Buronan

Cerpen Komala Sutha (Pikiran Rakyat, 26 Agustus 2020)

Raja Langit ilustrasi Irwan Jamal-Pikiran Rakyat (1)
Raja Langit ilustrasi Irwan Jamal/Pikiran Rakyat

Ayahku bukan hanya pandai bersilat lidah, tapi juga punya banyak ilmu mistik.  Banyak tamu yang datang padanya. Dengan berbagai kepentingan. Namun tak semua orang bisa berguru padanya. Mulai dari yang mencari jodoh, ingin sukses usaha, lolos pegawai negeri atau menyelesaikan kasus. Dan tidak semua orang yang ditanggapi. Hanya orang-orang tertentu saja. Tentunya harus yang banyak uang. Berbagai profesi pernah mendatanginya bahkan ada yang berbulan-bulan ikut pergi ziarah ke tempat-tempat keramat.

Ayah—hanya suka membantu orang yang punya banyak harta. Salah satunya bahkan para calon pemimpin daerah yang ingin menjadi orang nomor satu di kabupaten. Namun biasanya, dari mereka itu bukan pemilik moral baik. Bukan calon jujur dan ingin menjadi aspirasi rakyat. Kebanyakan yang punya kasus memakan uang haram alias korupsi.

Usiaku kini sudah dua puluh delapan tahun dan sudah menikah. Kini aku mengandung anak pertama. Sudah lima tahun tak pernah bertemu Ayah. Waktu aku menikah, beliau tak mau datang karena alasan tak masuk akal. Dan yang menjadi wali, kakekku.

Hari ini, hari kelima aku berada di sebuah dusun terpencil. Namun untuk ke pusat kota hanya memakan waktu lima belas menit naik kendaraan. Aku berada di rumah Ayah. Tentunya ini desakan suamiku yang sangat ingin bertemu mertua laki-lakinya. Selama ini Adrian—suami tercintaku—hanya mengenal Ibu. Kedua orang yang membuatku terlahir ke dunia sudah bercerai sejak usiaku empat tahun. Dan cerita tentang Ayah hanya kudengar dari Ibu dan kakekku. Aku bertemu dengan Ayah lima tahun sekali.

“Ayah dimana?” Adrian mendekatiku. Aku sedang berdiri di ambang jendela kamar yang terbuka lebar. Menatap derasnya air sungai. Rumah ini terletak agak di atas, bersebelahan dengan sungai yang tak begitu deras.

“Bersama tamunya…” jawabku tanpa melepaskan pandangan dari bawah.

“Tamunya yang mana?” tanya suamiku karena ia tahu baru tadi pagi tamu Ayah yang katanya calon bupati kota ini pergi. Semalam mereka melakukan ritual di kamar yang berada di belakang rumah.

“Tamu dari kota,” jelasku lalu menyebutkan sebuah TV swasta.

“Wow hebat…” Adrian berdecak. Ia sangat terkagum-kagum dengan Ayah. Yang juga suka bergaul dengan banyak orang kaya dan punya jabatan. Bahkan orang-orang yang menjadi tamunya akan menuruti perintah semua ucapan Ayah. Tanpa mampu menolak.

Aku tak bicara. Rasanya selama lima hari sudah cukup suamiku menilai kepribadian Ayah juga hal lainnya. Bahkan Ahmad, suami adik tiriku dengan semangat berkisah tentang kehebatan Ayah dibuktikan dengan meminta Adrian menyaksikan Ayah memainkan kendi sehingga bisa melayang-layang di udara. Adrian terbengong-bengong. Merasa aneh. Ia belum tahu, ayahku bukan hanya bisa memainkan kendi. Bisa pula membuat perempuan-perempuan muda cantik dan kaya jatuh hati padanya. Terakhir Ahmad berkisah, Ayah suka membuat kejutan pada tamunya dengan cara mengajaknya ritual di gubuk dekat sungai lalu tiba-tiba meminta jin mengangkat gubuk terangkat ke atas.

“Aku boleh nimbrung bersama tamu?” jurus ngeyel suamiku mulai. Aku hanya mengangguk dan ia berlalu dari dalam kamar.

Setengah jam kemudian kudengar suara mobil. Tamu itu pergi. Adrian kembali menceritakan kehebatan Ayah. Ia dan tamu diminta menyaksikan sebuah pertunjukkan malam nanti. Aku tak berkomentar. Hanya menghela napas. Pukul sembilan malam setelah tamu itu datang lagi, Adrian dengan semangat ikut serta bergabung.

“Wah, aku hampir tak menyangka apa yang kulihat,” katanya lalu menceritakan tamu dan juga dirinya yang terheran-heran melihat Ayah mengundang hantu. Bukan suaranya tapi wujud hantu tersebut. Putih melayang. Tak seperti dalam acara-acara yang berbau mistis di layar kaca, yang hanya memperlihatkan bayangannya saja. Yang Ayah tampilkan beda dari semua yang pernah ditonton di TV yang biasanya sarat dengan trik kamera. Benar-benar hantu sungguhan.

“Tak ada rekayasa,” Adrian senyum-senyum. Ada, tentu ada rekayasa, jelasku tapi dalam hati. Aku tak bersemangat membahasnya.

