Hadiah dari Nenek

Oleh Sarah Akmalia Zakiyah (Pikiran Rakyat, 26 Mei 2019)

Hadiah dari Nenek ilustrasi Ali Parma - Pikiran Rakyatw
Hadiah dari Nenek ilustrasi Ali Parma/Pikiran Rakyat

HARI ini di sekolah akan diadakan ulangan kenaikan kelas. Lamanya satu pekan. Aku harus tetap bersemangat belajar kendati di bulan Puasa. Bahkan, pahalanya bisa berlipat-lipat karena belajar pun termasuk ibadah.

“Pertahankan prestasimu ya!” ibu berharap.

“Iya, Bu, aku selalu berusaha mempertahankan prestasiku,” aku berjanji.

Sejak kelas I hingga sekarang duduk di kelas IV, aku selalu meraih ranking kesatu. Hal itu bukanlah perkara mudah karena untuk mencapainya, aku harus belajar dengan tekun dan berdoa. Teman-teman di kelasku banyak yang pintar. Aku tak pernah menganggap enteng semua teman-temanku. Semua kerja keras aku terbayarkan saat menerima buku rapor dengan deretan angka yang menggembirakan.

Ayah, ibu, dan adikku ikut merasa gembira dengan apa yang aku capai. Kadang aku merasa letih saat belajar, tapi aku harus tetap bersemangat. Prestasiku harus selalu meningkat dari waktu ke waktu.

Sepekan sudah UKK berlangsung. Mungkin karena apa yang guru ajarkan aku simak dengan baik, tugas-tugas selalu aku kerjakan, mengulang pelajaran di rumah, pekerjaan rumah juga dikerjakan, dan belajar makin giat saat menghadapi UKK, maka aku merasa soal-soal yang kuhadapi saat UKK dirasa tidaklah sulit. Semoga saja hasilnya memuaskan dan ranking satu tetap aku pertahankan. Namun, apabila rankingku malah turun, setidaknya aku tak akan begitu kecewa karena aku sudah sedemikian kerasnya belajar dan berdoa.

***

SEPULANG sekolah, aku mendengar orang sedang berbincang-bincang di rumahku.

Rupanya ada tamu, tetapi entah siapa. Semakin dekat ke arah pintu dapur, semakin jelas bahwa itu suara nenek.

Gembira sekali nenek dapat berkunjung ke rumahku. Kalau tak salah nenek datang ke rumahku terakhir kali adalah tiga bulan Jalu.

“Assalamualaikum,” ucapku.

“Waalaikumsalam. Cucu nenek, apa kabar?” Aku menghambur ke arah nenekku.

Nenek memelukku erat. Nenek kangen padaku begitu juga aku. “Bagaimana puasanya?” tanya nenek sambil menatap wajahku.

Arsip Cerpen di Indonesia