Cerpen Teni Ganjar Badruzzaman (Kedaulatan Rakyat, 11 Maret 2022)
TEPAT di hadapan saya, di atas meja kopi, tergeletak pasrah tiga parsel buah ukuran besar; satu dari teman-teman kerja; satu dari perwakilan himpunan karyawan; satu lagi bukti kasih sayang dari para tetangga.
Di bagian atas parsel itu, anggur hijau dan merah menyembul seolah memohon untuk dibebaskan dari belenggu plastik wrap yang membalutnya. Begitu juga dengan jeruk sunkist, pir, apel fuji dan washington, buah naga, serta pisang sunpride yang terus melambai-lambai minta saya sentuh.
Namun, saya sama sekali tidak berselera, meski warna-warni buah itu begitu seksi menggoda. Padahal biasanya, saya sangat doyan mengudap buah apa saja. Buah kersen yang jatuh di halaman tetangga pun saya suka.
Tidak hanya itu. Dulu, waktu masih bocah ingusan, saking inginnya makan buah-buahan, saya sering memetik jambu air dan belimbing milik tetangga tanpa izin. Lalu memakannya beramai-ramai bersama teman-teman.
Belimbing dan jambu air yang masam itu akan dicocol terlebih dulu pada rajangan cabai rawit yang dicampur garam sebelum akhirnya mendarat dengan mulus di mulut kami.
Sungguh kenikmatan yang hakiki. Asam, sedikit manis, pedas, serta gurih. Oh, membayangkan semua itu membuat saya senyum-senyum sendiri.
Akan tetapi, dalam keadaan seperti sekarang, parsel buah mahal pun hanya bisa jadi hiasan. Semenjak diserang demam, dan sekujur tubuh terasa dicincang-cincang, makanan apa pun rasanya hambar di lidah saya. Setiap kali saya mencoba menelan makanan, semua tak ubahnya sejumput paku yang menancap-nancap di kerongkongan.
Maka alih-alih makan, saya lebih tertarik memperhatikan lelaki tua di luar sana. Dari kaca jendela ruang tamu, saya bisa melihat dia yang duduk bersila dengan punggung yang bersandar pada tong sampah rumah saya. Tubuh ringkihnya dibalut pakaian lusuh, dan kepalanya selalu tertutup topi caping yang juga tak kalah lusuh.
Lelaki tua itu seorang tukang rongsokan. Hampir saban hari dia mengubek-ubek tong sampah di depan rumah saya. Barangkali dia mencari botol-botol plastik, kardus bekas, atau apa pun yang menurutnya akan laku dijual ke pengepul kelak. Tak jarang, saya juga melihatnya memunguti sisa makanan dari dalam tong sampah itu.
Seperti saat ini. Saya melihat lelaki tua itu menemukan kotak nasi berwarna cokelat motif batik. Saya ingat betul, di dalamnya berisi sebungkus nasi yang masih utuh dengan dada ayam bakar yang baru disantap separuh. Itu makan siang saya kemarin, yang saya pesan secara online.
Masih dengan posisi duduk bersila, lelaki tua itu membuka kotak nasi itu. Tanpa ragu tangan kanannya mulai menyuap. Dicabiknya ayam bakar itu penuh kenikmatan. Seolah itu adalah makanan terlezat yang pernah dia temukan dan bukan berasal dari tempat sampah.
“Kau bisa saja tertular Corona karena memakan makanan itu, Pak Tua!” kata saya. Tentu hanya dalam hati.
Saya tahu, tidak ada gunanya memberitahukan hal itu. Lelaki tua itu pasti tak akan peduli. Lagi pula, sepertinya tubuh dia dianugerahi kekebalan luar biasa.
Buktinya, kemarin-kemarin pun dia memakan makanan sisa yang saya buang, dan hingga hari ini kondisi lelaki tua itu terlihat baik-baik saja. Dia masih bebas berkeliaran. Dan yang pasti, dia selalu tampak sehat dan bahagia. Senyum senantiasa mengembang di bibirnya.
Ah, lelaki tua itu benar-benar beruntung. Saya sungguh iri melihatnya. ***
.
.