Mungkin Sebuah Alegori

Cerpen Kurnia Effendi (Koran Tempo, 21 Agustus 2021)

“MAK Uyun!”

Aku masih mendengar seruan dua atau tiga temanku memanggil ibuku. Persis di depan pintu rumah aku pingsan sehingga tidak sempat melihat apakah ibuku muncul begitu aku dibaringkan di lantai teras.

***

“Ini pengalaman mengerikan,” ujar Mak. “Luka di sela tulang igamu cukup serius.”

“Maafkan Sori, Mak.” Aku menggenggam tangannya yang sedang mengelus dadaku. Ingin aku membasahinya dengan air mata. Namun selalu kuingat hardikan Bapak. Hanya lelaki cengeng yang gampang menangis!

“Sudah kejadian, mau bilang apa?”

“Sori tidak sengaja ikut. Sori ingin menyelamatkan kawan karib yang hampir saja ditusuk. Sori tidak pernah ingin tawuran. Kalau Sori langsung pulang membonceng Ahmad, pasti tak akan seperti ini ….”

“Tapi teman karibmu yang mati,” Mak melanjutkan.

“Sori tidak tahu, Mak. Bukankah semua sudah ada yang mengatur? Itu kata Mak setiap kali.”

Aku memang melompat dari boncengan saat melewati tikungan maut itu karena melihat dua gerombolan berbeda seragam sekolah berhadapan dalam situasi yang sangat keruh. Kaget saat kulihat Jumhur berdiri paling depan menantang lawan yang tampak lebih beringas. Kilatan pisau di tangan pelajar yang tak kukenal itu membuat pikiranku bekerja ringkas dan ngawur: kucegat serangan terhadap Jumhur. Begitu aku memekik terjatuh di aspal dengan pinggang berlumuran darah sekaligus terdengar seruan warga di sekitar jalan itu dengan membawa segala benda untuk mengusir kami, musuh sekolahku lari lintang pukang.

“Kamu turuti saja semua saran dokter. Mungkin ini akan lama sembuh. Semoga segera bisa dirawat di rumah saja. Kasihan adikmu, tak ada yang mengurusi di rumah.”

Sekilas teringat, Bapak pamit merantau tiga tahun yang lalu. Setahun kemudian kami mendengar kabar—yang tak disampaikan langsung oleh Bapak—datang dari tetangga jauh yang sepemberangkatan ke negeri jiran bahwa Bapak sudah punya madu.

“Pasti bapakmu sedang lemah iman. Ketimbang melakukan zina, lebih baik mengawini orang setempat.”

Ndak bisa begitu, Mak!” Aku protes keras.

“Harusnya bagaimana?” Mak tersenyum meskipun kulihat dipaksakan dan terasa getir.

“Sori mau menyusul pas liburan sekolah nanti! Mau Sori labrak keduanya!”

“Jangan berbuat edan, Ansori. Mak jadi ingat teroris itu, yang gampang mengikuti suara palsu pemimpinnya. Hatimu mesti jembar.”

“Pasti Bapak mendapat bisikan setan, makanya ….”

“Hus! Kok, jadi nyalahin setan?”

Mungkin maksud Mak, Bapak atau perempuan itulah yang setan. Lebih membuat gondok dan kesumat bagiku justru karena pihak keluarga Bapak mendukung tindakan itu. Sering kudengar Nenek, ibu Bapak, bicara seolah-olah menghibur: “Yang penting kirimannya buatmu, Ansori, dan Nisa tetap lancar. Berkurang sedikit tidak apa-apa karena harus dibagi dua. Kalau butuh apa-apa, datang saja ke sini. Selama ladangnya digarap, ada ubi dan sayuran yang bisa dimasak.”

Oh! Apakah Bapak berbahagia di sana? Sosok pahlawan itu runtuh dari pikiranku. Perjuangannya tanggung, kalah oleh godaan. Aku sampai kelas dua SMA tidak tergoda punya pacar sampai Fitri menjenguk ke rumah karena aku terlalu lama tidak masuk sekolah.

“Temanmu cantik, Sori,” kata Mak tanpa kutahu maksudnya.

“Dia memang paling cantik di kelas, Mak. Tapi Sori yang paling pintar. Duluuu. Ini sudah lama tak masuk sekolah, mestinya perlu belajar keras lagi.”

