Rumah Baru Kum

Oleh Sri Sundari (Kompas, 09 Juni 2019)

Rumah Baru Kum ilustrasi Regina Primalita - Kompasw.jpg
Rumah Baru Kum ilustrasi Regina Primalita/Kompas

Matahari mulai meninggi, Kum Kelomang melepas lelah di karang. Dia dan kawan-kawannya sejak pagi berkeliling di Cagar Alam Pantai Pangandaran.

“Hai, Kum,” tiba-tiba Nubee si anak lebah muncul dari balik karang. Kum terkejut sekaligus merasa tidak enak karena hari ini dia berjanji akan mengantar Nubee melihat terumbu karang. Karena ini pertama kalinya Nubee liburan ke pantai ini.

“Maaf, Nubee. Lain kali saja ya, setelah kutemukan rumah baru. Rumahku ini sudah sempit tidak bisa melindungiku berjalan jauh.”

“Kamu pindah rumah, Kum? Kemana?” tanya Nubee.

“Hahaha… bukan rumah tempat tinggalku, Nubee! Maksudnya cangkangku ini, bagiku cangkangku adalah rumah yang selalu melindungiku. Dan karena aku tumbuh besar maka aku harus mencari cangkang baru yang muat untuk tubuhku.”

Nubee melihat keadaan Kum dan rumahnya. Jari-jarinya menonjol keluar meskipun Kum memaksa memasukkannya. Yang tertutup hanya punggung dan perutnya saja. Kalau dilihat, Kum lebih seperti memakai topi daripada memakai rumah.

“Kalau begitu, aku bantu mencari ya, Kum,” kata Nubee.

Nubee melesat ke udara, mencari rumah siput laut atau keong kosong yang kira-kira pas untuk Kum.

Tidak berapa lama, “Tidak ada, Kum. Yang kulihat hanya sampah,” keluh Nubee.

Kum termenung. “Apa mungkin di bawah sampah?” tanya Kum.

Nubee mengangkat bahu.

Lalu Kum mulai menyingkirkan sampah yang berserakan dengan capitnya.

“Lihat, aku menemukan rumah besar,” teriak Kum. Akhirnya dia menemukan rumah yang pas dari balik ember bekas.

“Hei, di sini juga ada.” Nubee menyeret rumah keong dari balik sendal jepit.

Kelomang lain yang mendengar keseruan mereka segera datang, lalu satu per satu mereka mendapatkan rumah baru dari balik sampah yang datangnya dibawa air laut. Ada yang di bawah plastik makanan, sabut kelapa, atau tertutup oleh rumput laut kering.

Arsip Cerpen di Indonesia