Tamu Masa Lalu (2)

Cerpen Sule Subaweh (Rakyat Sultra, 11 Juli 2022)

SEHARUSNYA aku yang lebih dulu menemukanmu, tetapi Aris datang sangat mengejutkan. Ia berdiri di balik pagar, memandangku penuh selidik.

“Aris?” Ia mengangguk kemudian memandangku lagi dengan tatapan yang sama. Perasaan bahagia dan canggung berdesakan di kepala, meraung-raung dari masa lalu yang membuat hubungan retak hingga kami berjarak.

***

Tujuh belas tahun silam aku dan Aris ngekos di tempat yang sama, di daerah Rungkut Gunung Anyar, Surabaya. Bila musim kemarau tiba, hidung kami lebih sering disuguhi aroma busuk dari tumpukan sampah dan genangan air kali. Bukan kebetulan kami memilih tinggal daerah Rungkut Gunung Anyar, melainkan karena kondisi sehingga kami sengaja mencari tempat kos yang murah dan terjangkau. Sebagai mahasiswa di salah satu kampus terbesar, kami mesti pintar-pintar mengatur keuangan. Makan dengan nasi “segunung” dan lauk seadanya.

“Aku baru ‘jadian’,” suatu hari Aris mengagetkanku. Bukannya dia sedang fokus menghapal beberapa juz Al-Qur’an sebagai syarat mengikuti ujian? Batinku.

“Gila kamu!” Aris tersenyum saat aku menghardiknya. Tentu saja aku kaget mendengar pengakuannya. Selain karena Aris mahasiswa Sastra Arab yang sedang menghafal beberapa juz untuk ujian, katanya perempuan itu sudah punya tunangan.

“Kukira kamu sedang fokus menghapal? Jarang pulang ke kos soalnya,” kelakarku. Aris hanya tersenyum.

“Apa kamu tidak takut ditinggal?”

Aris hanya senyam-senyum manja, khas anak muda yang lagi kasmaran.

“Jangan khawatir,” katanya. “Hafalan 90% sudah fasih,” katanya sambal menepuk punggungku lalu menunjukkan senyum lebar. Dia tampak bersemangat malam itu.

“Katamu melakukan maksiat akan menghambat hafalan. Kamu tidak takut?”

“Aku tidak melakukan maksiat, aku hanya jatuh cinta pada ciptaan Tuhan,” timpalnya. “Lagi pula, kami tidak melakukan apa-apa. Aku tidak akan melakukan hal-hal yang merugikan selain menjaga kebahagiaan.”

Aku tidak ingin berdebat dengan kawan karibku, Aris yang sedang dicandu kebahagiaan itu. Kerisauanku segera menyingkir karena wajahnya yang menyenangkan. Aku pernah merasakan seperti apa yang ia rasakan.

Malam itu, Aris mengajakku bertemu kekasihnya. Kami melewati gang-gang sempit yang, sesekali bau tak sedap menguap dari sela-sela lubang got. Bau tak sedap udara sepanjang gang itu tak memengaruhi kebahagiaannya yang lagi kasmaran. Ia terus bercerita tentang kekasihnya, menggambarkan sosoknya, memujinya, “Tak ada yang lebih indah darinya.”

Sekitar 500 meter dari kos, Aris memintaku untuk menunggu di pinggir kali besar. Kali yang selalu mengeluarkan bau busuk itu.

“Sebentar, kamu tunggu di sini. Ia pemalu dan tidak mau bertemu laki-laki yang bukan mahramnya,” tiba-tiba ia berkata agak keras menghentikan perjalanan kami. Aneh, kataku dalam hati. Kalau aku tidak boleh bertemu dan berkenalan dengan kekasihnya kenapa ia mengajakku ikut? Pertanyaan-pertanyaan itu begitu saja melesat dari pikiranku.

Di dalam warung, dua sejoli itu duduk di tepi, sementara aku di seberang mereka, dibatasi meja. Kuamati Aris dan kekasihnya yang sedang merajut-merayakan kebahagiaan meski dengan cara tidak biasa. Aris dan perempuan itu berjarak sekitar semeter. Mereka lebih banyak tersenyum daripada bicara.

“Kalian tidak banyak bicara, ya?”

Aris hanya menoleh ke arahku

“Kamu gugup?” kejarku.

Aris melirik lalu tersenyum kecut, tetapi tidak menjawab. Ia tampak seperti anak kecil yang menerima hadiah mainan baru yang didambakannya.

Kekasih Aris menundukkan kepala, tidak sekedipan mata pun aku melihat wajahnya. Aku tidak mengerti dan tidak ingin merusak kebahagiaan Aris dengan pertanyaan konyolku. Aku berinisiatif pergi dari kecanggungan itu.

“Teruskan, aku ada janji,” kataku.

Aris bertemu kekasihnya 1 kali dalam 1 minggu, tidak lebih, tidak kurang. Ketika bertemu, mereka duduk berjauhan, tidak seperti orang-orang yang berpacaran yang setiap bertemu senantiasa akrab dan mesra. Malam itu, kuperhatikan keduanya lebih banyak diam dan pertemuannya jauh lebih singkat, tidak seperti dalam pertemuan-pertemuan sebelumnya.

“Dia memintaku untuk tidak bertemu lagi,” katanya.

