Cerita Anak Fela Khoirul Ihsani (Majalah Bobo Edisi 14 Tahun L, 07 Juli 2022)
SUATU siang, Mikhu berkumpul bersama teman-temannya di pekarangan rumah Dixie. Teman-teman Mikhu membawa mainan masing-masing. Ada yang membawa robot, mobil-mobilan, boneka, dan masak-masakan. Mikhu hanya terdiam melihat teman-temannya yang memiliki mainan yang canggih.
“Mainan Mikhu mana?” tanya Aden, teman Mikhu yang membawa mainan mobil-mobilan.
“Ayah bilang, sayang uangnya kalau dibelikan mainan, lebih baik dibelikan buku untuk belajarku saja,” ucap Mikhu kepada Aden.
“Padahal, kalau Mikhu punya mainan, kita akan seru mainnya. Jadi, Mikhu enggak cuma melihat kami bermain.”
Wajah Mikhu menjadi muram karena perkataan teman-temannya. Mikhu juga ingin memiliki mainan seperti teman-temannya, tetapi tidak tahu mengapa orangtuanya tidak pernah memberikannya mainan setelah masuk SD.
“Jangan sedih, Mikhu. Kamu bisa main puzzle bersamaku,” ucap Ladi.
Dengan senang hati Mikhu bermain puzzle bersama Ladi. Namun, Mikhu tetap muram di sepanjang permainan karena merasa berbeda di antara teman-temannya.
Mikhu pun pulang ke rumahnya sebelum kegiatan bermainnya selesai. Biasanya Mikhu akan mengucapkan salam sebelum masuk ke rumah, namun kali ini Mikhu hanya mencium pipi ibunya lalu duduk si sofa.
Ibu Mikhu merasa aneh dengan perubahan sikap anaknya.
“Habis main, pasti Mikhu lapar. Mikhu mau makan apa? Telur mata sapi plus susu kayak biasanya, ya?” sapa ibu Mikhu.
Mikhu menggelengkan kepalanya.
“Atau biskuit?”
Lagi-lagi Mikhu menggeleng.
“Terus, Mikhu maunya apa?”
“Mikhu cuma mau mainan.”
Ibu Mikhu kaget dengan permintaan Mikhu. Namun, melihat wajah Mikhu yang murung setelah bermain dengan teman-temannya, ia mengerti apa penyebabnya.
“Mikhu bisa main bersama ibu. Ibu bisa jadi teman yang lebih menyenangkan daripada mainan-mainan yang dipajang di toko itu,” kata ibunya mencoba menghibur.

Mikhu tetap menolak dan kukuh pada keinginannya untuk memiliki mainan. Akhirnya, ibunya berdiri dan menghampiri sebuah meja besar. Lalu, ia mengambil beberapa barang dari dalam laci, yaitu kardus tisu, kertas warna-warni, karton, pita, gunting, lem, dan spidol. Mikhu tidak tahu barang-barang itu akan digunakan untuk apa oleh ibunya.
“Karena Mikhu sudah besar, Mikhu harus mengurangi bermain barang. Tapi, Mikhu pengin punya mainan, kan? Jadi, ibu mau ajarkan cara membuat mainan dari barang bekas, supaya Mikhu tidak hanya punya mainan baru, tapi juga tahu bagaimana cara membuatnya. Mikhu mau?” tanya ibunya.
Dengan penuh semangat, Mikhu mengatakan iya kepada ibunya. Mikhu mendapat tugas untuk menempelkan kertas warna pada karton yang sudah digunting ibunya menjadi bentuk sayap. Lalu sayap tersebut ditempelkan pada kardus tisu yang sudah digulung, serta dilapisi dengan kertas warna. Bentuknya sudah seperti kupu-kupu. Langkah terakhir, kupu-kupu dari kertas karton itu dihias menggunakan spidol dan diberi mata.
“Wah, kupu-kupunya cantik sekali, Bu!” ucap Mikhu kegirangan.
“Nah, sekarang Mikhu sudah punya mainan baru. Jadi, Mikhu tidak malu lagi ketika main bersama teman-teman,” kata ibunya.
Mikhu yang senang dengan mainan barunya, tidak berhenti memainkan kupu-kupu buatannya. Ibu Mikhu ikut senang karena keceriaan Mikhu telah kembali, meski dengan hal kecil.
Esok harinya, Mikhu membawa mainannya dan bermain bersama teman-temannya. Teman-teman Mikhu menatap takjub pada mainan yang dibawa Mikhu.
“Wah, Mikhu sudah punya mainan baru,” ucap Ladi.
“Tapi, kupu-kupunya, kok, dari kertas? Enggak bisa terbang.” Aden mengomentari mainan baru Mikhu.
Komentar Aden tidak membuat Mikhu sedih. Sebaliknya, Mikhu dengan bangga berkata, “Kupu-kupu ini memang tidak bisa terbang, tapi sangat spesial karena Mikhu membuatnya sendiri bersama ibu.”

“Kamu membuatnya sendiri? Keren! Ajari Dixie dong, bagaimana cara membuatnya,” pinta Dixie kepada Mikhu.
“Aku juga mau, Mikhu.”
“Aku juga.”
Dengan senang hati Mikhu mengajak teman-temannya ke rumah dan meminta ibunya untuk mengajari mereka cara membuat kupu-kupu dari karton. Teman-teman Mikhu begitu semangat dan berhasil membuat kupu-kupu beraneka macam. Mikhu bangga karena ibunya selalu mengajarkan hal baik kepadanya. ***