Raga

Cerpen Rosdawati Simanulang (Waspada, 16 Januari 2022)

“SERA, jangan lupa kalau kita akan dinner bareng. Nanti aku jemput kamu jam 7 malam.”

Sera hanya membaca SMS dari Raga dan tidak berniat untuk membalasnya. Sera menghela napas. Ia merasa bersalah karena sempat melupakan janji tersebut akibat jadwal syuting yang begitu padat. Raga merupakan cowok yang baru saja ia kenal melalui Reina lima bulan yang lalu.

Sebenarnya, Sera sudah menolak ajakan Raga untuk dinner bareng, tetapi Reina memaksa dengan alasan: ‘Tidak baik seorang wanita hidup sendiri’. Sera menerimanya dengan senang hati, hanya saja ia menutupi kesenangannya dengan ekspresi dingin.

Sera baru saja sampai rumah mewahnya dan hanya tinggal seorang diri sedangkan orangtuanya tinggal di kampung halaman. Bekerja keras membuatnya merasa lelah, ia ingin mengistirahatkan tubuhnya di sofa untuk menghilangkan rasa lelah. Sera melihat jam yang melingkar di tangannya sudah menunjukkan jam lima sore dan ia memiliki waktu untuk tidur sebelum bertemu dengan Raga. Tidak lupa Sera menyalakan alarm yang sudah ia lakukan sejak dulu.

Tiba-tiba alarm berbunyi membuat Sera terbangun dari mimpi indahnya. Sebelum melakukan aktivitas untuk bersiap-siap, Sera terlebih dahulu mengumpulkan kesadarannya. Sera segera berdiri dan memasuki kamar berwarna ungu kemudian menemukan tulisan ‘Beautiful’ yang tertempel di pintu kamar. Saatnya Sera harus bersiap-siap karena waktu yang ia miliki hanya lima belas menit sebelum Raga tiba. Seperti biasa jika Sera berpergian ia akan berpenampilan seadanya saja.

Pantulan cermin menunjukkan sosok wanita cantik berpakaian berwarna putih dan senada dengan warna sepatu. Sedari tadi ia tidak pernah lepas untuk memandang dirinya dari pantulan cermin. Sera sudah siap dan hanya menunggu Raga menjemput. Untuk mengusir kebosanan Sera mengambil beberapa foto dari ponsel canggihnya.

Sera segera keluar dan menuju pintu depan rumah untuk menunggu Raga. Ternyata yang ditunggu tidak kunjung datang, membuat Sera kesal sekaligus membuat kakinya lelah karena ia berdiri sedari tadi. Ia menelpon Raga serta mengirim SMS, tetapi satu pun tidak ada balasan darinya. Biasanya Raga paling cepat membalas atau mengangkat telpon dari Sera. Sera duduk tepat di depan pintu dan berfoto dengan gaya berbeda.

Setelah melihat hasil yang begitu bagus ia segera memasukan salah satu foto ke media sosialnya. Tidak lupa dengan captionI wait you R’. Entah mengapa tiba-tiba caption tersebut terlintas begitu saja dalam benak Sera. Benar. Caption tersebut ia tujukan untuk Raga yang beberapa bulan ini sudah menemaninya serta mengajak Sera untuk berumah tangga.

“Sera, ibu ‘kan sudah memberitahu kamu jangan pernah duduk tepat di depan pintu! Kamu kenapa tidak mendengarkan perkataan ibu. Mau jodoh kamu akan hilang seketika?” Ucap ibu dari seberang sana, sedangkan Sera sedikit menjauhkan ponselnya ketika mendengar ocehan ibunya.

“Itu hanya mitos belaka saja, Bu. Itu tidak benar,” ucap Sera memberitahu Ibunya. Ibu yang mendengar ucapan Sera segera menasihatinya.

Sera hanya mendengarkan nasihat ibunya tanpa mau menyela. Selama ini ia tidak memberitahu kepada keluarganya bahwa ia sudah dilamar oleh Raga, hanya Reina yang tahu. Setelah selesai menasihati Sera sambungan telpon kini sudah diakhiri.

Tidak lama kemudian mobil berwarna putih berhenti tepat di depan Sera. Sera menebak bahwa itu adalah mobil milik Raga. Namun, bukan Raga yang keluar dari dalam melainkan seorang cowok bersama wanita di sebelahnya dengan raut wajah terlihat cemas dan panik.

“Reina,” ucap Sera terkejut dan menghampirinya. Reina hanya diam mematung ketika melihat Sera yang kini sudah di depannya.

“Kok, kamu keluar dari mobil Raga. Raga di mana?” Tanya Sera ketika mencari-cari keberadaan Raga, tetapi ia tidak menemukannya.

“Pasti mau buat kejutan ya,” ucap Sera tersenyum serta mencolek-colek pipi kiri Reina.

