Perempuan Tali Jagat

Cerpen Nisaul Kamilah (Jawa Pos, 25 November 2018)

Bagian I

AKU menatap Mas Salim lekat-lekat. Wajahnya benar-benar mewakili apa yang disebut pria sejati. Beralis tebal, berahang kuat, tingginya sekitar 180 sentimeter dan berambut hitam agak ikal. Tapi, bagian yang paling kusuka dari dirinya adalah bibirnya yang penuh, tidak tipis, tidak pula hitam karena dia memang bukan perokok. Saat tersenyum, bibirnya membentuk garis horizontal yang tak menampakkan geligi.

Kepadaku, pria yang setahun lebih tua dariku ini jarang sekali tertawa. Anehnya, kepada Andi dan Dina, si kembar berusia 4,5 tahun, dan terutama kepada Arif yang masih belajar berjalan, Mas Salim sering tertawa terkekeh seolah menemukan sumber keceriaan yang dirinduinya sejak lama.

“Yajnaseni”, ia terus saja memanggilku dengan nama sesuai Akta. Padahal, aku pun ingin seperti perempuan lain yang mendapat panggilan khusus, seperti sayang, bebh, atau apalah itu. Yang jelas, dia tidak melakukannya, bahkan mungkin tak terpikirkan sedetik pun dalam pikirannya.

Mas Salim memang tampan. Saat terkekeh, geligi putihnya yang sontak tampak membuatku ingin mendekat dan menghambur dalam rengkuhannya, menghirup aroma harum tubuhnya. Hanya saja, ia tidak akan melakukan apa pun kepadaku kecuali di hari tertentu yang sudah kami sepakati selama tiga bulan belakangan ini. Padahal, sebagai perempuan 35 tahun, hasrat dan ambisiku masih bak Dewi Yajnaseni, membara dan penuh gairah. Dewi Yajnaseni, dalam wiracarita Mahabharata, adalah putri Raja Drupada, bersaudara dengan Destrayumna, yang dilahirkan sebagai anugerah Putrakama Yadnya.

“Ini titipan Mayang, terimalah.” Mas Salim membuyarkan lamunanku.

Ia meletakkan bingkisan kado bernuansa merah jambu tepat di depan tanganku, di atas meja tempat kami biasa bercengkerama sembari mengawasi ketiga balita lucu.

Ufff, sebenarnya aku enggan menerima bingkisan hadiah dari Mayang, tapi kalau menolak pasti dianggap tidak sopan.

“Terima kasih, Mas. Sampaikan salamku itu kepada Mbak Mayang. Ternyata dia tahu juga ya kalau hari ini aku tambah umur?”

“Tentu dia ingat. Dia selalu perhatian kepada siapa pun. Lebih-lebih kepadamu. Dia juga bawa mainan untuk anak-anak. Sudah kutaruh di kamar anak anak tadi,” jawabnya sambil sibuk membuka ponsel. Sepertinya mengecek selarik chat di WhatsApp.

“Mmmm malam ini, kalau boleh, Mas jangan pergi. Aku….” Kutepis rasa malu dan kugamit lengannya, kusandarkan kepalaku ke dada bidangnya.

Sekilas dia mengusap ujung kepalaku.

“Tapi, ini tidak benar. Aku akan ke sini besok. Hari ini aku sudah ada acara lain. Tidak boleh kutinggal.”

Refleks, kulepas lengannya. Berusaha tetap tersenyum meski dadaku terbakar melantakkan jiwa. Ah, benar-benar kepedean aku ini. Kupikir, karena hari ini ulang tahunku, ia akan sedikit memberi toleransi. Ternyata tidak sama sekali. Sejenak, aku teringat gaun lingerie hitam dengan belahan rendah dari kain satin yang dikirim Mayang seminggu lalu melalui salah satu ajudannya. Dibungkus rapi lengkap dengan selarik surat berwarna biru laut bertulisan pesan singkat:

Pakailah lingerie ini saat ulang tahunmu. Saat Mas Salim bersamamu….

