Cerpen Bunga Mukhayatul Rohmah (Radar Madiun, 13 Februari 2022)
SUASANA pesisir pantai yang menyejukkan. Menyuguhkan hamparan cahaya jingga dari langit sampai ke laut. Ini yang kutunggu-tunggu.
Belaian angin yang memaksa mataku terpejam mensyukuri nikmat-Nya. Menghirup aroma ikan-ikan yang berjajar di atas api hingga menjelang malam.
Seorang laki-laki datang membawa dua buah es kelapa muda yang menggoda hausku. Duduk di sampingku, ikut menikmati indahnya mentari yang masih singgah di batas cakrawala.
“Nggak nyangka ya, kita udah mau sarjana,” ucapnya sambil tertawa ringan dan sedikit mengangkat bahunya.
“Perasaan baru kemarin kita liburan kelulusan SMA di sini.”
“Makanya jangan pakai perasaan,” sahutku sambil menepuk pelan punggungnya.
Dia hanya menanggapi dengan tersenyum sambil terus memandang langit senja yang semakin merona. Seakan waktu membeku, bumi berhenti berputar. Teruntuk senyumnya, aku rela menukarkan segalanya demi sebuah sunggingan itu.
“Apa harapanmu satu tahun ke depan?” tanyaku kemudian sambil menatap matanya dalam-dalam, ketika lembutnya angin menerpa wajahnya.
“Kenapa harus menunggu tahun depan, untuk besok bagaimana?” celetuknya menggodaku.
“Iya, apa harapanmu untuk besok?”
“Berjalan menuju sepi bersamamu,” jawabnya sembari menatap bola mataku lekat-lekat.
Jawaban yang menghenyakkan. Tak pernah mengecewakan, setiap perkataannya mungkin sangat sederhana tapi menenangkan dan menyenangkan.
Kami menghabiskan sisa hari ini dengan cerita yang menghadirkan banyak tawa, tentang bagaimana kita bertemu dulu. Hingga akhirnya mentari benar-benar meninggalkan langit dan berubah warna menjadi gelap. Aku yang menemukan arti cinta di balik cahayanya, merasakan bagaimana indahnya dicintai seseorang selain keluargaku sendiri.
“Aku selalu berharap kita bisa terus bersama. Kapan pun dan bagaimanapun kondisinya,” ucapnya sekali lagi memecahkan keheningan.
Masih saja dengan kalimat yang sama sejak aku mengenalnya. Tak pernah berubah. Kata tajam penuh makna, mungkinkah hanya aku dan dia seorang yang bisa mengerti maksudnya. Kami selalu dalam kondisi seperti ini setiap kali menghabiskan waktu bersama. Kami begitu dekat, namun tak pernah benar-benar bersama. Kami memang saling memercayai, namun tak punya satu kepercayaan yang sama. Karena aku dan dia berbeda.
“Udah magrib, Sha, kamu nggak mau aku temenin ke musala?”
Aku selalu trenyuh setiap kali mendengar kata itu keluar dari mulutnya. Hatiku luluh seketika saat sudah berada di posisi demikian. Aku berterima kasih kepada Tuhan, telah memberikan sosok lelaki yang selalu mengerti aku. Dan maaf, aku telah jatuh hati padanya. Iman yang berbeda, apa mungkin?
Tiada kata-kata yang keluar dari mulutku. Aku hanya bisa tersenyum sambil mengangguk pelan, melangkahkan kaki membelakangi laut lepas menuju tempat ibadah tak jauh dari sana. Langkahnya selalu lebih depan dariku. Dengan tubuh tegapnya ia kembali berkata, “Jangan lupa minta yang terbaik untuk kita.”
“Alisha, Ayah dan Bunda sudah sering bilang. Mau sampai kapan kalian akan begini? Ayah takut akan jadi fitnah kalau orang-orang lihat kalian bareng terus!”
Ucapan ayah terus berputar-putar di otakku setiap kali aku selesai sembahyang. Wajah ayah dan bunda selalu terbayang begitu aku selesai memanjatkan doa yang terselip namanya.
***
“Kita jalan udah berapa lama ya, Dit?”
Akhirnya aku menemukan pertanyaan yang kiranya dapat mengakhiri obrolan kami hari ini. Di dalam mobil yang akan mengantarkanku pulang.
“Mmmm… lima tahun?” wajahnya tampak berpikir. “Lebih deh kayaknya,” imbuhnya sembari fokus menatap jalanan.
“Sampai kapan kita bakal terus kayak gini ya?” ia pun menoleh menatapku.
“Maksud kamu?” tanyanya terkejut sambil memandang wajahku yang menunjukkan rasa penasaran.
“Banyak yang bertanya soal hubungan kita akan seperti apa nantinya, apakah akan berlanjut atau….”
Aku menghentikan perkataanku lalu menghela napas. Ia menoleh sebentar dan meraih telapak tanganku. Menggenggamnya erat dengan tatapan matanya yang meyakinkanku bahwa semua akan baik-baik saja.
“Sudah kubilang berapa kali? Jangan bahas itu saat kita lagi jalan,” tegasnya.
“Tapi kita sudah terlalu jauh, Dit.”