Meskipun Mak tidak pernah menceritakan dari mana biaya rumah sakit selain BPJS, kulihat kalung yang biasa menghias lehernya sudah tiada. Jarinya juga bersih dari cincin. Aku hanya bisa berjanji akan menggantinya kelak, bukan dengan cara menangis atau meratap.

Ini salahku! Salahku!

Aku kerap duduk bersandar dinding mengintip Mak bersujud terlalu lama seakan-akan tertidur. Dalam beberapa hari mau tak mau kukejar ketinggalan pelajaran dengan begadang sehingga kupergoki cara ibadah Mak. Berdoa untuk siapa? Bapak yang tak kunjung pulang atau untuk masa depan anak-anaknya?

***

“Mas, jadi berangkat besok? Ransel sudah siap. Dua hari saja, kan?”

“Cuma mau ziarah Mak dan hadiri keponakan menikah. Lebih cepat, lebih senang.”

Ndak akan berbulan-bulan dan kawin lagi, kan?” Winar, istriku, tertawa. “Ibumu itu hebat, tapi aku ndak mau jadi ibumu.”

“Kamu tidak akan kuat.” Aku setuju. Kuhabiskan kopi arabika tanpa gula racikannya. “Enak ini, kedai mana pun kalah.”

“Semoga bukan cuma kopi yang membuatmu tetap mencintaiku. Ini masih ada tabungan delapan bulan. Buah hati kita kedua,” Winar mengelus perutnya. “Masalahnya, kamu anak bapakmu.”

“Jangan sebut-sebut dia. Meskipun sudah menjadi bapak dua kali, marahku belum selesai.”

Aku teringat saat akhirnya Bapak pulang tanpa membawa istri perantauannya. Di sebuah malam, aku mendengar percakapannya dengan Mak.

“Kita mesti menikah lagi, Mas!” Suara Mak terdengar tegas. Kubayangkan dia merapati tubuhnya dengan berlapis-lapis pakaian.

“Kok?” Kudengar desah Bapak kecewa.

“Lebih dari tiga bulan tidak memberi nafkah lahir dan batin itu talak satu.” Jawaban Mak telak, tak dapat diganggu gugat.

***

Meski kudengar memang ada kemajuan di desa masa kecil dan remajaku, desa yang sesungguhnya bersentuhan langsung dengan pengaruh kota besar itu berkembang terlampau cepat. Banyak minimarket. Apa boleh buat, modernitas yang dipicu oleh teknologi digital untuk hampir seluruh kegiatan membuat paras warga kampung juga tak terlalu ndeso. Ada beberapa mobil mahal lewat di jalan pintas. Ada apa rupanya? Sebelum wabah corona, Mak meninggal dan dimakamkan di sisi kedua simbah-ku. Itu permintaannya.

Bapak kembali ke tempatnya dahulu merantau dengan tujuan memboyong ibu tiriku beserta dua anak. Seperti sudah diatur, Nisa, yang lebih membenci Bapak, tidak ingin berada sekampung, apalagi serumah dengan saudara tirinya yang terpaut jauh usia. Mereka masih kecil, lahir saat aku sudah SMA dan Nisa masuk SMP.

“Mas, aku bersedia dilamar Kang Arqam dan akan tinggal di pesantren kakeknya.”

Itu pamitannya yang sangat tergesa-gesa. Kehadiran Bapak sungguh-sungguh hanya untuk melaksanakan akad nikah, ijab kabul, dan memberi restu yang juga tak terlalu diharapkan Nisa.

Nduk, jadi perempuan itu harus pinter meraih ke atas dan ke bawah. Tanganmu mesti panjang,” ujar Mak selagi Nisa uring-uringan, dulu. “Kamu mesti menjaga kehormatan suamimu kelak, juga membela perasaan anak-anakmu.”

“Intinya, jadi perempuan harus ikhlas menjadi korban, kan?” Nisa tambah sewot.

“Apakah kamu tidak berbahagia hidup dengan Mak?”

“Mana bisa berbahagia kalau Mak tidak berbahagia? Memang hal ini bukan hanya terjadi untuk orang Jawa. Nisa dengar dari teman, seorang Batak, nasib boru dalam adat mereka juga nomor dua dan tersisih, lebih dituntut melakukan banyak pengabdian.”

“Apa itu boru?” Aku dan Mak bertanya bersamaan.

“Anak perempuan!”

