Truk Merah Darah di Kaki Bukit

Cerpen Budi Saputra (Rakyat Sultra, 10 Oktober 2022)

SUPAR tak bisa duduk tenang di samping kemudi. Rasa kesalnya baru saja reda setelah dicandai Makdang soal dirinya bukanlah sopir betulan. Hujan lebat yang disertai petir, membuat Supar langsung teringat rumahnya yang berjarak sekitar 70 kilometer. Truk ini berjalan pelan.

Pandangan Supar lurus ke depan. Kondisi jalanan tergenang air dan jarak pandang terbatas. Sesekali, ia memperhatikan gerak tangan Makdang yang menurutnya memang begitu piawai mengendarai truk muatan berat.

“Banyak orang mengaku sebagai sopir, tapi menurutku, itu tak sepenuhnya benar. Jika ia tak bisa memperbaiki seluk-beluk kerusakan truk, ia jelas bukanlah sopir betulan. Bahaya. Fatal jika ia membawa truk besar hingga mengalami kerusakan, bahkan bisa masuk jurang akibat rem blong,” sergah Makdang setelah membahas dua kecelakaan yang tempo hari yang mereka saksikan. Seorang pengendara sepeda motor menabrak truk yang terparkir dan seorang remaja tewas dilindas truk akibat membuat konten mengadang truk.

Sebagai orang yang baru terjun ke dunia ekspedisi, Supar jelas tak memikirkan betul candaan Makdang yang merupakan kerabat mendiang ayahnya. Mengingat hujan tempo hari begitu lebat hampir seharian, ditambah pula hujan kembali turun begitu lebat menjelang sore, Supar justru sangat mengkhawatirkan kondisi rumah kontrakannya yang berada di kawasan rawan banjir.

Tiga bulan yang lalu, banjir memang memasuki rumahnya setinggi betis orang dewasa. Beruntung kala itu, ia sedang berada di rumah dan bisa menolong sang istri mengevakuasi bayi laki-lakinya yang berumur 6 bulan dan gadis kecilnya yang akan berusia 6 tahun. Padahal kala itu, ia baru saja pindah dan baru 5 hari menempati rumah itu.

“Saya khawatir banjir lagi di rumah, Pak. Kasihan Rima sendirian mengurus anak.”

“Berdoa saja tak terjadi banjir. Saya berpengalaman tinggal di daerah rawan banjir dan memang sering dibuat khawatir jika hujan lebat,” timpal Makdang yang perutnya sudah keroncongan dan segera menepikan truk di sebuah rumah makan.

Supar lalu menatap bungkusan hitam yang telah ia persiapkan untuk gadis kecilnya yang akan berulang tahun. Di dalam bungkusan itu, ada beberapa alat tulis, buku, mainan, dan dua helai baju yang ia beli sebelum menuju kota tujuan.

***

Setelah makan di rumah makan, Supar melihat Makdang tampak lebih bersemangat mengemudi meski hujan masih menari begitu liar di jalanan. Begitu truk mulai menjauhi rumah makan, Makdang sempat berceloteh soal masakan sang istri kepada Supar.

“Lebih enak gulai ikan istriku. Walau sudah tua, ia tetap kelihatan cantik dan masakannya selalu saya tunggu,” tukas Makdang. Ia memang selalu membawa bekal buatan sang istri kala berpamitan untuk mencari nafkah sebagai sopir truk jarak jauh.

Tak lama kemudian, suasana di dalam ruang kemudi hanyalah suara mesin dan alunan musik yang disetel. Begitu melintas di depan rumah-rumah penduduk, Supar pun menyaksikan genangan air yang semakin meninggi. Ia sadar perjalanan masih jauh.

Meski hatinya gelisah, Supar merasa terhibur oleh kelakar Makdang yang memecah keheningan. Macam-macam yang diceritakan Makdang. Tempat-tempat yang rawan kriminal dan bajing loncat dan tempat-tempat yang rawan kecelakaan pun kembali diulang Makdang dengan olahan cerita yang lain—seperti berbeda dari cerita sebelumnya.

