Perang Doa

Cerpen Laila Sabrina (Waspada, 09 Januari 2022)

MARNI berhenti berkutat dengan gawainya setelah mendengar suara pintu berderit. Putri bungsunya baru saja menghantarkan kepulangan pacarnya yang telah berkunjung. Ini bukan kunjungan pertama, tapi sudah menjadi rutinitas setiap minggunya selama satu tahun belakangan. Putri bungsunya itu sedang berkutat dengan pintu yang sangat sulit untuk dikunci.

“Niqu, lain kali jangan ajak tamu untuk menonton di rumah kita,” ujar Marni dengan nada lembut yang beraura tegas. Niqu terlihat berhenti sejenak dengan kegiatannya setelah mendengar ucapan ibunya.

Kata tamu menjadi fokusnya, tentu ia tau yang dimaksud ibunya adalah Randi, pacarnya. Sudah setahun mereka berpacaran tak mungkin ibunya tak mengingat nama pacarnya itu.

“Kenapa, Bu?” Tanya Niqu penuh kepura-puraan.

“Ibu hanya tidak suka.”

Niqu mengangguk tanda mengerti, ia tak mau memperdebatkan hal ini dengan ibunya. Dia tau ibunya tak menyukai Randi. Walaupun ia selalu tersenyum manis ketika Randi menyalaminya, ataupun mau memasakkan cemilan ketika ia sedang berkunjung, tapi Niqu paham itu hanya sebatas etika menjamu tamu.

Pikiran Niqu berkecamuk, kumpulan kejadian sikap dingin ibunya berputar ulang di otaknya. Sikap dingin ibunya itu muncul hanya bila berkaitan dengan Randi. Sejak ia tau Randi tidak berkuliah dan belum mendapatkan pekerjaan, sikap posesif kembali dibangunnya seolah Niqu anak gadisnya yang baru memasuki usia SMP.

Marni selalu menaruh kepercayaan pada anak bungsunya itu. Pulang jam sebelas malam, bepergian bersama teman-temannya merupakan hal yang bisa ditoleransinya. Namun tidak semenjak adanya Randi di kehidupan anaknya. Pulang setengah sebelas akan membuatnya marah, bepergian lebih dari dua kali dalam seminggu akan menjadi bahan sindirannya.

Sama halnya dengan kejadian menonton ini, bukan hal biasa bagi Niqu menonton film dengan tamunya lewat laptopnya, entah itu bersama sepupunya ataupun teman-temannya. Dan itu tak pernah menjadi permasalahan bagi Marni. Namun lihatlah, baru saja Marni menentang kegiatan itu hanya karena Randi.

***

Seminggu telah berlalu dari momen yang penuh sesak. Hari ini jadwal kunjungan Randi. Sedari sore Niqu disibukkan dengan pekerjaan rumah. Dia berusaha secepat kilat menyiapkan segala kerjaannya, takut ibunya menyindir kemalasannya disebabkan sibuk pacaran.

Setelah selesai ia pun menyiapkan dirinya untuk tampil baik di depan Randi nantinya. Wajahnya dirias dengan polesan bedak yang tipis dan lipstik warna merah jambu, dan tak lupa juga minyak wangi sebagai pelengkap. Sehabis maghrib Randi telah sampai di rumah sebelum hujan mengguyur. Seperti biasa mereka menikmati waktu dengan bersenda gurau, dan juga bercerita tentang keseharian, sedangkan Marni menonton sinetron favoritnya di dalam kamar.

Jam cepat berlalu, tak terasa sudah pukul sepuluh; waktu kunjungan telah habis. Hujan tak kunjung berhenti, Randi tak pernah menyediakan jas hujan di dalam jok kereta, Nuqi gelisah melihat kondisi tersebut. Dia menenangkan kegelisahannya dengan meyakinkan dirinya bahwa ibunya akan mengerti kalau Randi akan pulang lebih lama.

