Pendekar Kepak Manyar

Cerpen Tjambuk Arya Sastra (Radar Mojokerto, 27 Maret 2022)

SIANG tak terlalu terik. Angin berhembus sepoi-sepoi menampar dedaunan. Tanaman padi yang menghijau bergerak kecil ketika angin melintas. Gemericik aliran air terdengar lirih. Di pepohonan, burung Manyar bergerombol dan berkicau keras.

Siang itu, Kek Bogol baru saja mengurus sawah. Celana hitamnya basah berbalut lumpur. Segera dia menuju pancuran. Membersihkan diri dan mengganti pakaian. Dengan perlahan, dia duduk di teras gubuknya.

Kek Bogol seorang lanjut usia. Dia bekas prajurit Kerajaan Majapahit. Meski kelas prajurit, ilmu kanuragannya tinggi. Dia ditugaskan menuju wilayah utara Sungai Brantas. Menjaga daerah perbatasan.

Di hari tuanya, dia ditemani anak semata wayangnya, Kek Soko. Mereka hidup berkecukupan dari mengolah lahan. Lahan persawahannya cukup untuk mereka makan dalam setahun. Dari kebunnya bisa dipanen aneka sayuran dan buah-buahan.

Daerah tempat tinggal mereka terbilang subur. Pasokan air cukup melimpah. Sungai kecil di dekat sawah tak pernah kering meski kemarau. Rumpun bambu banyak tumbuh di pinggiran sungai. Selain cocok untuk sawah, tanah di situ ada juga yang ditanami sayuran hingga palawija.

“Tadi, tidak terlalu banyak dapat ikan,” ujar Kek Bogol kepada anaknya.

Sejak pagi, Kek Bogol sibuk di sawah. Dia membersihkan ilalang hingga rumput liar yang tumbuh di sela tanaman padi. Sembari bekerja di sawah, sebelumnya dia memasang bubu di sungai.

“Tidak apa-apa, Ayah. Yang penting hari ini kita bisa makan ikan,” jawab Kek Soko. Anak muda yang berbadan tegap ini langsung sigap. Dia mengambil bubu yang dibawa ayahnya. Memilah ikan sekaligus membersihkan kotoran.

Setelah membuat api, Kek Soko memasak untuk ayahnya. Hari itu, mereka memakan ikan dan rebusan singkong.

“Ini enak sekali. Kamu pintar memasak seperti ibumu,” lontar Kek Bogol kepada anaknya sambil tersenyum bangga.

Setelah makan bersama, Kek Bogol istirahat sembari melihat pemandangan hutan. Maklum, gubuk tempat tinggal mereka berada tak jauh dari hutan.

Dari kejauhan hutan terlihat sangat rimbun. Di balik rimbunnya hutan, sebenarnya tempat bermukim para perampok, penyamun, dan pencuri kayu. Dulu kelompok kejahatan itu pernah berurusan dengan Kek Bogol.

Akan tetapi, mereka tak lagi mengusik daerah tinggal Kek Bogol. Itu setelah puluhan perampok dibuat babak belur oleh bekas prajurit Kerajaan Majapahit itu. Semenjak kejadian itu, lingkungan tinggal Kek Bogol menjadi aman. Beberapa penduduk merasa senang tinggal berdekatan dengan Kek Bogol.

Dulu yang membuka pemukiman daerah perbukitan dan lembah itu Kek Bogol. Setelah pensiun menjadi prajurit kerajaan, Kek Bogol menetap di daerah tempatnya bertugas. Oleh penduduk sekitar, Kek Bogol diangkat sebagai tetua kampung. Karena, dia berjasa membuka lahan dan menata kampung.

Di kampung itu, ada lima dusun. Namanya, Dusun Sumbersari, Sumberdadi, Tetes, Gunungsari, dan kampung tempat Kek Bogol, Manyarsari. Tiap daerah dihuni sejumlah orang. Sehari-hari mereka bertani. Kehidupannya guyup rukun dan aman.

