Pada jam 3 dini hari, kamu akan menungguku di tempat biasa. Di gazebo yang kubangun tiga tahun yang lalu yang kurencanakan untuk tempat bermain Sasti, nama bakal anak yang kusiapkan, yang sayangnya tak pernah terlahir ke dunia.
Gazebo itu sebenarnya ingin kubongkar, tapi istriku melarangnya. Menurutnya, biarlah gazebo keparat itu menjadi pengingat akan berbagai macam usahaku yang begitu menginginkan anak tanpa menyadari keterbatasan fisik istriku. Sejak itu, baik aku dan istriku tak pernah menginjakkan kaki di gazebo itu dan membiarkan sulur-sulur sirih liar merambati seantero kerangka, atap, hingga bangku rotan di dalamnya. Saat pembantuku menawarkan diri untuk membersihkan dan merapikan, dengan segera istriku menghardiknya. “Biarkan! Kalau perlu biarkan sampai ada ular beludak membuat sarang di sana.” Pembantuku, Tamrin, urung dan hanya menatap dengan nelangsa gazebo yang makin tampak mengerikan seolah bangunan yang menjadi pintu gerbang negeri antah berantah, sambil memegangi gunting tanaman dengan lunglai. Ia akhirnya menyibukkan diri menanam sayur-sayuran dengan membuat petak demi petak yang berjarak kira-kira lima langkah dari gazebo itu.
Kira-kira sepekan lalu kamu muncul di sana. Saat itu aku baru keluar dari studio tepat pada pukul 3 dini hari setelah seharian mencoba membuat sketsa yang hanya berujung pada sekumpulan obyek berbentuk bayang-bayang makhluk antah berantah.
Terhuyung-huyung karena mengantuk dan kelelahan, aku seolah memasuki dunia di ambang kesadaran ketika melihat sesosok figur manusia duduk di dalam gazebo. Figur itu duduk tenang memandang ke arah purnama yang membuat halaman tak segelap pekat yang kalut seperti biasa. Kamu duduk tegak diam seolah patung yang sudah berabad-abad menghuni bangku rotan lembab itu. Kamu bahkan tetap diam ketika aku sudah berdiri di samping kananmu dan berusaha menahan niat untuk menyentuh kulitmu untuk memastikan kefanaanmu.
“Duduklah, kamu akan lelah jika berdiri terus seperti itu,” ujarmu tanpa memalingkan wajah ke arahku. Tatapanmu tetap terpaku pada satu arah. Masih dengan keraguan, aku duduk di sebelahmu. Mencoba menyamakan arah pandangan denganmu namun hanya bisa berujung menolehkan kepalaku kembali ke arahmu. Dari samping aku menelusurkan tatapanku mengikuti garis demi garis kontur parasmu. Ada yang terasa akrab dari wajahmu.
“Kamu suka duduk di sini?” Aku tak tahu mengapa kata-kata ini yang pertama kuucapkan kepadamu. Harusnya aku bertanya siapa kamu, dari mana asalmu, dan mengapa tiba-tiba bisa ada di gazebo ini. Namun entah mengapa aku merasa pertanyaan-pertanyaan semacam itu sudah menemukan jawabannya di dalam diriku.
“Iya. Di sini aku merasa lebih tenang. Sendiri tapi tidak merasa sepi. Gazebo ini menyenangkan, kamu pintar sekali menempatkannya di sini.” Saat itulah kamu berpaling ke arahku. Benar, aku telah akrab dengan wajahmu. Namun tetap saja ada yang masih terasa asing di sana.
“Coba saja katakan itu ke istriku. Gazebo ini sebenarnya kubangun untuknya. Tepatnya untuk dia dan anak kami, namun karena tak juga kami mendapat keturunan, akhirnya gazebo ini menjadi tempat terkutuk buat dia,” ujarku sambil setengah menunduk. Entah mengapa aku merasa bersalah telah menceritakan sikap istriku kepadanya. Menurutku tidak pada tempatnya aku mengeluhkan tentang istriku pada orang asing yang baru saja kutemui. Untunglah ia hanya menanggapi kata-kataku dengan senyum. Ia justru mengajakku bicara tentang daerah tempat rumah ini berada.
