Oleh Kak Ian (Padang Ekspres, 26 Mei 2019)

Usai sepulang sekolah Odi kembali memberikan formulir pendaftaran lomba hafiz itu pada Bunda. Namun Bunda tidak mau menerima apalagi membacanya. Bunda sama sekali membiarkannya begitu saja tergeletak di bawah daun pintu.
“KENAPA ya, Bunda, tidak pernah menerima formulir pendaftaran lomba itu untukku? Apakah Bunda sudah tidak sayang lagi ya sama aku?” gumam Odi tertunduk lunglai seusai menggeletakkan formulir itu di bawah daun pintu.
Lama Odi menunggu Bunda membuka pintu kamar tapi tidak juga keluar. Ia akhirnya meninggalkan kamar Bunda.
Ini berarti sudah ke empat kalinya Odi memberikan formulir pendaftaran itu pada Bunda dari bawah daun pintu. Tapi tidak ada jawaban sama sekali dari Bunda.
Odi pun lalu masuk ke dalam kamarnya kemudian membuka seragam sekolahnya. Lalu dilanjutkan shalat zuhur dan disambung dengan bertadarus Al Quran sekaligus menghafal surat-surat pendek. Begitulah yang dilakukan Odi selama Ramadhan sepulang sekolah.
Odi yang melakukan aktivitas itu ia tidak tahu bila dari balik pintunya ada seseorang yang sedang mendengarkan ia bertadarus dan menghafal. Dan orang itu adalah Bunda.
Ternyata Bunda takjub dan tidak menyangka dengan apa yang dilakukan oleh anak laki-lakinya itu. Odi makin rajin tadarus dan menghafal. Hingga membuahkan hasil. Odi semakin lama semakin lancar membaca Al Quran dan menghafal suratsurat pendek.
Lama, Bunda mendengar dari balik pintu. Mendengarkan Odi bertadarus dan menghafal. Karena khawatir diketahui oleh Odi mendadak Bunda langsung meninggalkan kamarnya.
Namun Bunda tidak melihat di depannya ada pot bunga plastik hingga menyenggol terjatuh. Karena lagi-lagi tidak mau diketahui Odi akhirnya membiarkan pot itu terjatuh. Dan Odi yang saat itu bertadarus dan menghafal terganggu dengan suara benda terjatuh. Odi lantas mencari tahu sumber suara itu.
Dilihatnya pot bunga terjatuh. Odi pun langsung membereskan seperti semula sambil menerkanerka siapa ya yang menjatuhkan pot bunga itu?