Mimpi-Mimpi Bissu

Cerpen Wawan Kurniawan (Jawa Pos, 13 Maret 2022)

SAHAR tak sadar jika ia tengah bermimpi. Tapi seperti calon bissu [1] lainnya, akhir dari mimpinya akan menjawab pertanyaan pantas atau tidaknya Sahar menjadi seorang bissu. Walaupun di luar mimpi Sahar belumlah jadi seorang bissu, di dalam mimpinya Sahar kemungkinan mengalami hal sebaliknya. Saat Sahar terbangun dari mimpi panjangnya, dia melihat apa yang tak dilihat oleh ibunya sendiri.

Sebelum menjadi bissu, beberapa bissu lainnya mengalami peristiwa dalam mimpinya masing-masing. Sahar sendiri harus melihat Gerakan DI/TII yang datang memberangus para bissu pada masa itu. Kejadian ketika sekelompok anggota DI/TII memaksa para bissu untuk kembali menjadi lelaki yang sesungguhnya membuat para bissu tertekan. Jika menolak, nyawa jadi taruhannya.

Para bissu bahkan dipaksa untuk bekerja di sawah dan meninggalkan ritualnya yang dianggap berhala. Tak jarang, Sahar melihat satu atau dua bissu harus mengorbankan nyawa demi mempertahankan keyakinannya.

Jika tak bermimpi tentang tragedi bissu itu, Sahar akan bertemu seseorang yang mengenakan jubah putih yang menggunakan bahasa bissu, bahasa langit yang hanya akan dikuasai oleh para bissu. Jika bukan tentang itu, Sahar akan melihat dirinya berada dalam sebuah ritual yang sakral.

Mimpi Sahar

Malam itu di bola ridie [2], sebuah ritual bagi seorang bissu baru hendak dimulai, suara gendang dan seruling diikuti nyanyian sejumlah bissu kepada dewa terus dilantunkan.

Sahar memejamkan mata sembari merapalkan doa, tak terasa dirinya menitikkan air mata. Puang matoa [3] memandangi sepasang potto ulaweng [4] yang diletakkan di atas bosara [5]. Potto ulaweng itu bergerak dengan sendirinya. Menghasilkan suara-suara kecil di tepi bosara.

“Sudah, sebentar lagi para dewa akan tiba,” pesan puang matoa beberapa saat setelah pusaka itu kembali terdiam.

Para bissu yang duduk bersila membentuk lingkaran terus melanjutkan lantunannya. Aroma dupa tersebar ke seluruh ruangan. Setelah ritual ini berakhir, akan ada ritual lain yang ingin dilaksanakan.

Sudah tiba waktunya, puang matoa akan digantikan oleh bissu yang dianggap mampu melanjutkan hubungan bissu dengan dewa. Dan semakin dekat pergantian itu, air mata Sahar mengalir tak terbendung.

Ada yang terkenang di ingatan Sahar. Malam itu purnama tampak sempurna, sebuah ramalan hendak menjadi kenyataan. Ramalan tentang dirinya, jauh sebelum dia dinisbahkan menjadi seorang bissu.

***

Ketika Sahar masih berusia sepuluh tahun, saat dirinya pertama kali mengunjungi pamannya di Bone. Saat itu juga tak jauh dari rumah pamannya itu, tengah berlangsung ritual para bissu saat hendak merayakan musim panen.

Mendengar riuh suara keramaian, dia berlari keluar rumah pamannya mengikuti suara-suara itu. Tubuhnya yang masih kecil membuatnya dengan mudah melewati kerumunan. Menyelip melewati satu demi satu tubuh orang dewasa yang menjadi dinding untuk Sahar.

Di kesempatan itu pulalah, pertama kalinya dia melihat seorang bissu yang menari dengan lincah dan indah. Hingga salah seorang bissu menusuk lehernya dengan ujung keris. Sahar terkesima. Bunyi dentuman gong membuat bissu itu semakin keras menekan keris di lehernya dan juga matanya.

Suara gendang, pui-pui seruling yang nyaring, serta simbal semakin membuat bissu itu seakan hilang kendali. Meskipun bissu itu menekan keris, setetes darah sama sekali tak keluar dari atas kulitnya. Melihat itu, mulut Sahar menganga seakan tak percaya. Hingga tarian bissu selesai, dia masih berdiri mematung.