“Tahukah kamu cerita tentang lelaki tua yang tinggal di rumah bertingkat di ujung utara sana? Ia sebenarnya pada malam-malam tertentu menemui peri di tepi sungai yang melewati desa ini. Peri itu sebenarnya anak perempuannya yang menenggelamkan diri karena ditinggal pergi kekasihnya. Saking sedihnya, lelaki tua itu yang setiap malam meratapi anaknya di pinggir sungai, suatu malam didatangi oleh penunggu sungai, dan lelaki itu memohon supaya ia masih bisa bertemu dengan anaknya. Permintaannya dikabulkan tapi dengan syarat kelak ketika ia mati, rohnya menjadi pelayan abadi penunggu sungai dan rumah tempat ia tinggal akan selamanya terkutuk. Lelaki itu tak peduli. Ia menyanggupi syarat itu dan maka selama malam-malam tertentu ia bisa menemui roh anaknya. Tapi aku tidak yakin jika memang itu benar roh anak lelaki tua itu karena setahuku penunggu sungai desa ini sangatlah licik, ia sering bermuslihat untuk bisa memerangkap orang-orang di desa ini,” ujarnya dengan penuh ekspresi.
“Dari mana kamu tahu soal ini? Bisa jadi ceritamu itu cuma takhayul,” kataku setengah penasaran. Sudah tujuh tahun aku tinggal di rumah ini, tak sepotong cerita tentang penunggu sungai itu kudengar. Aku tahu lelaki tua yang ia ceritakan itu sangat kehilangan anaknya. Ia yang sebelumnya setiap pagi rajin menyapu halamannya dari guguran dedaunan kering pohon-pohon lebat yang tumbuh di halamannya, tak lagi melakukannya. Ia membiarkan daun-daunan yang gugur ke tanah menyatu dengan lembabnya tanah dan rumput, menjadikan makhluk-makhluk cacing dan sejenisnya berkembang biak merajalela. Anak-anak kecil tak lagi berani mengunjungi rumah itu, entah karena jijik dengan halaman rumahnya yang kotor atau memang lelaki itu tak lagi menjadi menyenangkan untuk ditemui seperti dulu.
“Takhayul tak selamanya bohong. Bisa jadi takhayul sebenarnya kumpulan dari kejadian-kejadian yang tak bisa dijelaskan secara nalar. Dalam hal ini aku telah mendapati kenyataan yang sebenarnya. Aku pernah melihat sendiri ketika lelaki itu menemui anaknya. Mereka berpelukan sementara penunggu sungai melihat keduanya dari balik air. Melayang-layang di bawah permukaan air menyeringai licik siap menunggu dengan sabar kematian lelaki itu.”
Aku tersentak. Ceritanya begitu membangunkan imajinasiku. Dan sepertinya dia menyadari hal ini. Dilanjutkannya kembali ceritanya.
“Tak hanya penunggu sungai saja yang jahanam telah menggoda penduduk desa ini untuk menggadaikan jiwanya. Masih banyak penunggu-penunggu lainnya yang siap memangsa mereka yang lemah dan merasa putus asa akan hidupnya. Kau tahu remaja lelaki yang tinggal lima rumah dari sini? Dia setiap malam memohon kepada siapa pun dan apa pun yang bisa mendengar permohonannya, supaya dia bisa berbicara dengan binatang. Menurutnya, binatang lebih masuk akal daripada manusia. Suatu malam, permohonannya didengar peri yang melintas rumahnya setelah sia-sia berusaha mengincar bayi yang baru lahir di rumah yang memiliki tiga pohon sukun di pertigaan jalan depan rumahmu. Peri itu mengabulkan keinginannya, hanya jika remaja lelaki itu berjanji bisa mengantarkan bayi yang diincarnya itu ke rumah si peri yang terletak di lahan kosong yang penuh rumpun bambu tak jauh dari sungai.”
“Terus apakah remaja itu sudah mengambil bayi itu?”
“Belum. Mungkin ia akan mengambilnya dua hari lagi, tepat saat bulan purnama. Biasanya pada saat purnama, ibu si bayi diminta nyanyi dangdut di kampung sebelah. Dan suaminya tentu saja harus menemani karena ia sebenarnya tak pernah rela melihat tangan-tangan jahanam para lelaki yang menggapai-gapai ke bibir panggung untuk meremas pantat istrinya. Saat itulah, ketika si bayi ditinggal di rumah bersama neneknya yang sudah tua dan lelah, anak itu dengan mudah bisa mengambilnya.”
Cerita-ceritanya terdengar mustahil dan antah berantah, seperti halnya keberadaan dirinya. Menjelang subuh, dia mengakhiri kisahnya dan berjalan pergi sebelum terang menyentuh ujung atap gazebo.