Aku berniat singgah ke kota lain tempat Nisa dan suaminya tinggal sebelum kembali pulang. Namun, ternyata, aku bertemu dengan Nisa di rumah Nenek. Ia sedang marah-marah.

“Ada apa? Bicara baik-baik saja,” kataku sebelum mengetahui persoalannya.

“Semoga kamu bisa bicara baik-baik, Mas. Sana minta penjelasan kepada Nenek, kenapa kuburan Mak dan simbah kita lenyap.

“Lenyap?” Aku memandang Nenek.

Wajah Nenek yang semakin sepuh itu sebetulnya patut dikasihani. Rambutnya, selain seluruhnya memutih, menipis.

“Biar bapakmu yang menjelaskan. Sedang disusul ke ladang,” ujar Nenek.

Kuletakkan ransel dan mengajak Nisa duduk. Nenek menatap kami dengan pandangan gelisah sekaligus cemas.

“Sambil menunggu Bapak, mungkin Nenek bisa bercerita. Aku belum sempat ke makam, hanya sedikit heran. Di sisi jalan menuju kuburan dibangun dinding tinggi. Itu punya siapa? Bukankah dulu pekarangan dan permakaman itu masih milik kelurahan?” tanyaku.

Seseorang mengantarkan dua gelas teh hangat. Nenek seperti mendapatkan keberanian untuk bicara, mula-mula menawari kami minum. Aku mengangguk sekaligus mempersilakan Nenek memberikan keterangan. Sementara Nisa sudah menjatuhkan kepalanya ke bahuku.

“Itu juga atas permintaan Pak Lurah. Kawasan yang semula ditanami tembakau rakyat dan kawasan kuburan diambil alih perusahaan besar dari Jakarta. Ada bapakmu di sini, jadi perundingan itu tidak melibatkan kalian.”

“Ya, tapi dipindah ke mana tulang-tulang Mak dan Simbah?” Nisa menyerobot. “Sudah tanya-tanya tetangga dekat sana, katanya tak semua keluarga melakukan pemindahan.”

Mata Nenek memandang ke arah belakang kami. Aku dan Nisa menoleh, mendapati Bapak yang berdiri dengan baju basah keringat.

“Mas, aku tak sudi berlama-lama di sini!” Tiba-tiba Nisa bangkit dan menarikku untuk pergi.

“Baik, Nisa. Tujuan kita ke sini mau ziarah. Kita dengarkan kata-kata terakhir Bapak ….”

“Tidak!”

Aku tak pernah menyangka kebencian Nisa terhadap Bapak mendasar bumi. Kini aku yang akan melakukan pesan Mak mewakili anak perempuan. Tanpa salim, aku menatap Bapak.

“Bapak tidak bisa menjelaskan apa-apa. Sudah lebih dari dua tahun ibumu terkubur. Pandemi membuat kalian juga tidak datang ke sini. Berdoa bisa dari mana saja.”

Aku tidak mengucapkan apa-apa. Menoleh sebentar kepada Nenek dan berusaha mengejar Nisa yang sudah tak tampak bayangannya.

Kulupakan kondangan ke cucu Nenek yang lain. Langkahku tertuju pada tembok beton yang kukuh. Ada sebatang pohon randu yang dibiarkan menjulang di luar dinding pembatas, kira-kira di situ tepi permakaman. Nisa sedang tertunduk menatap akar, kulihat tetes air jatuh ke kakinya. Sementara kelopak buah randu berdetasan, pecah, kapuk-kapuk terbang terbawa angin.

Hiduplah seperti sungai, kata Mak dahulu, mengalir saja.

“Kata Mak, dia kini hanya tulang-tulang yang sudah atau akan jadi abu. Mak yang sesungguhnya ingin memasuki batin kita, maka bukalah perasaanmu,” bisikku di punggung Nisa.

Dia membalik badan dan memelukku. ***

.

.

Jakarta, 2022

Kurnia Effendi menulis untuk media massa sejak 1978. Telah menerbitkan sejumlah buku tunggal (puisi, cerpen, esai, novel, dan memoar). Tinggal dan bergiat di Jakarta Timur.

.

Mungkin Sebuah Alegori. Mungkin Sebuah Alegori. Mungkin Sebuah Alegori. Mungkin Sebuah Alegori. Mungkin Sebuah Alegori.

Arsip Cerpen di Indonesia