***
Akhirnya kami sampai tepat di depan rumahku. Terlihat jelas di ambang pintu, seorang laki-laki paro baya berdiri dengan tegap. Ya, itu ayah. Adit keluar terlebih dahulu lalu membukakan pintu mobil untukku.
Aku dan Adit berjalan melewati dua anak tangga sebelum benar-benar menghadap ayah yang sedari tadi menatap. Tatapan mata ayah sulit untuk diartikan.
“Om sudah mengenalmu bertahun-tahun. Om juga berharap putri Om satu-satunya tahu batasan apa saja yang harus dia jaga. Om tidak mau kalau Alisha lalai akan kewajibannya. Siapa yang tidak ingin putrinya memiliki imam yang dapat menuntunnya, juga keluarganya kelak, menuju surga. Maaf kalau Om bicara terlalu jauh,” ujar ayah sambil menepuk pelan bahu Adit.
Aku tahu makna itu. Halus, namun menusuk. Ayah coba memutuskan hubungan kami. Seketika hati ini panas mendengar ayah bicara seperti itu. Adit menatapku. Ia tersenyum seolah tidak terjadi apa-apa. Tanpa membalas ucapan ayah, dia langsung berpamitan. Pulang.
***
Seminggu setelah pertemuan ayah dan Adit, aku memberanikan diri untuk menemuinya lagi. Di tempat yang sama, di pesisir pantai.
“Di dunia ini, tidak ada yang tidak mungkin, Sha,” ucapannya menjadi prolog pembicaraan kami sore itu. Aku masih tak percaya dirinya terlihat begitu tegar, seolah semua ini bukan masalah besar. Sedangkan aku? Aku begitu lemah menghadapi kenyataan.
“Aku tidak bisa meninggalkan Tuhanku demi kamu.”
Akhirnya ucapan itu meluncur dari mulutku. Aku tak menyesal mengatakan demikian. Ingatanku terbang menuju kedua orang tuaku. Mereka seolah memberikan kekuatan dari dalam hati.
“Aku takut kehilanganmu. Tapi, aku lebih takut, bahkan tidak akan rela, jika harus meninggalkan Tuhanku.” Aku khawatir dia salah paham. Aku mencoba untuk tetap tenang. “Tapi, bukan berarti kamu harus….”
“Pindah?” ia memotong pembicaraanku. Aku tahu dia mengerti.
“Aku nggak bisa Sha, maaf. Jangan pernah berpikir aku mudah melupakan semua,” ujar Adit.
“Aku nggak pernah main-main soal perasaan. Dan kamu harus selalu ingat ini,” lanjutnya sembari meraih tanganku, menggenggamnya, dan meletakkannya di depan dadanya.
“Kamu ada di sini,” ucapnya.
Kurasakan debaran kuat di dalamnya. Wajahnya begitu tenang. Namun, aku merasa seperti ada letupan-letupan yang siap meledak kapan saja. Pertahananku roboh, aku lemah. Membiarkan air mata ini membentuk sungai kecil di wajahku.
“Dan satu hal yang harus selalu kamu ingat. Harapanku tidak pernah berubah, Sha. Aku masih berharap bisa selalu bersamamu. Bagaimanapun kondisi kita. Dan, siapa pun kita nantinya.”
Aku masih terdiam dengan air mata yang membasahi pipi. Bukan ini yang kuinginkan.
“Jaga dirimu baik-baik. Aku pamit,” ia melepas genggamannya, beranjak pergi dan meninggalkanku. Sekarang aku seorang diri. Sementara air mata terus mengalir.
Kami telah melewati masa-masa indah di sini. Tempat kali pertama ia menyatakan perasaannya, tempat kami merayakan liburan, tempat bersenang-senang, hingga akhirnya menjadi tempat terakhir kami bisa bersama.
Langit pesisir pantai telah berubah warna. Senja telah pergi menyisakan rembulan yang mulai tampak dengan samar. Mengubah langit biru menjadi kelabu. Aku tidak menyangka akan bertemu sosok Adit di sini. Menjalani kasih dan kebahagiaan bersama. Hingga akhirnya harus kupungkasi juga di sini.
Pertemuan adalah pintu menuju perpisahan. Kami tak benar-benar berpisah. Biarlah kisah ini menjadi bagian masa lalu yang akan indah di kemudian hari. Kenangan itu harus diterima, meskipun akan mengupas sedikit luka.
Aku korbankan sedikit kenangan, pada coretan ujung cerita di dinding penjara sebuah rasa. Serupa setangkai mawar yang dipaksa layu dengan api.
Wajah cinta yang beraroma kuat, ciri khas wangi serana.
Bagiku hanya simbol, bahwa semua yang kita cintai adalah milik kehilangan.
Luka cinta yang membisu hanyalah doa yang meraung sepanjang ingatan. ***
.
.
BUNGA MUKHAYATUL ROHMAH. Santriwati MA Al-Hidayah, Sondriyan, Kendal, Ngawi.
.
.
MAKLUMAT
Jawa Pos Radar Madiun menerima kiriman pembaca berupa cerpen, puisi, dan esai. Naskah berupa file Microsoft Word dengan maksimal 800 kata untuk cerpen; 500 kata untuk esai; dan maksimal 5 puisi. Cantumkan uraian singkat identitas diri dan kirimkan karya lewat surel ke alamat radarmadiun.litera@gmail.com
.
.