Seiring kemunculannya setiap jam 3 dini hari, aku seperti kebanjiran inspirasi. Setiap siang aku mengurung diri di studio dan menuangkan semua kisah-kisahnya ke atas kanvas. Kugambarkan di sana sesosok tubuh melayang-layang di bawah permukaan air dengan rambut terurai panjang dengan tatapan semurka iblis. Juga tentang seorang bocah lelaki yang menggendong bayi berpipi merah sementara di belakangnya tampak sesosok bayangan pekat merengkuh keduanya. Aku baru berhenti melukis ketika istriku masuk ke studio dan mengantarkan makanan. Ia tak banyak berkomentar melihat lukisan-lukisanku. Ia hanya mengomel pendek.
“Lukisanmu beracun. Pasti kamu tergigit ular beludak di semak-semak pinggiran gazebo. Biar kuminta Tamrin membongkarnya,” katanya sambil meletakkan kopi ke meja kayu kelapa yang dipenuhi kuas dan tube-tube cat minyak.
Aku hanya diam saja, karena tahu jika aku serta merta menolak rencananya, dia akan meradang. Lebih baik aku bilang ke Tamrin untuk selalu beralasan jika majikan perempuannya ini menagih tugas membongkar gazebo.
Sesekali karena penasaran, aku keluar rumah dan mencoba mencari tahu tentang orang-orang yang diceritakan perempuan itu. Benar saja, kemarin sewaktu aku mampir ke rumah penyanyi dangdut itu, kulihat pasangan ini masih meratap menangisi bayinya yang hilang. Saat aku tiba di rumah bocah lelaki itu, kulihat dia tengah berbisik ke seekor kucing yang duduk melingkar di pangkuannya. Di rumah kakek tua yang kata perempuan itu sudah membuat kesepakatan dengan penunggu sungai, kulihat rumahnya makin terlihat membusuk. Sama seperti aroma tanah dan pepohonan yang memenuhi halaman rumahnya, lembab dan usang. Rumah itu seolah salah tempat dan waktu. Seharusnya pantas menghuni suatu masa ketika kenangan berwarna sephia.
Aku yang mulai berjalan-jalan keluar rumah terdorong oleh cerita yang kudapatkan setiap jam 3 dinihari, membuat istriku curiga. Saat menanyakan alasanku, aku hanya menjawab cari inspirasi.
“Aku tak percaya, sementara lukisan-lukisanmu di dalam studio sama sekali tidak memperlihatkan hasil jalan-jalanmu keliling desa. Malah aku merasa apa pun yang kau lukis akhir-akhir ini, mengingatkanku pada makhluk-makhluk terkutuk yang pernah diceritakan ayahku sewaktu kecil.”
Dulu, mungkin masih kupedulikan pendapat istriku. Tapi sejak aku bertemu perempuan ini setiap jam 3 dini hari, aku mendapatkan banyak hal yang kurasa telah hilang bertahun-tahun dari hidupku. Kisah-kisahnya memberi santapan bagi imajinasiku, mendorongku untuk keluar dari rumah dan mulai melihat kehidupan di desa tempatku tinggal dari sudut pandang lain, dan yang terutama ia memunculkan perasaan dimaklumi, dipahami, diterima. Wajar jika kemudian aku merasa tak cukup untuk hanya bisa menemuinya setiap jam 3 dini hari. Kenapa tidak untuk bisa menemuinya di siang hari, mungkin dia bisa menemaniku melukis, atau di sore hari menunggu redupnya terang di gazebo yang tak pernah mau disentuh istriku. Aku pernah menawarkan hal ini kepadanya. “Semuanya tergantung pada kamu. Jika kamu rasa kamu siap dengan kehadiranku, aku akan datang. Aku ada ketika kamu memanggilku.”
Malam ini aku merasa siap dengan kehadirannya. Sambil memantapkan hati, aku memasuki kamar. Jam di ruang tengah yang baru saja kulewati menunjukkan pukul 2.45. Lima belas menit lagi dia pasti akan datang. Aku membaringkan tubuhku di samping istriku yang tertidur dalam posisi miring ke arahku. Kubelai pipinya perlahan dan kusingkirkan beberapa helai rambut yang jatuh ke wajahnya. Ia tampak tenang. Napasnya teratur. Menatap wajahnya seperti ini, aku merasakan kasih sayang yang kembali menderas. Betapa indahnya kamu ketika tertidur, wahai istriku. Menit demi menit berlalu sambil tetap kunikmati wajah pulasnya. Kuarahkan pandanganku ke jam dinding di kamar ini, pukul 3 tepat. Sekaranglah saatnya. Sambil tetap memandang wajah istriku, aku menunggu. Di hadapanku, sepasang mata yang tadinya terpejam kini membuka. “Kau sudah menungguku,” bisiknya sambil tersenyum. Aku mengangguk. ***