“Ko kamu tak pernah cerita ayahmu orang sakti…”

“Untuk apa…”

“Kan aku menantunya…”

“Sekarang kamu sudah tahu…” jawabku malas lalu membalikkan tubuhku hingga membelakanginya. Ia memelukku dari belakang. Tangannya mengelus perutku yang kian membesar.

Esok paginya tamu itu datang lagi. Bukan tamu yang calon bupati, namun tamu laki-laki muda yang mengaku kerja di kantor cabang stasiun TV swasta yang ada di kota ini. Kota di mana di sebuah dusun kecil dekat sungai yang arusnya tak begitu deras mengalir, tinggal ayahku. Aku malas menanggapi keantusiasan suamiku yang lagi-lagi bersemangat setelah tahu tamu menginginkan Ayah bisa mengisi acara di TV. Sudah bisa dipastikan acaranya pasti yang paling bagus dan dapat ditonton banyak orang di tanah air. Saat ini hampir di setiap stasiun TV tengah marak acara yang berhubungan dengan mistis.

“Ko Ayah tak mau ya…” Adrian tampak kecewa.

“Tak mau apa?”

“Tampil di TV, tiap malam Jum’at. Ayahmu bisa terkenal, dan bukan tak mungkin kamu… aku pun ikut terkenal. Beb… bujuklah Ayah agar mau…”

“Malas…” aku segera memotong ucapannya. Aku bisa menyimpulkan keberatan Ayah.

“Tadi Pak Herdi malah rayu-rayu aku agar bisa bujuk Ayah. Katanya, setiap satu kali tayang, honornya bisa beli motor…”

“Motor bekas…” aku berdiri dari tempat duduk, melangkah pelan meninggalkan suamiku yang tampak geregetan. Aku menuju kebun belakang rumah, melihat tanaman salak. Kuhela napas panjang. Ayah orang yang selalu memandang dari segi materi. Bukan tawaran yang tak menggiurkan. Salah sendiri, mengapa malah mempertontonkan hantu pada orang itu, diambil lewat kamera handycam dan orang itu menunjukkannya pada atasannya. Ya, tentu saja tertarik.

Lalu Pak Herdi terus membujuk Ayah sementara Ayah sendiri bersikeras menolak. Ayah hanya ingin membuat orang senang sesaat. Tak ada keseriusan akhirnya. Pemberi harapan palsu. Seperti halnya yang pernah dilakukan pada banyak orang. Bukankah Ayah sudah sangat sering memberi janji pada orang-orang kaya, bahwa bisa menggandakan uang?

Sedikitnya aku tahu apa yang pernah Ayah perbuat. Ia meminta ibu tiriku menggunting koran yang banyak sekali menjadi lipatan-lipatan kecil seukuran uang kertas. Lalu menyimpannya di dalam peti. Ia dan pengikutnya melakukan ritual, uang lembaran tersebut akan berubah menjadi uang di depan calon korban. Semua itu ilmu sihir. Ayah meminta mahar uang sekian dan menjanjikan akan berlipat pada suatu malam yang ditentukan. Namun saat malam yang ditunggu, korban yang sudah mengeluarkan mahar hanya akan mendapati peti yang berisi kertas koran. Bukan uang seperti yang pernah dilihat sebelumnya.

Kalau sudah begitu, korban baru sadar telah ditipu dan penipunya sudah melarikan diri. Itu mungkin dulu sewaktu masih sering berpindah tempat sekarang sudah menetap di rumah ini. Namun bukan tak mungkin banyak korban yang sedang mencari keberadaan Ayah.

Diam-diam Adrian membujuk Ayah agar memperlihatkan lagi wujud-wujud hantu yang lain. Alasannya, untuk dokumentasi di dalam handycam pribadinya. Suamiku berhasil memiliki sepuluh tayangan. Ayah menikmati kebersamaan dengan suami sebagai menantu yang baru dikenalnya.

Kami akhirnya kembali ke Bandung. Suamiku memberiku uang yang banyak, ia bilang dari Pak Herdi.

“Dua minggu lagi aku melahirkan,” aku membaringkan tubuhku di atas pembaringan. Adrian menghidupkan TV. Lalu setelah mencari remote control, ia mengambil posisi berbaring di sampingku. Lampu kamar redup. Mataku melotot menyaksikan acara TV. Jantungku nyaris rontok melihat Ayah sedang beraksi dengan hantu-hantunya.

Dadaku berdegup keras setelah melihat tayangan berita di TV bahwa Bratalegawa, mediator hantu yang acaranya menduduki rating paling tinggi dari semua saluran TV, menjadi buruan banyak orang yang pernah menjadi korbannya dari berbagai kota.

Dadaku naik turun, aku hampir berhenti bernapas ketika esok harinya kulihat lagi berita di TV, sosok ayahku yang menunduk digiring ke penjara. ***

 

Bandung Barat, 24 Maret 2019

Komala Sutha, menulis dalam bahasa Sunda, Jawa dan Indonesia. Tulisannya termuat di berbagai media cetak. Buku tunggalnya novel “Separuh Sukmaku Tertinggal di Halmahera” (2018) dan kumpulan cerpen “Cinta yang Terbelah” (2018).

Arsip Cerpen di Indonesia