Hari masih pagi. Kek Bogol setengah kaget ketika beberapa orang mendatangi gubuknya. Adalah Suropto, Supangat, dan Sumari. Ketiganya orang dari perwakilan dari Sumbersari, Sumberdadi, dan Tetes.

“Kemarin malam, kawanan perampok kembali datang ke kampung kami,” cerita Suropto kepada Kek Bogol dengan nada sedih.

Para perampok, kata Suropto, mengambili hasil pertanian. Tak hanya itu saja, hewan ternak seperti sapi dan kambing pun diambil paksa. Penduduk tak kuasa melawan. Perampok pun punya kanuragan tinggi. Mereka juga tak segan-segan melukai.

“Ada satu orang terluka parah karena berani melawan. Ini saya diam-diam kabur ke sini,” tutur pria bertelanjang dada itu.

Supangat dari Sumberdadi juga bercerita hampir sama. Kampungnya diserbu sekawanan perampok dan penyamun. Mereka merusak rumah warga. Juga, mengambili bahan pangan warga. “Perampok lalu ke hutan lagi. Kami masih trauma,” keluh Supangat.

Supangat dan Suropto bertemu ketika hendak ke rumah Kek Bogol. Sebelumnya, mereka menyapa Sumari yang terengah-engah. Ketiganya mengalami hal yang sama. Kampung mereka diserbu sekawanan perampok.

“Sumber mata air dikuasai perampok sejak kemarin. Hari ini tadi mereka sudah mengambili batu dan pasir sekitar mata air,” beber Sumari.

Mendengar cerita tiga warga itu, Kek Bogol berfikir sejenak. Dia kemudian menghentakkan tongkatnya. “Kelakuan mereka sudah aku duga sebelumnya. Mereka pasti merampok kampung,” geram pria berikat kepala itu.

Kek Soko yang sedari tadi diam memperhatikan akhirnya bereaksi. “Mari kita hadapi mereka, ayah,” seloroh pemuda tinggi tegap itu.

“Kelakuan mereka sudah tidak bisa dipandang remeh. Harusnya ditumpas!” tandas Kek Soko menegaskan.

“Tunggu dulu. Melawan mereka tidak boleh grusa-grusu,” jawab Kek Bogol. Pria yang rambutnya digelung itu tampak berfikir mendalam. Dia memandangi ketiga warga dusun itu.

Kek Bogol ingin semua waspada. “Soko, beritahu orang Manyarsari agar waspada. Kalau malam wajib ronda,” perintah Kek Bogol.

Sejurus kemudian, Kek Soko langsung beranjak keluar.

***

Hutan yang lebat penuh pepohonan besar. Di baliknya terdapat area terbuka. Di situ, terdapat beberapa rumah panggung besar. Panjangnya 50 meter dengan tinggi empat meter. Rumah itu terbuat dari kayu jati.

Puluhan orang tampak berkumpul melingkar di tengah area. Seorang di antaranya berbicara lantang. “Ini hasil yang bagus. Dari tiga dusun, kita dapat banyak barang dan hewan. Termasuk satu sumber mata air kita kuasai,” ujar pria tinggi besar dengan brewok tebal.

Pria berambut gondrong itu berulang kali tertawa lebar. Yang kemudian disambut puluhan orang lainnya. Mereka seolah merayakan sesuatu yang besar. Di salah satu sudut area itu, tampak puluhan hewan ternak ditampung dalam kandang. Timbunan buah-buahan dan beras ditaruh beralas papan kayu.

“Malam ini kita rayakan,” cetus pria gondrong yang berdiri di tengah area itu. Sejurus kemudian, disambut teriakan dan pekik gembira puluhan orang lainnya.

Merekalah agaknya kalangan perampok yang merambah tiga dusun. Kebanyakan di antaranya terdiri dari pria-pria berkulit hitam dan badan tegap. Di pinggang mereka tersemat pisau panjang bersarung kulit. Beberapa senjata seperti busur, tombak, diletakkan di papan kayu.

