Manusia Proyek

Cerpen Ilham Wahyudi (Kedaulatan Rakyat, 28 Oktober 2022)

SESUNGGUHNYA sudah lama aku ingin menulis cerita ini. Namun setiap kali aku mau menuliskannya, seketika keraguan menyembur dalam hatiku: apakah penting persoalan ini aku tulis? Atau hanya aku sendiri yang merasa penting untuk dituliskan? Ah, selalu saja begitu setiap kali aku ingin menuliskannya.

Tapi sepertinya aku memang harus menuliskannya, sebab kemarin malam teman semasa sekolah mendadak minta sebuah cerpen kepadaku. Katanya, “Aku sedang menyusun sebuah buku antologi cerpen. Aku, kan tahu kau seorang penulis cerpen yang kebetulan karya-karyamu belum pernah dibukukan. Sekalipun hanya nimbrung dalam sebuah antologi.”

“Nah, mumpung kali ini aku panitia sekaligus editornya, dan aku tahu persis kegelisahanmu selama ini yang belum pernah punya buku atau karyamu yang dibukukan, aku pun teringat padamu. Bisa kau tulis satu cerpen bertemakan agama?”

Jujur aku tak tahu maksudnya berkata sejujur itu kepadaku. Murni semata empati, atau dia memang menyelipkan sindiran kepadaku yang tak kunjung punya buku kumpulan cerpen, meski hanya buku antologi?

Sebenarnya dia keliru menafsirkan curhatanku tempo hari saat kami bertemu dalam sebuah acara reuni sekolah. Saat itu aku memang ngomong mengenai karya-karya cerpenku yang belum sekali pun dibukukan. Tapi bukan itu maksudku! Aku hanya bingung, apa sih ukuran karya layak dibubukan?

Tapi menjelaskan maksudku kepadanya saat ini bukanlah hal yang penting lagi. Selain akan membuat dia marah dan kecewa, karyaku juga akan gagal dibukukan dalam proyek antologi yang sedang dia garap.

Proyek? Benar. Aku tahu dia bukan orang yang paham tentang cerpen, apalagi suka pada cerpen. Sudah sering aku kirim karyaku kepadanya. Namun tak satu pun yang dia baca.

“Aku kurang tertarik membaca karya yang belum diterbitkan. Nanti saja aku baca cerpenmu kalau sudah diterbitkan surat kabar atau sudah menjadi buku.” Begitu dia beralasan. Namun saat aku kirim karyaku yang kebetulan dimuat surat kabar Ibu Kota, alasannya juga tak kalah buat sakit hati.

“Baru sekali, kan, cerpenmu dimuat koran Ibu Kota? Itu belum menjamin apa-apa, Kawan. Sudahlah, nanti pasti aku baca saat karyamu sudah diterbitkan di mana-mana dan tentunya sudah pula dibukukan,” katanya enteng.

Itulah mengapa aku berani mengatakan pembuatan buku antologi itu adalah proyek. Dari dulu kalau sesuatu yang tidak ada duit di ujungnya, mana mungkin dia mau mengerjakan. Sekalipun itu berhubungan dengannya.

Pernah sewaktu kami masih sangat rajin main bola, aku dan beberapa teman berinisiatif untuk membuat kaus tim di luar kaus kami main bola. Maksud kami saat itu agar orang-orang tahu kalau kami adalah tim yang tidak hanya kompak di lapangan, tapi juga di luar lapangan.

Dia dengan lempangnya berkata, “Untuk apa pakai buat kaus semacam itu segala. Memangnya kalau kita buat kaus, tim lain jadi takut tanding dengan kita? Sudahlah, itu tidak perlu! Tapi kalau kalian kukuh mau membuat kaus, ya, silahkan saja. Kalau aku tetap tidak!”

Akhirnya kami tetap patungan membuat kaus, sekaligus untuknya. Dan dia cuek-cuek saja saat kami berikan satu kaus. Begitulah dia yang aku tahu; sampai saat ini kupastikan begitu.

Jangan-jangan karya cerpenku, pun, nanti tidak dibacanya. Apa pentingnya bagi dia kualitas karya. Yang pentingkan bukunya terbit dan dia dapat duit. Selesai. Soal nanti bagus tidaknya, pasti dia kembalikan ke penulis masing-masing. Uh, sudah tertebak. Dasar manusia proyek!

Mendadak terlintas ide gila dalam kepalaku. Mmm…. ***

.

.

Akasia 11 CT, 2022

*) Ilham Wahyudi, lahir di Medan, Sumatera Utara. Ia seorang juru antar makanan di Dapur IBU dan penggemar berat Chelsea Football Club. Beberapa cerpennya ada yang dimuat dan ada yang ditolak. Buku kumpulan cerpennya ‘Kalimance Ingin Jadi Penyair’ akan segera terbit

.

Manusia Proyek. Manusia Proyek.

Arsip Cerpen di Indonesia