Perang Obor

Cerpen Kartika Catur Pelita (Suara Merdeka, 11 September 2022)

MUNGKINKAH bisa mengulang kejayaan masa lalu?

“Bangun, Kang Gemblong, matahari sudah sepenggalah. Jangan tidur melulu. Apa tidak capek setiap hari tidur, tidur, dan tidur. ”

“Aku tidur dan ingin terbangun ketika mimpi jadi kenyataan,” si lelaki gempal bertelanjang dada, bersarung, meringkuk di atas dipan kayu. Tak peduli teguran bojo.

Duhai, alangkah indahnya jika mimpiku menjadi orang kaya terwujud, gumamnya. Ah, apakah aku salah bermimpi menjadi orang kaya, karena kehidupanku sekarang pas-pasan. Beruntung ia masih memiliki istri yang tak malu bekerja buruh tani.

“Mimpi diwujudkan dengan kerja keras, Kang Gemblong. Bangun dan pergilah ke desa sebelah. Temui Kyai Babadan. Ia membutuhkan penggembala ternak.”

“Kowe pikir aku cocok pekerjaan itu, Nyi?”

“Pekerjaan penggembala ternak adalah pekerjaan mulia, Kang. Kanjeng Nabi Muhammad pun seorang penggembala kambing yang hebat. Sampeyan ingat, Sampeyan pun dulu penggembala yang mumpuni. Dulu kita banyak memiliki ternak, Kang Gemblong. Sampeyan memelihara sepasang kambing, lalu kambing beranak pinak banyak. Sampai-sampai mengupah gembala untuk merawat ternak kita. Sayang wabah itu membinasakan semuanya. Tiada tersisa seekor pun. Lalu Sampeyan putus asa, nggerambyang, bicara sendiri, melamun, tidur dan tidur.”

***

Orang-orang memanggilnya Kyai Babadan. Kepala Dukuh Babadan, orang terkaya di Desa Tegalsambi. Rumahnya megah, tanah pekarangan dan sawahnya sangat luas. Sapi dan kerbaunya berjumlah ratusan. Setiap hari Kyai Babadan pergi ke beberapa tempat mengurus dagangan. Sebenarnya ia sudah memiliki penggembala. Tapi ia membutuhkan seorang kepala penggembala yang bisa mengurus semua ternaknya.

Sore nan teduh. Kyai Babadan di pendapa sedang menikmati cerutu dan kung perkutut ketika seorang tamu, lelaki tinggi besar, tegap dan sopan menemuinya.

“Namaku Ki Gemblong, berasal dari Dukuh Kemangi. Aku mendengar bahwa Kyai membutuhkan penggembala. Aku datang melamar pekerjaan itu.”

Ia lelaki shaleh dan iba hati. “Baiklah. Sudah jauh-jauh kau datang. Aku menerimamu bekerja, Ki Gemblong. Asalkan kau memenuhi dua syarat yang kuminta.”

“Apakah kedua syarat itu, Kyai. Semoga aku bisa memenuhinya.”

“Rajin dan bisa memegang amanah.”

“Insya Allah, Kyai.”

“Aku sudah memiliki beberapa penggembala. Mereka masih bocah-bocah. Kau bimbinglah dan ajari mereka cara terbaik merawat sapi dan kerbau.”

“Insya Allah, Kyai.”

“Ayo kukenalkan pada pelayan yang akan mengurusmu. Kau tinggal di rumah yang sudah kubangun di dekat kandang ternak di atas bukit, di dekat sungai.”

***

Kyai Babadan seorang lelaki yang bersahaja. Tak mungkin ia melupakan dunia ternak yang sudah membesarkannya, memberinya kekayaan. Selain dijual, sapi dan kerbaunya membajak sawah. Sawah menghasilkan padi melimpah. Dari hasil sawah dan kebun mendapat keuntungan menggunung. Hewan ternak Kyai Babadan sangat sehat dan gemuk setelah diurus Ki Gemblong. Sapi dan kerbau beranak-pinak.

Tahun-tahun melenggang. Ki Gemblong bekerja sangat rajin dan menggenggam upah layak. Sesekali ia pulang ke rumah, istrinya menyambut senang. “Aku sekarang bungah melihatmu, Kang Gemblong. Kau lebih bergairah menjalani hidup.”

“Semua ini karena dukunganmu, Nyi. Ini uang hasil kerjaku, Nyi. Kowe masak makanan sehat supaya anak-anak kita tumbuh sehat.”

“Tentu saja, Kang Gemblong. Untuk apa hasil jerih-payah kita kalau bukan demi kebahagiaan bocah-bocah.”

***

Siang. Terik. Kerontang. Panas. Gerah. Mandi. Ki Gemblong, yang ketika mandi di sungai merasa segar bugar dan teringat masa-masa kanak. Berenang, berlena-lena bermain air, melihat ikan-ikan kecil dan udang berenang riang di kali, ia berusaha menangkapnya. Sang ikan dan udang bergoyang-goyang, ia girang. Hap, ia berhasil menangkap ikan dengan tangan!