Lokasi rumah perampok itu persis di tengah hutan. Pada dataran tanah yang rendah. Hampir seperti lembah. Di pinggirannya ada gubuk-gubuk kecil tempat pengawas. Tersebar di empat sudut. Tiap gubuk, dua orang berjaga sambil mengamati situasi.

Sedari tadi, berada di balik semak-semak seorang pria bersembunyi. Dia mendengarkan betul percakapan di tengah area rumah perampok itu. Seluruh tempat itu betul-betul diamatinya. Setiap detail senjata dan orang. Dia menghitung berapa banyak jumlah perompak. Kekuatan dan senjatanya diamati betul.

“Ternyata begini kelakuan mereka,” gumam Kek Soko.

Sejak satu jam lalu, dia terkelungkup. Bersembunyi di balik dedaunan tumbuhan talas. Tubuhnya dibaluri lumpur dan dedaunan. Penyamarannya menyerupai lingkungan sekitar.

Dia pun mengendap-endap ke lokasi lain. Menjaga jarak dari pemukiman perampok. Dia tengah mengamati setiap sudut kampung perampok itu.

Berjam-jam dia menunggu. Di suatu gubuk dia mencoba masuk. Tak berapa lama kemudian langsung keluar. Beranjak malam hari, dia perlahan-lahan menjauhi pemukiman itu.

***

“Jumlah mereka hampir lima ratus orang,” ujar Kek Soko.

Semuanya rata-rata punya kemampuan bela diri yang mumpuni. Senjata mereka lengkap baik pisau, pedang, tombak, busur panah, sampai cemeti.

Kek Soko memaparkan seluruh hasil pengamatannya di kampung perampok di hadapan belasan orang. Dia juga menyebutkan rute menuju kampung di tengah hutan itu. Banyak pula jebakan yang dipasang. Tidak hanya perangkap hewan, tapi juga bagi manusia.

Jika tidak hati-hati, berjalan menuju kampung perampok bisa celaka. Karena letaknya di tengah hutan yang lebat. Banyak hewan buas masih berkeliaran. Selain itu, jika hujan kondisi menjadi gelap. Karena saking lebatnya tanaman hutan, sinar matahari pun sulit menerobos.

“Seluruh kampung harus bersiap. Menyiapkan senjata seadanya. Jika sewaktu-waktu mereka muncul harus dilawan,” terang Kek Bogol kepada perwakilan warga lima dusun. Arahan Kek Bogol itu pun diamini orang yang ada. Mereka saling menatap dengan sorot mata yakin.

Persiapan pun dilakukan warga. Perintah Kek Bogol agar warga bersiap pun dilaksanakan. Mereka menyiapkan senjata seadanya. Yang paling mungkin adalah alat-alat tajam pertanian seperti arit, pisau, dan garuk. Warga juga menyiapkan bambu runcing.

Pada sudut-sudut tertentu di rumah, diselipkan senjata. Beberapa tombak kecil juga ditempatkan di teras.

Persiapan menghadapi perampok sewaktu-waktu tidak hanya dilakukan kaum pria.

Para wanita lima dusun juga bersiap. Mereka menyiapkan lokasi khusus bagi anak-anak mereka apabila perampok datang. Tempat bersembunyi sebagai lokasi perlindungan yang aman. Para wanita juga menyiapkan bahan khusus. Ramuan cabai ditaruh pada botol kecil. Itu dibuat untuk penyerangan jarak dekat. Dan dikeluarkan jika keadaan terdesak.

***

Hari yang diprediksi pun tiba. Kawanan perampok dalam jumlah besar mendatangi Manyarsari. Gemuruh kaki kuda dan teriakan mereka yang lantang.

Seorang perampok berambut gondrong merusak pagar. Rumah kayu langsung porak poranda terkena putaran tombaknya.

“Apa yang kau lakukan sudah keterlaluan,” kata Kek Bogol yang keluar dari dalam rumah. Pria lanjut usia itu bersigap.