Kuperhatikan wajah Aris risau. Aku gemetar mendengarnya. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana getaran risau itu mengiringi perasaan Aris.

“Ayo, ngopi! Tim kesukaanmu bertanding nanti. Kita nobar di sana,” ajakku.

“Duluan, nanti aku susul,” jawab Aris lemah dan lirih.

Dia tidak menyusul melihat Lazio, tim kesukaannya, main. Aku mengabarinya lewat SMS, tetapi tidak ada jawaban. Pertandingan selesai dan klub kesukaan Aris menang. Aku buru-buru pulang dengan semangat, membawa kabar kemenangan Lazio. Aku merancang kata-kata sepanjang jalan agar Aris menikmati kebahagian-kebahagian kecil. Aku berencana menceritakan bagaimana permainan Lazio yang rapi dan gol cantik striker andalannya, Hernan Crespo. Akan tetapi, segalanya pupus setelah kutahu Aris tidak ada di kamarnya hingga pagi.

Di mana dia? Pertanyaan itu bergelayut dalma pikiranku dan merisaukan batinku sepanjang jalan menuju masjid. Terus bergemuruh. Aku menyambangi tempat-tempat yang biasa kami singgahi. Di jembatan, warung makan, warung kopi biasa kami nonton bola juga tidak ada.

Ketika di masjid, kerisauanku lenyap seketika. Kulihat Aris duduk menghadap batas tembok di samping teras masjid. Aku tidak berani menyapanya. Dari jauh, kuamati ia bersila sambil membaca Al-Qur’an kecil yang dipangku tangannya. Secercah cahaya dari dalam masjid yang menerobos jendela menyinarinya.

Aris tampak konsentrasi, sesekali tangannya memukul lantai keramik. Tangannya mengepal sebelum akhirnya membaringkan tubuhnya ke lantai. Ia menatap langit-langit masjid dengan tatapan kosong. Ia masih seperti itu saat aku meninggalkannya.

Hari berikutnya Aris masih berperilaku sama, kini tampak kurus dan berantakan. Aku masih tidak berani mendekat. Ia tidak akan berbicara apa-apa kalau ada masalah meskipun ditanya berkali-kali. Biasanya ia akan datang sendiri lalu bercerita. Aku menunggunya datang dan mendengarkan berbicara apa pun yang bisa diceritakan. Namun, beberapa hari dia diam, aku berencana menghampirinya sekaligus berpamitan.

Aku sudah berencana akan menemuinya setelah salat Subuh, tetapi aku tidak menemukannya lagi. Aku menunggu di tempat dia duduk, tetapi hingga matahari mulai terangkat Aris tak juga kelihatan. Aku bertanya kepada teman kampusnya, tidak ada yang tahu. Ia bahkan tidak masuk beberapa hari ini.

“Padahal 5 hari lagi ujian,” kata Agus, teman kelasnya. Mungkin saja, ia sedang menghafal Al-Qur’an atau menyendiri untuk mempersiapkan ujian.

“Kalau ketemu, katakan padanya, aku mencarinya,” pintaku.

Begitulah cara kami berpisah.

***

“Kenapa kamu mencariku?” tanya Aris sembari menatap lekat ke arahku.

“Kenapa kamu menghilang?” aku balik tanya.

“Waktu itu aku sedang dilema. Perasaan terluka menguasai pikiran, linglung, seperti tertolak hafalan-hafalan. Tidak hanya hafalan, tapi juga mata kuliah, padahal sebentar lagi ujian,” jelasnya sambil terus menatapku diikuti senyum. Aku melihat semangatnya seperti yang kukenal dulu.

“Bagaimana kamu bisa menyelesaikannya?”

Ia tertawa, kali ini tawanya lebih ironi. “Aku tidak pernah menyelesaikannya. Itulah kenapa aku mencarimu.”

Tiba-tiba, istriku berdiri tepat di belakang—samping Aris, membawa kopi berniat menyuguhkannya. Istriku taruh kopi di atas meja, sambil menyilakan ia melihat ke arah Aris. Namun, seketika nampan makanan yang dia bawa bergetar setelah Aris balas menatapnya. Buru-buru ia masuk kembali.

“Kenapa kamu tidak mengatakan sejak awal?” bentak Aris tak percaya. Pandangannya ke depan. Ia lalu membakar ujung rokok kretek, mengisap dalam-dalam. Aku mencoba menstabilkan cemasku.

“Jika aku tahu perempuan yang kamu temui adalah tunanganku, aku tidak akan pernah menemanimu,” kataku.

Ia melirik ke arahku.

“Jika saja aku tahu yang kau sukai adalah tunanganku barangkali kita tidak akan berteman,” godaku.

Kami saling tatap. Aris tertawa diikuti tawaku. Kami menertawakan diri sendiri seperti ingin merayakan ketidaktahuan kami. ***

.

.

Sule Subaweh bekerja di UAD dan aktif di Komunitas Sastra Jejak Imaji. Kumpulan cerpennya, Bedak dalam Pasir, terbit 2017. Cerpen keduanya akan terbit tahun 2022.

.

Tamu Masa Lalu (2). Tamu Masa Lalu (2). Tamu Masa Lalu (2).

Arsip Cerpen di Indonesia