Cerpen Muhtadi ZL (Bhirawa, 11 Maret 2022)
SUDAH berapa kali kau berpikir keras? Tidak juga menemukan kesimpulan. Tingkahnya tidak bisa kau terka. Kebiasaan buruk anak lelakimu kerap menghantui dirimu sebagai ibu satu anak. Semuanya pecah. Hacur tak bersisa.
Anakmu tidak akan tahu batas-batas menggunakan alat segenggam yang canggih itu. Kau membelikannya dua minggu lalu, itupun separuh hasil dari tabungannya sendiri di sekolah. Anakmu sengaja menabung untuk membeli alat segenggam itu, mungkin karena iri pada teman sebayanya sehingga ia mempunyai inisiatif menabung untuk kemudian membeli alat canggih itu.
Sebelum berangkat ke toko, kau sudah was-was, mewanti-wanti hal yang tidak diinginkan terjadi. Belum lagi melihat usaha gigih anakmu yang selalu menyisihkan uang untuk memperbanyak nominal tabungannya. Dan juga, ketika hampir penyerahan uang tabungan, bisa tiga kali sehari anakmu menangih untuk ditemani ketika membeli alat canggih itu.
“Besok-besok, temenin Mamang ya, Bun,” pinta anakmu di suatu sore di beranda rumah.
“Iya, nanti akan bunda temenin, tapi ingat, jangan beli yang harga selangit,” dengan banyak pertimbangan kau menjawab sekadarnya, agar anak lelakimu tidak merengek; meangis.
Sekejap, anak lelakimu hilang dari pandangan masuk ke dalam rumah. Begitu riang ia mendengar jawabanmu, seolah tiada kebahagiaan selain memiliki alat canggih itu.
Di teras, kau menatap awan yang berarak ke barat, menuju matahari yang sebentar lagi akan dipeluk malam. Pikiranmu masih linglung, tidak bisa memutuskan pilihanmu sendiri. Bisa jadi, kau tak berani mengatakan ‘tidak’ pada anak lelakimu. Bigung semakin memenuhi kepalamu.
Pelan-pelan, pikiranmu kembali pada dua tahun lalu, dimana kau dan suamimu-sebelum ia menjadi pekerja migran Indonesia-sepakat untuk tidak membelikan alat canggih itu sebelum Mamang lulus SMA. Suamimu lakukan itu bukan tanpa alasan, kecanggihan dari alat segenggam itu tidak memiliki batas, ia bisa menjadi mata pisau, bisa juga tidak.
Barangkali, suamimu hafal betul bagaimana kerja dari alat itu. Seakan-akan, dari perkataannya, ia pengalaman dalam hal itu. Tentu kau tidak memvonisnya, hanya berpraduga, bilamana benar, itu bukan pilihanmu pula.
Tiba-tiba kau menoleh ke dalam rumah setelah mendengar anak lelakimu kegirangan. Kau pun tidak menyangka sebab dari kegirangan anakmu itu, setelah kau perhatikan betul-betul, ternyata di tivi ada iklan salah-satu alat canggih itu.
“Bunda, lihat, lihat, Mamang ingin membeli yang seperti itu,” ujar anakmu lantang sambil menunjuk layar tivi di depannya.
Dahimu mengkerut, pikiranmu pelan-pelan semraut, tidak percaya dengan permintaan anakmu. Di satu sisi, kau masih kepikiran dengan kesepakatan di malam itu bersama suamimu.
“Iya, kalau uang Mamang cukup.”
“Mamang harus lebih rajin lagi manabung, Bun.”
Kau tidak menjawab. Memilih diam dan kembali memikirkan kesepakatan itu. Kau tidak mau menjadi istri yang tidak manaati suami. Tidak juga berharap menjadi istri yang dibenci anakmu karena tidak menuruti kehendaknya. Kau berada di tengah samudera yang luas, tidak tahu harus menepi ke mana. Memilih tenggelam, sampai ditolong Tuhan.
Dalam hati, ingin sekali kau mematikan tivi, tapi sekali lagi, kau tidak mau menjadi bunda yang tidak disukai anak sendiri. Karena kau khawatir, jika merek alat cangih itu hapal diingat anakmu. Siap-siap saja petaka menghampirimu.
“Yang ini juga bagus, Bun,” lagi-lagi kau mendengar kalimat yang hampir sama dari ruang tamu.
Kau pun melihat ke layar tivi. Tanganmu bergerak hendak memegang dada. Tapi kau urung, takut dilihat anakmu.
“Itu mahal harganya. Uang Mamang tidak akan cukup,” kau memberi pertimbangan, meski tak akan dihirau.
“Kan tinggal nabung, Bun.”
Seketika pula, kau teringat pertikaian sebelum suamimu bercerita akan merantau di negeri orang. Alasannya memang tidak sepenuhnya bisa dibenarkan, hanya saja karena kegigihannya untuk menghidupi keluarga, kau merelakan meski berat dada.
“Aku tidak akan lama merantau,” ucap suamimu dengan suara berat.
“Meski hanya seminggu, aku tidak sudi,” kau membalas dengan suara seadanya.
“Apa kau menjadi istri yang laknat?”
“Apa maksudmu, Kang?”
“Karena melanggar perintah suami.”
“Bukan melanggar, tapi aku tidak mengizinkan.”