Jujur, aku merasa itu bukan karena dia berniat mulia, malah serupa pesan ejekan belaka. Tepat di hari ulang tahunku, Mas Salim sudah jelas memiliki jadwal lain dan Mayang mengerti sekali perihal bab ini. Dasar jalang!

“Oh ya, ini juga ada titipan obat migrain dari Mayang.” Mas Salim membuyarkan runtukanku, “Kemarin pas aku cerita kalau kamu kena migrain, dia langsung membeli obat dan menitipkan ini untukmu. Jaga kesehatanmu. Karena anak-anak butuh ibunya untuk menjaga mereka.”

Aku hanya mengangguk datar. Kulihat jam sudah menunjukkan pukul 4 sore, pasti Mas Salim akan segera pamit. Kulihat ia tengah memeluk ketiga balita sambil berjanji besok malam akan meninabobokan mereka dengan buku cerita baru.

Ah, Mas Salim memang tipe lelaki saleh, mapan, dan penyayang. Ia akan datang lagi esok. Menuntaskan gelombang candu asmara bersamaku. Ketiga balita itu harus kukondisikan agar ritual dengan Mas Salim bisa lancar tanpa hambatan.

“Beib, saya sudah mau pulang dari sini. Kamu sudah siap-siap belum?”

Kulirik ia tengah menelepon seseorang. Dari caranya memanggil, aku yakin yang ditelepon bukanlah relasi bisnisnya, tapi… perempuan itu. Perempuan lain di hati Mas Salim. Usianya baru 28 tahun. Cantik, berpendidikan, terkenal santun namun segala attitude baik itu justru membuatku selalu terbakar cemburu. Apalagi kalau menengok molek tubuhnya yang bak biola Spanyol, sungguh berbeda denganku yang sudah pernah turun mesin tiga kali. Perempuan itu memang belum pernah melalui proses melahirkan seorang pun bayi. Mas Salim sungguh menggilai perempuan itu. Bahkan, pernah beberapa kali terjadi, saat Mas Salim mendengkur usai melayaniku, tanpa sadar ia mengigau namanya.

Bagaimana hancurnya hati perempuan saat mendengar suaminya memimpikan perempuan lain? Meneriakkan namanya, bahkan barangkali saat bercinta denganku, yang ada di pikirannya justru si dia? Tuhaaaan, kuatkan aku, sabarkan aku…. Tidak ada yang bisa kulakukan selain kuat dan sabar. Apalagi di depan perempuan muda itu, aku pun terpaksa memanggil “Mbak”.

Mbak Mayang.

Ya, dialah si “Bebh” di ujung telepon Mas Salim, suamiku. Kami berdua kebetulan baru menikah selama 3 bulan. Sedangkan Mayang, Mbak Mayang lebih tepatnya, adalah istri pertama Mas Salim yang usianya jauh lebih muda daripada aku, istri kedua Mas Salim.

Aku, Yajnaseni, seorang janda beranak tiga, memang hadir di antara Mayang dan Mas Salim sebagai istri kedua. Kemungkinan besar karena rasa kasihan belaka. Tapi, aku bertekad, tak akan ada bayang Mayang lagi di antara kami berdua. Aku tidak mau terus-terusan menjadi timun wungkuk jaga imbuh bagi mereka berdua. Mas Salim akan menjadi milikku seutuhnya. Mayang harus dienyahkan dari lenguhan dan pikiran Mas Salim segera.

Tidak sekarang, mungkin besok, atau lusa.

***

Bagian II

Aku mengenalnya sudah lebih dari 10 tahun. Ia senior di asrama putri Dewi Sartika. Bukan pesantren, hanya tempat bernaung bagi murid-murid yang bersekolah di SMP-SMA Terpadu Dewi Sartika Surabaya. Pelajaran mengaji jelas ada. Tapi, yang membaca Injil juga bukan hanya satu dua. Asrama ini multietnis dan agama. Meski demikian, setiap pemeluk agama mendapatkan teman sekamar yang seiman agar saat beribadah di kamar masing-masing tak perlu terjebak sungkan.

Saat aku masuk kelas I SMP, dia sudah kuliah. Tapi, keputusan Bu Wiwid selaku kepala asrama yang memohon agar dia tetap mengajar di asrama tak mampu dia tolak. Kabarnya, dia adalah murid genius yang tak banyak bicara ataupun banyak gaya.