Setengah jam berlalu lagi, kondisi makin buruk karena tak ada jas hujan yang dijumpai Nuqi. Barang itu hilang saat diperlukan. Dan dia pun tak memiliki jaket yang bisa dipinjamkan, tubuhnya sangat kecil tak mungkin muat dipakai Randi.

Kegelisahannya makin menyeruak ketika ibunya memanggilnya untuk masuk ke kamar dengan alasan meminta tolong karena remote-nya rusak. Tentu saja bukan itu tujuan sebenarnnya. Ibunya menyuruh Nuqi untuk mengingatkan Randi agar segera pulang karena hari sudah larut malam, ibunya itu tak peduli dengan cuaca yang terjadi di luar.

“Tapi hujan masih deras, Bu.”

“Jika tau akan hujan, kenapa dia tak pulang dari sebelum hujan?” Sanggah Marni tegas. Tak ada keraguan dalam setiap katanya.

Nuqi tertunduk, masalah akan menjadi rumit jika dia menyanggahnya. Dengan berat hati dia memberitahu Randi untuk pulang dengan bahasa yang sangat diperhalusnya, agar tak menyinggung hati kekasihnya itu. Untungnya Randi sangat mengerti, dan akhirnya pulang dengan menerjang hujan deras

Batin Niqu terus terasa sesak. Ia masih bingung apa yang harus dilakukannya atas sikap ibunya. Hanya harap yang selalu bergelayut di hati agar ibunya dapat menerima Randi sepenuh hati. Memberikan ketulusan sama halnya ketika ia memberikan kasih sayang pada suami kakaknya—menantunya sendiri. Tidak hanya menyambut berdasarkan etika menjamu tamu, namun dengan sambutan yang disertai ketulusan.

Malam begitu kacau, hanya ada keributan di pikiran. Niqu menutup matanya, menarik dan membuang nafasnya secara teratur. Dengan hati yang penuh harap dan kepasrahan diri ia menangis di kegelapan. Bibirnya bergetar mengucapkan perkataan lirih.

“Tuhan, aku mencintai mereka berdua. Kuatkan pertahananku, Tuhan. Ibu atau Randi, aku tak ingin melepaskan salah satunya.”

***

Marni mengetuk pintu kamar anaknya, berharap dia belum tidur. Beberapa ketukan dan panggilan dilayangkan, namun tak juga terdengar sahutan. Akhirnya ia memutuskan kembali ke kamarnya.

Sejenak ia terpaku dengan foto keluarga yang terpajang di atas meja hiasnya. Memiliki dua anak yang sudah dewasa cukup membuatnya kesepian. Yang sulung sudah sibuk dengan rumah tangganya, dan si bungsu yang sedang meraba-raba dunia dewasa.

Senyum terbentuk di bibirnya ketika mengingat perjuangannya selama ini. Susah payah yang dialaminya seakan terbayar dengan mampunya ia menyekolahkan anaknya hingga sarjana. Pendidikan yang tak pernah didapatkannya kini diruahkannya kepada dua putrinya. Berharap tak ada yang menyepelekan anaknya, mengubah taraf hidup mereka, dan mendapatkan suami yang layak merupakan harapannya untuk anak-anaknya.

Setengah harapannya telah terpenuhi sejak putri sulungnya menikahi pria yang baik, berpendidikan, dan memiliki pekerjaan tetap. Setengah harapannya lagi masih bergantung pada Niqu. Melihatnya bekerja yang layak dan mendapatkan pria yang tepat merupakan keinginan Marni sebelum umurnya dirayap oleh waktu.

Dengan tangan terangkat dan mata yang terpejam ia memohon, “Berikanlah dia kebahagian yang tepat, Tuhan. Aku mencintai anakku. Aku hanya ingin dia mendapatkan yang terbaik dalam segala sisi.” ***

.

.

Laila Sabrina. Mahasiswa UMSU.

.

Perang Doa. Perang Doa. Perang Doa. Perang Doa.

Arsip Cerpen di Indonesia