“Bayangkan, si korban kepalanya digilas ban truk sarat muatan. Itu sering saya saksikan. Kadang si sopir tak sadar karena muatan berat, blind spot, dan ditambah jalan bergelombang,” cerita Makdang begitu seru tentang kisah kecelakaan.

***

Sebuah bus berwarna putih, kini tampak begitu jelas di depan Supar. Setelah melewati daerah yang kiri dan kanannya penuh bentangan sawah, bus yang bernama perusahaan berhuruf tujuh itu selalu beriringan dengan truk berwarna merah darah yang ditumpanginya. Sementara, di depan bus—yang sebetulnya menjadi kenangan pahit tersendiri baginya—terdapat puluhan mobil lainnya yang beriringan dan melaju pelan.

Semakin jauh meninggalkan daerah persawahan, iringan mobil semakin berjalan pelan. Hingga akhirnya, Supar harus menerima satu kenyataan bahwa terjadi longsor parah di bukit depan dan longsor itu membuat jalan terputus total, alias takbisa dilalui oleh kendaraan apa pun.

Berada di sebuah kaki bukit yang berjarak sekitar 30 meter dari pinggir jalan, kini laju truk berwarna merah darah harus berhenti total. Iring-iringan pelan yang sempat disaksikan Supar, kini hanya membuat kegelisahan kian menjadi-jadi.

Hujan masih turun begitu lebat. Sementara di rumah kontrakan Supar, genangan semakin meninggi di halaman rumah. Melihat genangan air makin meninggi, istri Supar kian gelisah di balik jendela nako yang kaca paling atasnya telah pecah. Sementara gadis kecilnya, juga tak kalah gelisah dan sering menanyakan keberadaan ayahnya.

“Di mana Ayah sekarang, Bu? Apakah pulang malam ini?”

Perempuan yang kakinya masih diperban lantaran mengalami luka sayat seminggu yang lalu, selalu menjawab jawaban yang sama, “Masih di perjalanan, Nak. Sabar. Doakan Ayah pulang dengan selamat, ya.”

***

Di kaki bukit berjarak 25 kilometer dari rumahnya, Supar termangu memandang bus putih yang tepat berada di depan truknya.

“Longsor di Bukit Patah. Jalan putus total, jalan putus total!” terdengar beberapa suara kala membuka jendela.

Mendengar kabar itu, Supar tambah merasa gelisah. Kepada Makdang, Supar tak henti mengutarakan kegelisahan hatinya. Laki-laki gempal berambut cepak itu pun bersimpati dan menyuruhnya banyak berdoa.

Di belakang bus putih, Supar mencoba menenangkan dirinya. Ia jelas begitu akrab dengan bus itu lantaran mendiang ayahnya pernah menjadi sopir di perusahaan bus itu kala dirinya masih kanak-kanak.

Kala usianya beranjak remaja, bus itulah yang membuatnya harus berpisah dengan ayahnya untuk selama-lamanya. Sang Ayah telah bekerja di perusahaan bus yang lain. Hingga pada suatu pagi, ayahnya harus meregang nyawa lantaran mengalami kecelakaan “adu kambing” yang menewaskan belasan penumpang dan menjadi headline berita surat kabar kala itu.

Hujan masih saja turun begitu deras. Di belakang bus putih, Supar kini hanya bisa menatap nanar bungkusan hitam yang telah disiapkannya. Nun jauh di sana, entah apa yang terjadi di rumah kontrakannya. Satu hal yang pasti bahwa dari luar terdengar tangis bayi tak henti-henti akibat kelaparan.

Lalu, di atas genangan setinggi lutut di halaman, burung-burung berkicau menyambut tarian senja yang basah disertai langit kelabu yang masih menurunkan gerimis tipis membikin hawa dingin menusuk tulang. ***

.

.

Budi Saputra lahir di Padang. Ia menulis di berbagai media massa seperti Lampung Post, Suara Merdeka, Kompas, dan Koran Tempo. Diundang pada Ubud Writers and Readers Festival 2012, Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) 5 Palembang tahun 2011, dan PPN 6 di Jambi tahun 2012. Sekarang, ia bermukim di Pekanbaru.

.

Truk Merah Darah di Kaki Bukit.

Arsip Cerpen di Indonesia