Namanya Yajnaseni. Hidupnya lurus. Selurus rambutnya yang legam berkilat saat ditimpa cahaya surya. Setiap kali ia mengajar ekstra jurnalistik di hari Selasa, aku terkesima dengan caranya berargumentasi dan membidik sebuah kejadian dengan interpretasi yang tak biasa.

Dibandingnya, posturku tak lebih tinggi dari bahunya yang tegap dan sering hanya memakai kaus ketat berlengan pendek jika kebetulan berpapasan denganku saat mengantre kamar mandi. Lalu ia pasti hanya melirik acuh tak acuh. Harus aku yang junior inilah yang mengalah: tersenyum takzim, memanggilnya kakak, barulah dia membalas senyumku.

Yungalaaah, dapat senyumnya saja rasanya sudah seperti dapat kabar ibu mengirim sejumlah uang tambahan ke rekeningku untuk jajan sebulan.

Eh. Apakah aku lebay?

Tentu tidak!

Banyak kawan sekamarku yang juga memujanya. Sebabnya beragam, mulai kepandaiannya membuat mading asrama, haru biru cerpen karyanya yang terbit di koran lokal, hingga lirikan matanya saat memainkan drama musikal sebagai Biy Si Pemikat Wanita.

Waktu itu aku sengaja berangkat menuju panggung teater asrama sesaat setelah doa sapu jagat kupanjatkan agar bisa datang lebih awal, duduk di kursi terdepan dan bisa melihatnya lebih dekat. Diam-diam, sebagian dari kami ada yang terobsesi untuk menjadikannya lebih dari sekadar kakak kelas pada juniornya. Mentor pada muridnya. Kami ingin disayangi lebih dari itu, lebih dari lainnya. Kami adalah aku dan Dian. Tetangga sebelah kamar. Untung, Dian putri pengusaha kaya. Dia berhasil menjadi kesayangan karena hampir tiap malam mentraktir atau memberi kejutan kecil yang tentu tak bisa kubeli dengan kiriman uangku yang cuma cukup buat makan dan jajan.

Tapi, aku tidak akan melupakan hari itu. Saat aku terpeleset di kamar mandi, ia refleks membopongku dengan kedua lengannya. Sengaja aku memasang muka sok gawat agar aku bisa menikmati raut panik dari wajahnya. Entah kenapa, kepanikannya justru kunikmati. Terkilir di kaki sama sekali tak kurasakan saat aku cuek saja menyandarkan kepalaku ke dadanya. Mendengar degup jantungnya. Merasakan kehangatan aliran darahnya.

September tanggal 12 sekian tahun lalu. Hatiku seketika tercacah tanpa welas. Aku mendengar kabar bahwa ia menikah hari itu. Ah, aku harus berbuat sesuatu. Entah kenapa aku tak rela jika ia menikah. Aku merasa aku menyukainya dalam batas yang di luar kewajaran perempuan kepada perempuan lainnya.

Akhirnya, setelah angon mongso selama lima tahun, rencanaku berhasil juga.

Yajnaseni sudah beranak tiga saat aku akhirnya berhasil menyingkirkan suaminya melalui adegan tabrak lari yang dilakukan ”orangku”. Ia kini seorang diri. Menjadi janda kembang. Tapi, aku tak mungkin mendekatinya seperti dulu. Ia tentu akan merasa sangat aneh jika tahu bahwa aku memujanya begitu lama. Lagi pula, aku pun telah memiliki seorang suami yang setia, kalem sekaligus kaya raya. Selama berbulan bulan, aku memikirkan cara terhalus agar rencanaku mendekati berhasil tanpa membuat mereka berdua curiga. Lebih baik alon-alon waton kelakon.

Tiga bulan setelah Yajnaseni menyandang status janda, aku mendapat ide cemerlang. Aku merayu suamiku untuk berkenan menikahi Yajnaseni. Alasannya sederhana, aku belum bisa memberi suamiku seorang pun putra. Lagi pula, dalam agama kami, poligami tidak dilarang.