Sahar baru pulang setelah pamannya datang menjemputnya. Saat itu juga, dia melihat pamannya berbincang dengan salah seorang bissu. Mereka tampak akrab. Alis Sahar berkerut setelah mendengar percakapan mereka dengan bahasa yang tak dimengerti.

Dilihatnya pakaian putih bissu itu dengan serban putih melilit di kepala seperti mahkota ala raja. Saat Sahar masih memperhatikan paras bissu yang berbicara dengan pamannya itu, bissu itu kemudian berhenti lalu menyapa Sahar, “Kau mirip sekali dengan puang lolo [6] waktu beliau masih kecil, kulit putihmu, lesung pipimu, dan tatapanmu, mirip sekali! Kelak kau bisa jadi bissu seperti kami.”

Begitu banyak pertanyaan di kepala Sahar waktu itu, namun dipendamnya hingga bertahun-tahun lamanya. “Mengapa mereka menusuk dirinya sendiri?” pertanyaan itu kemudian baru dilontarkan pada seorang bissu di bola ridie, sembilan tahun setelah melihat ritual kejadian itu di Bone.

“Di Soppeng, bissu tidak ditakdirkan untuk belajar maggirik [7]. Sudah menjadi ketentuan jika Bone mewarisi keberanian, sedangkan Soppeng mewarisi kesejahteraan atas kehidupan.”

Tiap kali Sahar datang berkunjung, puang matoa merasakan kesenangan yang luar biasa, bahagia melihat seorang pemuda yang bersemangat mempelajari tentang bissu. Dari mata Sahar tampak kesungguhan yang tak biasa.

Kedatangan Sahar selalu disertai dengan sejumlah pertanyaan yang membuat puang matoa bercerita panjang lebar. Puang matoa dengan senang hati menyalakan lampu pessepelleng [8] sebelum dia memulai ceritanya yang panjang.

Diceritakanlah Sahar tentang silsilah para raja, masa lampau bissu yang hidup dalam istana, sejumlah pusaka yang terjaga.

Sahar tak lama lagi akan dilantik sebagai seorang bissu, namun sebelumnya dia diminta untuk ikut melaksanakan ritual massapo wanua [9]. Namun, tiga hari sebelum ritual itu dimulai, sebuah kabar dari Bone membuatnya bersedih. Pamannya meninggal setelah diserang penyakit yang tak diketahui penyebabnya. Hanya Sahar yang mengetahui segala kebenaran yang menimpa pamannya itu.

Sejak kecil hingga menjelang dewasa, Sahar kemudian rutin mengunjungi pamannya yang hidup seorang diri di Bone. Jarak tempuh Soppeng dan Bone tak terasa jauh lagi bagi Sahar. Hubungan mereka berdua kemudian tampak semakin dekat.

Ibu Sahar, yang merupakan kakak kandung dari pamannya, memercayakan Sahar membantu saudaranya itu yang bekerja sebagai perias pengantin di Bone. Bahkan Sahar sempat diminta untuk menetap di Bone, namun ayah Sahar tak memberi restu. Dia tak ingin nasib Sahar mengulang nasib pamannya.

Sahar bahkan harus menerima tamparan keras dari ayahnya saat dia mengutarakan keinginannya untuk menjadi seorang bissu. Sebulan berselang setelah murka ayahnya meledak, tubuh ayah Sahar ditemukan kaku tak bernyawa setelah digigit ular di kebunnya.

Mimpi Sahar II

Kejadian ganjil yang menimpa Sahar membuatnya terus merenung. Jika hatinya merasa waswas dan gagal menemukan rasa damai, satu-satunya yang bisa dia lakukan adalah berkunjung ke bola ridie. Di sanalah Sahar akan melepas resah dan mencoba menenangkan dirinya.

Tapi kala itu, bukannya rasa damai yang dia dapatkan, sesuatu yang tak pernah dipikirkan sebelumnya oleh Sahar. Ketika sebagian dari dirinya pun tampak semakin nyata dan belum sepenuhnya dia kenali.

Seusai Sahar bercerita tentang ayah dan pamannya, puang matoa dengan serius menanggapi dan memberikan pandangannya yang mungkin membantu Sahar.

“Kau harus lebih sabar. Begitulah, Nak, kau sudah ditakdirkan jadi seorang bissu.”

