Odi Ingin Menjadi Hafiz

Saat Odi membereskan pot bunga plastik itu seperti semula tetiba ia mendengar suara si Belang yang mondar-mandir. “Oh, Si Belang yang menjatuhkannya…,” terka Odi sambil tersenyum karena yang menjatuhkan pot bunga itu ternyata adalah kucing kesayangannya. Apalagi Si Belang menghampiri dirinya sambil mengelus-elus kakinya. Jadi ia sudah mengetahui siapa pelaku atas jatuhnya pot bunga itu.

Usai itu Odi kembali melanjutkan tadarus dan menghafalnya di dalam kamarnya yang sesaat terganggu tadi.

Esokkan harinya, Odi kembali melakukan hal itu lagi seusai sepulang sekolah. Ia kembali menaruh formulir itu di tempat yang sama. Lalu meninggalkannya begitu saja. Ia berpikir Bunda pasti tidak akan menerima apalagi membacanya.

Akhirnya Odi meninggalkan kamar Bunda begitu saja. Namun baru beberapa langkah ia mendengar suara memanggil namanya.

“Odi, Sayang! Anak laki-laki Bunda yang saleh nanti seusai shalat zuhur. Kita tadarusan bersama ya. Bunda ingin dengar hafalan kamu. Bunda tunggu ya di ruang tamu,” ujar Bunda.

“Siap, Bunda!” mantap Odi.

Zuhur pun tiba Odi shalat lebih dulu di kamarnya kemudian menghampiri Bunda yang sudah menunggunya. Bunda saat itu sangat cantik karena memakai hijab. Mungkin Bunda ingin menemani Odi bertadarus dan menghafal. Seperti janji Bunda sepulang Odi sekolah tadi.

Dua jam sudah Bunda menemani Odi bertadarus Al Quran dan menghafal surat-surat pendek di ruang tamu. Tidak terasa waktu sudah menuju sore.

“Yuk, kita sudahi saja! Kiranya sudah cukup Bunda mendengarkan kamu bertadarus dan menghafal. Waktunya kita buat menu berbuka puasa. Maukan kamu menemani Bunda, Sayang?” tanya Bunda pada Odi.

“Iya, Bunda!” tukas Odi.

“Tapi sebelum itu Bunda ada sesuatu untuk kamu sebagai hadiah untuk anak saleh yang gigih untuk mencapai cita-cita mulianya. Mau tahu apa?” Bunda pun membuat penasaran Odi.

“Memang apa sih, Bunda?”

“Ya, sudah untuk itu tutup matanya ya, Sayang!”

Odi pun mengiyakan.

“Ini untuk kamu, Sayang! Ikutlah lomba hafiz ini di sekolahmu itu. Apalagi kamu ingin seperti hafizhafiz cilik di TV. Iyakan,” akhirnya Bunda menyerahkan formulir pendaftaran hafiz itu pada Odi.

Arsip Cerpen di Indonesia