“Aku mencintaimu, Dik. Hanya kamu. Kenapa kau memintaku melakukan hal yang tak kuinginkan?” Lelaki itu masih saja memprotes usulku.

“Mas, aku ingin ada suara anak-anak di tengah keluarga kita meski bukan anak kandung.”

Setelah negosiasi yang alot, bahkan dalil agama pun aku comot sebagai penguat argumen, akhirnya suamiku setuju menikah dengannya. Mas Salim menikah dengan Mbak Yajnaseni. Persis seperti rencanaku. Aku betul-betul puas. Bagaimana tidak, orang-orang yang melihat prosesi akad keduanya berkali-kali memujiku sebagai istri salihah yang tabah. Rela dimadu agar sang suami bisa menolong nasib seorang janda beranak tiga. Padahal…hahahahhaha …..aku melakukan ini hanya untuk diriku sendiri, untuk hasrat dan obsesiku.

Oh ya, ada yang hampir lupa kuceritakan, tepat sehari sebelum akad tiba, dengan dalih mendekorasi kamar pengantin, aku meminta anak buahku memasang CCTV agar aku akhirnya bisa menikmati keseluruhan Yajnaseni tanpa tedeng aling-aling. Menjadikan video rekaman itu sebagai hiburan kala Mas Salim sibuk di kantor dan aku sedang sendirian di kamar.

“Wahai, Kak Yajna. Yang kuidolakan sedari dulu kala. Begitu lama aku menunggu momen ini tiba. Ternyata, menikah dengan Mas Salim tak bisa menuntaskan hasratku sebagaimana hasratku akan dirimu. Sungguh, meski sudah berstatus janda anak tiga, Kakak masih saja membuatku terpesona.” Desisku tanpa berkedip saat menonton rekam adegan suami dan maduku itu di malam pertama mereka.

***

Bagian III

“Apa-apaan ini?!” Mataku melotot.

Tak sedikit pun terlintas di pikiranku akan menemukan file-file dalam satu folder bertajuk TALI JAGAT di laptop Mayang. Kupikir itu kumpulan artikel yang akan dia posting di blognya. Mayang seorang blogger yang cukup terkenal di jagat maya. Tak kusangka, ternyata isi folder tersebut hanyalah rekaman CCTV yang adegannya menampilkan secara vulgar bagaimana aku dan istri keduaku, Yajnaseni, sedang berasyik masyuk manja. Realitas bahwa istriku itu memasang CCTV di kamar Yajnaseni betul-betul tak pernah kuduga.

Tanpa banyak kata, aku keluar dari ruang kerja Mayang menuju ke kamar, lalu mengambil bingkisan hadiah yang dititipkannya kepadaku. Ia bilang bingkisan itu adalah hadiah untuk Yajnaseni. Sungguh, kalau boleh jujur, selama ini aku memang telah diliputi kebimbangan. Di tengah banyak perempuan tak mau dimadu, kenapa Mayang justru memaksaku menikahi Yajnaseni, si janda tiga anak, hanya selang tujuh hari setelah idahnya usai.

“Ada apa dengan istriku ini? Aku harus tahu kebenarannya,” desisku pada udara kosong, sembari menyobek bingkisan dan mengeluarkan isinya dari dalam kotak.

Sebuah lingerie berwarna merah menyala, lengkap dengan stocking jaring, terpampang di depan mataku. Juga selarik surat yang jelas adalah tulisan tangan Mayang untuk Yajnaseni. Kubaca suratnya yang harum melati dengan degup jantung yang tak keruan:

Yajna, ini lingerie keluaran terbaru. Pakailah saat Mas Salim bersamamu. Pakailah. Pasti seksi dan cocok buatmu. Aku akan mengirim lagi yang baru setiap pekan.

Perutku mendadak mual, ingin muntah, tapi tertahan. ***

.

.

Nisaul Kamilah. Pendiri Halaqoh 1001 Aksara, tinggal di Kota Pasuruan.

.
Perempuan Tali Jagat. Perempuan Tali Jagat. Perempuan Tali Jagat. Perempuan Tali Jagat. Perempuan Tali Jagat. Perempuan Tali Jagat.
Arsip Cerpen di Indonesia