Seperti itulah yang Sahar dengarkan dari puang matoa saat menceritakan ayahnya. Belum lagi saat Sahar menceritakan kisah tentang pamannya di Bone. Bahwa pamannya begitu akrab dengan para bissu yang ada di Bone, tapi belum sempat dia menjadi seorang bissu, ajal telah menjemputnya.

Sejenak puang matoa terdiam setelah mendengar cerita tentang paman Sahar yang di Bone. Seperti sedang berbicara dengan dirinya sendiri, puang matoa lalu menjelaskan sesuatu yang sulit diterima oleh Sahar. Puang matoa bercerita jikalau masalah yang menimpa paman Sahar itu akibat dari gagalnya menjalani ritual menjadi bissu.

“Bagaimana Puang Matoa bisa tahu kejadian itu?” Sahar sendiri tak menyangka jika ritual bissu itu punya risiko yang tinggi.

“Jika tidak berhasil, hanya ada dua pilihan. Pertama dia akan meninggal, yang kedua dia akan gila. Beruntung dia tak meninggal seketika.”

“Apa harus seperti itu, Puang?”

Di mimpi yang lain, pamannya pernah datang sembari memintanya untuk mengurungkan niat menjadi seorang bissu.

“Jika kau tak lagi suci, ritual itu hanya akan membuat menderita seperti aku,” pesan pamannya. “Apa yang kita lakukan saat kau menemaniku waktu itu tidak akan membuatmu berhasil melewatinya.”

Sahar terus terbayang dengan peristiwa malam itu dengan pamannya. Saat mereka tindih-menindih dan membiarkan nafsu menjadi raja.

Lamunan itu hilang setelah puang matoa kembali bertanya, “Pamanmu di Bone gila setelah gagal melewati ritual. Apakah kau ingin ikut gila seperti pamanmu itu?”

Sahar menjawab dalam hati. Puang Matoa… aku sudah mendapati mimpi ini berkali-kali. Pertanyaan pamanku juga telah menghantuiku sejak lama. Jika harus mengulang nasib pamanku itu, aku yakin dewa punya rencana lain yang lebih baik.

Aku menyesal membiarkan tubuhku ditindih oleh pamanku sendiri. Dan gagal menahan diri kala itu. Tapi dewa telah memanggilku untuk berada di tempat ini, atau mungkin hendak menghukum kami berdua. Aku dan pamanku.

Puang matoa masih menunggu jawaban Sahar, tapi dia masih membisu, lalu menangis tanpa menitikkan air mata.

***

Saat pagi tiba, ibu Sahar mengetuk pintu kamar anaknya yang dari luar terdengar berisik. Lantaran tak ada jawaban, dia masuk lalu melihat anaknya itu tertawa melihat bantalnya lalu menunjuk bantalnya yang basah karena air mata.

Sahar berteriak-teriak sambil melompat-lompat di atas kasur, “Darah… darah… darah….” lalu tak lama setelah itu, dia menangis terisak.

Saat itu ibu Sahar terkenang almarhum adiknya yang semestinya tak perlu dia pertemukan dengan anak semata wayangnya, Sahar.

Malam nanti Sahar akan kembali bermimpi menjadi bissu. ***

.

.

Catatan:

[1] bissu: pendeta Bugis kuno yang menjadi perantara untuk berkomunikasi dengan dewa

[2] bola ridie: rumah pusaka para bissu di Soppeng

[3] puang matoa: pimpinan bissu

[4] potto ulaweng: gelang emas, salah satu pusaka di Bola Ridie

[5] bosara: wadah yang digunakan suku Bugis untuk menyimpan kue atau persembahan

[6] puang lolo: sebutan untuk wakil dari pimpinan bissu

[7] maggirik: salah satu kekuatan kebal para bissu

[8] pessepelleng: lampu bissu yang terbuat dari kemiri dan kapas

[9] massapo wanua: ritual tolak bala di Soppeng

.

.

WAWAN KURNIAWAN. Menulis puisi, cerpen, esai, novel, dan menerjemahkan. Buku puisinya Persinggahan Perangai Sepi (2013) dan Sajak Penghuni Surga (2017). Aku Mengeong (2021) adalah kumpulan cerpen pertamanya yang diterbitkan Indonesia Tera.

.

.

Arsip Cerpen di Indonesia