanid). Akan tetapi, serikat itu tetap dijejali perseteruan-perseteruan baru. Bangsa Al Saqi keluar karena perseteruan dengan bangsa Vali.
Meski sejarah arus utama telah teracak-acak sedemikian rupa, siapa pun yang mengamat-amati dengan teliti pasti tahu bahwa bangsa Al Saqi dan bangsa Vali sudah berseteru sejak abad ke-18, ketika secara politis wilayah yang kemudian dihuni oleh orang-orang Al Saqi masih berada di bawah kekuasaan orang-orang Vali. Cerita tentang Wallace Chambers—konon, itu nama yang dibuat oleh sang pengarang—menyebar ke mana-mana bagai virus pandemi, dan orang-orang mulai mempercayainya.
Di dunia nyata, seolah ada Wallace dewasa yang menyusup ke mana-mana untuk menyalakan api pemberontakan. Satu terbitan berkala bahkan memasang fotonya, sehingga Wallace dewasa itu tampak benar-benar nyata. Namun, bagi segelintir teoretis konspirasi, sosok dalam foto itu bukan siapa-siapa, ia nobody, satu kata yang pertama kali dipergunakan oleh pelawak kulit hitam bernama Katt Williams untuk menyindir para polisi New York karena tak sanggup memecahkan kasus pembunuhan sejumlah tokoh kritis hampir seratus tahun sebelum Republik pecah.
Azzam sering membayangkan Wallace memiliki seekor anjing, dari jenis Shih Tzu, bernama Mao dan setiap pagi ia mengajak Mao bermain-main di pantai.
“Barangkali tak ada lagi orang menjual baterai. Barangkali baterai tak diproduksi lagi,” ucap Habsyi. Ia mengusap-usap sebelah matanya yang rusak seolah dengan begitu matanya dapat berfungsi kembali. “Kau sudah mendengar berkali-kali cerita tentang Wallace. Aku, yang tidak berminat saja, sudah hafal luar kepala,” lanjutnya.
“Wallace pasti punya seekor anjing….”
“Iya. Kau juga berkali-kali mengatakan hal itu kepadaku,” Habsyi memotong. “Itu adalah caramu memulai cerita tentang putramu. Kau memperlakukan cerita itu seakan-akan ia adalah industri yang membanggakan dan berkembang pesat,” ujarnya. Ia menjeda kata-katanya, melihat air muka Azzam. “Ah, janganlah tersinggung dengan kata-kataku. Bertahun-tahun kita bekerja di tempat ini, jauh dari apapun kecuali laut, sudah tak ada lagi yang pantas membuat kita tersinggung. Barangkali kau setuju dengan kata-kataku?” lanjutnya sembari kembali mengusap-usap sebelah matanya.
Beberapa tahun sebelumnya, terjadi pertempuran kecil di sekitar menara. Sejumlah orang memasuki gili dari arah matahari terbenam, mencoba mengambil alih menara. Azzam melihat mereka dari jendela, lalu ia mengambil senapan di ruang bawah, mencari posisi tembak. Dengan seruan ia memberi peringatan, dan karena orang-orang itu terus maju, ia kemudian melepaskan tembakan. Habsyi yang sedang berada di belakang bangunan bergegas ke depan. Pelor seorang perompak mengenai tembok dan pecahannya sampai ke matanya. Namun, Habsyi tak meraung-raung. Ia pernah hampir pasti menjadi anggota pasukan khusus, kalau saja faktor latar belakang keturunan tak turut jadi pertimbangan. Dengan cekatan ia masuk, mengambil senapan, dan menembak beberapa kali. Orang-orang itu tumbang, satu peluru untuk satu orang.
Setelah memeriksa dengan teliti, mereka berdua kemudian tahu bahwa orang-orang itu bukan perompak; cuma empat nelayan lapar yang tak tahu harus melakukan apa lagi untuk mempertahankan hidup. Hanya seorang di antara mereka yang membawa senjata, itu pun dirakit asal-asalan, jenis senjata yang sering ditemukan di dusun-dusun kecil pada masa-masa awal menjelang pecahnya Republik.
Beberapa hari kemudian petugas dari kantor pusat datang, saat itu mayat para nelayan sudah membusuk, dan mata Habsyi tak bisa dikembalikan seperti semula. Sejak itu, Habsyi memandang dunia dengan sebelah mata. Ia berpikir, karena cacat matanya, ia akan dipensiunkan. Akan tetapi, berita tentang para nelayan itu beredar di dunia nyata sebagai upaya terselubung bangsa Vali untuk menganeksasi wilayah bangsa Al Saqi. Berita itu menimbulkan ketegangan. Karena itu, tak berapa lama setelah luka di matanya dianggap sembuh, Habsyi diperintahkan bekerja lagi di menara.
“Bagaimana? Barangkali kau setuju?” ulang Habsyi.