“Benar, kau mau menjadi perempuan laknat karena tidak mengizinkan suami pergi mencari nafkah?”
“Bukankah di sini, Kakang bisa mengaisnya?”
“Itu tidak cukup, apalagi kalau anak kita lahir.”
Kepalamu semakin pening. Berkuang-kunang. Kau tambah tidak tahu harus melakukan dan bertindak bagaimana. Semua dalam pikiranmu kacau tidak berarah, seperti kuda liar yang ketakutan melihat manusia.
Kembali kau memperbaiki posisi dudukmu, belum sempat selesai, anakmu kembali memanggil.
“Bunda kesini, iklannya ada lagi,” pinta anakmu yang sedari tadi fokus melihat iklan alat canggih itu.
“Iya, bunda ke dalam,” jawabmu singkat sambil memegang kepalamu.
Kau melangkah pelan, sambil sesekali meraba untuk memastikan jidatmu tidak terbentur dengan bangunan rumah.
Saat sampai, kau langsung duduk di dekat anakmu. Bersikap biasa saja, kau tampakkan agar anakmu tidak khawatir dengan kondisimu.
Kau tidak tahu harus menjawab apalagi katika anakmu bertanya. Karena yang kau pikirkan bagaimana kepala tidak pening. Benar, kau sudah berusaha melupakan kejadian bersama suamimu kala itu, tapi anakmu? Tentu kau tidak berani melanggar kesepakatan itu. Cap istri laknat akan bersemayam erat dalam dirimu.
Kau mencoba duduk rileks menemani anakmu yang menonton film Tom and Jarry. Sesekali kau ingin tertawa melihat nasib Jerry yang tidak pernah baik, pun nasib Tom yang terkadang tidak direstui. Ingin sekali kau tertawa terbahak-bahak bersama anakmu. Semakin kau tertawa, kepalamu bertambah pening.
Serupan jalannya siput, pikiranmu kembali terbawa pada kejadian dimana kau membantah perintah bapakmu. Umurmu masih perawan, kecantikanmu tak lagi diragukan. Semua lelaki mudah terpikat dengan gigi gingsul dan lesung pipimu.
“Tapi, Pak, aku sudah kadung mencintai Kang Ikal,” kau mencoba menguatkan argumenmu.
Kang Ikal, tak lain suamimu sekarang, laki-laki yang sudah mengaruniai, Mamang, anak semata wayangmu.
“Tapi bapak tidak setuju,” keras sekali suara bapakmu membantah.
“Kenapa dengan Kang Ikal, Pak?”
“Dia laki-laki yang tidak memiliki pekerjaan.”
“Bukankah pekerjaan bisa dicari?”
“Benar, tapi ketika sudah beristri, maka merantau akan menjadi saksi.”
“Mana mungkin Kang Ikal akan merantau, kalau dia sudah bersamaku, Pak.”
“Kau tidak tahu bagaimana mata pencaharian di sini.”
Kau tidak segera menjawab. Mulutmu kaku. Bahkan kata-kata enggan untuk menyatu untuk mewakili perasaanmu. Yang dikatakan bapakmu benar, kau tidak tahu mata pencaharian di kampungmu.
“Kau yakin, Kang Ikal tidak akan merantau untuk menghidupiku. Aku jamin itu!”
“Terserah, tapi bapak tetap tidak setuju, jika anak gadis bapak menikah dengan lelaki yang tidak memiliki pekerjaan.”
“Aku akan pergi dari rumah ini.”
Dari raut wajah bapakmu, banyak tersirat kebingungan. Ia tidak tahu harus menjawab bagaimana ketika kau sudah kadung melontarkan kalimat yang semestinya tidak kau lontarkan.
“Teserah, kau mau pergi kemana. Tapi ingat, karena ibukmu tidak ada, maka surga berada di telapak kaki bapak. Camkan itu!”
Air mata tak mapu kau bendung. Air hangat itu teramat pelan menuruni pipimu yang kemerahan, bukan karena pujian, tapi karena ujaran kebencian.
“Bun, itu yang ingin Mamang miliki.”
Lamunanmu, tiba-tiba buyar, setelah tangan anakmu menarik-narik baju lenganmu. Mana mungkin kau tidak mengabulkan permintaan anakmu setelah melihat wajah penuh harap itu.
Kalimat istri laknat dan surga di bawah telapak kaki bapak kembali terngiang di benakmu. Perkataan yang pernah diutarakan suami dan bapakmu disertai dalil-dalil.
“Bunda kenapa tidak menjawab?”
Kau mulai tidak mendengar rengekan anakmu. Tidak pula mencium bau apek tubuh anakmu. Pun tidak bisa melihat gambar di layar tivi. Semuanya buram, tidak berwana, kecuali kelabu agak gelap. Nyeri semakin merajam batok kepalamu hingga kau tidak mampu menahannya. Hingga semunya tidak jelas, dan kau tidak bisa melakukan apa-apa. ***
.
.
Muhtadi ZL. Mahasiswa Hukum Ekonomi Syariah Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (Instika) Guluk-Guluk, Sumenep, Jawa Timur dan santri Pondok Pesantren Annuqayah daerah Lubangsa. Pegiat literasi di Komunitas Penulis Kreatif (KPK)-Iksaj, Komunitas Cinta Nulis (KCN)-Lub-Sel dan Lesehan Pojok Sastra (LPS)-Lubangsa.
.
.