Ki Gemblong yang entah, sekarang tergila-gila pada sungai. Bermain air, menangkap ikan dan udang, lupa makan, lupa pulang, lupa merawat ternak, bahkan lupa sembahyang.

“Ia sudah seperti orang gila. Setiap hari hanya berada di kali. Mandi, menangkap ikan dan udang, main air. Bakar-bakar ikan dan udang,” gerutu Waji, si anak gembala yang juga bekerja pada Kyai Babadan

“Lupa diri. Seperti anak kecil saja,” gumam Momon, sesama anak gembala.

“Sapi dan kerbau kurus, sakit, dan lumpuh. Kalau dibiarkan lama-lama bisa modar!” umpat Kastu, si gembala paling kecil.

“Kita harus segera lapor pada Kyai Babadan!”

Ketiga anak gembala melaporkan perbuatan buruk Ki Gemblong pada juragan mereka. Semula Kyai Babadan tidak percaya pada laporan tiga gembala kecil. Namun, apa salahnya, aku membuktikannya sendiri? Kyai Babadan diam-diam mendatangi kandang kerbaunya yang berdekatan dengan sungai

***

Siang terik. Ki Gemblong asyik mandi di sungai. Setelah mandi dan berenang, ia mencoba menangkap ikan. Hap, ikan dan udang sudah tertangkap. Sebentar lagi akan kubakar kau ikan dan udang, gumam Ki Gemblong riang. Ia membuat perapian dari klaras kering, pelepah daun pisang kering dan blarak, pelepah kelapa garing. Api menyala-nyala. Ikan dan udang terpanggang.

Ia sedang membalik ikan agar tak gosong, ketika suara itu menggelegar. Ia mendongak. Kyai Babadan menjulang di depannya. Parasnya memerah, menguarkan marah.

“Ki Gemblong, apa yang kowe lakukan?!”

“Kau lihat sendiri, aku sedang membakar ikan dan udang,” jawab Ki Gemblong cuek.

“Apakah pekerjaan merawat ternak sudah kowe tunaikan?” tanya Kyai Babadan.

“Tentu saja, Kyai,” jawab Ki Gemblong berdusta.

“Apakah kowe sudah merawat ternak dengan baik?”

“Tentu saja, Kyai.” Ki Gemblong semakin menabur kebohongan.

“Kalau ada ternak yang sakit, lumpuh, tak aneh kalau cara merawat hewan ternakku seperti ini. Kowe merawat ternak sambil bermain-main. Mengapa Ki Gemblong?” Kyai Babadan menasihati. Tapi….

Ia, lelaki yang kurang terpuji, tak mau ketika dipersalahkan. “Apa aku salah? Aku ingin mandi, ingin main air, ingin cari ikan dan udang, ingin bakar ikan, setelah lelah merawat ternak.”

“Tak ada orang yang melarang kowe mandi, main air, mencari ikan. Lantaran ulah kowe ini, Ki Gemblong, kowe lupa merawat ternak sehingga sapi dan kerbau sakit, gering.”

“Aku sudah merawat ternak dengan baik. Kalau sapi dan kerbau sakit, itu sudah waktunya sakit.”

Gundulmu atos ngono. Dikandhani malah ngeyel ae. Jebule ra nduwe tata krama kowe!”

“Jangan kau pikir karena kaya, kau bisa mengaturku, Kyai.”

“Bukan mengatur, Ki. Aku hanya ingin kowe bisa memegang amanah.”

“Alaah, aku tak suka kau atur melulu.”

Kowe melawanku, Ki Gemblong?”

“Kau pikir aku takut padamu, Kyai Babadan?”

Kyai Babadan naik darah, menyabetkan blarak yang terbakar membara, Ki Gemblong menghindar. Ia meraih klaras yang terbakar mangahmangah, secepat kilat membalas menangkis pukulan blarak kering yang terbakar, bara menyala-nyala. Terjadi adu perang obor klaras dan blarak.

Ki Gemblong berlari memasuki kandang ternak. Kyai Babadan mengejar, mengacung-acungkan obor pelepah kelapa. Mereka berkejaran melewati kandang-kandang ternak. Ajaib, sapi dan kerbau yang semula sakit dan lumpuh tiba-tiba sembuh. ***

.

.

Kota Ukir, 03 Mei 2022

.

Catatan:

Cerpen ini terinspirasi dari folklor Jepara: Perang Obor Tegalsambi Jepara.

.

Kartika Catur Pelita, prosa dan puisi dalam bahasa Indonesia dan bahasa Jawa dimuat di puluhan media cetak-daring. Buku karyanya antara lain Perjaka, Balada Orang-Orang Tercinta, Perempuan yang Ngidam Buah Nangka, Karimunjawa Love Story. Bukunya jelang terbit: Hujan Beras. Founder Akademi Menulis Jepara (AMJ).

.

Perang Obor. Perang Obor.

Arsip Cerpen di Indonesia