Reina tidak tahu harus mengatakan apa. Ia hanya diam ketika melihat senyum Sera yang terukir sempurna. Reina tidak ingin senyum itu akan pudar seketika, tetapi ia harus mengatakannya. Reina melirik Bagas untuk meminta bantuan. Bagas tidak mengerti arti lirikan tersebut. Namun, ia langsung menggenggam tangan Reina untuk menenangkannya. Reina menghela napas dan langsung menatap Sera lalu berkata.

“Ra… Raga kecelakaan ketika ingin menjemput kamu. Tapi Raga sudah dibawa ke rumah sakit terdekat. Dan … dan Dokter mengatakan bahwa Raga koma.”

“Raga ingin kamu menjadi orang pertama untuk menaiki mobil baru yang ia beli kemarin,” lanjut Reina terbata-bata.

Reina tidak sanggup melihat Sera mulai mengeluarkan air matanya. Mendengar hal tersebut, kaki Sera terkulai lemas bahkan ia tidak sanggup untuk membopong badannya sendiri. Reina langsung merangkul dan menenangkannya lalu membawa ke dalam mobil menuju rumah sakit. Selama dalam perjalanan Sera menangis dan merutuki dirinya sendiri. Reina siap memberi bahunya untuk menjadi sandaran buat Sera.

“Andai aku membalas pesan Raga tadi dan mengatakan tidak perlu dijemput. Pasti … pasti dia tidak akan terbaring di rumah sakit dengan rasa sakit yang ia alami sekarang.”

“Aku takut kehilangan dirinya dan tidak dapat bertemu dengannya,” lanjut Sera yang kini penampilannya sangat kacau.

“Raga pasti kuat kok. Buktinya dia bisa meluluhkan hatimu dengan cara apapun,” ujar Reina tertawa kecil ketika mengingat hal-hal kecil mengenai tentang Raga. Bagas hanya melihat mereka melalui kaca dan merasa kasihan terhadap apa yang menimpa Sera dan Raga.

Sesampainya mereka di rumah sakit. Reina segera membawa Sera di mana Raga berada dan diikuti Bagas di belakang mereka. Rasanya Sera ingin berada di posisi Raga yang berbaring seperti sekarang ini.

Ia tidak kuat melihat bola mata indah kesukaannya tertutup rapat serta alat-alat lainnya tertempel di dada Raga. Sera mencium kening Raga lama sambil menutup mata untuk menikmati setiap detiknya bersama Raga. Walau Raga tidak bisa merasakannya. Sera menangis ketika Raga tidak melakukan pergerakan apapun.

“Ga… Raga, kumohon buka mata kamu. Lihat aku berada di sampingmu. Selama ini kamu yang selalu menghampiriku terlebih dahulu. Tetapi, kali ini berbeda.”

“Maafin aku Raga. Maafin aku,” ucap Sera. Air mata sedari tadi ia tahan kini jatuh dengan sendirinya.

***

Satu bulan sudah berlalu. Setiap hari Sera selalu berada di sisi Rag* dan mengajaknya mengobrol walau lebih tepatnya Sera berbicara pada dirinya. Selama ini dokter mengatakan bahwa Rag* tidak memiliki harapan untuk hidup bahkan orangtua Rag* sudah menyerah. Sera yakin bahwa Rag* akan sadar dan memeluknya untuk yang kesekian kalinya.

Sera membuka matanya ketika merasakan ada sesuatu yang bergerak di bawah tangannya. Rag* baru saja menggerakkan tangannya dan memanggil nama Sera. Sera mengerjapkan matanya berkali-kali dan meyakinkan dirinya bahwa Rag* sudah sadar bahkan Rag* menyebut namanya.

“Iya, Sayang, ini aku Sera. Kamu butuh sesuatu biar aku ambilkan untuk kamu?”

Rag* menggelengkan kepalanya serta berkata. “Maafin aku ya! Aku gak bisa menjaga atau menemani kamu setiap saat lagi. Kamu jangan sedih, aku sudah maafin kamu kok,” ucap Rag* tersenyum.

Ia menghapus air mata Sera dengan sisa tenaga yang ia punya. Rag* merentangkan kedua tangannya bermaksud ingin memeluk Sera.

“Kamu kenapa?” Tanya Sera tidak peka.

Rag* langsung menarik Sera masuk ke dalam dekapannya tanpa permisi. Sera tertawa kecil lalu membalas pelukan Rag*. Rag* mencium kening Sera lama lalu berkata; “Untuk yang terakhir kalinya.”

Rag* lalu menutup kedua bola matanya membuat Sera panik dan segera menekan tombol darurat yang ada di samping brankar Rag*. Pelukan, ciuman, ucapan serta senyuman yang Rag* berikan untuk Sera adalah yang terakhir kalinya. ***

.

.

Rosdawati Simanulang. Penulis merupakan mahasiswa di Universita Prima Indonesia, Medan. Berliterasi lewat Komunitas Penulis Anak Kampus (KOMPAK) Medan.

.

.

Arsip Cerpen di Indonesia