Tongkatnya dihentakkan ke tanah. Kontan, kuda yang dikendarai perampok gondrong itu meringkuk ketakutan. “Hahaha. Kakek tua. Kau masih saja hidup,” seloroh perampok berewok itu.

Sudah tahu kondisi kian genting, Kek Bogol memberi tanda kepada Kek Soko.

“Sudah saatnya, Le!”’ seru Kek Bogol.

Kek Soko yang sedari tadi mendampingi ayahnya langsung loncat. Dia mengambil kentongan dan membunyikannya dengan keras.

Suara kentongan langsung disambut suara serupa milik warga. Akhirnya suara kentongan saling bersahut-sahutan. Suara serentak itu sempat membuat kalangan perampok kebingungan. Berbarengan dengan itu, para warga yang bersembunyi langsung keluar. Mereka membawa senjata seadanya langsung menyerang perampok. Serangan mendadak dan cepat itu membuat kalangan perampok kocar-kacir.

Kek Bogol yang sedari tadi menghalau perampok terkena sabetan senjata tajam. “Ayah, mundur dulu. Biar aku saja yang menuntaskan,” seru Kek Soko.

Sapuan tombak dan pedangnya merontokkan perlawanan perompak.

Dia dibantu beberapa temannya langsung menekuk mundur perampok ke lapangan dusun dekat mata air, Sumber Aren.

“Kurang ajar. Kalian warga desa rupanya sudah siap ya,” gerutu pemimpin perampok.

“Kalian akan kami tumpas,” janji Kek Soko sambil menatap tajam.

Kek Soko bersama pemuda desa menyerang seperti gerombolan Manyar menyerbu lahan padi. Mereka berhasil membuat kocar-kacir ratusan gerombolan perampok.

Puncaknya, Kek Soko harus menghadapi pimpinan perampok. Mereka bertarung di bukit paling tinggi, Gunungsari. Sekitar satu jam mereka bertarung. Saling balas pukulan dan sabetan senjata belum juga saling melukai.

Kek Bogol yang sedari tadi menyaksikan memberi seruan. “Kek Soko, terima ini,” seru Kek Bogol melemparkan potongan bambu berisi air.

Tahu ayahnya membantu, Kek Soko langsung tanggap. Bambu ditangkap tangan. Sedikit diminumnya, tapi sisanya dicipratkan ke pemimpin perampok berambut gondrong.

“Kurang ajar. Apa ini?” keluh pemimpin perampok.

“Itu hanya air Sumber Aren,” jawab Kek Soko.

Meski hanya air, sejurus kemudian pemimpin perampok merasakan gatal luar biasa. Rupanya, sebelumnya Kek Soko menabur ramuan rawe, kesambi, dan luh di gubuk tempat tidur pemimpin perampok. Dan, ramuan itu baru bekerja ketika bertemu dengan air. Dengan mudah, Kek Soko meringkus pemimpin perampok. Dan, para perampok pun menyerah.

Peristiwa itu membuat warga lima dusun berkumpul. Mereka pun akhirnya bersepakat menyatukan diri menjadi desa. Yang diberi nama Desa Gunungsari. Kek Soko yang berhasil mengalahkan pemimpin perampok diangkat menjadi Ki Demang. ***

.

.

TJAMBUK ARYA SASTRA. Penikmat sastra asal Mojokerto. Senang belajar menulis puisi dan cerpen.

.

.

MAKLUMAT
Tulisan dalam bentuk cerpen, puisi, esai, atau resensi bisa dikirim ke opini_darmo@yahoo.com

.

Pendekar Kepak Manyar. Pendekar Kepak Manyar. Pendekar Kepak Manyar. Pendekar Kepak Manyar. Pendekar Kepak Manyar. Pendekar Kepak Manyar. Pendekar Kepak Manyar.Pendekar Kepak Manyar. Pendekar Kepak Manyar

Arsip Cerpen di Indonesia