Seolah sedang mencerna kata-kata itu, Azzam mengelus-elus kepalanya sendiri.
“Tadi aku memperhatikan posisimu. Kenapa kau tidur seperti itu? Kau tampak seperti seekor binatang, tapi binatang apa, tak bisa kupastikan.”
“Dan kau, kenapa membangunkanku dengan mengelus-elus kepalaku? Barangkali kau menganggapku seekor anjing?”
“Aku membangunkanmu dengan menendang patung.”
“Menendang patung? Barangkali itu sebuah ungkapan?”
“Baru saja kau berkata bahwa tak ada lagi yang pantas membuat kita tersinggung, tapi nada suaramu seperti orang tersinggung.”
Habsyi kembali mengusap-usap matanya yang rusak. “Barangkali sudah waktunya kita turun. Ayo,” ucapnya kemudian. Habsyi menghampiri lemari pendingin, mengambil dua botol brem, menyerahkan sebotol kepada Azzam, lalu melangkah turun melalui pintu. Sesaat kemudian kamar itu sudah ditinggalkan; kamar jaga sebuah menara yang tegak di gili seluas 340 hektare, yang pada masa Republik ramai dikunjungi wisatawan. Ada tiga gili di kawasan itu, dan gili tempat menara berdiri terletak paling dekat dengan wilayah bangsa Vali. Apabila orang menghadap arah matahari terbenam, akan tampak Gunung Luhur yang menjadi pusat kosmologi bangsa Vali, sementara jika orang menghadap arah matahari terbit akan tampak Gunung Badar yang menjadi pusat kosmologi bangsa Al Saqi. Sekarang, gili paling ujung itu menjadi kawasan sengketa kedua bangsa.
Azzam dan Habsyi menuruni tangga spiral. Sebagai orang yang lebih muda dari rekannya, Habsyi menyilakan Azzam melangkah duluan. Di tengah perjalanan turun, setelah dengan geli menyaksikan rekannya tertatih-tatih, Habsyi berkata: “Barangkali, kalau ada orang melihat, kita akan tampak seperti astronaut yang turun dari pesawat.”
“He he he. Dulu ada orang bernama Elon Musk yang gemar mengajak orang-orang terkenal naik pesawat luar angkasa untuk melihat bumi dari atas sana.”
“Ya, aku pernah mendengar soal orang itu. Ada yang percaya bahwa dia sebetulnya bukan orang, tapi robot. Barangkali dia seorang pejabat Republik, sebab di masa itu, semua pejabat Republik tampak seperti robot,” ujar Habsyi.
“Kau juga seperti robot. Kenapa kau selalu menggunakan kata “barangkali”?”
Sesampai di bawah mereka duduk di bangku panjang depan beranda menara yang terbuat dari batu. Keduanya menghadap lautan, bentangan nirkala yang terus bergerak pasang naik pasang surut selama-lamanya; hamparan kuno yang semenjak waktu yang tak tepermanai telah mengubur jutaan rahasia. Angin kencang menghantam tubuh mereka, menderu-deru bagai napas binatang mahabesar yang terengah-engah menanggung beban dunia.
Azzam dan Habsyi berdiam-diam, menenggak brem, fermentasi ketan dengan sekitar 25% alkohol, langsung dari botolnya.
“Kau memang tidak berminat dengan cerita-cerita tentang Wallace. Tapi kau juga bilang bahwa kau menghapal cerita-cerita itu. Versi mana yang paling kau sukai?” tanya Azzam. Ia melontarkan kata-katanya dengan berteriak, mencoba menyingkirkan sipongang angin, agar kata-katanya bisa sampai dengan jelas ke telinga rekannya.
“Tidak ada yang kusukai. Meski kalau terpaksa, barangkali aku akan memilih versi yang mengatakan bahwa Wallace adalah laki-laki berusia lima tahun. Dan aku memilihnya, karena aku tahu, versi itu yang bisa sedikit memberi kesenangan buatmu,” jawab Habsyi, juga dengan cara berteriak. “Sebetulnya, aku punya versi sendiri, dan menurutku pula versi itu ada hubungannya dengan penugasan kita di tempat ini. Kau tahu, kenapa mereka menugaskan kita di sini? Tempat ini seperti neraka, kalau kau mau mengandaikannya seperti surga, terserah, keduanya sama saja sebab kita tak tahu kapan penugasan ini berakhir. Aih, barangkali memang takkan berakhir.”
Ketika Republik pecah, hampir semua negara di dunia berebut ambil bagian mendukung kelompok-kelompok wilayah, secara diam-diam maupun terang-terangan. Pemerintah India menyokong bangsa Vali, baik dengan mengirim senjata maupun dengan jalan diplomatik. Sementara beberapa negara Timur Tengah berada di belakang Bangsa Al Saqi. Konflik yang panjang dan kian menajam mendorong penciptaan kembali identitas warga, bergantung pada bangsa mana yang mendukung wilayah mereka. Apabila mereka lahir di masa Republik, barangkali Ammar akan bernama Aditya, dan Habsyi akan bernama Chandra.
Azzam punya seorang putra yang lenyap, bersama ibu dan anjingnya, dalam suatu peristiwa serangan ketika mereka sedang piknik di pantai. Dengan menerima kisah Wallace sebagai bocah laki-laki, sesungguhnya Azzam sedang membayangkan Wallace sebagai putranya sendiri, meski ia tak bisa lagi mengingat wajah putranya, seakan wajah itu berada dalam potret yang hancur karena api.
“Iya. Kau sudah berkali-kali menyampaikan pendapatmu tentang itu. Kita ditugaskan di sini karena mereka tahu leluhur kita adalah bangsa Vali. Tak perlu kau uraikan soal itu, aku cuma ingin mendengar cerita versimu tentang Wallace, ayo, ceritakan!” seru Azzam.
Habsyi diam sebentar seakan sedang menyiapkan tenaga.
“Pernahkah kau membayangkan bahwa putramu ada di tengah laut sana dalam wujud yang berbeda? Katakanlah, barangkali, dalam wujud, hmm, seekor siklops?” tanya Habsyi.
Azzam terkinjat. Bukan karena ia tak tahu apakah pertanyaan itu adalah ancang-ancang menuju cerita versi Habsyi tentang Wallace atau apa, melainkan karena nama binatang yang disebut Habsyi telah memberi jawaban atas pertanyaannya sedari tadi.
“Siklops! Nah, itu dia. Kau tidur seperti siklops!”
Habsyi menatap Azzam dengan muka polos. Lantas ia kembali mengusap-usap sebelah matanya yang rusak.
“Tapi, tunggu, kenapa kau bertanya seperti itu? Kau hendak berkata putraku sedemikian buruk rupa sehingga pantas-pantas saja jika ia berubah menjadi siklops?” tanya Azzam.
“Aha, akhirnya kau tersinggung juga. Barangkali kita impas?!” seru Habsyi. Sambil terbahak, dan terus terbahak, ia membuat gerakan hendak melempar botol minuman ke arah lautan. Di ujung kehendaknya, ia batal melempar botol, ia hanya menghadapkan mulut botol, yang isinya belum habis, ke tanah.
“Kenapa kau buang?”
“Ini hari istimewa. Hari peringatan independen bangsa kita. Tak ada salahnya, barangkali, kalau kita melakukan hal-hal istimewa. Bagaimana kalau kita terjun ke laut?”
Habsyi menatap lautan dan menyaksikan bagaimana sinar dari suar menara bergerak bolak-balik, menyusur permukaan laut sampai di kejauhan.
“Kalau nanti petugas dari kantor pusat datang, biar aku yang menemuinya. Kau tahu radio itu cuma bisa menggunakan tenaga listrik DC. Aku curiga kau sengaja tak memesan baterai. Kau tidak ingin aku mendengar radio.”
Habsyi tak menghiraukan kata-kata Azzam. Ia berlari ke sana kemari sambil sesekali melompat-lompat. Jika ada orang yang melihatnya dari kejauhan, orang itu pasti mengira tengah melihat seekor anjing. Setelah berputar berkali-kali, akhirnya Habsyi terjatuh di satu titik. Ia diam sebentar, lalu tanpa sungkan merangkak sampai ke beranda menara. Di sana ia bangkit, memperhatikan botol kosong di tangannya, lantas mulai meniup mulut botol itu, seakan itu adalah sebatang seruling.
Bunyi dari mulut botol yang ditiup melayang bagai asap tipis yang nyaris tak terlihat. Azzam yang dari tadi menatap dengan jengkel kelakuan rekannya, kini mendekat dan turut duduk di samping Habsyi. Ada sedikit sisa minuman di botolnya. Ia membuang sisa minuman itu, lalu mengikuti tingkah Habsyi, meniup mulut botol.
Para peniup botol itu kemudian melaksanakan pertunjukan mereka tanpa penonton. Bunyi yang keluar dari mulut botol betul-betul rumpang tak karu-karuan, dilabrak terus-menerus oleh angin yang bersipongang, oleh ombak yang menghantam daratan. Lantas, Habsyi mulai bernyanyi. Mula-mula lagu yang tak jelas iramanya. Namun, di satu titik, entah bagaimana ia kemudian menyanyikan sebuah lagu yang membuat Azzam turut bernyanyi. Kian lama mereka kian bersemangat, seakan-akan mereka memang sudah lama ingin menyanyikan lagu itu; lagu tiga stanza yang lebih dari seratus tahun lalu kerap dinyanyikan di mana-mana.
Itulah lagu Indonesia Raya. ***
.
.